
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
"Sayang sudah malam, sebaiknya kita pulang!" ajak Alwi.
"Iya, tapi kita anterin Sarah pulang dulu ya Mas."
"Boleh."
"Hmmm...Sarah biar aku yang anterin saja," seru Fazri.
"Tidak usah, aku ikut mobil Mas Alwi saja lagipula kan kita belum mahram jadi tidak boleh satu mobil berduaan apalagi malam-malam begini, aku takutnya ada yang salah paham dan berpikiran yang lain-lain kepada Sarah," sahut Sarah.
"Sarah betul, biar Sarah ikut mobil aku aja," sahut Alwi.
Kemudian Alwi pun menghampiri Fazri. "Maka dari itu cepat halalkan Sarah, jangan lama-lama karena agama tidak mengajarkan untuk berpacaran kalau kamu sudah siap dan yakin, segeralah datangi kedua orangtuanya," bisik Alwi.
"Siapa takut, aku akan datang ke rumah Sarah secepatnya," sahut Fazri dengan berbisik juga.
"Bagus, itu baru namanya laki-laki sejati."
Alwi pun menepuk pundak Fazri dan segera masuk ke dalam mobilnya karena Annisa dan Sarah sudah menunggunya di dalam mobil.
"Sar, bagaimana kalau Fazri tiba-tiba datang ke rumahmu dan meminta kepada kedua orangtuamu untuk menikahimu?" seru Annisa disela-sela perjalanannya.
"Itu tidak mungkin Nis, kamu jangan mengada-ngada deh. Mana ada yang mau kepada janda seperti aku," sahut Sarah.
"Ishh..ishh..ishh..kamu tidak boleh berkata seperti itu, walaupun janda tapi kamu ga kalah kok sama gadis, iya kan Mas?"
Alwi hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan istrinya itu, hingga tidak lama kemudian mobil Alwi pun sampai di depan rumah Sarah.
"Mas Alwi, Nisa, terima kasih ya sudah mengantarkan aku pulang."
"Sama-sama Sar, kalau begitu kita pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alwi pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sarah menuju rumahnya sendiri. Selama dalam perjalanan, Alwi melihat kalau istrinya sudah tertidur dengan lelapnya.
"Masya Allah, pasti kamu sangat kelelahan ya Sayang," gumam Alwi.
Sesampainya di rumah, Alwi pun segera turun dari dalam mobilnya dan membuka pintu yang satunya lagi.
"Sayang, bangun yuk ini sudah sampai," seru Alwi dengan mengusap wajah Annisa.
Annisa pun mulai menggerakan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.
"Mau jalan sendiri atau mau aku gendong?" tawar Alwi.
"Jalan saja."
Alwi dan Annisa pun masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar mereka itu. Tiba-tiba Annisa berlari dan masuk ke dalam kamar mandi.
Hoek...hoek...hoek...
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alwi khawatir.
Tidak ada jawaban sama sekali membuat Alwi semakin khawatir. Disaat Alwi hendak mendobrak pintu kamar mandi, tiba-tiba Annisa pun keluar dengan wajah yang pucat.
"Ya Allah kamu kenapa Sayang?"
__ADS_1
Annisa tidak menjawab, Alwi memapah Annisa untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Perut Nisa mual, Mas. Padahal dari tadi pagi ga kenapa-napa."
"Sebentar, Mas buatkan teh anget dulu ya."
Alwi pun segera keluar dari kamarnya dan membawakan teh anget buat istrinya itu. Tidak lama kemudian, Alwi pun kembali dengan membawa teh anget itu.
"Minum dulu sayang."
Annisa pun terduduk dan segera meminum teh anget yang dibawakan oleh suaminya itu.
"Bagaimana, apa masih mual?" tanya Alwi.
Annisa hanya menganggukan kepalanya..
"Ya sudah, kita ke dokter saja."
"Besok sajalah Mas, ini sudah malam mana ada dokter yang masih buka."
"Tapi Mas khawatir takut terjadi kenapa-napa sama kamu."
Annisa mengusap wajah Alwi dengan lembut sembari menyunggingkan senyumannya.
"Aku tidak apa-apa, Insya Allah aku baik-baik saja jadi Mas jangan khawatir."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu istirahat saja biar Mas usap perut kamu supaya tidak mual lagi."
Annisa pun mulai merebahkan tubuhnya, sedangkan Alwi duduk di samping Annisa dan mengelus perut Annisa dengan lembut hingga akhirnya tidak lama kemudian Annisa pun kembali tertidur.
Alwi menutup tubuh Annisa dengan selimut, bahkan Annisa masih memakai hijab. Alwi ingin membuka hijab Annisa tapi Alwi takut membangunkannya jadi Alwi membiarkan saja seperti itu.
Alwi pun mencium kening Annisa dan kemudian ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Annisa.
***
Seperti biasa Alwi bangun di pukul tiga subuh, Alwi biasa melaksanakan shalat tahajuz. Annisa pun biasanya ikut shalat juga, tapi dari tadi malam Annisa tidak henti-hentinya bolak-balik ke kamar mandi dan muntah-muntah.
Alwi tidak tega untuk membangunkan istrinya itu. Setelah selesai shalat tahajuz, Alwi melanjutkan mengaji sembari menunggu waktu subuh.
Annisa kembali terbangun dan langsung berlari menuju kamar mandi.
Hoek...hoek...hoek...
Alwi yang melihatnya langsung menyusul istrinya itu.
"Ya Allah, sebenarnya kamu kenapa sayang? dari tadi malam tidak henti-hentinya muntah," seru Alwi dengan memijit tengkuk leher Annisa.
Annisa sudah tidak bisa bicara lagi saking lemasnya, setelah membasuh wajahnya Alwi pun mengangkat tubuh Annisa dan merebahkannya di atas tempat tidur.
"Sebentar, Mas buatkan teh manis dulu."
"Ya Allah, kenapa denganku? kenapa perutku rasanya mual sekali," batin Annisa.
Alwi sedang membuatkan teh manis di dapur...
"Al, kamu sedang apa?" tanya Umi Khadijah.
"Ini Alwi sedang membuatkan teh manis untuk Nisa."
"Memangnya Nisa kenapa?"
"Alwi juga tidak tahu Umi, tapi dari tadi malam Nisa muntah-muntah terus kasihan Nisa sampai lemas."
"Astagfirullah, kamu harus cepat-cepat bawa Nisa ke dokter."
"Iya Umi, nanti pagi Alwi bawa Nisa ke dokter."
__ADS_1
Alwi pun kembali ke kamar, dan ternyata saat ini Annisa sudah duduk di atas sajadah dan membaca al-qur'an membuat Alwi tersenyum.
Tidak lama kemudian suara adzan subuh pun berkumandang, Annisa mengakhiri mengajinya dan Alwi pun menghampiri istrinya itu.
"Minum teh manis ini dulu, biar perut kamu enakan."
Annisa pun segera meminumnya...
"Terima kasih Mas, karena Mas juga ikut terbangun dan Nisa sudah mengganggu tidur Mas."
"Loh kok bicara seperti itu, sudah tugas Mas menjaga dan merawat kamu. Ya sudah, sekarang kita shalat subuh dulu habis itu Mas akan buat kamu sarapan, pasti kamu lapar kan?"
Annisa menganggukkan kepalanya, Alwi dan Annisa pun melaksanakan shalat subuh berjama'ah.
Kali ini Annisa tidak bisa ikut membantu menyiapkan sarapan bersama Umi Khadijah karena tubuhnya yang semakin lemah dan lagi-lagi Annisa kembali muntah-muntah membuat Alwi dan Umi Khadijah pun khawatir.
Setelah dirasa cukup siang, Alwi pun membawa Annisa ke dokter dengan ditemani Umi Khadijah. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Alwi pun sampai disebuah tempat praktek dokter.
Annisa segera di periksa oleh dokter itu...
"Sudah selesai Ibu."
"Terima kasih Dokter."
Annisa dan Alwi pun duduk dihadapan Dokter. "Bagaimana Dokter, istri saya sakit apa?" seru Alwi panik.
"Bapak tidak usah khawatir, Ibu Annisa tidak sakit apa-apa."
"Tapi kenapa istri saya mual-mual terus?"
"Itu hal biasa Bapak, untuk Ibu-ibu yang sedang ngidam."
Alwi dan Annisa saling pandang satu sama lain, mereka masih belum ngeuh dengan ucapan sang Dokter.
"Maksud Dokter apa?" tanya Annisa.
"Ibu saat ini sedang mengandung dan usia kandungan Ibu baru empat belas hari jadi jaga kandungannya, sekarang saya kasih resep obat anti mual dan vitamin."
"Alhamdulillah ya Allah."
Mata Alwi dan Annisa tampak berkaca-kaca, setelah selesai diperiksa dan menebus obat Alwi dan Annisa pun memutuskan untuk pulang ke pondok pesantren.
Annisa ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada Kakak dan kedua orangtuanya.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1