Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 20 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Setelah selesai, Alwi pun mengajak Annisa untuk pulang. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Alwi pun sudah memasuki halaman rumahnya sendiri.


Mendengar suara mobil puteranya, Umi Khadijah langsung keluar dan menyambut kedatangan putera dan menantunya itu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Annisa langsung mencium punggung tangan mertuanya itu dan Umi Khadijah pun memeluk menantu cantiknya itu.


"Katanya kalian berangkat sudah sejak pagi, kenapa sekarang baru sampai? Umi sudah menunggu kalian, Umi khawatir takut terjadi kenapa-napa sama kalian."


"Maafkan Alwi, tadi Alwi mengajak Annisa mampir ke rumah singgah dulu dan Alwi lupa memberi kabar kepada Umi," sahut Alwi.


"Oh begitu, ya sudah yuk kita masuk Umi sudah masak untuk makan siang."


Ketiganya pun masuk ke dalam rumah dan langsung melahap makan siang yang sudah Umi Khadijah siapkan.


"Maafkan Annisa Umi, Annisa tidak bantu Umi menyiapkan makan siang," seru Annisa.


"Tidak apa-apa Nak, Umi senang kok menyiapkan makanan untuk kalian."


Setelah selesai makan siang, Annisa pun membereskan semuanya dan langsung memcuci piring dan gelas kotor. Annisa melarang Umi Khadijah untuk membantunya, maka dari itu Umi Khadijah dan Alwi duduk di sofa sembari memperhatikan Annisa.


"Annisa memang wanita yang berbeda dengan Syfa," seru Umi Khadijah.


"Sudah Umi jangan membandingkan Syfa dengan Annisa, biarlah semuanya menjadi pelajaran untuk Alwi."


"Iya Nak, maafkan Umi ya karena sudah keliru mencarikan kamu istri, Umi sangat merasa bersalah padahal Umi ingin melihat kamu menikah satu kali seumur hidup kamu tapi justru Umi yang sudah membuat kamu gagal, Umi terlalu memaksakan kehendak Umi yang ingin mengabulkan amanat Abi kamu tanpa mengenal terlebih dahulu siapa calon istri kamu," sesal Umi Khadijah.


Alwi mendekap tubuh Uminya yang sudah mulai menua itu.

__ADS_1


"Sudah, Umi tidak usah minta maaf terus Alwi sudah menerima apa yang sudah terjadi dalam hidup Alwi. Umi tidak usah menyalahkan diri sendiri ataupun menyesali secara berlebihan apa yang sudah terjadi, masa lalu biarlah berlalu karena kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu lagipula Alwi sudah ridho menerima semuanya. Rasulullah pernah bersabda yang artinya, barang siapa yang ridho dengan ketentuan Allah maka ada keridhoan Allah disitu tapi barang siapa yang murka dengan ketentuan Allah, bisa jadi disitu akan ada kemurkaan Allah. Selalu ada kebaikan di masa lalu jika kita bisa menerimanya."


Annisa tersenyum mendengar ucapan Alwi, sungguh Alwi adalah suami idaman para wanita karena di zaman seperti sekarang ini susah sekali mencari suami sholeh seperti Alwi dan Annisa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan Alwi.


"Umi tahu, justru Alwi sangat bersyukur kepada Allah karena sudah menghadirkan kejadian di masa lalu karena dengan itu, Alwi bisa memetik pelajaran sebagai perbaikan di waktu yang akan datang. Masa lalu memang bukan untuk dilupakan karena tidak mudah untuk melupakan, tapi masa lalu bisa dijadikan cerminan untuk diambil pelajaran supaya kita tidak terjatuh lagi dikesalahan yang sama."


Umi Khadijah melepaskan dekapan puteranya itu dan mengusap kepala Alwi dengan penuh kasih sayang.


"Umi sangat bersyukur mempunyai putera sholeh sepertimu Nak."


Annisa masih berdiri dan tersenyum melihat pemandangan yang menyejukan hati itu, hingga Alwi pun menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Sayang, kok malah berdiri disitu? sini gabung!" ajak Alwi.


Annisa pun dengan senyumannya menghampiri Alwi dan Uminya kemudian duduk di samping Alwi.


"Nisa sangat senang melihat kedelatan Mas Alwi sama Umi, jarang sekali Nisa melihat pemandangan seperti ini," seru Annisa.


Alwi mendekap Annisa dan mencium kening Annisa membuat Umi Khadijah tersenyum bahagia.


"Sudah masuk waktu dzuhur, Umi masuk dulu ke kamar mau shalat," seru Umi Khadijah.


"Astagfirullah Mas, kita juga belum shalat ayo kita shalat berjama'ah."


Annisa dan Alwi pun masuk ke dalam kamar, setelah mengambil air wudhu lalu mereka pun melaksanakan shalat berjama'ah.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai shalat Annisa mencium punggung tangan Alwi penuh dengan khidmat begitu pun Alwi yang langsung memcium seluruh wajah Annisa tanpa ada yang terlewatkan.


"Sayang, Mas boleh jujur tidak."


"Mas mau jujur soal apa?"


"Sebenarnya sudah sejak lama Mas itu mengagumi kamu, dulu Mas sering datang ke pondok pesantren Abah untuk menjenguk Arman dan disitu Mas suka curi-curi pandang sama kamu saat kamu sedang mengajar para santriwati."


"Hah, serius Mas? kok Nisa ga tahu? bahkan Nisa ga pernah lihat Mas datang ke pondok pesantren, pertama kali Nisa melihat Mas saat Mas datang untuk ceramah tabligh akbar bersama mantan Mas," sahut Annisa.


"Dulu Mas sangat takut untuk melamar kamu, takut kamu menolak Mas jadi Mas hanya bisa memendam perasaan Mas. Karena menurut Mas ada cara terbaik untuk mengungkapkan perasaan Mas, kamu tahu apa itu?"


Annisa menggelengkan kepalanya...


"Cinta dalam diam, rindu dalam ta'at."

__ADS_1


Annisa tersenyum mendengar ucapan Alwi, entah kenapa setiap perkataan Alwi selalu membuat jantung Annisa berdetak tak karuan.


"Jadi saat Mas berdo'a kepada Allah, Mas mengungkapkan perasaan cinta Mas. Mas selalu curhat kepada Allah, Ya Allah hamba mempunyai perasaan kepada seorang perempuan jadi jika dia jodoh hamba maka dekatkanlah, itulah do'a yang selalu Mas ucapkan disetiap akhir sujud Mas."


Annisa sungguh terharu dengan ucapan Alwi, dengan mata yang berkaca-kaca Annisa pun memeluk suaminya itu.


"Terima kasih sudah memilih Nisa untuk menjadi istri Mas."


"Justru Mas yang terima kasih karena kamu sudah mau menerima lamaran dari seorang duda," seru Alwi dengan senyumannya.


"Nisa tidak memandang status Mas, yang penting laki-laki itu bisa menuntun dan membimbing Nisa menjadi wanita yang lebih baik lagi."


"Jadilah wanita sholehah, mungkin kamu sering mendengar kata-kata seperti ini, dunia adalah perhiasaan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholehah."


Annisa menganggukan kepalanya, kemudian Alwi pun melepaskan pelukan istrinya itu. Alwi menatap wajah cantik sang istri lalu Alwi menangkup kedua pipi Annisa.


"Mas tidak akan membahas masalah mantan istri Mas, tapi Mas ingin kamu menjadi istri yang jauh lebih baik dari mantan istri Mas terdahulu. Dari hadist riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban mengatakan, jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan ramadan), serta betul-betul menjaga *********** (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka."


Setelah mengucapkan itu, Alwi pun mencium bibir Annisa. Alwi sangat berharap kalau Annisa akan menjadi bidadari surganya kelak.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2