
Ke esokan hari nya,kali ini Brilian bangun pagi\-pagi sekali pukul 04:00 am, sepas Subuh. Meski masih dengan luka memar pada wajahnya,ia teringat kebiasaannya dulu waktu masih bersekolah,yaitu lari\-lari pagi selepas sholat Subuh. Di pagi buta, dengan mengenakan sepatu sport, celana training pendek, dan baju jersey lengan panjang. Di jalanan yang masih sepi nan berkabut, hanya beberapa kendaraan yang melintas, hendak pergi ke pasar. Ia berlari\-lari kecil sambil mengerak\-gerakan bagian tubuhnya seperti gerakan senam.
Setelah cukup lama jogging, dan cukup berkeringat. Ia lalu beristirahat sejenak,duduk selunjur sambil mencium lutut,untuk melatih peregang otot-otot kaki. Beberapa menit kemudian,ia melanjutkan joggingnya menuju rumah. Kabut perlahan mulai menghilang,di ufuk timur mentari nampak menunjukkan sinarnya. Sesampainya di rumah,ia lalu menuju di belakang samping rumahnya yang terdapat kebun sayur kecil di sana.
Brilian lalu memetik beberapa beberapa sayur sana, seperti tomat, bayam, cabai dan seledri. Tinggal membeli bahan-bahan tambahan, seperti wortel,ayam,jagung,dan bumbu rempah-rempah nya. Untuk selanjutnya ia masak dengan sederhana menjadi,sayur bening ayam gula jawa. Sayur sederhana dan sehat, tinggi serat rendak lemak dan tidak mengandung banyak minyak.
Kini semua bahan sudah siap, Brilian lalu memasak nasi menggunakan magic com,di saat bersamaan, ia memasak sayur menggunakan api dari kompor gas. Setelah selesai, sambil menunggu nasi matang, ia lalu mandi, karena pagi ini ia ada janji untuk mengajak Sekar jalan-jalan. Beberapa menit seteleh selesai mandi, rupanya nasi belum matang. Ia lalu mengambil handphone yang sedang ia cas.
Disana ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk. Setelah dilihat,ternyata pesan itu dari Sekar, yang isi pesannya.
"Hai, selamat pagi Brilian, udah bangun belum ni...?" isi pesan singkat Sekar.
Pesan singkat itu belum terlalu lama,baru 10 menit yang lalu, pesan dikirim pukul 06:15 am. Brilian lalu bergegas menelfon Sekar.
"Tut... Tut... Tut..." suara telephone berdering.
Namun belum diangkat oleh Sekar.
"Ayo angkat..."gumam Brilian dalam hati.
Brilian berkali-kali menelfon Sekar namun belum juga diangkat,kemudian ia mengirim balasan pesan singkat.
"Maaf Sekar, tadi baru di cas baru saya tinggal masak. Kamu lagi ngapa Sekar?" isi pesan singkat Brilian.
Sambil menunggu balasan dari Sekar, ia kembali melanjutkan rutinitas paginya di rumah,termasuk nyuci sepeda motor. Karena malas mengantar ke tempat cucian motor, ia sering mencuci motor kesayangannya sendiri. Di depan teras sebelah selatan rumahnya terdapat kran air, yang biasa ia gunakan mencuci motor mengunakan selang air. Diatas tepat Brilian mencuci motor, ada tanaman jalar hias yang ia tanam sudah cukup lama,kini tanaman hias itu menjalar rapi menambah suasana sejuk dan hijau di rumah Brilian yang tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk di tinggali satu keluarga,namun Brilian hanya tinggal sendiri di rumah.
"Drrrr..... " handphone Briliam berdering tanda ada pesan masuk.
Ia langsung membukanya, ternyata balasan dari Sekar.
"Owh... Kamu bisa masak? Maaf tadi baru mengantar kak Geofani ke mini market," balas Sekar.
"Hehe, ya bisa dikit-dikit. Owh..Gitu...Btw nanti jadi kan jalan-jalannya?" tanya Brilian.
"Ya... Kemana dulu,? " tanya Sekar balik.
"Kepantai Pasir Putih mau gak?" ucap Brilian bertanya.
"Hemb... Oke deh, udah lama gak ke pantai juga," jawab Sekar.
"Oke, sebentar lagi aku ke tempatmu kita langsung berangkat ya Sekar?" tanya Brilian bersemangat.
"Okey Brilian, jam berapa?" sahut Sekar bertanya.
"Sekitar jam 07:00 am aku sampai rumahmu," jelas Brilian.
"Okey deh... " Jawab Sekar.
Brilian lalu menyelesaikan kan mencuci motornya,sambil menghidupkan mesin motornya.
"Brum... Brum... "
Sambil menunggu pemanasan mesin motor,dan motor kering,Brilian tidak lupa sarapan. Lalu bersiap-siap membawa beberapa perlengkapan di dalam tasnya. Dengan mengenakan jaket levis, celana levis dan sepatu casual pria,namun Brilian membawa baju ganti, kemeja pantai dengan motif daun kelapa,sepasang dengan celana pendeknya, dan sandal jepit. Untuk berjaga-jaga nanti jika sewaktu-waktu mandi di pantai. Setelah persiapan selesai, ia lalu berangkat menuju rumah Sekar.
"Brum.....Brum....Brum........." suara knalpot sepeda motor Brilian.
Di perjalanan yang masih pagi, pukul 06:45 am, menuju rumah Sekar. Sesampainya di depan rumahnya, tidak lama kemudian Sekar keluar dari dalam rumahnya menghampiri Brilian.
"Brilian, turun dulu bentar,pamit dulu sama ortuku," pinta Sekar.
"Waduh, pamit, bisa gawat ni," gumam Brilian dalam hati.
"Tapi Sekar," ucap Brilian sambil menunjuk luka memarnya diwajahnya.
"Tidak apa-apa, dah yuk," ajak Sekar.
Brilian lalu berjalan ke arah teras rumah Sekar. Tidak lama kemudian ayah Sekar keluar dari dalam rumahnya. Sedangkan Sekar hendak mengambilkan minuman untuk Brilian dan Ayahnya.
"Yah, ini teman Sekar, yang kemarin saya ceritakan,waktu kita hendak ke rumah nenek kemarin," jelas Sekar.
"Owh... Brilian ya?" tanya ayah Sekar.
"I i. Iya om," jawab Brilian menunduk.
"Sini duduk dulu," ajak ayah Sekar.
"Baik om," jawab Brilian lalu duduk.
"Sudah...jangan takut santai aja. Ngomong-ngomong mau kemana ini pagi-pagi sama putri saya?" Tanya Ayah Sekar.
"Emb... " Brilian hendak mengatakan sesuatu.
"Mau ke pantai yah, boleh ya, lama banget gak ke pantai..." sahut Sekar keluar dari dalam rumahnya sembil membawa minuman teh hangat.
Sekar lalu meletakkan dua cangkir teh di meja, depan Brilian dan Ayahnya duduk.
"Ini Brilian diminum dulu teh nya," ucap Sekar.
"Iya, terimakasih," jawab Brilian nervous.
"Oh...Mau ke pantai. Boleh aja, tapi jangan pulang malem-malem, dan, jangan mandi di pantai,mengerti," jelas ayah Sekar.
"Tapi Yah, cuma di pinggir aja kan gak apa-apa Yah," sahut Sekar manja.
"Tidak boleh,berbahaya," ujar ayah Sekar.
Brilian lalu mengangguk ke arah Sekar memberi kode, lalu menunduk lagi saat Ayah Sekar menoleh ke arah Brilian.
__ADS_1
"Oh ya. Ayo diminum dulu tehnya," ajak Ayah Sekar.
"Baik om," jawab Brilain.
"Ngomong-ngomong, kenapa kok ada luka memar di wajah mu nak, habis berantem ya?? " tanya Ayah Sekar.
"Uhuk.. Uhuk..." Brilian tersedak saat minum teh.
"Habis jatuh dari sepeda motor Yah," sahut Sekar berbohong.
"Iya om.. " tambah Brilian.
"Owh... Lain kali hati-hati, putri saya jangan di ajak jatuh lho," pesan Ayah Sekar.
"Hehe, tidak om," jawab Brilian.
Beberapa menit kemudian setelah mereka berbincang-bincang. Sekar dan Brilian lalu berpamitan. Mereka berdua lalu berboncengan menuju pantai Pasir Putih, yang lumayan jauh. Harus melewati jalan pegunungan terlebih dahulu. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan jarak tempuh 40 km. Pertama-tama, mereka harus melewati tanjakan, persis jalan menuju arah ke Puncak Cangkir Kopi. Setelah sampai pertigaan jalan, mereka ambil ke arah timur, kalau ke Puncak Cangkir kopi ke arah kanan.
Satu jam kemudian,pukul 08:30 am. Mereka berdua telah sampai di pantai Pasir Putih. Udara pantai menyambut mereka, dan membelai ramput panjang Sekar yang sedikit diikat ke belakang.
"Heeemm...." Sekar mengirup udara pagi yang masih segar di tepian pantai.
"Udaranya sejuk ya, Brilian," ucap Sekar,sambil berjalan dibibir pantai.
"Iya Sekar,yang penting kamu bahagia, aku ikut seneng kok, " jawab Brilian.
"Apaan sih, pagi-pagi dan ngegombal gak jelas, hehe," sahut Sekar.
"Eh duduk di depan situ yuk," ajak Sekar mengajak di tempat duduk joglo ukuran mini yang terbuat dari kayu.
"Yuk," jawab Brilian.
Mereka lalu berjalan menuju joglo mini yang terbiat dari kayu tersebut, yang terletak didekat bibir pantai. Tempat duduk disana memang disediakan untuk para pengunjung pantai. Karena masih pagi, pantai belum terlalu ramai. Tepat di depan mereka,kira-kira jarak 10 meter, ada seorang pelukis yang sedang melukis pemandangan pantai. Pantai yang diapit oleh dua bukit karang dan menjorok ke laut itu, menambah pemandangan semakin indah, dan menjadi daya tarik para wisatawan,asing maupun lokal. Sesuai namanya, pantai Pasir Putih,memiliki pasir putih yang terjaga kebersihannya.
"Tadi lupa gak bawa gitar ya Sekar, hehe," ungkap Brilian
"Iya, tadi kamu gak ngingetin sih... " ucap Sekar.
"Tadi... Gak enak sama Ayahmu..." ujar Brilian.
"Owh... Gak apa-apa ya Ayah tu, santai," jelas Sekar.
"Ya besuk lain kali bawa deh... Hehe," ujar Brilian.
"Oke..." sahut Sekar.
"Btw, tadi udah sarapan belum?" tanya Brilian.
"Udah kok," jawab Sekar.
"Yang bener.... " ujar Brilian.
"Oiya,kamu nanti berangkat kerja kan Brilian?" tanya Sekar.
"Berangkat sih, tapi rencana mau izin," sambung Brilian.
"Loh, kenapa izin? nanti dipecat lo..." ungkap Sekar.
"Ya karena ini," jawab Brilian sambil menunjuk ke arah luka memar di wajahnya.
"Dih.. Itu aja dipermasalahin, ni nyatanya kamu sampai sini," sambung Sekar.
"Ya... Itu karena demi kamu... Hehe," canda Brilian.
"Hiss... Apaan sih, hmm... " ucap Sekar sambil tersenyum.
Disela-sela canda dan tawa mereka, tidak terasa waktu menunjukkan jam 10:00 am. Cuaca cerah dan sejuk angin pantai,Brilian yang membaringkan badannya di samping Sekar, sedangkan Sekar duduk sambil memandang pemandangan pantai. Burung-burung putih terbang menari-nari di atas ombak yang saling berkejar-kejaran,yang sedang dilukis oleh seseorang pelukis yang tidak jauh didepan meraka berdua berada. Brilian lalu bangun dan berkata.
"Oiya, sebentar ya tunggu sini sebantar," ujar Brilian.
"Ada apa Brilian?" tanya Sekar.
"Sebentar aja kok," sambung Brilian.
"Iya," jawab Sekar.
Brilian lalu berjalan sekitar 8 meter dari joglo mini tempat Sekar duduk. Brilian nampak sedang menelfon seseorang. Setelah selesai, ia lalu kembali duduk disamping Sekar.
"Siapa yang telfon?" tanya Sekar sambil melirik ke arah Brilian.
"Tidak ada," jawab Brilian singkat.
"Siapa,?" tegas Sekar bertanya.
"Kenapa sih?" tanya balik Brilian.
"Hiis.. Ya udah,hemb," ucap Sekar sambil memalingkan muka.
"Hehe... Bercanda. Marah ya..." goda Brilian.
"Gak, ngapain marah," sahut Sekar.
"Ya hadap sini dong kalah tidak marah.... " goda Brilian.
"Btw, kamu cemburu ya kalau aku telfon cewek lain?" tambah Brilian bertanya dengan pd nya.
"Apa,? Coba ulang?" tanya Sekar sambil memghadapkan wajahnya kepada Brilian.
__ADS_1
"Hehe... Gak gak... Bercandaku garing ya, maaf deh... " ucap Brilian menunduk.
"Hahahahah, hiih..... " Sekar mencubit kecil pipi Brilian di sebelah luka memarnya.
"Aduh.... Sakit tau," ujar Brilian kesakitan.
"Biarin,wekk.." ledek Sekar.
"Coba ulangin tadi kamu kek ngomong apa,?" tambah Sekar bertanya.
"Kamu cemburu kalau aku telfon cewek lain,? Duh... Sakit," jelas Brilian mengulangi pertanyaannya sambil kesakitan.
"Yee.... Pd. Ya udah kalau gak mau ngasih tau gak apa-apa, ok,fine," terang Sekar.
"Iya.. Iya.. Tadi cuma izin gak masuk kerja,karena masih sakit ni," jelas Brilian sambil memegang luka memarnya.
"Hahaha, dasar kamu itu, dipecat baru tau rasa," ledek Sekar.
"Ya semoga aja gak,hehe," sahut Brilain sambil berbaring disisih Sekar,sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Yuk jalan-jalan," ajak Sekar.
"Jalan-jalan kemana Sekar,?" tanya Brilian yang baru saja mambaringkan badannya.
"Didekat bukit karang itu, foto-foto disana,yuk," ajar Sekar lagi.
"Hadeh...Ya udah yuk," jawab Brilian lalu bangun.
"Kenapa, kayak ke paksa gitu?" tanya Sekar.
"Gak kok," jawab Brilian.
Mereka lalu berdua lalu berjalan ke arah bukit karang yang menjorok ke pantai itu, untuk berfoto-foto. Brilian sebenarnya tidak terlalu suka berfoto. Karena ia menyimpan perasaan kepada Sekar, jadi apa yang dikatakanya selalu Brilian turuti.
Sekar nampak bahagia,Brilian pun senang melihatnya. Setelah selesai berfoto, mereka lalu menuju ketempat ruang ganti,hendak berganti pakaian dan bermain air di tepi pantai.
"Tapi aku takut dimarahi ayahmu Sekar kalau kita mandi di pantai," ungkap Brilin.
"Kan gak mandi, cuma main air aja," sahut Sekar dengan nada centil.
"Sama aja,cantik," gumam Brilian dalam hati.
"Iya deh... " jawab Brilian.
Mereka kemudian berganti pakaian di ruang ganti masing-masing. Brilian mengenakan baju dan celana pantai yang tadi ia siap kan, dengan motif daun kelapa warna kuning abu-abu. Sedangkan Sekar, mengenakan baju pantai, dengan celana pendek warna putih di atas lutut, dan kaos lengan pendek yang agak ketat warna merah muda. Brilian terpesona melihat Sekar mengenakan baju pantai tersebut. Ia berusaha untuk tidak melihatnya dengan tatapan nakal, ia selalu melihat matanya ketika sedang berbicara dengan Sekar.
"Yuk kita kesana," ajak Sekar mengajak di pinggir pantai.
"Ayok," sahut Brilian berjalan disamping Sekar.
Mereka berlarian di tepi pantai, dan ombak tipis-tipis menyentuk kaki mereka. Lempar-lemparan pasir pantai,sampai kejar-kejaram. Tiba-tiba Sekar terjatuh saat sedang berlari kecil, Brilian sepontan ikut jatuh dan bertumpuk ke badan Sekar, mereka berdua basah kuyup, dan wajah mereka begitu dekat.
"Deg,"
Mereka terpaku saling menatap, sampai akhirnya Sekar bangun.
"Aduh... Kakiku... "ujar Sekar kesakitan.
"Kenapa Sekar,?" tanya Brilian sambil melihat ke arah kakinya yang sakit.
Brilian mencoba mengobati dengan memberi pijatan kecil di kaki Sekar yang sakit. Namun ombak tipis-tipis terus menguyur mereka. Celana pendek dan kaos Sekar pun basah,nampak sexy dan menawan. Brilian sesekali melirik ke arah wajah Sekar yang baru pertama kali ia lihat saat basah kuyup terguyur air.
"Apa kita ke tepi dulu Sekar,?" ajak Brilian.
"Tapi kakiku sakit... " jawab Sekar.
"Tidak apa-apa," dengan cepat Brilian mengangkat Sekar dengan cara membopongnya.
"Eh...Eh.. Eh... " Sekar kaget karena dibopong oleh Brilian.
Brilian hanya tersenyum kearah Sekar, Sekar membalas senyuman itu, lalu kedua tangannya berpegangan dengan cara merangkul leher Brilian. Lalu kepala Sekar bersandar didada Brilian. Setelah sampai di tepi,di joglo mini tempat mereka tadi duduk-duduk. Brilian lalu meletakkan Sekar perlahan-lahan, lalu kembali memberi pijatan ringan di bagian kaki yang sakit karena terkilir.
Mereka saling bertatapan serius. Tatapan Sekar nampak tajam dan senyumnya nampak menawan meski sesekali menahan sakit. Brilian pun membalas tatapan serius itu. Tapi dalam hati Brilian sudah pupus,walaupun mereka sangat dekat, sangat akrab, tapi hanya sebatas teman. Brilian tiba-tiba menghentikan pijatannya,lalu melamun.
"Hey, " panggil Sekar.
"Hello... Brilian," panggil Sekar sambil menepuk pundaknya.
"Eh.. Iya, maaf-maaf,ada apa Sekar, pijatanku sakit ya?" tanya Brilian kaget.
"Gak kok, ngapain ngelamun?" tanya Sekar.
"Gak apa-apa kok, hehe" Jawab Brilian.
"Hayo... Lagi mikirin apa.... "goda Sekar.
"Hehe, gak... "sahut Brilian.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Sekar.Aku jatuh cinta padamu, " gumam Brilian dalam hati berharap Sekar mengerti isi hatinya.
"Katakan saja..." sambung Sekar seolah-olah tau isi hati Brilian.
"Apa,? Apa kau tau isi hati ku,Sekar?" tanya Brilian kaget.
"Emb... Tau gak ya... Hehe"goda Sekar.
"Fiuh... "Brilian menghela nafas.
__ADS_1
"Deg,"
Bersambung..............