
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Abbad segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit ternyata Abi Idris sudah mendatangkan penghulu dan Abbad harus menikahi Syfa sekarang juga.
Mau tidak mau Abbad harus melakukannya karena memang sekarang Syfa sedang mengandung anaknya walaupun saat ini pikirannya melayang entah kemana.
Abbad menikahi Syfa secara siri karena Abbad masih punya status perikahan dengan Sarah. Abbad pun selesai mengucapkan ijab kabul dengan perasaan yang tidak menentu.
"Sekarang Syfa sudah menjadi istrimu, jaga dia saya serahkan Syfa kepadamu sekarang Syfa sudah bukan tanggung jawab saya lagi," seru Abi Idris dingin.
"Maaf Abi, tapi saya harus bawa Syfa kemana? sementara saya belum bicara kepada Sarah istri saya, bagaimana kalau Syfa tinggal dulu di rumah Abi untuk sementara waktu, beri saya waktu untuk menjelaskannya kepada Sarah," seru Abbad.
Abi Idris menatap tajam ke arah Abbad. "Bukannya kamu melakukan hal itu karena kamu sudah memikirkan untuk ke depannya? bagaimana bisa sekarang kamu bilang kalau saya harus memberimu waktu? kamu tahu kan apa konsekuensinya? kalau kamu takut, kenapa kamu melakukannya? dan kamu Syfa, apa ini laki-laki yang kamu cintai sampai-sampai kamu menyia-nyiakan laki-laki sholeh seperti Alwi? sekarang kalian urus semuanya, saya tidak mau ikut campur lagi kalian tanggung akibatnya sendiri," seru Abi Idris.
Akhirnya Abbad pun membawa Syfa pergi dari rumah sakit itu. Selama dalam perjalanan, Abbad tampak terdiam tidak bicara sedikit pun.
"Mas, apa kamu akan membawa aku ke rumahmu?" tanya Syfa.
"Untuk saat ini kamu tinggalah di hotel, aku butuh waktu untuk menjelaskannya kepada Sarah."
"Jangan lama Mas, karena aku ga mau lama-lama tinggal di hotel."
"Iya."
Abbad pun mengantarkan Syfa ke hotel, untuk sementara waktu Syfa tinggal di hotel dulu karena Abbad harus menjelaskan semuanya kepada Sarah.
***
Sementara itu di rumah Kyai Abdullah...
"Kyai, kedatangan Alwi dan Umi kesini untuk melamar Annisa putri bungsu Kyai!" tegas Alwi.
Kyai Abdullah, Umi Aminah, dan juga Lukman tampak menyunggingkan senyumannya sedangkan Annisa dan Addiba yang berdiri di balik dinding pemisah terlihat terdiam.
Apalagi Annisa, saat ini dia meremas gamisnya karena merasa gugup membuat Addiba tersenyum dan mengusap punggung adiknya itu.
"Dek, serahkan semuanya pada Allah Kakak yakin Alwi adalah jodohmu," seru Addiba.
"Nisa gugup Kak, Nisa belum kenal sama Ust.Alwi tapi Ust.Alwi langsung ingin melamar Nisa," sahut Annisa.
"Itu artinya Ust.Alwi tahu kalau dia sudah yakin dan merasa tepat dengan pilihannya, dia langsung melamar kamu bukannya itu bagus? nikah karena baru saling kenal itu indah loh Dek, bisa saling mengenal satu sama lain tanpa dibatasi apapun karena sudah halal."
"Apa yang membuat kamu yakin dengan puteri saya?" tanya Kyai Abdullah.
"Alwi yakin karena Allah, Kyai. Alwi setiap hari sudah melaksanakan shalat istiqarah, dan Alwi selalu mendapatkan petunjuk yang sama kalau Alwi selalu didatangi seorang wanita dengan memakai pakaian syar'i tapi sayang wajahnya selalu saja tidak terlihat tapi hati Alwi mengatakan kalau wanita itu adalah Annisa puteri Kyai."
__ADS_1
"Kenapa kamu yakin kalau itu Annisa?" tanya Kyai Abdullah kembali.
"Hati Kyai, hati Alwi tidak bisa dipungkiri hati Alwi akan menuntun Alwi kepada orang yang tepat bahkan Alwi tidak pernah merasa seyakin ini disaat bersama Syfa dulu."
Umi Aminah dan Lukman tersenyum mendengar jawaban dari Alwi.
"Nisa, kesini Nak!" panggil Kyai Abdullah.
"Tuh, kamu dipanggil Dek sama Abah," seru Addiba.
"Aduh bagaimana ini Kak, Nisa deg-degan banget ini."
"Cobalah tarik napas kemudian keluarkan secara perlahan, setelah itu bacalah istighfar dalam hati."
Annisa pun mengikuti perkataan Kakaknya itu. "Kakak harus temani Nisa."
"Iya ayo."
Annisa pun merangkul lengan Addiba dan dengan menundukan kepalanya, Annisa benar-benar tidak sanggup kalau harus menatap Alwi.
"Sini Nak duduk," seru Kyai Abdullah.
Annisa pun duduk di samping Abahnya dengan masih menundukan kepalanya begitu pun dengan Alwi, dia meremas kedua tangannya tidak bisa dipungkiri kalau jantung Alwi begitu berdetak tak karuan.
Berbeda saat dulu bertemu dengan Syfa, tidak ada perasaan apa pun dalam diri Alwi.
"Nisa, Alwi dan Uminya datang kesini karena mempunyai niat baik yaitu ingin melamar kamu apa kamu bersedia menerima lamaran dari Alwi?" tanya Kyai Abdullah.
Semua orang melihat ke arah Annisa kecuali Alwi yang masih menundukan kepalanya, Alwi takut Annisa akan menolaknya apalagi saat ini statusnya sebagai seorang duda.
"Hmm...kalau Nisa terserah Abah dan Umi saja," sahut Annisa.
"Alhamdulillah..."
Semua orang yang ada disana serempak mengucapkan kata Hamdallah.
"Baiklah, bagaimana kalau kalian menikah minggu depan?" seru Kyai Abdullah.
Annisa mengangkat wajahnya dan menatap wajah Abahnya itu.
"Apa kamu besedia, Nak?"
"Nisa, akan mengikuti apa yang diinginkan Abah dan Umi," sahut Annisa.
"Alhamdulillah, apa kamu merasa terpaksa dengan semua ini? karena Abah tidak akan memaksa puteri Abah untuk menuruti keinginan Abah."
Annisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Abah, Nisa sama sekali tidak terpaksa karena Nisa yakin dengan pilihan Abah dan Umi kemudian selanjutnya Nisa serahkan kepada Allah," sahut Annisa.
Alwi mengangkat wajahnya kemudian menoleh ke arah Uminya dan tersenyum.
"Baiklah Nak Alwi, minggu depan saya akan nikahkan kamu dengan puteri saya ini."
"Iya, terima kasih Kyai."
__ADS_1
Annisa kembali menundukan kepalanya dengan jantung yang kembali berdetak tak karuan, begitu pun dengan Alwi yang merasakan hal yang sama hanya bedanya Alwi berusaha bersikap tenang dan tidak gugup.
Akhirnya Alwi dan Umi Khadijah pun berpamitan.
***
Malam pun tiba...
Syfa terlihat tidak bisa tidur sama sekali rasanya Syfa ingin makan sesuatu, hingga akhirnya Syfa pun menghubungi Abbad.
Drrttt...ddrrrtt...
Suara getaran ponsel Abbad membuat Sarah terbangun, Syfa mencari-cari keberadaan ponsel Abbad dan ternyata ada dibawah bantal yang Abbad tiduri.
Perlahan Syfa mencoba mengambil ponsel Abbad dengan sangat hati-hati, Abbad sama sekali tidak merasakan getaran ponselnya saking nyenyaknya.
Dengan sangat hati-hati Sarah bangkit dari tempat tidur dan segera menuju balkon kamarnya, dilihatnya lagi-lagi nama "S" yang tertera di layar ponsel suaminya itu.
"Siapa ini?" batin Sarah.
Jantung Sarah berdetak tak karuan, bahkan tangannya pun saat ini sudah bergetar hebat tapi Sarah harus mengangkatnya supaya Sarah tahu siapa orang ini. Akhirnya dengan tangan yang bergetar, Sarah pun menggeser tombol hijau itu.
📞"Hallo Mas, kok lama sekali mengangkatnya apa kamu takut istri kamu mengetahuinya?" seru Syfa di ujung telepon sana.
Sarah membelalakan matanya kemudian menutup mulutnya saking terkejutnya.
📞"Mas, aku ingin makan mie ayam bisa Mas belikan tidak? sepertinya aku sedang ngidam ini, ayolah Mas belikan aku mie ayam lagipula ini kan demi anakmu juga," seru Syfa dengan manjanya.
Jedaaarrrr...
Tanpa terasa airmata Sarah pun menetes, dadanya begitu sesak, hatinya merasa sangat sakit.
"Sarah...."
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU