
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Setelah selesai, Umi Khadijah pun mengajak Fazri untuk pulang setelah sebelumnya melepas rindu bersama Arman anak bungsunya.
Fazri melihat Sarah yang saat ini masih mengobrol dengan Annisa.
"Oh jadi perempuan itu temannya Nisa," batin Fazri.
"Kamu lihatin apa sih Fazri? sampai segitunya?" tanya Umi Khadijah.
"Perempuan yang sedang ngobrol dengan Nisa itu siapa, Umi?" tanya Fazri.
Umi Khadijah pun menoleh ke arah yang ditunjukan Fazri.
"Oh itu Sarah, temannya Nisa. Kenapa kamu naksir sama Sarah?"
"Iya Umi, cantik."
"Jangan ganggu dia, saat ini dia masih dalam proses perceraiannya dan setelah itu juga Sarah harus menjalani masa idah jadi kamu jangan mengganggunya."
"Hah, jadi dia sudah menikah dan sekarang mau cerai?"
"Iya, kenapa? mau mundur karena Sarah seorang calon janda?" seru Umi Khadijah.
Fazri membukakan pintu mobil untuk Umi Khadijah, karena memang saat itu mereka berbicara sembari berjalan. Fazri pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kok bisa Sarah bercerai? pasti ini Sarah bukan wanita baik-baik mangkanya suaminya menceraikannya," seru Fazri sok tahu.
"Jangan suudzon kepada orang lain, Sarah itu wanita baik-baik sama seperti Nisa cuma laki-lakinya saja yang bodoh sudah tergoda dengan wanita lain."
"Laki-laki bodoh, sudah melepaskan berlian seindah itu."
__ADS_1
"Kamu tahu Fazri, suami Sarah itu sudah berselingkuh dengan Syfa mantan istri Alwi saat mereka masih sama-sama berstatus sebagai istri dan suami."
"Yassalam, cocok tuh mereka sama-sama mendapatkan orang yang tidak setia."
Sementara itu di pondok pesantren, Nisa mengajak Sarah untuk pindah ke gazebo yang ada di halaman belakang sedangkan Alwi masih sibuk berbincang-bincang bersama Abah dan juga Papanya Sarah.
"Jadi kamu sudah memutuskan untuk menggugat cerai Mas Abbad?" tanya Annisa.
"Aku sudah menggugatnya Nisa, dan sepertinya dalam waktu dekat ini sidang perceraian pertama kita akan di gelar," sahut Sarah.
"Kamu yang sabar ya Sar, aku yakin kamu akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik daripada Mas Abbad."
"Iya Nisa, terima kasih. Tapi tetap saja aku masih merasa tidak menyangka kalau usia pernikahanku hanya sampai disini, bahkan aku mengira kalau Mas Abbad akan menjadi jodohku sampai maut memisahkan," sahut Sarah dengan menundukan kepalanya.
Annisa memeluk sahabatnya itu, Annisa merasa kasihan kepada Sarah karena tidak sepantasnya Abbad menyakiti hati Sarah yang sudah sabar dan mencintai Abbad dengan sepenuh hatinya.
"Rasanya sakit Nis, dikhianati oleh orang yang kita cintai. Kenapa Mas Abbad mengkhianatiku? apa kurangnya aku untuknya dibandingkan dengan Syfa?" seru Sarah dengan isakan tangisannya.
"Kamu tidak usah memikirkan apa yang sudah dilakukan pasanganmu terhadap dirimu karena semakin kamu memikirkan jawabannya, semakin kamu akan merasa sakit."
Sarah dan Annisa menoleh bersamaan, Sarah langsung menghapus airmatanya saat melihat Alwi sudah berdiri di belakang mereka. Alwi tersenyum dan duduk di samping Annisa.
"Boleh, sangat boleh Mas lagipula saat ini Sarah memang sedang bingung dengan perasaan Sarah sendiri," sahut Sarah.
"Sarah, kalau kita terus memikirkan apa alasan pasangan kita mengkhianati kita dan pergi meninggalkan kita, itu justru akan membuat kita pusing. Tapi cobalah kamu berpikir seperti ini, tidak apa-apa dia mengkhianatiku, tidak masalah dia meninggalkanku karena aku punya Allah."
"Allah tahu mana yang terbaik untukmu, boleh jadi Allah menunjukan semuanya karena Allah tahu ada sesuatu yang tidak baik jika kamu meneruskan hubungan kamu dengannya. Allah bukakan tentang dia kepadamu supaya kamu bisa membuka mata bahwa bukan dia yang terbaik untukmu," seru Alwi.
Sarah kembali menundukan kepalanya, kata-kata Alwi memang selalu membuatnya tenang.
"Sarah, aku hanya ingin berpesan kepadamu kalau ada orang yang pernah hinggap dihatimu, kemudian orang itu pergi meninggalkanmu langsung husnudzon barang kali Allah akan mendatangkan orang lain yang jauh lebih baik daripada orang yang pernah hinggap dihatimu. Mau sampai kapan kamu memendam namanya, menyebut namanya, sedangkan kamu tidak bisa berada disisinya dan dirinya pun lebih memilih meninggalkanmu. Allah berfirman dalam surat Ar-ra'du ayat 28 yang artinya, ingatlah hatimu akan menjadi tenang dengan berdzikir kepada Allah."
"Maka langkah pertama jika kamu mengalami sakit hati karena cinta ataupun mengalami masalah apapun jawabannya hanya dzikir, ingat kepada Allah. Barang kali selama ini kamu jauh dari Allah jadi dengan sakit hati itu Allah memberikan teguran supaya kamu lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah."
"Astaghfirullah, terima kasih Mas memang benar selama ada masalah ini, Sarah jadi lebih sibuk memikirkan apa alasan Mas Abbad mengkhianati Sarah dan Sarah juga lebih sibuk dengan kesedihan Sarah sendiri. Terima kasih Mas Alwi sudah menyadarkan dan mengingatkan Sarah, mulai sekarang Sarah hanya akan percaya akan ketentuan yang sudah dituliskan Allah untuk Sarah, sekali lagi terima kasih Mas."
"Iya, sama-sama Sarah."
"Ya sudah, kalau begitu Sarah pamit dulu. Nis, aku pulang dulu ya. Alhamdulillah saat ini hati aku sudah lebih tenang dan yang pasti aku lebih yakin lagi dengan keputusanku, kalau begitu aku pulang dulu ya, Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Annisa tersenyum ke arah Alwi dan menyandarkan kepalanya di pundak Alwi.
"Pantas saja Mas bisa kuat dalam menghadapi masalah kemarin karena Mas selalu mendekatkan diri kepada Allah," seru Annisa.
"Hanya Allah yang bisa mengobati rasa sakit hambanya, saat sudah tidak ada lagi bahu manusia untuk bersandar maka bersujudlah kepada Allah dan meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat semua masalah kita."
"Masya Allah, beruntung sekali Nisa mempunyai suami sepertimu Mas selalu ada pelajaran yang bisa Nisa petik."
"Kita sama-sama belajar, bahkan Mas pun masih harus banyak belajar karena tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT."
"Sebentar lagi masuk waktu dzuhur, kita siap-siap yuk!" ajak Annisa.
Alwi pun menganggukan kepalanya, keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
🕌
🕌
🕌
🕌
🕌
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1