Bidadari Surga Untuk Alwi

Bidadari Surga Untuk Alwi
Bab 13 "BSUA"


__ADS_3

🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Pagi ini Syfa bangun dengan tubuh yang sangat lemas, sudah sejak pukul 04.00 subuh Syfa bolak-balik ke kamar mandi karena perutnya terasa sangat mual.


Syfa bahkan tidak bisa bangun sama sekali saking lemasnya.


Tok..tok..tok...


"Syfa, bangun Nak ini sudah siang apa kamu tidak masuk kuliah!" seru Umi Aisyah.


Umi Aisyah mengerutkan keningnya, perlahan Umi Aisyah membuka pintu kamar Syfa dan terlihat Syfa masih tertidur di atas tempat tidurnya.


"Nak, apa kamu tidak kuliah hari ini?" tanya Umi Aisyah.


"Syfa ga enak badan, Umi."


Umi Aisyah pun menyentuh kening Syfa. "Badan kamu tidak panas."


"Entah kenapa perut Syfa mual sekali Umi, bahkan dari tadi subuh Syfa muntah-muntah terus."


"Memangnya kamu sudah makan apa Nak? sampai muntah-muntah segala?"


"Syfa tidak makan apa-apa."


"Ya sudah, kalau begitu kita periksa saja ke Dokter ya."


Syfa hanya menganggukan kepalanya, akhirnya Umi Aisyah pun dibantu oleh Mang Sapri pergi menuju klinik untuk memeriksakan keadaan Syfa.


Beruntung sampai di klinik, ternyata kliniknya kosong Umi Aisyah dan Syfa pun segera masuk. Syfa berbaring dan Dokter mulai memeriksa keadaan Syfa.


"Perut saya mual sekali, Dok," seru Syfa.


Dokter itu hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pemeriksaannya. Setelah selesai, Dokter pun menyuruh Syfa untuk duduk.


"Anak saya kenapa Dok?" tanya Umi Aisyah khawatir.


"Anak Ibu tidak apa-apa, rasa mual itu biasa kalau seorang wanita sedang ngidam."


Deg....


Wajah Syfa berubah menjadi pucat pasi...


"Ngidam? maksud Dokter?" tanya Umi Aisyah.


"Selamat, anak Ibu sedang mengandung dan usia kandungannya saat ini baru memasuki minggu ketiga."


Umi Aisyah dan Syfa sama-sama terkejut, akhirnya setelah pemeriksaan selesai dan Syfa pun diberikan obat keduanya pun memutuskan untuk pulang.


Selama dalam perjalanan, Syfa hanya diam bahkan tangannya memegang erat kantong kresek warna putih itu yang berisi obat-obatan. Jantung Syfa berdegup sangat kencang, dia tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada kedua orangtuanya.


"Syfa, Alwi harus tahu kalau kamu sedang mengandung anaknya," seru Umi Aisyah.

__ADS_1


Umi Aisyah mengira kalau itu adalah anak Alwi, lidah Syfa begitu kelu dia tidak bisa menjawab ucapan Uminya.


Sesampainya di rumah, kaki Syfa begitu berat melangkah untuk masuk ke dalam rumah apalagi Syfa sudah melihat mobil sang Abi sudah terparkir di depan rumahnya.


Syfa mengikuti langkah Uminya dengan menundukan kepalanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Umi darimana?" tanya Abi Idris.


"Umi habis dari klinik."


"Dari klinik? siapa yang sakit?"


"Syfa, tadi Syfa mual-mual terus dan badannya sangat lemas Umi khawatir akhirnya Umi membawa Syfa ke klinik, dan ternyata Syfa sedang hamil Abi," sahut Umi Aisyah.


"Apa hamil? kalau begitu Abi akan memberitahukan Alwi tentang masalah ini."


Abi Idris pun melangkahkan kakinya hendak mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


"Tunggu Abi!" seru Syfa ragu-ragu."


Abi Idris menghentikan langkahnya dan menatap Syfa.


"Kenapa?"


Cukup lama Syfa terdiam, bahkan saat ini tangannya sudah bergetar hebat saking takutnya Abinya murka kepadanya.


"Ada apa?" tanya Abi Idris.


Airmata Syfa pun akhirnya menetes dan dengan cepat Syfa bersujud dan memeluk kaki Abinya itu membuat Abi dan Uminya mengerutkan keningnya karena merasa bingung.


"Maafkan Syfa Abah, ini bukan anaknya Mas Alwi tapi ini anaknya Mas Abbad," seru Syfa dengan bibir yang bergetar.


Kedua orangtua Syfa bagaikan tersambar petir di siang bolong, bagaimana bisa Syfa mengandung anak laki-laki lain sementara Syfa baru saja berstatus sebagai mantan istri Alwi.


Umi Aisyah sangat terkejut dengan ucapan anaknya itu.


"Maafkan Syfa Abah, maafkan Syfa Umi, Syfa sudah berdosa anak ini bukan anak Mas Alwi melainkan anak Mas Abbad," seru Syfa kembali.


Umi Aisyah menutup mulutnya dengan deraian airmata sedangkan Abi Idris terlihat mengepalkan tangannya, bahkan saat ini matanya sudah terlihat memerah karena menahan emosi.


Abi Idris menghentakan kakinya sekuat tenaga sehingga Syfa terjungkal ke belakang.


"Pantas saja Alwi menceraikanmu, pantas saja Alwi tidak mau memikirkan ulang untuk tidak menceraikanmu, ternyata kelakuanmu sungguh sangat tidak bisa dimaafkan."


"Maafkan Syfa Abi."


"Kamu benar-benar sudah membuat Abi malu, kamu tahu kan Abi itu siapa? dan semua orang mengenal Abi, tapi sekarang kamu sudah membuat Abi benar-benar tidak punya wajah lagi kamu ibaratkan sudah melemparkan kotoran di wajah Abi!" bentak Abi Idris.


Abi Idris langsung meninggalkan Syfa dan masuk ke dalam kamarnya, Syfa menoleh ke arah Uminya yang saat ini sudah menangis tersedu-sedu.


Perlahan Syfa menghampiri Uminya dan ingin menyentuh Uminya itu, tapi Uminya langsung menghindar membuat hati Syfa semakin sakit.


"Umi tidak menyangka kalau kamu bisa serendah itu, apa kurangnya Umi sama Abi? dari kecil kami mendidik kamu dengan penuh kasih sayang dan didikan agama yang benar, kenapa sekarang sudah dewasa kamu malah membuat kami malu dengan kelakuanmu. Kamu itu baru saja bercerai bahkan surat cerai pun belum ada tapi kamu sudah melakukan zina seperti itu dengan suami orang pula, Astagfirullahaladzim Syfa."


Tiba-tiba Umi Aisyah memegang dadanya membuat Syfa merasa sangat panik.


"Umi, Umi kenapa?"

__ADS_1


Umi Aisyah pun akhirnya jatuh tidak sadarkan diri, Abi Idris dan Pak Sapri segera membawa Umi Aisyah ke rumah sakit begitu pun dengan Syfa yang ikut ke rumah sakit.


Syfa terlihat mondar-mandir, dia sangat khawatir dengan keadaan Uminya sungguh dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia perbuat sehingga membuat kedua orangtuanya kecewa.


"Segera bawa laki-laki itu ke hadapan Abi, Abi akan menikahkan kamu dengan dia," seru Abi Idris tanpa melihat ke arah Syfa.


"Ba--baik, Abi."


Syfa pun segera menghubungi Abbad, Abbad sedang berada di kamar mandi dan kebetulan Sarah sedang membereskan tempat tidur mereka.


Tiba-tiba ponsel Abbad pun berbunyi, Sarah melihatnya dan tertera inisial S dilayar ponselnya.


"S? siapa?"


Sarah sangat ragu antara mengangkatnya atau tidak, kalau dia mengangkatnya dia takut Abbad marah. Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka dan Abbad melihat Sarah sedang memperhatikan ponselnya dengan cepat Abbad merebut ponselnya dari tangan Sarah membuat Sarah kaget.


"Astagfirullahaladzim Mas."


"Mas kan sudah bilang jangan pernah menyentuh ponsel Mas."


"Kenapa Mas? aku ini istrimu, memangnya ada larangannya kalau seorang istri tidak boleh melihat ponsel suaminya," seru Sarah.


Abbad tidak memperdulikan keluhan istrinya, Abbad pun membawa ponselnya keluar kamar membuat Sarah meneteskan airmatanya.


"Apa Mas Abbad sedang bermain api di belakangku?" batin Sarah.


Tiba-tiba Abbad kembali lagi ke kamarnya dengan wajah yang terlihat panik, Abbad segera mengambil pakaiannya.


"Ada apa Mas?" tanya Sarah.


"Aku harus pergi sekarang."


"Mau kemana?"


"Jangan bawel, pokoknya Mas harus pergi jangan menunggu Mas pulang."


Setelah rapi, Abbad pun langsung pergi meninggalkan Sarah bahkan Abbad tidak mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Astagfirullahaladzim, kenapa dengan Mas Abbad," gumam Sarah dengan deraian airmatanya.


🕌


🕌


🕌


🕌


🕌


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2