Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 24 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Keesokan harinya....


Semuanya sedang sarapan bersama...


"Pagi semuanya!" sapa Fazri.


"Waalaikumsalam," sahut Alwi, Annisa, dan Umi Khadijah bersamaan.


Fazri pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa kalau pagi ini dia salah menyapa.


"Biasakan ucapkan salam kalau menyapa itu, ini bukan di Negara barat," seru Umi Khadijah.


"Iya Umi, maaf," sahut Fazri.


"Kalian mau kemana, sudah pada rapi seperti itu?" tanya Fazri mengalihkan pembicaraan.


"Kami mau ke pondok pesantren jenguk Arman sekaligus Alwi ada jadwal tausiyah juga," sahut Umi Khadijah.


"Kamu harus ikut juga Fazri," sambung Alwi.


"Tidak ah, pasti disana sangat membosankan lebih baik diam di rumah tiduran," sahut Fazri.


"Fazri, pokoknya kamu harus ikut jangan banyak membantah," seru Umi Khadijah.


Mau tidak mau akhirnya Fazri pun harus ikut, Fazri tidak bisa membatah perkataan Umi Khadijah.


"Baiklah."


Setelah selesai sarapan, semuanya pun segera berangkat menuju pondok pesantren. Umi Khadijah lebih memilih satu mobil bersama Fazri dan membiarkan Alwi berdua bersama Annisa.


Sementara itu di lain tempat, Abi Idris dan Umi Aisyah pun sudah bersiap-siap akan pergi.


"Loh, Umi dan Abi mau kemana?" tanya Syfa.


"Kami mau ke pondok pesantren, ikut yuk Nak!" ajak Umi Aisyah.


"Sudahlah Umi, mana mau dia diajak ke tempat seperti itu," seru Abi Idris dengan dinginnya.


Abi Idris sampai sekarang memang belum bisa bersikap baik kepada Syfa, kelakuan Syfa benar-benar sudah mencoreng nama baiknya. Syfa yang merasa tidak enak pun, akhirnya memilih ikut bersama mereka. Syfa tidak mau membuat Abinya semakin murka kepadanya.


Berbeda dengan keadaan di rumah Sarah, Sarah dan kedua orangtuanya pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke pondok pesantren.


Tidak lama kemudian, mobil Alwi dan Fazri pun sampai di halaman pondok pesantren. Alwi, Annisa, dan Umi Khadijah pun memasuki area pondok berbeda dengan Fazri yang masih mengotak-ngatik ponselnya di dalam mobil.


"Fazri, jangan lama-lama cepat-cepat masuk dan jangan coba-coba berani kabur!" ancam Umi Khadijah.


"Yaelah Umi, iya-iya Fazri tidak akan lama kok," sahut Fazri.


Mobil kedua orangtua Sarah pun sampai...


"Mama sama Papa duluan saja, Sarah mau ngangkat telepon dulu," seru Sarah.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya Nak."

__ADS_1


"Iya Ma."


Sarah pun segera mengangkat telepon yang ternyata dari Abbad, Sarah selalu kesal kalau Abbad menghubunginya karena Abbad akan bicara kalau dia tidak mau cerai.


"Sudahlah Mas, pokoknya Mas tunggu saja surat gugatan cerai dari aku, Assalamualaikum."


Sarah memutuskan sambungan teleponnya, Sarah benar-benar sangat kesal. Sarah pun segera melangkahkan kakinya untuk menyusul kedua orangtuanya.


Disaat Sarah melewati mobil Fazri, secara bersamaan Fazri pun keluar dari dalam mobilnya membuat mereka berdua bertabrakan dan tubuh Sarah terlihat oleng tapi dengam sigap, Fazri pun menangkap tubuh Sarah.


Sesaat keduanya saling pandang satu sama lain, Sarah pun tersadar.


"Astagfirullahaladzim."


Sarah langsung memundurkan langkahnya..


"Kamu tidak apa-apa?" seru Fazri.


