
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Sesampainya di pondok pesantren, Annisa langsung memberitahukan kabar gembira itu kepada Umi, Abah dan juga Kakaknya.
"Alhamdulillah."
Addiba memeluk Annisa saking bahagianya.
"Nisa, do'akan semoga Kakak juga cepat nyusul dan segera diberikan kepercayaan oleh Allah subhanahu wata'ala."
"Amin Dek."
"Wajah kamu pucat sekali, Nak," seru Umi Aminah.
"Iya Umi, semalaman Nisa tidak nyenyak tidur karena muntah-muntah terus," sahut Alwi.
"Yang sabar ya Nak, perempuan yang sedang ngidam memang seperti itu. Kamu itu menurun dari Ibu, dulu Ibu juga ngidamnya parah banget sampai masuk rumah sakit saking muntah-muntah terus," seru Umi Aminah.
"Nak Alwi, bagaimana kalau selama Nisa mengalami ngidam, kalian tinggal disini saja soalnya Abah khawatir."
"Baik Abah."
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu mau Umi masakan apa?" tanya Umi Aminah.
"Nisa ingin makan tumis kangkung Umi sama sambel terasi," sahut Annisa.
"Baiklah, Umi akan masakan sekarang kamu istirahat saja di kamar ya."
Annisa pun menganggukan kepalanya, Alwi dengan sigap memapah istrinya itu menuju kamar. Sesampainya di kamar, Annisa pun merebahkan tubuhnya.
"Mas, apa Mas marah?" tanya Annisa.
"Marah? marah kenapa?"
"Soalnya Abah menyuruh kita untuk tinggal disini dulu, kalau Mas tidak mau tidak apa-apa Nisa akan ikut Mas pulan."
"Siapa yang marah, justru ucapan Abah benar kalau kamu tinggal di rumah Mas nanti siapa yang akan jagain kamu? aku kan suka pergi ceramah, sedangkan Umi juga suka ikut pengajian. Jujur saja, tadi Mas sebenarnya ingin mengucapkan itu cuma keduluan sama Abah."
"Serius Mas?"
"Iya, Mas juga akan lebih tenang kalau kamu tinggal dulu disini untuk sementara soalnya disini bakalan ada banyak orang yang jagain kamu."
Annisa pun tersenyum. "Terima kasih Mas."
"Justru seharusnya Mas yang berterima kasih kepadamu, karena sudah dengan ikhlas menerima anugerah yang paling spesial dari Allah."
Alwi tidak henti-hentinya mengusap perut Annisa sembari melantunkan ayat-ayat Al-qur'an, sungguh Annisa sangat merasa tenang mendengarkan Alwi mengaji.
***
Sementara itu...
__ADS_1
Di rumah Abbad dan Syfa...
"Mas, kamu mau kemana sudah rapi seperti itu?" tanya Syfa.
"Mau ke toko."
"Masa ke toko pakaiannya rapi banget sih? Mas pasti bohong kan sama aku? Mas pasti akan menemui wanita itu kan?" seru Syfa dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Syfa, aku sudah bosan mendengarkan ocehanmu yang selalu menuduhku tanpa bukti. Jangan pernah bawa-bawa Sarah dalam masalah kita karena memang pada kenyataannya Sarah tidak mempunyai salah apapun," seru Abbad.
"Kenapa Mas selalu membela wanita itu? sekarang yang menjadi istrimu itu aku Mas, bukan dia!" bentak Syfa.
"Ini, ini salah satu alasan kenapa aku membela Sarah karena selama aku menikah dengan Sarah, dia tidak pernah membentak aku yang sebagai seorang suami. Sarah selalu bersikap lembut dan juga penurut, tidak seperti kamu yang sudah berani membentak suamimu sendiri."
Abbad pun segera mengambil tas dan kunci mobilnya, tanpa pamitan Abbad pun langsung meninggalkan rumah dan pergi begitu saja.
"Mas tunggu Mas!" teriak Syfa.
Kebetulan sekali, disaat Syfa berteriak seperti itu Ibu-ibu tukang ghibah pun lewat. Dengan gaya julidnya, mereka terlihat menertawakan Syfa.
"Kasihan sekali ya nasib pelakor."
"Iya, awalnya bahagia bisa merebut suami orang tapi sekarang malah merana karena sering ditinggalkan."
"Mungkin Mas Abbad sudah sadar kalau Mbak Sarah lebih baik daripada seorang pelakor."
Ketiga Ibu-ibu julid itu memang sengaja menyindir Syfa supaya Syfa terpancing emosi. Syfa terlihat mengepalkan tangannya, Syfa sudah merasa sangat emosi tapi Syfa lebih memilih masuk rumah karena bagaimana pun satu lawan tiga tidak akan menang.
Bruakk...
Syfa membanting pintu rumahnya membuat ketiga Ibu-ibu julid itu terkejut.
"Nyebelin banget sih mereka, ucapan mereka pedes-pedes sekali kalau seandainya posisi aku ga hamil, sudah aku ucek-ucek tuh ketiga Ibu-ibu julid itu," gerutu Syfa.
"Aw...kenapa perutku sakit banget seperti ini?"
Syfa merasakan sakit yang sangat luar biasa, hingga Syfa pun terkejut saat melihat darah keluar dari balik gamisnya.
"Ya Allah darah."
Mata Syfa mulai berkunang-kunang, hingga akhirnya Syfa pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Abbad yang saat ini sudah berjalan setengah jalan, mencoba merogoh tasnya dan mencari keberadaan ponselnya.
"Loh, kok ponsel aku ga ada," gumam Abbad.
Abbad mulai berpikir sejenak. "Astagfirullah, ponsel aku ada di atas nakas.
Abbad pun memutar balik mobilnya kembali ke rumah untuk mengambil ponselnya, sesampainya di rumah Abbad melihat pintu rumah terbuka.
"Astagfirullah, kenapa pintu rumah terbuka? ceroboh sekali, bagaimana kalau ada maling," gerutu Abbad.
Abbad pun langsung masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya Abbad saat melihat Syfa tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di lantai.
"Astagfirullah Syfa."
Abbad segera mengangkat tubuh Syfa dan memasukannya ke dalam mobil, Abbad membawa Syfa ke rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu lama, Abbad pun sampai di rumah sakit dan Syfa segera mendapat penanganan. Abbad menghubungi kedua orangtua Syfa dan orangtuanya untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1
"Abbad bagaimana keadaan Syfa?" tanya Umi Aisyah.
"Belum tahu Umi, Syfa masih diperiksa," sahut Abbad cemas.
Tidak bisa dipungkiri kalau Abbad merasa sangat cemas dengan keadaan Syfa, ada sedikit perasaan bersalah dalam hati Abbad karena sudah bersikap kasar kepada Syfa.
"Abbad, kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Mamanya.
"Tidak tahu Ma, tadi waktu Abbad kembali lagi ke rumah untuk mengambil ponsel Abbad yang tertinggal, Syfa sudah tergeletak di lantai," sahut Abbad lemas.
Ceklek...
Dokter pun keluar dari ruangan itu, dan semua orang langsung menghampiri sang Dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan anak kami?" seru Abi Idris.
"Maaf Pak, pasien mengalami keguguran."
"Apa?"
Semua orang terlihat sangat terkejut, apalagi Abbad yang semakin merasa bersalah kepada Syfa.
"Sekarang kondisinya sudah stabil, dan pasien sedang istirahat tolong jangan diganggu dulu. Kalau begitu saya pamit."
"Terima kasih Dokter."
Semuanya hendak masuk ke dalam ruangan rawat Syfa, tapi Abi Idris menarik lengan Abbad.
"Ikut saya."
Abbad pun mengikuti langkah mertuanya itu, Abi Idris membawa Abbad ke tempat yang sepi.
"Katakan, apa yang sudah kamu lakukan terhadap puteriku?" tanya Abi Idris.
"A--aku...a--ku...."
"Kalau kamu sudah tidak membutuhkan Syfa, kembalikan Syfa kepada kami dan setelah itu kamu jangan pernah mengganggu Syfa lagi," seru Abi Idris.
Setelah mengucapkan itu, Abi Idris pun memilih untuk pergi. Sementara itu, Abbad hanya bisa menundukan kepalanya. Selama ini dia memang sudah bersikap kasar kepada Syfa dan saat ini Abbad merasa sangat bersalah.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU