Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 27 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Annisa dan Sarah pun akhirnya sampai di rumah Alwi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, eh ada Sarah juga."


"Apakabar Umi, maaf ya Sarah mengganggu ikut main ke rumah ini," seru Sarah.


"Eh kok bicara seperti itu, justru Umi senang kalau ada teman Nisa berkunjung kesini karena Umi kasihan Nisa ga ada temannya kalau Alwi pergi. Ayo masuk!" ajak Umi Khadijah.


"Sar, kamu duduk dulu ya aku mau ganti pakaian dulu."


"Oke..."


"Sebentar ya, Umi ambilkan minum dulu."


Sarah pun menahan lengan Umi Khadijah. "Jangan Umi, nanti kalau Sarah mau minum biar Sarah ambil sendiri."


"Ya sudah kalau begitu."


Sarah dan Umi Khadijah pun berbincang-bincang sembari menunggu Annisa.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sarah langsung menundukan kepalanya saat melihat siapa yang datang, sedangkan Fazri hanya terdiam mematung di depan pintu.


"Loh Fazri, kenapa malah bengong sini masuk," seru Umi Khadijah.


"Ah iya Umi."


Fazri pun duduk bersebrangan dengan Sarah, keduanya terlihat canggung satu sama lain membuat Umi Khadijah mengembangkan senyumannya.


"Sebentar ya Umi buatkan kopi dulu."


"Tidak usah Umi, Fazri bisa buat kopi sendiri."


"Bisa buat kopi darimana? bedain gula sama garan saja tidak bisa."


Fazri langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Umi Khadijah pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan kopi dan juga teh manis untuk Sarah.


Tidak lama kemudian, Annisa pun keluar dari dalam kamarnya dengan sudah berganti pakaian.


"Eh ada Mas Fazri, sudah lama Mas?" tanya Annisa.


"Tidak, baru saja sampai."


"Sebentar ya, Nisa buatkan dulu kopi."


"Nisa tidak usah, soalnya Umi sudah membuatkannya."


"Oh..."


Annisa pun duduk di samping Sarah, tidak lama kemudian Umi Khadijah pun datang dengan membawa nampan berisi kopi dan juga teh manis.

__ADS_1


"Silakan diminum dulu," seru Umi Khadijah.


"Iya Umi," sahut Sarah dan Fazri bersamaan.


Annisa dan Umi Khadijah saling pandang satu sama lain hingga akhirnya mereka pun tersenyum melihat wajah Sarah dan Fazri yang terlihat memerah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Annisa pun segera berdiri menyambut kepulangan suaminya itu.


"Mas, aku buatkan kopi dulu ya."


"Iya Sayang."


Alwi pun menghampiri semuanya...


"Loh ternyata ada Sarah dan Fazri, kalian datang bersamaan kesini?" tanya Alwi.


"Enggak kok Mas, tadi Sarah kesini barengan sama Nisa," sahut Sarah gugup.


"Ehmm..Umi ke kamar dulu ya, sepertinya Umi ingin tidur dulu sebentar."


"Iya Umi."


Umi Khadijah pun meninggalkan ketiganya, Annisa datang dengan membawa kopi untuk suaminya itu.


"Ini Mas kopinya."


Alwi pun segera menyeruput kopi buatan istri tercintanya itu.


"Subhanallah, kalau kopi buatan istri tercinta rasanya beda sangat nikmat, terima kasih sayang."


"Yaelah, bisa tidak kalian berhenti membuat aku iri. Kasihanilah aku yang jomblo ini," rengek Fazri.


"Mangkanya cari calon istri, jangan sendiri terus. Menikahlah supaya ibadahmu semakin sempurna," seru Alwi.


"Mau menikah bagaimana, calon pun aku ga punya," sahut Fazri.


"Itu di depanmu, ada ukhti yang siap dilamar," goda Alwi.


"Ih Mas Alwi apaan sih, Sarah ini baru saja selesai bercerai belum juga selesai masa idah," sahut Sarah dengan malu-malu.


"Wah berarti kalau selesai masa idah, kamu mau dong menerima lamaran Fazri?"


"Eh...maksud Sarah bukan begitu Mas," sahut Sarah dengan wajah yang memerah.


Annisa terkekeh melihat sahabatnya salah tingkah seperti itu.


"Fazri apa kamu sudah siap menikahi seorang janda?" tanya Alwi.


"Siap Al, siapa takut," sahut Fazri dengan melirik ke arah Sarah.


Berbeda dengan Sarah yang hanya bisa menundukan kepalanya.


"Sebelum kamu menikahi seorang perempuan kamu harus tahu kalau perempuan itu adalah makhluk paling lembut di dunia ini, jadi jangan pernah menyakiti ataupun bersikap kasar kepadanya. Aku pernah bilang kepadamu, jangan tuntut calon istrimu untuk mengikuti semua keinginanmu tapi tuntunlah dia seperti yang Allah inginkan," seru Alwi.


"Tapi Al, seorang istri itu kan wajib menuruti semua keinginan suaminya kalau menolak maka si istri akan berdosa," sahut Fazri.


"Keinginan yang seperti apa dulu? kalau keinginan si suami mengajak istrinya ke jalan yang diridhoi Allah, ya sudah jelas si istri wajib menurutinya tapi jika keinginan si suami bertentangan dengan ketentuan Allah, maka si istri wajib menolaknya."


Sarah, Annisa, dan Fazri mulai serius mendengarkan ucapan Alwi.


"Kamu tahu Fazri, kenapa perempuan itu tidak diciptakan dari tulang kaki bagian bawah? karena posisi perempuan bukan untuk dicaci dan dihina, terus kenapa perempuan tidak diciptakan dari tulang kepala bagian atas? karena posisi perempuan bukan hanya untuk disanjung dan dipuja. Tapi perempuan diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri dekat ke hati karena posisi perempuan untuk dihormati dan dicintai," seru Alwi.

__ADS_1


"Masya Allah."


Alwi menarik Annisa untuk lebih dekat lagi dengannya.


"Perempuan itu sangat luar biasa, saat kecil dia membukakan pintu surga untuk Ayahnya, saat dewasa dia menjadi penyempurna agama suaminya, dan saat menjadi seorang Ibu, surga berada di bawah telapak kakinya. Perempuan itu sangat mulia, jadi jangan pernah sekali-kali kamu menyakiti hati seorang perempuan. Jika nanti istrimu melakukan kesalahan jangan pernah kamu memarahinya tapi tugas kamu adalah mengarahkannya siapa tahu dia belum mengerti akan apa kesalahan yang dia lakukan," seru Alwi.


"Tapi aku bukan Ustadz seperti kamu Al, jadi bagaimana aku bisa mengarahkan istriku kelak kalau aku saja belum paham akan agama," seru Fazri.


"Datanglah ke pondok pesantren satu minggu sekali, kita belajar bersama-sama disana. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan tidak ada kata terlambat untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi," sahut Alwi.


Fazri menganggukan kepalanya...


"Kamu tahu Fazri, sampai saat ini kamu masih sendiri bukan berarti kamu tidak diberikan jodoh karena setiap manusia pun pasti sudah ada jodohnya masing-masing, cuma Allah sengaja belum mempertemukan kamu dengan jodohmu karena Allah ingin melihat kamu memperbaiki diri kamu dulu sebelum kamu melanjutkan hidup kamu ke arah yang lebih serius lagi."


"Jangan ratapi nasib kamu yang masih sendiri, tapi manfaatkanlah waktu kesendirian kamu dengan terus memperbaiki diri kamu sendiri karena kelak kamu akan menjadi pemimpin yang akan dipertanggung jawabkan semua perbuatanmu di akhirat nanti. Belajarlah dari sekarang supaya nanti kamu bisa membimbing istrimu menuju surganya Allah."


"Amin."


Setelah mendengarkan nasehat Alwi, Sarah pun pamit untuk pulang karena waktu pun sudah mulai sore.


Setelah berpamitan, Sarah pun keluar dan mengotak-ngatik ponselnya untuk memesan taksi online.


"Dimana rumahmu, Sarah?" tanya Fazri.


Sarah merasa kaget karena tiba-tiba ada Fazri di belakangnya.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak, kalau berkenan aku bisa mengantarkan kamu pulang."


"Ah, tidak usah aku sudah memesan taksi online."


Tidak lama kemudian, taksi yang dipesan Sarah pun datang.


"Maaf Mas, Sarah pulang duluan. Assalamualaikum," seru Sarah dengan menundukan kepalanya.


"Waalaikumsalam."


Sarah pun segera masuk ke dalam taksi itu dan perlahan mulai meninggalkan rumah Alwi.


"Perempuan yang wajib diperjuangkan," gumam Fazri dengan senyumannya.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2