
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Keesokan harinya....
Umi Khadijah dibantu oleh Syfa memasak makanan kesukaan Arman. Hari ini memang jadwal Alwi untuk ceramah di pondok pesantren Abah Abdullah, waktunya setelah dhuhur.
"Ayo Umi, Syfa, kita berangkat sekarang soalnya jarak dari sini ke pondok pesantren lumayan jauh," seru Alwi.
"Iya Nak."
Setelah menata makanan ke dalam kotak bekal, Umi dan Syfa pun menyusul Alwi masuk ke dalam mobil. Perlahan Alwi mulai melajukan mobilnya menuju pondok pesantren.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Sementara itu, di pondok pesantren Annisa dan Adiba pun sedang sibuk bersama Umi Aminah memasak untuk acara tablig akbar hari ini.
"Dek, nanti kamu pasti akan terpesona melihat ustadz Alwi," seru Adiba.
"Astagfirullahaladzim, Kakak bukanya ustadz Alwi sudah menikah? jangan bicara seperti itu dosa Kak," sahut Annisa.
"Astagfirullah, Kakak lupa Dek maafkan Kakak ya."
Annisa hanya geleng-geleng kepala, santri dan santriwati di pondok pesantren itu sangat banyak karena pondok pesantren milik Kyai Abdullah merupakan pondok pesantren terbaik bahkan banyak juga donatur yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk pondok pesantren Kyai Abdullah.
Santri dan santriwati disana kebanyakan usia remaja dalam usia pertumbuhan, dan sangat butuh sekali pencerahan dalam hidup mereka supaya mereka tidak salah dalam melangkah untuk ke depannya.
Akhirnya tepat pukul 11.30 siang, mobil Alwi pun sampai di pondok pesantren Kyai Abdullah. Kyai Abdullah sudah menunggu kedatangan Alwi beserta keluarganya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, akhirnya ustadz muda yang sedang digandrungi seluruh kalangan ini biaa datang kesini," seru Kyai Abdullah.
"Alhamdulillah Kyai, maafkan saya yang baru sempat datang kesini."
Alwi pun mencium punggung tangan Kyai Abdullah, dan menangkupkan kedua tangannya di dada saat berhadapan dengan Umi Aminah, Adiba, dan juga Annisa.
Alwi menganggukan kepalanya kepada Annisa dan dibalas oleh Annisa pula. Berbeda dengan Syfa yang mengerutkan keningnya, karena bisa bertemu dengan Annisa yang kemarin bersama Sarah.
"Mari silakan masuk, karena sebentar lagi memasuki waktu dhuhur jadi sebaiknya kita langsung ke mesjid untuk menunaikan shalat dhuhur terlebih dahulu," seru Kyai Abdullah.
"Iya Kyai."
Semuanya berjalan menuju mesjid, kebetulan Annisa berjalan di belakang dan Syfa pun menghentikan langkah Annisa.
"Bukanya kamu temannya istrinya Mas Abbad?" sinis Syfa.
__ADS_1
"Iya Mbak," sahut Annisa dengan tersenyum ramah.
"Kamu mondok disini?"
"Ini pondok pesantren milik Abah aku, Mbak."
"Oh, jadi kamu anaknya Kyai Abdullah. Kok aneh ya, seorang anak Kyai bahkan pemilik pondok pesantren penampilannya seperti ini?" cibir Syfa dengan memperhatikan penampilan Annisa.
"Memangnya penampilan aku kenapa, Mbak?" tanya Annisa masih ramah.
"Kenapa kamu tidak memakai cadar? apa orangtua kamu tidak mengajarkanmu cara berpenampilan yang benar dalam islam? apa jangan-jangan kamu sengaja ingin menggoda para pria dengan wajahmu seperti temanmu itu yang menggoda Mas Abbad," cibir Syfa.
"Astagfirullahaladzim Mbak, orangtua aku sudah sangat baik mendidik anak-anaknya. Masalah cadar, itu tidak diwajibkan dan seharusnya Mbak juga tahu kalau batas aurat dari seorang wanita itu ialah telapak tangan dan juga wajah jadi apa salahnya kalau aku tidak memakai cadar? toh itu tidak menyalahi aturan agama kan? lagipula aku pun tidak mengumbar aurat karena memang aku sudah berpakaian yang benar. Maaf Mbak sudah adzan aku ke mesjid dulu."
Annisa pun melangkahkan kakinya menuju mesjid, begitu pun Syfa yang dengan kesalnya mengikuti Annisa ke mesjid juga.
Setelah shalat dhuhur berjama'ah, Alwi pun menuju ruangan yang sangat luas dimana ruangan itu sering dijadikan tempat untuk Kyai Abdullah memberikan ceramahnya kepada santri dan santriwati disana.
"Silakan ustadz untuk naik ke atas panggung," seru Kyai Abdullah.
"Terima kasih Kyai."
Alwi pun maju ke depan dan naik ke atas panggung, sedangkan semuanya duduk dengan tenang mendengarkan ceramah dari ustadz muda itu.
"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatu."
"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarrakatu."
"Bagaimana kabar adik-adik semuanya?"
"Alhamdulillah, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang akan merugikan diri kita sendiri. Amin ya Allah, ya robbal'alamin. Tema kali ini ustadz akan membahas masalah mengenai cinta."
"Diantara santri dan santriwati disini, saya ingin mengingatkan untuk stop berbuat maksiat, stop melakukan hal-hal yang akan mengundang bencinya Allah kepada kita, apa itu ustadz? pasti kalian bertanya-tanya, hal-hal yang dapat mengundang maksiat itu adalah pacaran jadi untuk para santri dan santriwati disini segera tinggalkan pacaran, bagi yang masih berpacaran segera putuskan karena apa? karena pada dasarnya pacaran tidak ada dalam ajaran islam."
"Jangan pernah takut akan urusan jodoh, karena cinta akan selalu tahu kemana tempat berakhirnya, jodoh itu sudah tertakar dan tidak mungkin tertukar, jodoh sudah tercatat dan tidak mungkin tersesat, dan jodoh sudah dijamin tidak mungkin akan diambil oleh orang lain. Seseorang yang sudah ditakdirkan untukmu tidak akan pernah pergi darimu dan seseorang yang tak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu jadi tugas kalian semua adalah jangan sibuk mencari yang terbaik tapi sibuklah menjadi yang terbaik."
Lagi-lagi Syfa tertohok dengan perkataan Alwi, sedangkan Annisa mendengarkan ceramah Alwi dengan seksama menghayati dan meresapi setiap kata-kata Alwi.
"Cinta adalah anugerah rasa yang diberikan oleh Allah, tidak ada yang salah saat kita mencintai sesuatu atau seseorang karena yang salah itu bukan cintanya melainkan cara mengekspresikan cinta itu sendiri. Terkadang kita terlalu berlebihan mengekpresikan cinta itu sehingga pada akhirnya yang timbul bukan cinta karena Allah melainkan cinta karena syahwat alias na*su dan itu yang akhirnya membahayakan dan menjerumuskan kita pada yang namanya maksiat. Naudzubillahimindalik, sampai disini paham kalian semua?"
"Pahaaaaammmm."
"Alhamdulillah, silakan diantara santri dan santriwati disini apa ada yang mau ditanyakan? sebelum saya mengakhiri ceramah kali ini," seru Alwi.
Seorang santri pun mengacungkan tangannya..
"Iya, silakan apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Pertama-tama perkenalkan nama saya Umar ustadz, saya ingin bertanya apa penilaian agama mengenai orang yang patah hati apalagi banyak juga yang sampai bunuh diri akibat patah hati? terima kasih ustadz."
"Masya Allah, pertanyaan yang sangat luar biasa. Ustadz apa kita boleh patah hati? boleh, namanya juga manusia pasti akan mengalami patah hati apabila ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi, yang tidak boleh itu bersikap berlebihan apabila kita mengalami patah hati."
"Terlalu sayang jika waktu kita dihabiskan untuk menangis, terlalu sayang jika airmata kita dihempaskan hanya untuk orang yang tidak menyayangi kita, terlalu sayang waktu kita dihabiskan untuk hal yang sia-sia, maka sayangilah waktu kita, sayangilah diri kita, yakinlah kepada Allah karena dibalik musibah ada hikmahnya. Obatilah hati kita dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah karena Allah mematahkan hati kita bukan untuk menghancurkan kita tapi Allah mematahkan hati kita supaya kita bisa menguatkan hati kita agar kita bisa bertemu dengan hati lain yang bisa lebih menyayangi kita."
__ADS_1
Syfa semakin menundukan kepalanya merasa malu akan perkataan-perkataan Alwi. Tidak lama kemudian, seorang wanita mengacungkan tangannya membuat semua orang menoleh dan ternyata wanita itu adalah Annisa.
"Iya, silakan anda mau bertanya apa?" tanya Alwi.
"Ustadz aku ingin bertanya, di zaman seperti sekarang ini susah sekali mencari laki-laki sholeh, bagaimana caranya supaya kita bisa menilai kalau laki-laki itu sholeh?"
"Baik, terima kasih atas pertanyaannya. Laki-laki yang sholeh dan tahu akan agama tidak akan menjerumuskanmu kepada perkara yang salah, laki-laki yang sholeh itu sudah tahu bahwa titik akhir dari sebuah cinta itu adalah pernikahan maka dari itu dia akan menyegerakan pernikahan itu dan tidak akan menunda-nunda pernikahan, jadi intinya laki-laki sholeh akan langsung meminta kepada kedua orangtuamu untuk menikahimu bukan mengulur-ngulur waktu yang pada akhirnya dia hanya akan memupuk dosa."
Annisa tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda ia mengerti akan apa yang dijelaskan oleh Alwi, tapi berbeda dengan Syfa yang semakin menundukan kepalanya.
Seorang santriwati kembali memgacungkan tangannya.
"Assalamualaikum ustadz, saya mau tanya Kakak saya saat ini usianya sudah terbilang matang tapi sampai saat ini Kakak saya itu belum mendapatkan jodoh padahal kedua orangtua saya sudah sering menjodohkan Kakak saya dengan banyak laki-laki tapi selalu gagal hingga akhirnya Kakak saya merasa trauma dan tidak mau menikah, bagaimana itu ustadz apa keputusan Kakak saya itu salah?"
Alwi tersenyum. "Begini, kalau kita tidak berjodoh dengan orang yang kita cintai kita jangan khawatir karena tulang rusuk tidak akan tertukar dengan pemiliknya. Kalau tidak berjodoh di dunia, Insya Allah berjodoh di surga maka dari itu dalam urusan jodoh kita harus libatkan Allah. Kegagalan jangan dijadikan trauma tapi harus dijadikan pemicu buat kita supaya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah."
"Lebih giat lagi berdo'a dan yang pasti niatkan dalam hati kita bahwa kita menikah karena kita ingin segera mendapatkan tempat terbaik, dan ingin menyempurnakan ibadah kita. Semakin kencang niat kita dan semakin baik niat kita, maka Allah akan memudahkan semuanya. Jadi untuk Kakak kamu jangan pernah trauma karena dibalik kegagalan, Allah sudah merencanakan hal yang indah untuknya."
"Terima kasih ustadz, saya akan menyampaikan apa yang ustadz ucapakan kepada Kakak saya."
Akhirnya Alwi pun mengakhiri ceramahnya, Alwi, Umi Khadijah, dan Syfa pun meminta izin untuk bertemu dengan Arman dan tentu saja Kyai Abdullah mengizinkannya.
Setelah bertemu dengan Arman, Alwi pun menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Annisa dan Kakaknya. Syfa terlihat cemberut, kesal dengan isi ceramah Alwi yang menurutnya sangat menyindir dirinya.
"Dek, lihat deh istrinya ustadz Alwi judes banget ya ga ada senyum-senyumnya sedikit pun," bisik Adiba.
"Ishh Kakak jangan bicara seperti itu, lagipula memangnya Kakak tahu kalau dia lagi cemberut? dia kan memakai cadar," sahut Annisa dengan senyumannya.
"Tahulah bisa kelihatan kok."
Setelah selesai menyantap jamuannya, Alwi, Umi Khadijah dan juga Syfa pun berpamitan.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU