
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Waktu pun berjalan dengan cepat, hingga mata kuliah pun selesai. Annisa dan Sarah berjalan beriringan menuju parkiran.
"Loh, kok Mas Abbad ga ada sih?" seru Sarah.
"Coba kamu hubungi dia," seru Annisa.
"Sudah Nis, tapi tidak diangkat-angkat bahkan pesanku hanya dibaca saja ga dibalas," sahut Sarah.
Tiba-tiba Syfa datang dan sengaja menyenggol pundak Sarah sehingga Sarah sedikit terhunyung ke depan.
"Astagfirullahaladzim."
"Oops..maaf, ga sengaja," seru Syfa dengan santainya.
Syfa pun berdiri di samping Sarah membuat Annisa dan Sarah mengerutkan keningnya.
"Kenapa belum dijemput ya? kasihan, jangan-jangan suami kamu punya selingkuhan kali sampai-sampai lupa untuk menjemputmu. Mangkanya jangan suka merebut milik orang lain, kena karma kan sekarang? kamu sudah merebut Mas Abbad dariku dan aku yakin kalau Mas Abbadmu akan ada yang merebut juga," seru Syfa dengan sinisnya.
Sarah sudah ingin mengatakan sesuatu kepada Syfa tapi Annisa menahannya. Annisa maju dan berdiri tepat di hadapan Syfa, tapi Syfa malah menatap Annisa dengan tatapan meremehkan.
"Maaf Mbak, aku hanya ingin mengingatkan tolong jangan sibuk dengan aib orang lain, jangan sibuk dengan kesalahan orang lain, karena sesungguhnya aib kita jauh lebih banyak daripada aib orang lain, apa Mbak tahu apa yang membuat orang lain memuliakan kita? apa Mbak tahu apa yang membuat orang lain menghormati kita? jawabannya cuma satu, karena Allah menutup aib-aib kita. Jadi Mbak, buanglah rasa benci dalam diri Mbak, seharusnya Mbak bisa ikhlas menerima keputusan Allah, Sarah tidak merebut Mas Abbad dari Mbak tapi Allah belum menjodohkan Mas Abbad dengan Mbak. Assalamualaikum."
Annisa pun menarik tangan Sarah dan membawanya masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Syfa terlihat sangat kesal.
"Awas kalian berdua," kesal Syfa.
Annisa menyandarkan tubuhnya dan mengusap dadanya berkali-kali.
"Astagfirullahaladzim...Astagfirullahaladzim."
"Wanita itu sungguh sangat menyebalkan kan Nis, setiap dia bertemu denganku selalu saja bilang kalau aku yang sudah merebut Mas Abbad darinya," kesal Sarah.
"Istighfar Sar, kalau dia selalu mencari gara-gara denganmu itu artinya kamu itu punya kelebihan yang dia tidak punya karena dia tidak mungkin cari gara-gara sama kamu kalau kamu tidak punya sesuatu yang membuat dia iri, kalau kamu membalas hinaan dia dengan hinaan pula lantas apa bedanya kamu dengan dia? jadi lupakan saja, ikhlaskan, boleh jadi Allah menempatkan ada orang yang menyakiti kita karena Allah sedang mengangkat kemuliaan kita."
"Astagfirullahaladzim, terima kasih Nis kamu selalu mengingatkan aku."
"Sama-sama, bukanya sebagai teman yang baik harus saling mengingatkan kepada kebaikan."
"Iya Nis, kami memang sahabat terbaikku."
Sarah pun memeluk Annisa. "Sudah-sudah, sekarang aku antarkan kamu pulang ya."
__ADS_1
"Memangnya tidak merepotkan ya."
"Kalau repot ngapain aku ajak kamu."
Sarah pun hanya bisa cengengesan, Annisa pun mulai melajukan mobilnya menuju rumah Sarah. Setelah mengantarkan Sarah pulang ke rumahnya, Annisa pun segera pulang ke rumahnya juga.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Annisa pun berhenti di depan pondok pesantren. Rumah Annisa memang berada di kawasan pondok pesantren. Annisa melihat sebuah mobil yang tidak asing bagi Annisa sudah terparkir di depan pondok pesantren.
"Kok aku kaya ga asing sama mobil ini," batin Annisa.
Annisa pun segera masuk, banyak santri dan santriawati yang menyapa Annisa dengan ramahnya Annisa menjawab setiap sapaan mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nak kok tumben pulangnya siang?" tanya Abah Abdullah.
"Barusan Nisa mengantarkan Sarah pulang dulu Abah, soalnya suaminya tidak menjemputnya," sahut Annisa.
Annisa mencium punggung tangan Abah, Umi, Kakak, dan Kakak iparnya sementara itu Annisa menangkupkan kedua tangannya ke arah Alwi dan dibalas juga dengan hal yang sama oleh Alwi.
"Semuanya, Nisa masuk kamar dulu soalnya Nisa belum shalat dhuhur."
Annisa pun masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengambil air wudhu kemudian Annisa pun melaksanakan shalat dhuhur. Entah kenapa, Alwi langsung menundukan kepalanya saat melihat Annisa, Alwi merasa tidak bisa lama-lama menatap mata teduh nan indah itu.
"Begitulah Kyai, Alwi merasa sangat berdosa karena sudah melakukan hal yang paling dibenci oleh Allah."
"Tidak Nak, keputusanmu sudah benar kalau kamu melanjutkan pernikahanmu, kamu hanya akan terus memupuk dosa. Perceraian itu akan bersifat wajib jika diantara istri/suami sudah melakukan perbuatan keji dan tidak mau lagi bertaubat," seru Abah Abdullah.
Alwi memang selalu curhat kepada Kyai Abdullah, Alwi akan merasa sangat tenang apabila sudah mengeluarkan unek-uneknya kepada sang Kyai.
"Subhanallah indah sekali," seru Alwi.
"Itu Nisa, dia memang seperti itu sehabis shalat dia akan melanjutkannya dengan mengaji bahkan kalau sudah mengaji, dia sampai lupa waktu dan tidak keluar-keluar dari kamar."
"Subhanallah, berarti selama ini aku memang tidak salah sudah mengagumi wanita shalihah itu," batin Alwi.
Sebenarnya Alwi sudah sejak dulu mengagumi sosok Annisa, disaat Alwi sering datang ke pondok pesantren untuk menjenguk adiknya, Alwi selalu mengagumi Annisa yang sedang mengajar santri dan santriwati disana.
Tapi Annisa tidak mengetahuinya bahkan Annisa sama sekali tidak pernah bertemu dengan Alwi. Disaat Alwi datang untuk kesekian kalinya memenuhi undangan Kyai Abdullah untuk mengisi ceramah, disitulah untuk pertama kalinya Annisa merasa kagum akan sosok Alwi tapi Annisa segera menepis perasaan itu karena Annisa tahu kalau Alwi sudah menikah.
Alwi sangat mengagumi sosok wanita cantik itu, tapi disaat Alwi ingin mengutarakan niatnya ternyata Uminya sudah menjodohkan Alwi dengan puteri dari sahabat Abinya. Sebagai anak yang penurut, Alwi pun melepaskan perasaan itu dan menerima perjodohan yang Uminya perintahkan.
"Oh iya Nak, kalau kamu ada waktu sering-seringlah berkunjung kesini hanya sekedar untuk memberikan sepatah dua patah tausiyahnya untuk santri dan santriwati disini," seru Abah Abdullah.
"Insya Allah Kyai."
Setelah cukup lama berbincang-bincang, akhirnya Alwi pun pamit pulang.
"Nisa, sini Nak sebentar!" panggil Kyai Abdullah.
Annisa pun segera keluar dari kamarnya dengan masih memakai mukena.
__ADS_1
"Iya, ada apa Abah?"
"Sini duduk di samping Abah."
Annisa pun duduk di samping Abahnya. "Ada apa Bah?"
"Nak, Alwi sudah bercerai dengan istrinya kalau seandainya Abah jodohkan kamu dengan Alwi apa kamu mau?"
Deg....
Jantung Annisa berdetak sangat kencang merasa terkejut dengan ucapan Abahnya itu.
"Abah, ini terlalu cepat lagipula memangnya Ust.Alwi mau apa sama Annisa wanita yang penuh dengan dosa ini."
"Nak, manusia itu tidak luput dari yang namanya dosa tergantung si manusianya itu apa mau bertobat atau justru ingin terus terjerumus dalam dosa itu. Alwi laki-laki baik dan sholeh, Insya Allah bisa menuntun kamu menjadi wanita yang lebih baik lagi."
Annisa menundukan kepalanya. "Iya Dek, lagipula kamu tahu mantan istri Ust.Alwi itu bukanlah sosok wanita yang sholehah maka dari itu Ust.Alwi langsung mentalaknya," seru Adiba.
"Cobalah mengenal dulu dengan Ust.Alwi, tapi ingat mengenalnya jangan pacaran," sambung Umi Aminah.
"Kalau memang menurut Abah dan Umi, ini yang terbaik untuk Nisa, Nisa nurut saja," sahut Annisa.
"Alhamdulillah," seru semuanya dengan serempak.
"Tapi Nisa punya permintaan, Abah dan Umi jangan langsung meminta kepada Ust.Alwi untuk menikahi Nisa tapi biarlah Ust.Alwi sendiri yang datang kesini menemui Abah dan Umi karena kalau Ust.Alwi ditakdirkan untuk Nisa, Nisa yakin Ust.Alwi akan segera datang kesini."
"Baiklah Nak."
Annisa pun kembali ke kamarnya, merenungi apa yang diucapkan Abah dan Uminya.
"Ya Allah hanya engkau yang Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba, jadi kalau Ust.Alwi memang dijodohkan untuk hamba maka permudahkanlah segala urusannya tapi kalau Ust.Alwi bukan jodoh hamba maka jauhkanlah dia dari hamba."
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU