Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 15 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Syfa terdiam, dia tahu itu suara Abbad dan itu artinya yang angkat teleponnya bukan Abbad. Syfa pun segera mematikan sambungan teleponnya.


Abbad menghampiri Sarah yang sudah berderai airmata.


"Sayang..."


Abbad mengulurkan tangannya hendak menghapus airmata Sarah tapi Sarah menepisnya.


"Jangan sentuh aku."


"Sarah, aku bisa jelaskan semuanya."


Sarah memberikan ponsel Abbad ke tangan Abbad, kemudian Sarah mengambil tas besarnya lalu memasukan semua bajunya ke dalam tas itu.


"Sayang kamu mau kemana?" seru Abbad panik.


"Pulangkan aku ke orangtuaku, sekarang juga!"


Abbad menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan pernah mengembalikan kamu kepada orangtuamu karena kamu akan terus menjadi istriku."


"Tidak, aku ingin pulang."


"Please Sarah jangan lakukan ini, aku tidak mau kamu pergi dari sini."


"Kalau Mas sudah berani melakukan perbuatan zina dengan seorang wanita, berarti Mas sudah tidak mengharapkanku lagi."


"Maafkan aku Sarah, Syfa yang selalu memaksaku."


"Syfa?"


"Iya, dia wanita yang pernah bertemu denganmu di kampus yang memakai cadar," sahut Abbad.


Sarah membelalakan matanya. "Bukanya wanita itu mantan istrinya Ust.Alwi?"


Abbad mengangguk lemah...


"Keterlaluan kamu Mas, berarti kalian sudah melakukan zina disaat sama-sama kalian masih terikat pernikahan. Naudzubillahimindalik."


Sarah segera memasukan semua pakaiannya ke dalam tas besar itu, setelah selesai Sarah pun mengangkat tasnya dan hendak melangkahkan kakinya menuju pintu tapi Abbad menahannya.


"Aku mohon jangan pergi, aku janji akan bersikap adil sama kamu dan Syfa."


"Adil? adil bagaimana? bahkan akhir-akhir ini kamu sudah mengacuhkanku Mas, dan lebih mementingkan dia. Jadi adil yang seperti apa yang kamu maksud?"


"Aku minta maaf Sarah, tapi aku sudah menikahinya tadi pagi."


Deg...

__ADS_1


Dada Sarah semakin ngilu mendengar itu semua, dan Sarah semakin yakin untuk bercerai dengan Abbad.


"Ceraikan aku dan kamu bicara baik-baik sama Ibu dan Bapak aku, aku tunggu besok di rumah."


Sarah mendorong tubuh Abbad dan dengan cepat keluar dari rumah Abbad. Sarah tidak menghiraukan kalau saat ini sudah larut malam, Abbad berusaha mengejar Sarah dan membujuk Sarah tapi Sarah tetap pada pendiriannya.


Sarah pun menghentikan taksi dan segera masuk ke dalam taksi itu dengan deraian airmata, sedangkan Abbad hanya bisa meratapi nasibnya dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.


"Aaaaaarrrrggghhhh...."


Abbad berteriak dengan mengacak-ngacak rambutnya, sudah dipastikan Sarah tidak akan mau memaafkan Abbad.


***


Keesokan harinya...


Sarah terlihat murung di taman kampus...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Lah, kamu kenapa? Astagfirullah, mata kamu bengkak kaya gitu? kamu habis nangis?" tanya Annisa.


Mata Sarah sudah mulai berkaca-kaca, Sarah langsung memeluk Annisa dan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Annisa.


"Ya Allah, kamu kenapa Sar? coba cerita sama aku."


Sarah melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya.


"Maafkan aku Sar, sebenarnya aku sudah tahu tapi aku tidak memberi tahumu karena aku takut kamu ga percaya sama aku."


"Kamu tahu Nis, ternyata saat ini wanita itu sedang mengandung anak Mas Abbad."


"Astagfirullah."


Annisa menutup mulutnya saking terkejutnya.


"Aku tidak tahu apa kekurangan aku sampai-sampai Mas Abbad dengan teganya mengkhianati aku bahkan sudah berbuat zina di belakang aku."


Annisa pun memeluk sahabatnya itu, sungguh Annisa tidak mengerti dengan pemikiran Abbad. Padahal menurut Annisa, Sarah adalah wanita yang baik dan penurut.


Setelah Sarah lumayan tenang, Annisa pun melepaskan pelukannya.


"Lebih baik sekarang kita jangan masuk kelas, percuma juga kamu ga bakalan fokus."


"Aku mau ke pondok pesantren Abah saja mau menenangkan diri," sahut Sarah.


"Ya sudah, yuk!"


Annisa pun mengajak Sarah untuk pergi ke pondok pesantren milik Abahnya, tapi disaat baru saja beberapa langkah Annisa dan Sarah berpapasan dengan Syfa membuat ketiganya terdiam.


"Sudah puas kamu sekarang, sudah menghancurkan rumah tanggaku," seru Sarah.


"Sstttt..sudah Sar, ayo kita pergi!" ajak Annisa.


"Tunggu Nis, aku masih ingin bicara dengan wanita ini. Wanita yang dari luar terlihat sholehah ternyata di dalamnya bobrok," seru Sarah.

__ADS_1


"Apa maksud kamu? jangan sembarangan kalau ngomong!" bentak Syfa.


"Kenapa? kamu tidak terima aku sebut diri kamu bobrok? karena memang kenyataannya kelakuan kamu tidak seperti penampilan kamu, buat apa kamu memakai pakaian syar'i terus bercadar pula kalau hanya untuk menutup aurat tapi hati dan kehormatanmu tidak dijaga," seru Sarah dengan emosinya.


Sarah adalah termasuk wanita yang jarang sekali marah, Sarah adalah wanita yang lembut dan ramah sama halnya dengan Annisa tapi mungkin saat ini Sarah sedang melampiaskan kemarahannya yang selama ini sudah dia pendam.


Annisa mengusap pundak Sarah untuk menenangkan Sarah.


"Istighfar Sar, kamu jangan emosi seperti ini," seru Annisa.


"Asal kan kamu tahu, aku sama Mas Abbad itu saling mencintai dan kami pun melakukannya atas dasar suka sama suka," seru Syfa.


"Astaghfirullah, Istighfar Mbak Istighfar bertobatlah sebelum terlambat. Kenapa Mbak begitu bangga kalau Mbak sudah berbuat zina?" seru Annisa.


"Diam kamu! jangan sok suci kamu di hadapan aku, belum tentu hidup kamu lebih baik daripada aku," seru Syfa.


"Aku memang wanita yang berlumuran dosa Mbak, dan aku tidak menganggap diri aku suci tapi setidaknya aku selalu meminta perlindungan dan petunjuk kepada Allah supaya aku dituntun ke jalan yang lurus dan dijauhi dari perbuatan-perbuatan dosa," sahut Annisa.


"Pantas saja Ust.Alwi menceraikanmu karena wanita sepertimu tidak pantas menjadi istri seorang Ustadz, apalagi Ust.Alwi begitu menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya," sambung Sarah.


Syfa sudah sangat emosi dengan perkataan kedua wanita cantik di hadapannya itu, tapi Syfa tidak bisa berbuat apa-apa karena disana banyak Mahasiswa yang melihatnya.


"Assalamualaikum."


Annisa pun menarik tangan Sarah untuk pergi dari tempat itu, Sarah masuk ke dalam mobil Annisa dan Annisa segera melajukannya menuju pondok pesantren milik Abahnya.


"Wanita itu sangat keterlaluan, sungguh tidak tahu malu," kesal Sarah.


"Sudah istighfar Sar, nanti kamu bisa cerita kepada Umi aku pasti Umi akan memberikan nasehat kepadamu."


"Iya Nis."


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya, keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2