Sarah menggelengkan kepalanya, dia masih syok karena Fazri tadi setengah memeluknya. Sarah pun hendak melangkahkan kakinya tapi Fazri menahan lengan Sarah membuat Sarah kembali terkejut.


Sarah menghempaskan tangan Fazri...


"Maaf jangan sentuh aku, kita bukan muhrim," seru Sarah.


Fazri mengangkat kedua tangannya. "Maaf-maaf, aku hanya ingin berkenalan denganmu."


Sarah sudah terlanjur kesal kepada Fazri membuat Sarah segera meninggalkan Fazri tanpa sepatah kata pun.


"Wow, hebat sekali seorang Fazri Maulana diabaikan," gumam Fazri.


Fazri pun menyusul masuk ke dalam pondok, setelah itu Syfa dan kedua orangtuanya pun tiba dan segera masuk ke dalam pondok pesantren.


"Ya ampun Dek, Kakak kangen sekali sama kamu," seru Addiba dengan memeluk adiknya itu.


"Bagaimana, apa sudah ada tanda-tanda?"


"Tanda-tanda apa?"


"Tanda-tanda hamil," bisik Addiba.


"Belumlah Kak, lagipula kan Nisa baru banget nikahnya juga."


"Semoga kamu segera diberi momongan ya jangan seperti Kakak."


"Ishh Kakak ini, Kakak jangan bicara seperti itu mungkin belum waktunya saja Allah menitipkan anak kepada Kakak, nanti kalau sudah waktunya Nisa yakin Kakak akan hamil juga. Allah itu Maha segalanya Kak, bagi manusia yang terlihat tidak mungkin tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin."


"Amin."


Semuanya pun menuju tempat dimana akan diadakannya tabligh akbar, para santri dan santriwati pun sudsh berkumpul menunggu sang ustadz tampan itu memberikan tausiyahnya.


Fazri duduk di samping Umi Khadijah, pandangan Fazri terus saja mengarah kepada Sarah.


"Jaga pandangan, jangan menatapnya terlalu dalam," seru Umi Khadijah.


"Eh Umi," sahut Fazri cengengesan.


Syfa duduk tepat di belakang Sarah membuat Sarah merasa tidak nyaman berada di dekat wanita yang sudah membuat rumah tangganya hancur.


Tidak lama kemudian, Alwi pun naik ke atas panggung.


"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatu."


"Waalaikumsala warrahmatullahi wabarrakatu."

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali lagi kesini dan masih diberikan kesempatan untuk masih bisa mengingatkan kalian semua akan kebaikan. Tema kali ini saya akan membahas mengenai memaafkan orang lain."


"Saya ingin bertanya kepada kalian semua, jika ada yang menyakiti hati kalian, apa kalian mau memaafkannya?"


"Tidaaaaakkk...."


Semua orang serentak menjawab dengan kata tidak membuat Alwi tersenyum.


"Kalian tahu, jika ada orang yang menyakitimu belajarlah memaafkan karena hanya dengan memaafkan kalian akan mendapatkan kebaikan dari sakit hati yang kalian rasakan. Memaafkan memang tidak merubah masa lalu tapi memaafkan bisa mencerahkan masa depan, jangan kotori hatimu dengan membenci dan mendendam. Jika kalian bisa memaafkan, maka kalian akan mendapatkan balasan kebaikan dan kemuliaan."


"Memaafkan itu menyembuhkan, memaafkan itu menguatkan, justru saat kita mendendam dan membenci itulah yang akan menjadi penyakit bagi kita. Orang yang kita benci, mungkin saja saat ini dia sedang asyik dengan aktivitasnya, sedangkan kita malah sibuk mencari kesalahan orang yang kita benci. Maka Nabi berpesan yang artinya, cintailah yang ada dibumi maka yang ada di langit akan mencintaimu. Jangan sibuk membenci karena hati yang penuh dengan kebencian hanya akan mengantarkan kita pada kesulitan dan kesempitan."


Sarah terlihat menundukan kepalanya, bahkan Sarah sudah mulai meneteskan airmatanya tapi Sarah dengan cepat menghapusnya. Dia sadar, kalau selama ini di hatinya tumbuh rasa benci kepada seseorang dan ucapan Alwi barusan menyadarkan Sarah kalau yang dia lakukan itu salah.


"Kenapa dia menangis?" batin Fazri yang dari tadi terus memperhatikan Sarah.


"Dan untuk kalian semua, hargailah orang lain kalau kalian ingin dihargai. Selamatnya manusia itu tergantung lisannya, ketika kita berkata dan mengucapkan sesuatu kepada orang lain benar-benar kita harus pilah dan pilih, jaga betul ucapan yang akan keluar dari lisan kita karena sesuatu yang sudah keluar dari lisan kita tidak bisa ditarik kembali. Maka perbanyaklah istighfar, istighfar itu adalah kalimat sederhana yang bisa kita ucapkan untuk meminta ampunan kepada Allah atas kekhilafan yang sudah kita lakukan."


"Para ulama mengatakan, ketika kalian mengucapkan kalimat istighfar, kalian meminta dua hal kepada Allah. Yang pertama, kalian meminta ampun kepada Allah atas apa yang sudah kalian lakukan, yang kedua kalian meminta kepada Allah agar dituntun di waktu yang akan datang supaya tidak mengulangi perkataan yang sama."


Di dalam hati Syfa tidak bisa dipungkiri kalau dia memang merasa bersalah karena sudah berkata kasar kepada Sarah tapi ya namanya juga Syfa, bukanya memahami apa yang dikatakan Alwi justru dia merasa kalau dia memang melakukan yang benar dan Sarah selalu salah.


"Kalian harus tahu, ada tiga amalan yang membuat seorang hamba dibangunkan istana di surga, kalian tahu apa tiga amalan itu?" tanya Alwi.


Semua orang menggelengkan kepalanya...


"Yang pertama, maafkanlah orang yang pernah menyakitimu. Yang kedua, memberilah kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepadamu. Dan yang ketiga, sambungkanlah silaturahmi kepada orang yang sudah memutuskan silaturahmi dengan dirimu. Subhanallah, tiga amalan itu sungguh sangat sulit dilakukan tapi imbalan Allah kepada hambanya sungguh luar biasa."


Alwi tersenyum dan memperhatikan orang-orang yang ada disana, terutama kepada Syfa, Sarah, dan juga Annisa. Kedua orangtua Syfa sangat paham akan apa yang diucapkan Alwi dan mereka terlihat menundukan kepalanya seakan malu dengan kelakuan anaknya.


"Baiklah teman-teman sekalian, rasanya cukup sampai disini dulu tausiyah dari saya semoga bermanfaat dan kalian semua bisa mengamalkannya. Tentu saja, sebelum kalian mengamalkannya kepada orang lain alangkah bagusnya jika kita sendiri dulu yang mengamalkannya."


"Subhanallah Dek, beruntung sekali kamu mempunyai suami seperti Alwi. Bahkan banyak sekali wanita yang mendambakan suami sepertinya," seru Addiba.


"Alhamdulillah Kak, jangankan wanita lain, aku sendiri saja yang sudah menjadi istrinya selalu kagum kepada beliau," sahut Annisa.


"Sebelum saya menutup ceramah saya, izinkan saya berpesan kepada kalian semua. Pesan saya adalah, jadilah mulia dengan tanpa merendahkan orang lain, jadilah besar dengan tanpa mengecilkan orang lain, dan jadilah bahagia dengan tanpa menyakiti orang lain. Akhir kata saya cukupkan sampai disini, mudah-mudahan kita akan dipertemukan lagi di lain waktu. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatu."


"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarrakatu."


Alwi pun turun dari atas panggung, dan Annisa sudah menyambut suaminya itu di bawah panggung. Annisa langsung memeluk suaminya itu dan tentu saja, Alwi pun membalas pelukan istrinya dan mencium kening Annisa membuat semua wanita yang ada disana merasa iri akan pasangan yang sangat serasi itu.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2