
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Keesokan harinya...
Alwi dan Annisa sedang melaksanakan shalat subuh berjama'ah, setelah selesai Annisa segera mencium tangan Alwi dan Alwi mencium seluruh wajah Annisa. Mulai dari kepala, kening, kedua mata, hidung, pipi, dan terakhir bibir Annisa.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku, tetaplah berada di sampingku sampai akhir hayatku," seru Alwi.
"Sama-sama Mas, Mas juga jangan pernah lelah untuk selalu mengingatkan Nisa apabila Nisa berbuat salah."
"Pasti."
Annisa pun segera keluar dari dalam kamar untuk membantu Umi dan Kakaknya membuat sarapan, sedangkan Alwi bergabung bersama Abah Abdullah dan juga Lukman.
"Abah, Alwi mau minta izin kalau hari ini Alwi akan membawa Annisa ke rumah Alwi kasihan Umi sendirian di rumah," seru Alwi.
"Silakan Nak, tugas Abah untuk merawat dan membahagiakan Nisa sudah berpindah kepadamu tuntunlah Nisa dan tegurlah Nisa apabila dia melakukan kesalahan ataupun melanggar peraturan yang sudah menjadi kewajiban dia sebagai seorang istri," sahut Abah Abdullah.
"Pasti Abah."
"Nisa adalah wanita shalihah, selama ini dia tidak pernah mengenal laki-laki mana pun dan kamu beruntung menjadi laki-laki pertama yang mampu meluluhkan hati Bidadari kedua Abah," seru Lukman.
Alwi tersenyum mendengar ucapan Kakak Iparnya itu.
"Abah, Mas Lukman, Alwi, ayo kita sarapan dulu sarapannya sudah siap," seru Addiba.
Ketiga laki-laki beda generasi itu pun bangkit dari duduknya dan segera menghampiri meja makan. Para wanita pun mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk pasangan mereka masing-masing.
Sementara itu di rumah Syfa...
Syfa memberanikan diri pulang ke rumah kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum," lirih Syfa dengan deraian airmata.
Abi Idris dan Umi Aisyah yang saat ini sedang sarapan langsung menoleh ke arah Syfa.
"Waalaikumsalam," sahut kedua orangtuanya secara bersamaan.
__ADS_1
Perlahan Syfa menghampiri meja makan dan terdiam berdiri di samping kedua orangtuanya.
"Ada apa?" tanya Abi Idris.
Syfa langsung berlutut di samping kedua orangtuanya, membuat Umi Aisyah meneteskan airmatanya.
"Sudah satu minggu ini, Mas Abbad tidak menemuiku bahkan ponselnya mati tidak aktif-aktif," seru Syfa dengan deraian airmata.
"Kamu kan sudah menjadi istrinya, kenapa kamu tidak datang saja ke rumahnya," seru Abi Idris dingin.
"Mas Abbad melarang Syfa untuk tidak ke rumahnya."
"Itulah laki-laki pilihanmu, laki-laki yang sudah membuatmu buta akan cinta, laki-laki yang sudah membuat kamu menyia-nyiakan Alwi, jadi sekarang tanggung saja akibat dari perbuatanmu Syfa," seru Abi Idris.
Abi Idris bangkit dari duduknya membuat Umi Aisyah menahan suaminya itu.
"Abi, apakah tidak ada kata maaf untuk Syfa?" seru Umi Aisyah dengan deraian airmatanya.
"Umi tahu kan, hukum bagi orang yang sudah berbuat zina? hukum rajam atau dicambuk, masih untung kita hidup di Negara yang masih menjunjung tinggi hak asasi manusia jadi Syfa tidak menerima hukuman itu, jadi sekarang renungkanlah apa yang sudah dia lakukan bukannya dulu dia begitu keukeuh ingin menikah dengannya? bahkan rela melawan kita, tapi kenapa sekarang dia justru mengeluh," sahut Abi Idris.
Abi Idris pun kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Syfa terduduk lemas dengan deraian airmatanya.
Umi Aisyah pun bangkit dari duduknya dan menuntun Syfa untuk berdiri dan duduk di kursi, bagaimana pun hati seorang Ibu tidak akan tega melihat anaknya seperti itu bahkan walaupun Syfa sudah menyakiti hatinya tapi seorang Ibu akan memaafkan kesalahan anaknya itu.
"Maafkan Syfa, Umi. Syfa sudah banyak melakukan dosa dan sudah mempermalukan Umi dan Abi."
"Maafkan Syfa, Syfa benar-benar menyesal dan tidak menuruti apa ucapan Umi dan Abi."
"Sudahlah Nak, masa lalu tidak akan bisa diulang lagi dan untuk menyesalpun itu sudah terlambat sekarang yang bisa kamu lakukan bertobatlah dan meminta ampun kepada Allah."
"Iya Umi."
"Sekarang kamu istirahat sana, dan jangan lupa makan kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu."
Syfa memegang perutnya yang masih terlihat rata itu, airmatanya kembali menetes sungguh Syfa sangat menyesal karena sudah menuruti hawa nafsunya.
Sementara itu di rumah orangtua Sarah, Sarah terlihat termenung melihat ponselnya. Ya, Sarah baru saja mendapatkan pesan dari Abbad katanya Abbad menunggu Sarah di ujung jalan. Abbad belum berani untuk menemui kedua orangtua Sarah.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Sarah pun memutuskan untuk menemui Abbad. Sarah berjalan kaki menuju ujung jalan, dan benar saja terlihat mobil Abbad terparkir disana. Abbad langsung turun dari dalam mobilnya setalah terlihat Sarah datang.
"Sarah..."
Abbad hendak memeluk wanita yang masih sah menjadi istrinya itu tapi sayang Sarah memundurkan langkahnya sebagai isyarat kalau Sarah menolak untuk dipeluk oleh Abbad.
"Sarah, maafkan Mas. Mas ngaku salah, Mas menyesal sudah mengkhianati kamu."
__ADS_1
Sarah melihat penampilan Abbad, sungguh sangat mengenaskan baru saja berpisah satu minggu penampilan Abbad sudah terlihat acak-acakan seperti itu. Biasanya Abbad sangat menjaga penampilannya tapi sekarang berbanding terbalik.
"Kenapa Mas tidak datang langsung ke rumah? kenapa mesti menunggu disini?"
"Mas takut Sarah, Mas belum siap untuk kehilangan kamu dan Mas tidak ingin bercerai denganmu."
"Jangan berlebihan Mas, seorang laki-laki yang takut akan kehilangan miliknya tidak akan pernah melakukan hal yang membuat miliknya itu bersedih, kenapa Mas baru sekarang merasakan menyesal? sedangkan disaat Mas melakukan dosa, Mas tidak memikirkan aku."
"Mas tahu, Mas sangat salah dan berdosa tapi tolong beri kesempatan untuk Mas supaya Mas bisa merubah semua sifat jelek Mas, Mas janji akan menceraikan Syfa kalau itu memang mau kamu," seru Abbad dengan memohon.
"Kenapa pemikiran Mas begitu picik, apa Mas tidak memikirkan bagaimana nasib anak yang sedang dikandung Syfa? itu anakmu Mas, darah dagingmu jangan menambah dan menumpuk dosa. Mas itu sudah sangat berdosa melakukan zina dan sekarang Mas tidak mau mengakui anak kamu sendiri, jahat banget kamu Mas!" bentak Sarah.
"Terus Mas harus bagaimana Sarah? Mas tidak mau kehilangan kamu dan Mas tidak mau bercerai denganmu."
"Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab dan itu artinya Mas berani bermain api berarti Mas harus siap terbakar. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Syfa dan anak kalian lebih membutuhkan Mas jadi lepaskan aku karena aku belum siap harus berbagi cinta dan aku belum bisa dimadu," seru Sarah.
Sarah membalikan tubuhnya dan hendak meninggalkan Abbad tapi Abbad menahan lengan Sarah.
"Tunggu Sarah, Mas mohon Mas tidak mau menceraikan kamu."
"Maaf Mas, keputusanku sudah bulat kalau Mas tidak mau menceraikan aku, biar aku yang menggugat cerai Mas, Mas tinggal duduk manis saja nanti surat perceraiannya aku kirimkan ke rumah Mas."
Sarah pun langsung berlari meninggalkan Abbad, Sarah sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya. Sedangkan Abbad hanya bisa mengacak-ngacak rambutnya frustasi, akhirnya karena kebodohannya Abbad akan kehilangan wanita yang akhir-akhir ini sudah mengisi hatinya.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU