Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 8 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


3 bulan kemudian....


Semenjak Alwi mengikuti Syfa ke restoran, Alwi tidak langsung memulangkan Syfa kepada orangtuanya. Alwi sengaja mengulur waktu, karena ingin melihat apakah Syfa akan berubah atau malah semakin menjadi.


Ternyata selama 3 bulan ini, kelakuan Syfa malah semakin tidak terkendali bahkan Syfa sudah jarang ada di rumah jangankan mengurus suami, Syfa pun sering keluar rumah tanpa seizin Alwi.


"Mas, mau kemana lagi? Mas kan baru pulang, masa mau pergi lagi?" tanya Sarah.


"Mas ada urusan Sarah dan mungkin malam ini tidak pulang," sahut Abbad.


"Ada urusan apa Mas? lagipula sebentar lagi malam."


"Kamu kenapa sih, tanya-tanya terus? pokoknya Mas ada urusan dan malam ini tidak akan pulang!" bentak Abbad.


Sarah merasa terkejut karena selama ini Abbad adalah sosok suami yang penyayang dan baru kali ini Abbad berani membentaknya. Dengan kesalnya, Abbad pun pergi meninggalkan rumahnya tanpa mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam Mas," lirih Sarah dengan deraian airmata.


Sebenarnya Sarah sudah mulai curiga kepada Abbad, karena akhir-akhir ini Abbad sering pulang malam, disaat hari libur Abbad lebih memilih pergi dari rumah dengan alasan toko sedang rame-ramenya.


Abbad mempunyai beberapa toko kain dan biasanya Abbad akan pulang cepat dan di hari libur, Abbad akan memilih diam di rumah tapi kali ini sikap Abbad sangat mencurigakan.


"Mas Abbad kenapa?" batin Sarah.


Sementara itu, di rumah Alwi...


Syfa terlihat sudah bersiap-siap dan berdandan di depan cermin.


"Mau kemana? sebentar lagi malam?" seru Alwi.


"Bukan urusan Mas," ketus Syfa.


Setelah selesai dandan, Syfa pun segera mengambil tasnya. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Syfa pun langsung keluar dan diluar sudah ada taksi yang sebelumnya sudah Syfa pesan, Alwi menyusul ke depan dan memperhatikan kepergian Syfa.


"Nak, Syfa mau kemana? sebentar lagi maghrib bukanya shalat maghrib dulu," seru Umi Khadijah.


"Entahlah, mungkin ada sesuatu yang sangat penting," sahut Alwi.


Alwi mendudukan tubuhnya di atas sofa, Umi Khadijah pun duduk di samping Alwi. Alwi mengusap wajahnya, membuat Umi Khadijah merasa sangat bersalah.


"Maafkan Umi, Nak."


Alwi menoleh ke arah Umi Khadijah yng saat ini matanya sudah berkaca-kaca.


"Astagfirullah Umi, Umi kenapa? kenapa harus minta maaf segala?" seru Alwi dengan menggenggam kedua tangan Umi Khadijah.


"Umi sudah salah menilai orang, Umi pikir Syfa akan menjadi istri yang baik untukmu tapi nyatanya Syfa sama sekali tidak pantas bersanding denganmu, Nak," sahut Umi Khadijah.

__ADS_1


Umi Khadijah meneteskan airmatanya. "Maafkan Umi karena Umi sudah menjodohkan kamu dengan Syfa, Umi pikir anak dari seorang Kyai yang ahli agama akan menjadi istri yang sholehah tapi malah sebaliknya."


"Umi bicara apa?"


"Nak, Umi sudah sering mendengar Syfa telepon-teleponan dengan seorang pria, bahasanya sangat mesra dan tidak pantas diucapkan oleh wanita yang sudah bersuami."


Alwi terdiam, Umi Khadijah pun berbalik menggenggam kedua tangan Alwi.


"Apa pun yang akan kamu lakukan, Umi tidak akan melarangnya asal kamu jangan melakukan hal yang berlebihan," seru Umi Khadijah.


"Terima kasih Umi, Alwi tahu apa yang akan Alwi lakukan."


Alwi dan Umi Khadijah pun segera mengambil air wudhu dan mereka langsung pergi menuju mesjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjama'ah. Dikarenakan jarak antara waktu maghrib menuju isya tidaklah lama, Alwi pun lebih memilih mengaji membaca Al-qur'an sampai waktu isya, sehabis itu dilanjut dengan shalat isya berjama'ah.


Setelah selesai, Alwi dan Umi Khadijah pun pulang ke rumah.


"Tahu tidak, barusan anak aku yang baru pulang kerja katanya melihat istri ustadz Alwi masuk ke dalam hotel bersama pria lain," seru salah satu warga.


"Ah, masa sih? salah lihat kali, masa istri ustadz yang tahu akan agama melakukan hal tercela seperti itu," sahut warga satunya lagi.


"Asli, masa anak saya bohong buat apa? nih coba kamu lihat, anak saya sampai memfotonya."


Warga itu memperlihatkan ponselnya kepada salah satu temannya, mereka masih belum sadar kalau dibelakang ada Alwi dan Umi Khadijah.


Alwi dan Umi Khadijah mendengar pembicaraan mereka karena jarak warung dan juga gang yang dilewati mereka tidaklah jauh. Umi Khadijah sampai-sampai memegang dadanya.


Alwi mengusap punggung Uminya. "Ayo Umi kita pulang!" ajak Alwi lembut.


Sesampainya di rumah, Umi Khadijah langsung masuk kamar begitu pun dengan Alwi. Alwi kembali merenung, tapi sepertinya kali ini memang Alwi harus bicara kepada kedua orangtua Syfa mengenai kelanjutan rumah tangganya.


Alwi pun segera berganti pakaian, kemudian mengambil kunci mobilnya.


"Umi, Alwi keluar sebentar!"


"Assalamaualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alwi pun segera masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Syfa.


Di tengah-tengah mengemudikan mobilnya, Alwi teringat akan ucapan tetangganya tadi.


"Kalau benar apa yang dikatakan Bapak tadi, sungguh celaka hidupmu Syfa," gumam Alwi.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Alwi pun sampai di depan rumah orangtua Syfa.


Tok..tok..tok..


"Assalamualaikum."


Ceklek...


"Waalaikumsalam, ya Allah Nak Alwi silakan masuk!" ajak Umi Aisyah.


Alwi mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Abi, ini ada Nak Alwi!" teriak Umi Aisyah.


Abi Idris pun segera menuju ruang tengah dan menyambut dengan gembira kedatangan menantu kesayangannya itu. Alwi segera bangkit dari duduknya dan mencium punggung tangan Abi Idris.


"Abi sehat?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Nak."


"Kamu kesini tidak bersama Syfa, Nak? Umi sangat merindukan Syfa, soalnya sudah 3 bulan ini Syfa tidak pernah datang berkunjung kesini," seru Umi Aisyah.


Deg....


Alwi sampai terkejut mendengar ucapan Umi Aisyah, berarti selama ini Syfa pergi kemana dan tidur dimana.


"Nak, kok malah melamun?" seru Abi Idris.


"Astagfirullahaladzim."


Alwi mengusap wajahnya, Umi Aisyah dan Abi Idris merasa ada sesuatu yang terjadi.


"Ada apa Nak?"


"Maaf Abi, Umi, kedatangan Alwi kesini ingin memulangkan Syfa."


Orantua Syfa terperanjat mendengar ucapan Alwi.


"Kenapa Nak?" tanya Umi Aisyah.


"Maafkan Alwi Umi, Alwi tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena kalau dilanjutkan hanya akan membuat Alwi semakin berdosa."


"Tapi kenapa Nak? apa yang sudah Syfa lakukan?" tanya Abi Idris.


"Alwi tidak bisa memberitahukan aib orang lain, biar Umi dan Abi tanyakan sendiri kepada Syfa."


"Apa kamu tidak bisa menuntun Syfa agar Syfa lebih baik lagi dan memberinya kesempatan?" tanya Umi Aisyah.


"Umi, Syfa adalah wanita dewasa bahkan mungkin Syfa tahu akan agama karena Umi dan Abi sudah mengajarkannya, jadi Alwi tidak perlu lagi harus mengajarkan Syfa mana yang baik dan mana yang buruk, tapi kalau Syfa sudah melabrak aturan Allah berarti Syfa sudah siap mempertanggung jawabkannya nanti di hadapan Allah."


Umi Aisyah meneteskan airmatanya, dia memang tidak tahu apa yang sudah dilakukan puterinya tapi dia yakin Alwi tidak akan memutuskan hal secara gegabah kalau Syfa tidak melakukan hal yang fatal.


"Umi, Abi, perceraian memang dibolehkan tapi sangat dibenci oleh Allah. Mungkin Alwi bukan jodoh Syfa, jadi Allah memberikan ujian dalam rumah tangga kami. Maafkan Alwi, mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kita berdua karena dilanjutkan pun tidak mungkin ke depannya kita hanya akan memupuk dosa."


Orangtua Syfa hanya bisa diam, anak mereka sungguh sudah bodoh menyia-nyiakan pria sholeh seperti Alwi.


Setelah cukup lama berbincang, Alwi pun pamit pulang. Umi Aisyah dan Abi Idris tidak henti-hentinya meminta maaf kepada Alwi atas apa yang sudah dilakukan Syfa.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2