Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 21 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Keesokan harinya...


Sarah pun keluar dari taksi online, tapi disaat Sarah akan masuk ke kampus tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.


"Sarah tunggu!"


"Mas, ngapain Mas ada disini?"


"Mas dari tadi nungguin kamu, Mas mohon batalkan perceraian itu Sarah, Mas tidak ingin berpisah denganmu."


"Mas sudahlah, aku kan sudah bilang aku bukan wanita yang mempunyai hati yang lapang. Aku belum sanggup kalau harus berbagi suami dengan wanita lain."


"Kalau begitu aku akan ceraikan Syfa."


"Mas!"


Sarah dan Abbad langsung menoleh, ternyata Syfa sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Syfa pun menghampiri Abbad. "Mas, Mas kemana saja? kenapa selama ini ponsel Mas mati dan susah untuk dihubungi," seru Syfa.


Sarah langsung melepaskan tangannya dan hendak pergi tapi lagi-lagi Abbad menahannya.


"Apa lagi sih Mas? aku mau masuk," kesal Sarah.


Tiba-tiba Syfa mendorong Sarah membuat Sarah oleng tapi untungnya tidak sampai terjatuh.


"Pasti kamu yang sudah melarang Mas Abbad untuk menemuiku kan? aku itu istrinya Mas Abbad juga, bahkan saat ini aku sedang mengandung anaknya seharusnya kamu itu malu karena sudah beberapa bulan menikah dengan Mas Abbad tapi kamu belum hamil juga, jangan-jangan kamu mandul ya," cibir Syfa.


"Syfa, jaga bicaramu!" bentak Abbad.


Sementara itu Sarah hanya bisa menundukan kepalanya dengan deraian airmata.


"Kenapa Mas membentakku? memang benar kan kalau wanita ini yang sudah melarang kamu untuk menemuiku."


"Sarah tidak pernah melarangku Syfa, aku sendiri yang memutuskan untuk tidak menemuimu," sahut Abbad.


"Kenapa Mas? apa kamu lupa kalau saat ini aku sedang mengandung anakmu?"


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka, Annisa pun keluar dari dalam mobil bersama Alwi.

__ADS_1


"Astagfirullah Sarah, kamu kenapa?" seru Annisa yang langsung memeluk sahabatnya itu.


Syfa tampak melongo melihat kedatangan Annisa dan Alwi, Syfa tidak tahu kalau saat ini Annisa dan Alwi sudah menikah.


"Mas Alwi, kenapa Mas bisa satu mobil bersama wanita itu? jangan-jangan wanita itu sudah menggoda Mas Alwi juga ya? kalian berdua memang cocok sama-sama wanita penggoda," cibir Syfa.


"Astagfirullahaladzim, istighfar Syfa kamu sudah dikuasai oleh hawa nafsu, bertaubatlah dan meminta ampun kepada Allah," seru Alwi.


"Apa hakmu menasehatiku, sekarang kamu sudah bukan suamiku lagi," sahut Syfa.


"Anggap saja aku sebagai penceramah yang sedang memberikan tausiyah, dan untuk Masnya saya cuma mau berpesan jangan pernah melepaskan mutiara dari genggaman jika hanya tergoda kilau berlian dari kejauhan, karena nyaman itu bukan tentang fisik melainkan siapa yang mampu memperlakukan kita dengan baik," seru Alwi.


"Maksud kamu apa Mas? jadi kamu menyalahkan aku?" kesal Syfa.


"Syfa, kenapa kamu tidak pernah berubah? ini yang aku tidak suka dari kamu, kamu itu keras kepala, selalu menyalahkan orang lain padahal dirimu sendiri yang melakukan kesalahan," seru Abbad.


"Jadi Mas Abbad juga menyalahkanku? bukanya semua ini gara-gara wanita itu yang tiba-tiba datang dan merebutmu dari aku!" bentak Syfa dengan menunjuk kepada Sarah.


"Astagfirullahaladzim, Mbak istighfar Mbak. Mbak itu seorang muslim seharusnya Mbak tahu kalau diam itu lebih baik, belajarlah sabar agar tindakanmu benar, seharusnya bagi orang yang beriman dia akan memaafkan kesalahan orang lain, menutup aibnya, dan melupakannya. Tujuan kita hidup untuk beribadah dan mengingat Allah, bukanya mengingat kesalahan orang lain. Mungkin luka itu masih ada, tapi alangkah baiknya jika Mbak memaafkan. Orang beriman adalah orang yang bisa menahan amarahnya, seumpama Mbak memilih makanan yang baik untuk Mbak makan, maka dalam berucap pun pilihlah kata-kata yang baik untuk Mbak ucapkan," seru Annisa.


Syfa terdiam, hingga akhirnya Syfa pun memilih untuk pergi.


"Mas Abbad, aku mohon tolong hargai keputusan Sarah," seru Annisa.


"Nisa, Mas mohon bujuk Sarah supaya dia mengurungkan niatnya untuk menggugat cerai Mas, Mas ngaku salah dan Mas sangat menyesal dengan apa yang sudah Mas lakukan, Mas sangat mencintai Sarah," sahut Abbad.


Sarah yang awalnya memeluk Annisa, memilih berlari dan pergi meninggalkan semuanya.


Alwi pun mencium kening Annisa membuat Abbad memalingkan wajahnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Annisa pun pergi menyusul Sarah, Alwi pun membalikan tubuhnya hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Tunggu! bisakah kita bicara sebentar," seru Abbad.


Alwi kembali membalikan tubuhnya, kemudian tersenyum.


"Bisa, kita mau bicara dimana?" tanya Alwi.


"Bagaimana kalau di restoran yang ada di ujung jalan sana."


"Boleh."


Alwi dan Abbad pun akhirnya masuk ke dalam mobil masing-masing menuju restoran yang Abbad maksud, sesampainya di restoran Abbad pun memesankan minuman untuk mereka berdua.


"Maaf sebelumnya, kenalkan nama aku Abbad."

__ADS_1


"Alwi."


"Aku tahu kamu adalah seorang Ustadz, jadi aku ingin sedikit curhat masalah rumah tanggaku saat ini. Aku tahu Syfa adalah mantan istrimu."


"Iya, dan aku menceraikannya karena Syfa masih mencintaimu," sahut Alwi.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk merusak rumah tanggamu, aku sudah beberapa kali bilang kepada Syfa supaya melupakanku tapi Syfa tetap keukeuh dengan pendiriannya dan pada akhirnya sekarang menimbulkan masalah."


Alwi mendengarkan keluhan Abbad dengan seksama.


"Sebenarnya aku sudah menikah siri dengan Syfa, dan aku tidak bilang kepada Sarah tapi akhirnya Sarah mengetahui semuanya dan dia marah besar. Jujur, awalnya aku memang sangat mencintai Syfa dan aku terpaksa menikah dengan Sarah karena kedua orangtuaku menjodohkanku. Walaupun aku melakukan kewajibanku sebagai suami, tapi aku tidak mempunyai rasa kepadanya tapi lama-kelamaan aku justru berbalik mencintai Sarah karena sifat lembut dan perhatian Sarah."


"Terus, kenapa Sarah ingin menggugat cerai kamu?" tanya Alwi.


"Karena dia tidak ingin dimadu, jadi aku harus bagaimana? aku sangat pusing menghadapi masalah ini."


"Disaat kita punya masalah, jangan minta dikecilkan masalahnya tapi mintalah dikuatkan hati dan tubuh kita untuk menghadapi masalah itu, jika saat ini kita punya masalah jangan minta diselesaikan dulu masalanya sebelum kamu mendapatkan hikmah dibalik masalah itu. Kamu tahu, yang penting dalam ujian itu bukan ujiannya tapi pelajaran yang bisa kita ambil. Dan yang paling penting dari masalah kamu bukan masalahnya, tapi hikmah dan berkah yang bisa kita dapatkan."


"Tapi Al, aku tidak mau bercerai dengan Sarah tapi Sarah keukeuh ingin menceraikanku."


"Hormati dan hargai keputusannya, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk kalian berdua. Percayalah dan serahkan semuanya kepada Allah dan kamu harus yakin pada ketentuan Allah, Allah pasti memberikan jalan terbaik untuk kalian berdua."


Abbad hanya bisa menundukan kepalanya...


"Aku hanya bisa berpesan kepadamu, jangan mudah menyakiti hati perempuan karena perempuan itu hatinya seperti cermin. Cermin itu kalau sudah pecah, kita bisa merangkai kembali pecahan cermin itu tapi pantulan cahayanya tidak akan sama seperti sedia kala, itulah hati perempuan hatinya itu kalau sudah tersakiti mudah memaafkan tapi tak mudah melupakan."


Abbad semakin menundukan kepalanya, kali ini dia benar-benar harus melepaskan Sarah akibat ulahnya sendiri.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2