
setelah semuanya makan mereka semua kembali ke vila,semuanya tampak senang karena mereka bisa makan sepuasnya terlebih lagi Vegas dan vigas perut mereka menjadi buncit seperti akan meledak.
melihat hal itu lamiel tersenyum.
"hah,apa ini pertanda baik atau tidak ya."batin lamiel sambil melihat awan. di
"lupakan hal seperti itu,mumpung masih kecil lebih baik menikmatinya saja."
----
sedangkan di vila milsia tampak mengurung diri di kamarnya, ekspresi nya tampak kosong,entah apa yang dipikirkannya.
"bagaimana bisa orang itu tahu kakek ku,padahal aku sudah menyembunyikan identitas ku."gumam milsia
ia menyembunyikan identitas agar ia tidak di kenali oleh kakeknya,karena ia berada di akademi ini untuk membalaskan dendam miliknya.
sebab kakek Mils adalah orang yang pendendam,Mils dendam kepada mertuanya lalu mengusir ia serta melumpuhkan ayah kandung milsia,milsia tidak tahu kenapa ayah nya di dendam oleh kakeknya sendiri,tapi milsia ingin membalas perbuatan dari kakeknya.
sebab itu ia masuk kedalam akademi ini menggunakan marga teman ayahnya untuk menyembunyikan identitasnya,tapi sayang sekali lamiel dapat melihat identitasnya dalam sekali lihat.
saat ia masih murung,seorang anak kecil tampan dengan rambut hitam legam dan mata hitam masuk ke dalam kamar.
brakk!
pintu terbuka,dan terlihat lamiel sedang berdiri di pintu masuk kamar dengan muka bingung.
"apa yang kau lakukan disini."tanya lamiel dengan wajah polos.
"kau kenapa kau bisa kemari."tanya milsia sambil membentaknya.
"apa yang kulakukan?bukankah ini kamar ku,lihat di depan sudah ada nama kamarnya."kata lamiel sambil menunjuk kan nama di pintu yang tertulis lamiel.
melihat hal itu milsia sadar bahwa ia berada di kamar yang salah,mungkin karena ia sempat depresi membuat ia tidak memperhatikan sekitar.
milsia diam sampai lamiel bertanya.
"memangnya kenapa kalau kau cucu Mils,aku tidak akan membunuhmu bila tahu kau itu cucunya."tanya lamiel.
"kau tidak akan mengerti."kata milsia sambil membenamkan wajahnya di lutut.
mendengar itu lamiel berjalan ke arah milsia dan duduk di dekatnya.
"aku tidak mengerti karena kau tidak menjelaskannya."kata lamiel lalu mengelus rambut milsia.
milsia yang merasakan rambutnya di elus pun melihat lamiel.
__ADS_1
"coba kau ceritakan."kata lamiel sambil tersenyum tulus.
melihat senyuman lamiel membuat jantung milsia berdetak kencang,wajah yang tampan dan imut,bersih tanpa noda membuat jantung milsia seakan meledak.
tapi di belakang lamiel milsia melihat sesosok siluet yang menyerupai ayahnya dan orang itu berkata.
"ayo coba ceritakan milsia."
"huaaaa."
melihat sosok ayahnya milsia pun dan mendorong lamiel kebelakang membuat lamiel terjatuh di kasur dengan milsia di dada nya.
"ini semua salah ayah,jika ayah tidak mati aku tidak akan kesini,jika ayah jika jika,huaaaa."gumam milsia di pelukan lamiel.
sedangkan lamiel ia terus mengelus dan menenangkan milsia,tapi itu tidak berhasil.
alhasil milsia menangis sampai tidur di pelukan lamiel.
"hah,gadis kecil yang malang."kata lamiel ikut tertidur di sana.
keesokan paginya.
milsia mungkin lelah karena kemarin ia menangis sejadi jadinya,sedangkan lamiel mungkin ia juga lelah karena suasana baru di vila nya.
tak lama kemudian lamiel bangun dan merasakan tubuhnya berat,ia membuka matanya dan melihat.
seorang gadis kecil dengan rambut perak dan pakaian biru muda sedang berada di dadanya,melihat hal baru didepannya lamiel pun kaget.
tapi tak berlangsung lama karena mengingat kejadian kemarin.
"huf,beruntung tidak ada yang melihat kita,kalau tidak mereka pasti akan berpikir aneh aneh,tidak,tidak mungkin anak anak kecil itu bisa memikirkan hal seperti itu,kecuali Leka."batin lamiel.
tapi sepertinya ia bernasib buruk karena Lenka sudah berada di pintu kamar milik lamiel,bahkan anak anak lain sudah melihat lamiel dan milsia tidur di sana dari kemarin.
sebab pintu kamar lamiel masih terbuka.
saat pertama kali melihat hal ini Lenka sangat kaget,karena orang yang berada di dada lamiel pernah mencoba membunuh lamiel tapi melihat kelakuan lamiel Lenka hanya bisa menghela nafas.
"huf,dasar lamiel."batin Lenka.
saat lamiel melihat milsia ia entah kenapa merasa tenang,seperti melihat adiknya sendiri,hal itu membuat lamiel nyaman bersama milsia.
saat lamiel kembali mengelus rambut milsia,ia mendengar suara batuk dari arah pintu kamar.
__ADS_1
"uhuk,uhuk."Lenka batuk dengan sengaja.
lalu lamiel pun melihat di pintu ada seorang anak kecil dengan tubuh kecil itu sedang menatapnya dengan muka dingin.
"tunggu Leka aku bisa menjelaskannya."kata lamiel dengan panik.
"oh begitu."kata Lenka dengan muka mengejek.
"si sial*n ini!"batin lamiel.
karena mendengar keributan membuat milsia terbangun dari tidurnya.
pun terbangun.
"hooaam."
"ini pukul berapa,kenapa berisik sekali."kata milsia sambil terbangun dari dada lamiel.
melihat Lenka di pintu membuat milsia heran,lalu ia melihat lamiel di sampingnya menambah keheranannya,sampai ia ingat akan kejadian kemarin.
pufff!
wajah milsia menjadi merah dan mengeluarkan asap,karena malu milsia dengan cepat pergi dari sana,sedangkan lamiel menjadi semakin berkeringat.
lalu Lenka pun duduk di samping lamiel.
"lamiel aku tidak akan menanyakan hal yang terjadi tapi sebagai gantinya kau harus menceritakan asal usul mu."kata Lenka.
mendengar permintaan Lenka lamiel pun dengan cepat menjelaskan hal yang terjadi kemarin,sedangkan Lenka ia takjub karena lamiel dengan cepat menghalangi rencananya.
tapi Lenka juga punya rencana cadangan.
"kalau begitu bukankah kau sudah berjanji untuk menceritakan sebenarnya kau ini makhluk apa saat berada di kekaisaran Stardust."kata Lenka membuat lamiel harus mencari jawaban untuk mengelak.
"bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku itu manusia."kata lamiel.
"manusia tidak akan memiliki kekuatan seperti mu."teriak Lenka.
"tidak,justru manusia lah yang paling bisa memiliki nya,hanya saja mereka terkekang oleh tembok besar yang di sebut waktu."kata lamiel.
mendengar jawaban lamiel wajah Lenka menjadi suram.
"terserah kau lamiel."kata Lenka.
bersambung…
__ADS_1