
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Setelah selesai sarapan, Annisa pun masuk kembali ke kamarnya untuk membereskan pakaian dan barang-barang yang akan dia bawa.
Ceklek...
"Sudah siap?" tanya Alwi yang sudah berdiri di belakang Annisa.
"Sudah Mas."
Alwi mendekati Annisa dan kembali mencium kening Annisa.
"Maaf ya, Mas harus bawa kamu ke rumah Mas dan tinggal bersama Umi."
"Tidak apa-apa, sekarang kan Umi Mas sudah menjadi Umi Nisa juga jadi sudah kewajiban Nisa untuk menjaga dan mengurus Umi Mas."
Alwi menarik tubuh Annisa ke dalam dekapannya. "Terima kasih sayang, kamu memang istri terbaik."
"Jangan bicara seperti itu Mas, Nisa masih jauh dari kata baik masih banyak kekurangannya jadi Nisa harap mohon bimbingannya dan jika Nisa berbuat salah jangan sungkan-sungkan untuk menegur Nisa."
"Pasti sayang."
Annisa pun membalas pelukan suaminya itu, memang benar yang dikatakan Kakaknya kalau pacaran setelah menikah itu sangat menyenangkan.
"Annisa memang sangat berbeda dengan Syfa, wanita dengan bimbingan agama yang kuat sangat berbeda lebih memahami akan tugas seorang istri itu seperti apa," batin Alwi.
"Mas, kalau terus berpelukan seperti ini kita ga bakalan pergi-pergi," rengek Annisa.
"Astagfirullah, maaf sayang. Ya sudah, yuk kita berangkat sekarang!" ajak Alwi.
Alwi pun membawakan koper milik Annisa, setelah Alwi dan Annisa berpamitan kepada semuanya, mereka pun mulai meninggalkan rumah menuju rumah Alwi.
"Sayang, tidak apa-apa kalau kita mampir dulu ke rumah singgah?" seru Alwi.
"Rumah singgah? maksudnya?" tanya Annisa tidak mengerti.
__ADS_1
"Begini, sebenarnya Mas itu membangun sebuah rumah singgah yang dikhususnya untuk para anak-anak jalanan, pengamen, dan para anak-anak punk yang memang hidupnya dijalanan karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Mas merasa miris kepada mereka, sudah hidup dijalanan, tidak punya apa-apa, jauh pula dari Allah. Mas hanya ingin menyadarkan mereka supaya jangan sampai melupakan Allah dan sedikit demi sedikit memberikan pencerahan kepada mereka mumpung mereka masih diberikan hidup dan sehat, karena kalau mereka terus-terusan seperti itu, apa yang akan mereka bawa buat bekal mereka nanti."
"Masya Allah, Subhanallah, mulia sekali kamu Mas sampai mempunyai pemikiran seperti itu kalau begitu Nisa mau lihat dong Mas ke rumah singgah itu," sahut Annisa antusias.
"Ya sudah, kita mampir dulu kesana ya?"
Annisa menganggukan kepalanya dengan cepat dan itu membuat Alwi tersenyum. Tidak lama kemudian, mobil Alwi pun berhenti di depan sebuah gedung berlantai dua yang lumayan cukup besar.
Alwi pun langsung menggandeng tangan Annisa untuk ke dalam rumah singgah itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Wah, ada Ustadz datang," seru salah satu penghuni rumah singgah itu.
Semuanya pun langsung menghampiri Alwi dan mencium punggung tangan Alwi kecuali para wanita yang hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Ustadz siapa wanita cantik itu?"
"Oh iya, kenalkan ini Annisa istri saya," sahut Alwi.
Annisa pun tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di dada.
Alwi dan Annisa saling pandang kemudian tersenyum bersama. Alwi menghampiri sekelompok orang yang sedang membuat kue.
Di rumah singgah milik Alwi ini, semuanya diajarkan keterampilan sesuai kemampuan yang mereka miliki. Contohnya, ada yang pintar membuat kue, mainan anak, bahkan sampai hiasan-hiasan cantik yang terbuat dari barang-barang bekas.
Kemudian hasilnya mereka jual, ada yang dititipkan di toko-toko dan ada juga yang dijual langsung oleh mereka karena Alwi tidak mau sampai mereka meminta-minta di jalanan.
"Bagaimana hasil produksi bulan ini?" tanya Alwi.
"Alhamdulillah Ustadz ada kenaikan," sahut Bayu.
Bayu dan Jafar adalah dua orang yang dipercaya Alwi untuk mengurus dan membina anak-anak penghuni rumah singgah itu.
Alwi pun mengajak Annisa untuk duduk, dan tanpa di pinta pun semuanya duduk di hadapan Alwi.
"Bayu, Jafar, bagaimana shalat mereka? apa shalatnya ada yang bolong?" tanya Alwi.
"Aman Ustadz, setiap hari kami semua selalu mengajak mereka untuk shalat berjamaah ke mesjid," sahut Bayu.
"Alhamdulillah, pokoknya saya hanya menitipkan kepada kalian sesibuk-sibuknya kalian jangan pernah meninggalkan shalat karena shalat adalah tiangnya agama. Walaupun kalian rajin sedekah, tidak pernah mempunyai hati yang kotor, dan selalu berbuat baik kepada orang lain, itu akan sia-sia kalau kalian tidak melakukan shalat karena shalat itu yang pertama, paham kalian!"
__ADS_1
"Paham Ustadz."
Alwi dan Annisa melihat ada seorang wanita menangis tersedu-sedu sembari menundukan kepalanya. Annisa pun berinisiatif menghampiri wanita yang diperkirakan umurnya tidak jauh dengannya itu, kemudian mengusap punggungnya.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Annisa.
"Aku merasa sedih Kak, sebelum Ustadz Alwi membawaku kesini hidupku sangatlah kacau aku tidak tahu hidup aku untuk apa karena yang ada di dalam pikiran aku hanyalah mencari uang untuk membeli minuman dan obat-obatan tanpa memikirkan bagaimana ke depannya. Bahkan aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, tapi setelah aku disini dan diajarkan banyak hal oleh Ustadz Alwi, aku merasa hidupku bermanfaat banyak yang aku dapatkan disini terutama masalah agama yang selama ini aku tinggalkan bahkan aku melupakan Allah," serunya dengan deraian airmata.
"Subhanallah."
"Aku berasal dari keluarga miskin Kak, aku capek hidup serba kekurangan apalagi semua orang selalu merendahkan dan menghina keluarga aku. Bahkan disaat kedua orangtuaku menemui ajal hanya segelintir orang yang sudi membantuku, maka dari itu aku lebih memilih hidup dijalanan karena menurut aku hidup dijalanan lebih bebas, aku bisa melakukan apa yang aku mau tanpa ada yang melarangku dan yang terpenting aku tidak harus mendengarkan cacian dan hinaan dari orang-orang. Tapi ternyata dugaanku salah, hidup dijalanan justru lebih sulit dari yang aku bayangkan, disaat hidupku sudah terpuruk dan penuh dengan keputus asaan Allah mengirimkan penolong untuk aku dan dia adalah Ustadz Alwi."
Annisa memeluk wanita itu dan Alwi tersenyum bahkan orang-orang yang ada disana ikut meneteskan airmata karena kehidupan mereka memang hampir semuanya sama.
"Maka dari itu, aku selalu mengingatkan kepada kalian semua agar kalian selalu berserah diri kepada Allah karena saat orang menjatuhkan kita hanya Allah yang bisa mengangkat kehidupan kita, saat orang menyakiti hati kita hanya Allah yang bisa menyembuhkan hati kita, jadi hanya Allah yang bisa mengangkat semua kesulitan yang kita rasakan dalam kehidupan kita. Ada tiga keyakinan yang harus kalian miliki agar hidup kalian tenang dan bahagia. Pertama, tidak ada orang yang paling menyayangi kita kecuali Allah, yang kedua tidak ada seorang pun yang paling mengerti tentang hati dan diri kita kecuali Allah, dan yang ketiga tidak ada seorang pun yang bisa mengangkat kesulitan kita kecuali Allah."
"Jadi intinya, segala sesuatunya kalian serahkan kepada Allah jangan banyak mengeluh karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kita."
Semua orang menganggukan kepalanya, sungguh mereka sangat beruntung bisa dipertemukan dengan sosok Alwi, bagi mereka Alwi adalah penyelamat mereka menuju kehidupan yang lebih baik lagi.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1