Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 28 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, semenjak itu Fazri rajin datang ke pondok untuk memperdalam ilmu agamanya. Tekad Fazri yakin kalau dia ingin menikahi Sarah dan akan membahagiakan Sarah.


Sarah pun sudah melewati masa idahnya dan selama masa idah itu, Sarah sama sekali tidak bertemu dengan Fazri.


"Nis, pulang kuliah kamu mau kemana?" tanya Sarah.


"Aku mau ke rumah singgah, soalnya saat ini Mas Alwi ada disana dan sepertinya aku bakalan nyusul Mas Alwi kesana."


"Boleh ga aku ikut?"


"Boleh dong dengan senang hati."


"Wah, terima kasih ya Nis."


Sarah pun memeluk Annisa dengan eratnya membuat Annisa tersenyum. Tiba-tiba Syfa datang dengan raut wajah yang sama sekali tidak bersahabat.


"Enak ya kalian peluk-pelukan disini," sinis Syfa.


Sarah dan Annisa pun melepaskan pelukan mereka dan menatap bingung ke arah Syfa.


"Sarah, apa kamu selama ini menggunakan pelet?" ketus Syfa.


"Astagfirullah jangan sembarangan kamu kalau ngomong, aku tidak pernah pelet siapapun lagipula pelet itu dilarang oleh agama," seru Sarah emosi.


"Kalau kamu tidak pakai pelet, kenapa sampaj sekarang Mas Abbad tidak bisa melupakanmu bahkan Mas Abbad tidak pernah menyentuhku."


"Kalau masalah itu tanyakan kepada dia dan kamu jangan menyalahkan orang lain."


Sarah bangkit dari duduknya dan menarik tangan Annisa untuk pergi dari sana tapi Syfa menahan lengan Sarah.


"Ini semua gara-gara kamu, Mas Abbad menjadi orang yang dingin kepadaku bahkan semua tetangga disana memuji dirimu, apa yang sudah kamu lakukan sampai-sampai semua orang menyukai kamu? bahkan mertuaku pun selalu menyebut namamu dan itu membuat aku muak," kesal Syfa.


Sarah menghempaskan tangan Syfa. "Kalau kamu ingin disukai banyak orang, bersikaplah yang orang lain akan menyukaimu, dan kalau kamu ingin dihargai, hargailah orang lain terlebih dahulu. Perbaiki dirimu, ingat kamu itu sedang mengandung dan calon anakmu itu akan tahu apa yang dilakukan dan diucapkan Ibunya, jadi perbanyaklah istighfar dan membaca Al-qur'an supaya anakmu kelak lahir menjadi anak yang sholeh dan sholehah," sahut Sarah.


Sarah pun kembali menarik tangan Annisa dan pergi meninggalkan Syfa yang semakin kesal dibuatnya.


Annisa dan Sarah pun segera menghentikan taksi, selama dalam perjalanan Sarah tampak terdiam dan Annisa pun lebih memilih diam dan tidak mengajak Sarah berbicara.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, taksi yang ditumpangi kedua wanita cantik itu sampai di rumah singgah milik Alwi. Sarah mengerutkan keningnya karena Sarah merasa kenal dengan mobil yang terparkir di depan rumah singgah itu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Annisa tidak langsung menghampiri Alwi karena saat ini suaminya itu sedang mengajarkan mengaji kepada penghuni rumah singgah itu.


"Sar, kita ke dapur saja yuk! biasanya jam segini, Kak Bayu dan Kak Jafar sedang menyiapkan makan untuk makan malam," seru Annisa.


"Ayo."


Annisa dan Sarah pun melangkahkan kakinya menuju dapur, dan betapa terkejutnya Sarah saat melihat Fazri juga ada disana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Loh, Mas Fazri ada disini juga?" tanya Annisa.


"Iya, tadi kan aku habis dari pondok pesantren bareng Alwi dan Alwi mengajak aku untuk mampir dulu kesini," sahut Fazri.


Fazri melirik Sarah yang saat ini hanya bisa menundukan kepalanya, kemudian terbitlah sebuah senyuman di wajah tampan Fazri.


"Kak Bayu, Kak Jafar, Nisa bantuin masak ya."


"Tidak usah Mbak, lagipula sebentar lagi juga selesai kok," sahut Bayu.


"Ya sudah, Mbak Nisa bantu potong-potong sayuran soalnya saat ini kita akan membuat sayur," seru Bayu.


"Oke..."


Annisa pun segera duduk dan mulai memotong sayuran yang sudah ada di atas meja makan, begitu pun dengan Sarah yang ikut membantu Annisa. Fazri hanya bisa tersenyum melihat Sarah yang tampak malu-malu itu.


Beberapa saat kemudian, semua masakan pun selesai. Annisa dan yang lainnya ke depan dan menghampiri Alwi yang saat ini sedang berdialog dengan penghuni rumah singgahnya.


Annisa duduk di samping Alwi dan mencium punggung tangan Alwi.


"Ustadz, kami yang ada disini kebanyakan anak-anak yang membangkang kepada orangtua, apakah kami punya kesempatan untuk bisa masuk surga?" tanya salah satu laki-laki bertato.


"Iya Ustadz, kami selalu menyakiti hati mereka bahkan kami memutuskan untuk pergi dari rumah karena kami ingin hidup bebas tanpa harus selalu mendengar ceramah mereka yang menurut kami sangat membosankan," sambung laki-laki lainnya.


"Kita itu harus memuliakan orangtua kita dan berbuat baik kepada orangtua kita karena ridho Allah ada pada ridho kedua orangtua kita dan murka Allah ada pada murka kedua orangtua kita. Orangtua kita, tidak akan menjerumuskan anaknya kepada hal yang buruk tapi orangtua kita selalu berusaha mengingatkan kita supaya kita tetap berada di jalan yang lurus."


"Ada seorang anak, jidatnya hitam gara-gara rajin shalat, hafal al-qur'an, rajin puasa senin-kamis, tiap malam dia tahajuz, malam jum'at dia itikaf di mesjid, kemudian rajin membersihkan mesjid bahkan dia ikut mengajar ngaji diesjid itu, tapi dia durhaka kepada kedua orangtuanya. Bapaknya dia khianati dan Ibu dia buat meneteskan airmata setiap hari maka kata Nabi, demi Allah jangankan masuk surga, mencium baunya surga saja diharamkan untuk dia. Naudzubillahimin dalik, maka dari sini kalian bisa tahu kalau memuliakan orangtua itu sangatlah penting janganlah kalian menyakiti hati orangtua kalian maka jika diantara kalian yang sudah terlanjur menyakiti mereka, datanglah, bersujudlah kepada mereka, meminta maaf dan ampunan sebelum terlambat."


Semuanya terlihat menundukan kepalanya bahkan tidak sedikit diantara mereka yang sampai meneteskan airmatanya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah sangat menyakiti mereka Ustadz, apa mereka mau memaafkan aku?"


"Sejahat apapun kita, seburuk apapun kita, sebejad apapun kita, orangtua kita akan tetap menyayangi kita pintu maaf selalu terbuka untuk anaknya, itulah kebesaran hati orangtua kita dan sampai kapan pun kita tidak akan bisa membalas semua kebaikan mereka."


"Ibnu Umar pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah, Rasulullah aku tidak bisa melihat wajahnya Allah tapi aku ingin melihat Allah tersenyum kepada hambanya? kemudian Rasulullah menjawab. Wahai Ibu Umar, jika kamu ingin melihat wajah Allah tersenyum kepadamu, maka buatlah senyuman di wajah Ibumu karena disaat Ibumu tersenyum melihat kebaikanmu, Ibumu tersenyum karena ulahmu, Ibumu tersenyum karena kelakuanmu, Ibumu tersenyum karena prilakumu, Ibumu tersenyum karena prestasimu, Ibumu tersenyum karena sesuatu yang kamu berikan kepadanya, disaat itulah Allah sedang tersenyum kepadamu."


Bukan orang-orang disana saja yang menundukan kepalanya dan meneteskan airmatanya, bahkan Alwi pun bibirnya bergetar saat mengatakan itu. Alwi ikut menundukan kepalanya, airmatanya pun tak terasa ikut menetes membuat Annisa mengusap punggung suaminya itu.


Alwi sangat menyayangi Uminya melebihi apapun, bahkan Alwi rela melakukan apapun demi kebahagiaan Uminya. Alwi paling tidak bisa menahan airmata kalau mengenai Uminya, karena sampai saat ini Alwi belum bisa membalas semua kebaikan dan pengorbanan Uminya.


"Jadi, mumpung kalian masih diberi kesempatan hidup oleh Allah maka segeralah bertobat dan meminta ampun kepada Allah. Jika diantara teman-teman disini yang masih mempunyai orangtua, saya sarankan pulanglah. Peluklah orangtua kalian, meminta maaflah kepada orangtua kalian, jangan sampai kalian menyesal dikemudian hari."


Setelah semuanya tenang dan merenungkan diri mereka masing-masing, tidak terasa adzan maghrib pun sudah mengumandang. Alwi mengajak semuanya untuk shalat berjamaah dan setelah shalat berjamaah mereka pun makan malam bersama.


Alwi, Fazri, Annisa, dan Sarah saat ini sedang berbincang-bincang di teras rumah singgah. Tiba-tiba beberapa orang datang menghampiri dengan membawa tas mereka masing-masing.


"Ustadz, kami ingin pamit terima kasih karena selama ini sudah menampung kami dan selalu memberikan nasehat kepada kami."


"Sama-sama, mudah-mudahan kalian selalu istiqomah dan jangan melakukan lagi kesalahan yang sama," seru Alwi.


"Insya Allah Ustadz, kami sadar selama ini kami sudah menyakiti hati orangtua kami dan sekarang kami akan pulang dan meminta maaf kepada mereka."


"Bagus, pulanglah bahagiakan kedua orangtua kalian."


"Sekali lagi terima kasih banyak Ustadz."


Orang-orang yang berjumlah tujuh orang itu akhirnya bersalaman dan berpamitan kepada semuanya. Diantara puluhan orang yang menempati rumah singgah milik Alwi, hanya mereka saja yang masih mempunyai orangtua selebihnya mereka sudah hidup sebatang kara.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2