Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 16 "BSUA"


__ADS_3

πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


Sesampainya di rumah Annisa, Annisa dan Sarah pun langsung masuk.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, loh kok sudah pulang lagi Dek? apa ada yang ketinggalan?" tanya Addiba.


"Tidak Kak, hari ini Nisa sama Sarah bolos kuliah," sahut Annisa.


"Kok bolos? hayo, Kakak aduin sama Abah loh."


"Nanti Nisa ceritakan, sekarang Nisa sama Sarah mau ketemu sama Umi dulu."


Annisa dan Sarah pun menghampiri Umi Aminah yang saat ini sedang berada di halaman belakang mengajarkan santri dan santriwati juga untuk bercocok tanam.


"Assalamualaikum Umi."


"Waalaikumsalam."


Annisa dan Sarap mencium punggung tangan Umi Aminah.


"Kenapa kalian sudah pulang lagi? apa ada masalah?" tanya Umi Aminah.


"Iya Umi, Sarah ingin membicarakan sesuatu kepada Umi."


"Owalah, ya sudah yuk kita bicara disana saja."


Umi Aminah pun mengajak Annisa dan Sarah duduk di sebuah bale-bale yang sengaja di buat untuk tempat istirahat para santri dan santriwati.


"Ada apa, coba cerita sama Umi?"


Sarah terlihat menundukan kepalanya kemudian setelah itu Sarah menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Umi, Mas Abbad selingkuh dari Sarah."


"Astagfirullahaladzim, apa itu sudah benar atau kamu hanya mendengarnya dari orang lain?" tanya Umi Aminah.


"Sarah tahu sendiri Umi, karena tadi malam ada yang menghubungi Mas Abbad dan Sarah yang mengangkatnya dan ternyata itu Syfa menghubungi Mas Abbad dan meminta Mas Abbad membelikan sesuatu."


"Membelikan sesuatu, maksudnya?"

__ADS_1


"Wanita itu sedang mengandung anaknya Mas Abbad, Umi," sahut Sarah dengan deraian airmata.


"Astagfirullahaladzim, Naudzubillahimindalik."


"Jadi Sarah harus bagaimana Umi sekarang? sementara Mas Abbad tidak datang ke rumah Sarah untuk mengembalikan Sarah kepada kedua orangtua Sarah."


"Apa kamu rela di poligami?" tanya Umi Aminah.


Sarah menggelengkan kepalanya. "Tidak Umi, hati Sarah tidak sekuat dan selapang istrinya para Rasul."


"Kalau begitu kamu lepaskan Abbad, jangan menyiksa diri sendiri kalau sudah tidak sanggup makan jalan satu-satunya mengikhlaskan."


"Tapi Umi, Sarah sangat mencintai Mas Abbad walaupun kita menikah karena jalan perjodohan tapi Sarah sudah sangat mencintai Mas Abbad bahkan Sarah berharap Mas Abbad akan menjadi pendamping dan imam Sarah dunia akhirat."


"Sarah dengarkan Umi baik-baik, jangan terlalu banyak berharap kepada manusia karena manusia itu perkataan dan hatinya mudah berubah, banyaklah berharap kepada Allah karena perkataan Allah itu suci, janjinya pasti."


Sarah menundukan kepalanya, sedangkan Annisa setia berada di samping Sarah mengusap punggung sahabatnya itu.


"Jika Allah menghadirkan seseorang yang membuatmu menangis bersedih, maka Allah sedang menyiapkan pahala sabar untukmu dan jika Allah menghilangkan seseorang yang kamu cintai maka Allah sedang menyiapkan pahala ikhlas untukmu maka ikhlaskanlah semua yang pergi meninggalkan kita, ridho menerima dan ikhlas melepas. Kalau sudah demikian, percayalah akan datang pengganti yang jauh lebih baik dari rasa luka yang pernah ada di hati kamu," seru Umi Aminah.


"Tapi Umi, Sarah dan Mas Abbad baru hitungan bulan menikah dan kedua orangtua Sarah sangat mengharapkan kalau pernikahan Sarah dan Mas Abbad itu langgeng, tapi kenyataannya pernikahan ini harus berakhir sampai disini dan Sarah akan membuat kedua orangtua Sarah kecewa," seru Sarah dengan deraian airmata.


"Sarah, Umi yakin kedua orangtuamu akan mendukung keputusan anaknya karena semua orangtua tidak ada yang ingin melihat anaknya menderita tinggal kamunya saja yang harus mempersiapkan mental untuk menjalani semuanya. Keputusan ada di tangan kamu, kamu tinggal pilih bertahan atau melepaskan?" seru Umi Aminah.


"Pikirkan baik-baik Sar, jangan sampai kamu mengorbankan perasaan kamu karena kamu mencintai Mas Abbad. Ingat, kita tidak boleh mencintai sesuatu secara berlebihan," seru Annisa.


Sarah menangis tersedu-sedu, dia merenungi setiap perkataan Umi Aminah dan semua yang dikatakan Umi Aminah ada benarnya manusia itu tempatnya dosa tidak ada yang akan menjamin kalau Abbad akan berubah dan tidak akan mengkhianatinya lagi.


"Sarah mengerti dan Sarah sudah memutuskan untuk berpisah dengan Mas Abbad," sahut Sarah.


"Untuk menguatkan keputusan kamu, cobalah shalat istikharah dan memintalah petunjuk dari Allah atas segala masalah yang sedang kamu alami."


"Iya Umi, terima kasih Umi karena Umi dan Annisa selalu memberikan nasehat kepada Sarah supaya Sarah tidak salah langkah."


Umi Aminah pun memeluk Sarah, Annisa dan Sarah sudah bersahabat sejak SMP jadi Umi dan Abah Annisa sudah menganggap Sarah seperti anaknya sendiri.


"Oh iya, minggu depan Annisa akan menikah," seru Umi Aminah.


Sarah langsung melepaskan pelukannya dan menghapus airmatanya, kemudian menatap Annisa dan Umi Aminah secara bergantian.


"Nis, minggu depan kamu mau menikah tapi kamu tidak memberitahuku," seru Sarah.


"Bukanya tidak memberitahumu, tadi aku berniat akan memberitahumu tapi aku lihat kamu sedang sedih jadi aku urungkan niatku," sahut Annisa.


"Kamu mau menikah sama siapa? perasaan selama ini kamu tidak pernah curhat masalah pria kepadaku?"


Annisa tersenyum dan menundukan kepalanya. "Nisa akan menikah dengan Ust.Alwi," seru Addiba yang baru saja datang dengan membawa minuman dan cemilan.


"Apa? Ust.Alwi? kok bisa?" seru Sarah terkejut.

__ADS_1


"Ust.Alwi sendiri yang langsung datang kesini dan bicara kepada Abah kalau dia ingin melamar Nisa," sahut Addiba.


"Ya Allah, jodoh memang tidak akan kemana ya," sahut Sarah.


"Insya Allah dan mudah-mudahan Ust.Alwi memang jodoh yang dikirimkan Allah kepadaku," seru Annisa.


"Amin..."


Semuanya mengamini ucapan Annisa, Umi Aminah pun pamit karena akan mengajar santri dan santriwati kembali sedangkan ketiga wanita cantik itu melanjutkan berbincang-bincang.


Addiba sangat terkejut mendengar penuturan Sarah, kalau suaminya selingkuh dengan mantan istri Alwi.


"Astagfirullah, naudzubillahimindalik itu wanita memang tidak tahu malu apa dia tidak malu dengan cadar yang dipakainya itu," kesal Addiba.


"Begitulah manusia Kak, kadang yang menurut kita baik belum tentu baik dan sebaliknya yang menurut kita buruk belum tentu buruk," sahut Annisa.


"Kamu yang sabar ya Sar, Kakak yakin kamu akan mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik daripada Abbad."


"Amin..."


Sarah pun akhirnya bisa menenangkan diri, tidak salah kalau saat ini Sarah lebih memilih pergi ke pondok pesantren dan curhat kepada Umi Aminah karena setiap masalah, Sarah selalu mendapatkan nasehat dan jawaban dari Umi sahabatnya itu.


πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


πŸ•Œ


Hallo guys, ini update terakhir ya soalnya Authornya mau libur lebaran duluπŸ™πŸ™


Tetap setia menunggu ya, MINAL AIDZIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATINπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2