
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Satu minggu kemudian...
Hari ini adalah hari dimana akan diadakan akad nikah antara Alwi dan Annisa, tidak banyak tamu yang diundang hanya keluarga dan teman dekat saja yang diundang serta santri dan santriwati yang akan menjadi saksi atas janji suci yang sebentar lagi akan Alwi ucapkan.
"Ternyata akhirnya Alwi pun berjodoh dengan Annisa," seru Abi Idris.
"Iya Bi, Syfa memang bodoh menyia-nyiakan laki-laki sholeh seperti Alwi," sahut Umi Aisyah.
Kedua orangtua Syfa hanya bisa menatap sedih kepada Alwi yang saat ini sedang menunggu proses ijab kabul. Orangtua Syfa dari dulu sangat menginginkan Alwi menjadi menantunya tapi sayang puterinya sendiri sudah mempermalukan mereka.
"Alwi ada sedikit petuah yang ingin Abah sampaikan kepadamu," seru Kyai Abdullah.
"Silakan Kyai."
"Saat kita menikah, terutama kamu yang sebagai seorang laki-laki saat kamu mengucapkan kalimat akad nikah maknanya itu sangat dalam sekali. Maknanya adalah saya terima semua kebaikan yang ada di istri saya dan saya pun siap menanggung apapun kekurangan yang nanti ada di dalam diri istri saya. Kalimat itu yang akan kamu ucapkan saat akad nanti bukan hanya kamu berjanji untuk Abah saja yang notabene sebagai orangtua Annisa tapi kamu juga akan berjanji di hadapan Allah jadi jangan main-main dengan akad nikah karena itu merupakan perjanjian yang kuat, kesepakatan yang agung, Malaikat mencatat, semesta menjadi saksi, dan Allah menerima janji kita disaat itu."
"Jadi intinya saat ini kamu bukan hanya berjanji kepada puteri Abah Annisa ataupun kepada Abah sendiri, tapi yang terpenting kamu harus selalu ingat kalau kamu sedang berjanji kepada Allah. Jadi seorang suami itu tidak mudah, kalau kamu laki-laki beriman pasti kamu tidak akan menodai kata-kata itu, dan pastinya kamu akan bisa lebih menahan hawa nafsumu."
Alwi sangat meresapi apa yang dikatakan Kyai Abdullah yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya itu.
"Apa kamu paham, Nak?" tanya Kyai Abdullah.
"Paham Kyai, sangat paham."
"Alhamdulillah, ya sudah mari sekarang kita mulai saja acara ijab kabulnya," seru Kyai Abdullah.
Sementara itu di dalam kamar Annisa, dia begitu memegang erat tangan Sarah dan juga Addiba. Annisa begitu sangat gugup dan jantungnya pun berdetak tak karuan.
"Banyak istigfar Nis, jangan gugup Ust.Alwi adalah laki-laki yang sholeh, aku yakin dia akan membahagiakan kamu," seru Sarah.
"Amin."
Tidak lama kemudian terdengar suara Alwi yang dengan lantangnya mengucapkan ijab kabul membuat Annisa mengucapkan Hamdallah.
"Alhamdulillah."
Sarah langsung memeluk Annisa. "Ya Allah, selamat ya Nis akhirnya sekarang kamu sudah menjadi istri orang."
"Iya, terima kasih Sar."
Annisa melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Addiba Kakaknya.
__ADS_1
"Selamat ya Dek, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri jadilah istri yang penurut dan sholehah jangan melawan kepada suami kamu, kamu harus patuh kepada perintah suamimu selama itu masih berada dalam ajaran islam dan tidak menyimpang dari Al-qur'an dan Hadist."
"Iya Kak."
Addiba melepaskan pelukannya. "Jangan nangis, carilah pahala sebanyak-banyaknya dari suamimu."
Annisa menganggukkan kepalanya, tidak lama kemudian pintu ruangan pun terbuka.
"Nak, ayo keluar ijab kabulnya sudah selesai," seru Umi Aminah.
Addiba dan Sarah pun menuntun Annisa ke tempat dimana diadakannya acara akad nikah. Annisa tampil dengan sangat cantik bahkan wajah Annisa terlihat sangat bersinar memancarkan kecantikan yang membuat semua mata tidak mau berpaling darinya.
Annisa berdiri di samping Alwi, ada perasaan canggung pada keduanya. Perlahan Annisa mengambil tangan Alwi dan mencium punggung tangan Alwi dengan sangat khidmat.
Tangan Alwi terlihat gemetaran, satu tangannya lagi terulur dan menyentuh kepala Annisa. Annisa mengangkat wajahnya dan memberanikan menatap laki-laki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku," seru Alwi.
Annisa tersenyum dan menganggukan kepalanya, perlahan Alwi mendekat dan mencium kening Annisa begitu lama.
"Bahkan dulu Alwi tidak melakukan itu kepada Syfa saat akad nikah, apa Alwi sudah tahu bagaimana sifat dan kelakuan Syfa," batin Abi Idris.
Setelah acara akad nikah selesai, para tamu undangan beserta santri dan santriwati dipersilakan untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.
"Alhamdulillah, cie-cie yang sudah halal dari tadi gandengan terus," goda Sarah.
Wajah Annisa dan Alwi seketika memerah, Annisa ingin melepaskan genggaman tangan Alwi tapi Alwi tidak melepaskannya dan akhirnya Annisa hanya bisa tersenyum canggung.
"Ah iya, suamimu mana? kenapa kamu sendirian?" tanya Alwi.
"Oh..dia lagi ada kerjaan jadi ga bisa datang," dusta Sarah.
"Oh begitu."
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja acara mesra-mesraannya aku pamit ke belakang dulu," seru Sarah.
Annisa pun menganggukan kepalanya, Alwi tersenyum ke arah Annisa membuat jantung Annisa lagi-lagi berdetak tak karuan dan Annisa langsung menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu menunduk?" tanya Alwi.
"Malu Mas, karena Mas dari tadi lihatin aku terus," sahut Annisa.
"Kenapa malu? kamu kan saat ini sedang dilihat oleh suamimu."
"Tetap saja malu Mas."
Alwi pun tersenyum melihat tingkah Annisa yang sangat polos itu.
Waktu pun berjalan dengan cepat, acara pun sudah selesai. Annisa mengajak Alwi untuk beristirahat dikamarnya.
"Ayo Mas masuk!"
__ADS_1
Annisa sangat malu, karena baru pertama kali ini ada laki-laki selain Abahnya yang masuk ke dalam kamarnya. Alwi tampak memperhatikan setiap sudut kamar Annisa yang sangat bersih dan tertata rapi itu.
Alwi melihat banyak sekali buku di dalam kamar Annisa yang tersusun rapi di lemari buku kecil yang ada di sudut kamar Annisa.
"Kamu suka baca?" tanya Alwi.
"Suka banget Mas."
Alwi mengangguk-nganggukan kepalanya, hingga akhirnya Alwi kembali melihat ke arah Annisa dan itu sukses membuat Annisa salah tingkah.
"Apa Mas mau mandi duluan? biar Nisa ambilkan handuknya."
Annisa hendak melangkahkan kakinya mengambil handuk, tapi dengan cepat Alwi menahan lengan Annisa. Perlahan Alwi mendekati Annisa, diusapnya wajah Annisa membuat Annisa memejamkan matanya.
"Apa kamu merasa terpaksa menikah denganku?" tanya Alwi.
Annisa membuka matanya dan menatap dalam kepada kedua bola mata Alwi.
"Tidak Mas, Nisa percaya dengan ketentuan Allah dan Nisa pun sudah melakukan shalat istikharah untuk meminta jawaban dari Allah dan jawaban Allah sekarang ada di hadapan Nisa. Nisa selalu ingat dengan kata-kata Mas dulu, sekuat apapun kita menjauhi seseorang kalau seseorang itu ditakdirkan untuk kita maka dia akan terus mendekat, dan sekuat apapun kita mempertahankan seseorang kalau seseorang itu tidak ditakdirkan untuk kita maka orang itu akan pergi menjauh," sahut Annisa.
"Kamu ridho menjadi istriku?" tanya Alwi kembali.
"Ridho lillahi ta'ala."
Perlahan Alwi membuka kerudung panjang yang sudah menutup kepala Annisa, terurailah rambut panjang Annisa yang begitu indah.
"Subhanallah, sungguh ciptaanmu sangat sempurna," seru Alwi.
Setelah itu, entah siapa yang memulainya tapi saat ini Alwi dan Annisa sedang melaksanakan sunnah Rasul.
Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain bisa melepaskan semua rasa cinta dan kasih sayang bersama orang yang sama-sama mencintai kita.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU