Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 22 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Setelah mengobrol dengan Abbad, Alwi pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Hari ini tidak ada kegiatan apa pun, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil Alwi pun sampai di halaman rumahnya.


Alwi mengerutkan keningnya karena melihat mobil yang sudah lama tidak dia lihat, akhirnya terparkir di halaman rumahnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Nak, lihatlah siapa yang datang berkunjung ke rumah kita," seru Umi Khadijah.


"Wah ada orang kaya rupanya, tumben ingat kita," sindir Alwi.


"Jangan gitulah Al, aku jarang kesini karena aku lagi sibuk banget sama pekerjaanku mana mungkin aku melupakan wanita yang sudah mengasuhku sejak kecil."


"Iya, saking sibuknya sampai-sampai aku nikah dua kali pun kamu ga datang," kesal Alwi.


"Hahaha...kamu boros banget sih Al, aku aja belum pernah nikah, kamu justru sudah kedua kalinya."


"Mangkanya kamu cari pasangan jangan sibuk dengan urusan dunia saja, akhirat pun harus di pikirkan. Menikah itu merupakan ibadah dan penyempurna agama kita."


"Iya-iya Pak Ustadz, aku akan cari pasangan tapi kamu harus bantu carikan aku wanita sholehah."


"Insya Allah."


"Fazri, ayo makan dulu Nak. Katanya kamu ingin makan masakan Umi," seru Umi Khadijah.


"Iya Umi."


Alwi dan Fazri pun menuju meja makan, Fazri adalah sepupu Alwi sejak kecil Fazri sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya dan Fazri diasuh oleh Umi Khadijah.


Setelah dewasa Fazri meneruskan usaha Abinya yaitu mengelola toko karpet bahkan sekarang toko karpetnya sudah mempunyai beberapa cabang.


"Umi, ngomong-ngomong bagaimana istrinya Alwi? cantik ga? pendidikannya sampai apa? terus sekarang dia bekerja dimana? Al, awas loh kamu jangan sembarangan memilih seorang istri buktinya mantan istrimu bukan wanita baik-baik kan? jadi kamu itu harus cari tahu asal-usul wanita itu, apa dia dari keluarga terpandang apa bukan? berpendidikan tinggi tidak? dan yang paling penting harus cantik," seru Fazri.

__ADS_1


Alwi pun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengarkan perkataan Fazri.


"Fazri dengarkan aku, kalau kita mencintai seseorang karena paras, kamu tahu tidak kalau paras itu ada batasnya? cantik tidak akan selamanya cantik dan paras akan berubah dengan seiring bertambahnya usia. Kalau cinta karena harta, harta ada habisnya, cinta karena pangkat atau jabatan, kamu tahu pangkat dan jabatan ada pensiunnya, tapi kalau cinta karena Allah itu yang akan menguatkan perasaan cinta kita kepada istri kita nanti."


"Tapi kan Al, tetap saja kita harus pilih-pilih dalam mencari calon istri supaya tidak salah pilih nantinya karena aku tidak mau mempunyai istri yang suka ngatur-ngatur aku dan melarang-larang aku."


"Rumah tangga yang baik itu adalah bukan rumah tangga yang menuntut tapi yang menuntun, bukan yang saing tapi saling. Cinta itu tidak butuh alasan dan kamu cukup mencintai seorang wanita tanpa alasan dan alasannya hanya karena Allah subhanawata'alla. Jangan tuntut wanitamu seperti apa yang kamu mau, tapi tuntunlah wanitamu seperti yang Allah mau."


Fazri pun terdiam, Fazri memang mempunyai sifat yang jauh berbeda dengan Alwi. Walaupun mereka berdua dibesarkan sama-sama, tapi menjadikan Fazri menjadi pria sholeh seperti Alwi.


Apalagi saat ini Fazri mempunyai usaha yang lumayan maju dan itu membuat Fazri sedikit sombong dan lupa akan Allah.


"Umi, Fazri saat ini sedang membuka toko cabang disini dan rencananya Fazri akan pindah kesini."


"Syukurlah Nak, setidaknya kamu akan sering menemui Umi disini," sahut Umi Khadijah.


"Pasti Umi, dan untuk sementara Fazri minta izin untuk tinggal disini karena Fazri belum menemukan rumah yang cocok untuk Fazri. Tidak apa-apa kan Al, untuk sementara waktu aku tinggal disini?"


"Silakan."


Beberapa saat kemudian, makan pun selesai Fazri sudah dari tadi terus saja menguap.


"Umi, Fazri ke kamar dulu ya sepertinya Fazri sangat ngantuk."


"Sebentar lagi masuk waktu dzuhur, tunggulah sebentar habis itu baru kamu tidur supaya tidur kamu pun tenang dan nyenyak," seru Alwi.


Fazri pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan ucapan Alwi membuat Alwi dan Umi Khadijah menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dari dulu sifat dia memang tidak pernah berubah, susah kalau dikasih tahu," seru Alwi.


"Jangan menyerah, teruslah nasehati dia jangan sampai dia terjerumus dalam urusan duniawi."


"Iya Umi, pasti."


Tidak lama kemudian, suara adzan dzuhur pun mengumandang, Alwi pun segera menunaikan shalat dzuhur karena sebentar lagi Alwi harus ke kampus untuk menjemput istrinya.


Beberapa saat kemudian, Alwi pun sudah selesai shalat. Alwi segera bersiap-siap untuk menjemput sang istri tercinta.


"Umi, Alwi pergi menjemput Nisa dulu ya."


"Iya, kamu hati-hati."


"Iya Umi, Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Alwi pun masuk ke dalam mobilnya menuju kampus Annisa, membutuhkan waktu yang lumayan lama karena jalanan macet di jam itu banyak orang-orang yang keluar karena itu merupakan jam istirahat bagi para pekerja.


Sesampainya di kampus, ternyata Annisa sudah menunggu.


"Assalamualaikum sayang, maaf Mas telat soalnya tadi jalanan macet."


"Waalaikumsalam Mas, tidak apa-apa Mas."


Alwi pun langsung memeluk dan mencium kening Annisa, Syfa yang melihat perlakuan sweet Alwi merasa aneh dan dengan cepat segera menghampiri keduanya.


"Mas Alwi, apa Mas tidak malu selama ini Mas selalu menasehatiku dan menyindirku karena aku selalu dekat dengan Mas Abbad, tapi sekarang apa yang Mas lakukan tidak mencerminkan seorang Ustadz. Bermesraan di depan umum dengan bukan muhrimnya, lalu apa bedanya kamu sama aku Mas," cibir Syfa.


"Memangnya kenapa? apa salahnya kalau aku menunjukkan rasa kasih sayang aku kepada istriku sendiri," sahut Alwi dengan senyumannya.


"Apa? istri?"


"Iya, kami sudah menikah minggu kemarin jadi tidak ada salahnya dengan kelakuanku karena sudah jelas kami sudah halal. Di dalam agama islam, menyenangkan hati istri itu akan mendapatkan pahala. Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamualaikum."


Alwi pun menggandeng tangan Annisa dan membukakan pintu mobil untuk Annisa. Sementara itu, Syfa hanya bisa terdiam dia tidak menyangka kalau Alwi akan semudah itu menikah lagi.


"Semua laki-laki memang sama, tidak bisa menahan hasratnya terlalu lama langsung saja tergoda," gumam Syfa.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2