
Malam telah tiba, acara live musik di Puncak Bukit Hijau sebentar lagi di mulai. Sambil menikmati makanan yang mereka pesan, yaitu nasi goreng daging kambing. Panggung pertunjukan nampak terlihat dari tempat mereka berdua duduk di kedai. Beberapa band-band dan musisi solo, nampak bersiap-siap di belakang panggung.
"Brilian, nanti setelah selesai makan, kita nonton live musik dari dekat ya," ajak Erlin.
"Ok deh..." jawab Brilian.
Nasi gorang kambing, di Puncak Bukit Hijau dijual dengan harga 15 k satu porsi + minuman. Pukul 19:15 pm, acara sedang berlangsung, Brilian dan Erlin pindah tempat setelah selesai makan. Mereka berdua duduk di depan panggung, tempat duduk dari kayu yang sudah di sediakan, yang di susun bertingkat berbentuk tempat terasering.
Set panggung mirip seperti di Puncak Cangkir Kopi. Namun, untuk ketinggian, Puncak Bukit Hijau lebih tinggi. Rupanya acara yang sedang berlangsung, adalah acara band-band genre rockabilly. Acara diadakan oleh, Reblico organizer.
"Oh... Ternyata acara band-band rockabilly. Pantas saja dari tadi bertemu orang dengan style itu," cetus Brilian.
"Style rockabilly maksudnya. Memangnya bagaimana sih stylenya?" tanya Erlin.
"Itu lho... Identik dengan rambut klimis, stylenya sih nggak jauh beda dengan rock n roll, nuansa musiknya juga bisa dibilang, sama," jelas Brilian.
"Owh... Gitu ya. Kalau aku taunya cuma pop, sama musik rock, dikit sih, hehe," sambung Erlin.
"Coba lihat, mereka yang naik panggung itu. Kurang lebih seperti itulah style rockabilly," tunjuk Brilian ke arah panggung.
"Wah keren ya. Itu ada yang bawa bas kok besar banget sih," ucap Erlin.
"Itu bas betot namanya... Rockabilly memang identik dengan bas betot," terang Brilian.
"Kok lucu sih namanya," sahut Erlin.
"Ah... Kamu protes... Mulu," cibir Brilian.
"Akukan kepo... " gumam Erlin.
"Iya iya... Bagus kok, ingin tau," ujar Brilian.
"Jadi?" ucap Erlin.
Brilian menoleh ke arah Erlin dengan menaikan satu alisnya.
"Maksudnya?" tanya Brilian bingung.
"Nggak apa-apa, haha," canda Erlin.
"Fiuh... " Brilian menghela nafas.
Terdengar suara ketukan drum, dan cek sound alat musik lainya. Tanda acara segera di mulai. Mc acara membuka acara, menyambut penonton, dan menyambut musisi yang hendak perform.
"Selamat malam semuanya... " seru mc acara.
"Malam... " sahut penonton, besamaan denagn sorak soria penonton.
"Di malam yang berbahagia ini, malam berbahagia... Di acara rockabilly malam ini, akan dimeriahkan oleh band-band dan musisi-musisi legendaris. Kita sambut, penampilan yang pertama, dibuka oleh... Elmino... Beri tepuk tangan yang meriah...." seru Mc acara.
"Ye... Ye... Yeah..." sorak-soria dan tepuk tangan penonton.
"Terimakasih.... " ucap salah satu personil Elmino.
Band yang digawangi tiga orang ini, mengusung genre rockabilly. Lagu pertama dari mereka, dengan judul Di Puncak Hijau, hampir sama dengan nama tempat. Lagu lama milik Jayanthi Mandasari tesebut, diaransemen dengan sentuhan rock a billy. Sangat cocok dibawakan band Elmino, kebetulan vokalisnya seorang wanita.
Panggung dengan latar pemandangan dari ketinggian puncak, tatanan lampu panggung, atau stage lighting. Moving Head, atau lampu sorot panggung yang dapat bergerak ke arah samping, atas dan bawah. Lampu ini bergerak dengan cara berputar, dengan beberapa warna. Ada juga jenis-jenis lampu panggung lainnya, seperti : Follow Spot, PAR Cans (Parabolic Aluminized Reflector, Fresnel, dan Pixel.
Selain stage light, ada juga Smoke machine, atau ada yang menyebutnya fog machine, adalah alat yang dapat mengeluarkan kabut atau asap di panggung hiburan, yang menambah suasana semakin menarik, ditambah lagi alunan musik rockabilly, yang membuat pendegeranya mengajak berdansa.
__ADS_1
"Brilian, ayo berdiri," ajak Erlin sambil meraih tangan Brilian.
"Nggak, aku duduk saja," jawab Brilian.
"Ah... Nggak kelihatan kalau duduk..." getutu Erlin.
"Udah, kamu aja yang berdiri, aku lagi balas pesan penting ni," jelas Brilian memegang ponselnya.
"Iya deh... " pungkas Erlin.
Brilian membukan ponselnya, rupanya ada pesan masuk balasan dari Sekar.
"Owh... Gitu ya," balas Sekar singkat.
"Iya, Sekar kamu lagi ngapa? Udah sampai belum perjalanannya?" tanya Brilian melalui pesan singkat.
Sekar tidak langsung membalas pesan itu. Brilian sambil membuka pesan singkat lain dari beberapa temannya.
"Udah belum...?" tanya Erlin berdiri sambil menatap ke arah Brilian.
"Belum... Sebentar lagi," jawab Brilian.
Tidak lama kemudian lagu pertama yang dibawakan Elmino telah usai, lanjut lagu ke dua, lagu dari mereka sendiri, dengan judul, dadu merah. Suara gitar hollow body yang khas, ketukan drum dan bas betot, dimainkan dengan sangat kompak. Brilian lalu memasukan ponsel di dalam tasnya, kemudian berdiri di sebelah Erlin.
"Nah gitu dong... Yuk nonton lebih dekat," ajak Erlin.
"Di sini aja," tolak Brilian.
Namun Erlin terus merayu. Hingga akhirnya Brilian pun menyetujui ajakan Erlin. Mereka berdua berjalan diantara celah-celah kerumunan penonton yang berdiri di depan mereka. Melewati jalan menurun, anak tangga dari bebetuan kecil, yang disusun sedemikian rupa.
Kini posisi Erlim dan Brilian berada dibarisan penonton paling depan, nampak di depan mereka telihat beberapa orang sedang berdansa mengikuti alunan musik rockabilly. Erlin pun sesekali mengerak-gerakan pundaknya seolah-olah ingin ikut berdansa. Brilian pun hanya memandangi tingkah centil Erlin.
"Ayo, sama kamu," ajak Erlin.
"Nggak... Aku di sini saja," sahut Brilian.
"Lagi fly gini, asik ya untuk dansa," bisik Erlin di telinga Brilian.
"Ya udah kamu aja sana," ucap Brilian.
"Aku maunya berdua. Titik," paksa Erlin.
Karena Erlin terus mamaksa, hingga orang-orang di sekitarnya melihat mereka berdua dengan tatapan penuh tanya. Lagi-lagi rayuan maut Erlin berhasil. Namun Brilian agak canggung berdansa dengan Erlin. Mereka berdiri saling berhadapan sangat dekat. Mata mereka saling beradu. Degan cepat, Erlin meraih kedua tangan Brilian. Kemudian mengajaknya berdansa bersama. Lagu dengan durasi kurang lebih lima menit tersebut, mampu menghibur para penonton.
Beberapa menit kemudian, lagu Elmino berjudul dadu merah telah usai. Selanjutnya penampilan band ke dua. Mc acara memberi ucapan kepada Elmino, lalu menyambut band selanjutnya. Sorak-soria penonton terdengar sangat meriah.
"Huah... Sampai ngos-ngosan," cetus Erlin sedikit berkeringat setelah beberapa menit berdansa.
"Ah... Lagi asik-asiknya lagunya dah selesai," ucap Brilian.
"Selanjutnya kita sambut penampilan dari... Fish Dance, nama band yang unik," seru Mc acara.
"Terimakasih... " ucap salah satu personilnya.
"Lagsung saja sebuah lagu dari kami, dengan judul, romansa senja..." seru vokalis Fish dance.
Band dengan empat personil ini, yang masing-masing memegang, gitar rytem, melodi, drum dan vokal. Membawakan sebuah lagu ciptaan mereka sendiri, lalu kembali mengajak para penonton kembali berdansa. Begitu juga dengan Erlin dan Brilian, mereka berdua berdansa dengan yang lainnya.
Keringat mulai menetes dan sedikit membasai pakaian, Erlin lalu melepas sweternya. Brilian sedikit kaget, melihat Eriln mengenakan teen top tipis berwarna putih dengan motif mickey mouse yang sedikit basah.
__ADS_1
"Kenapa? jaketnya dilapas saja kalau garah," bisik Erlin kepada Brilian.
"Tidak," jawab Brilian memandang tubuh sexy Erlin.
Di tengah kerumunan, mereka terus berdansa menikmati alunan musik. Di samping itu, efek dari d*ug juga sedikit mempengaruhi kesadaran mereka. Semakin lama semakin ramai, saling berdesak-desakan, berhimpit-himpitan satu sama lain. Erlin tidak sadar bahwa di sekitarnya ia dan Brilian berdiri, mayoritas adalah laki-laki. Karena melihat kemolekan tubuh Erlin, ada seseorang lelaki mencoba mendekatinya.
Brilian mereka terdesak dengan laki-laki yang mencoba mendekati Erlin tersebut.
"Bang, santai, nggak usah pakai dorong-dorong segala," cetus Brilian kepada lelaki yang mendesaknya.
"Oh, kenapa, elo merasa terganggu?" ketus lelaki tersebut.
"Bukan begitu bang, maksudku... "
"Halah, jangan banyak bacot! sekarang mau loe apa?" tanya lelaki degan nada menantang.
Melihat Brilian sedang cekcok dengan seseorang, dengan cepat Erlin menarik tangan Brilian, mengajaknya menepi dari kerumunan penonton.
"Hei, mau kemana! urusan kita belum selesai!" teriak lelaki itu.
Namun Brilian tidak sempat menjawab karena Erlin terus menarik tangannya.
"Lepaskan... " ronta Brilian.
"Sudah diam," sahut Erlin.
"Aku sedang ada sedikit urusan, lepaskan," seru Brilian.
"Diam," bentak Erlin menghentikan langkahnya di tepi kerumunan.
"Dengar ya, aku tidak mau kamu ribut-ribut disini, mending kita sekarang pulang," jelas Erlin.
"Nggak, bukan itu, maksudku... " Brilian hendak mengatakan sesuatu.
"Sudah... Yuk kita pulang," ajak Erlin mengandeng tangan Brilian menuju parkiran.
"Dengar dulu... " ucap Brilian.
"Iya, aku ngerti," sahut Erlin memperceoat langkahnya.
Rupanya seseorang laki-laki yang cekcok dengan Brilian tadi, mengitai dari kejauhan hendak berjalan ke arah Brilian. Erlin menyadari itu, ia berusaha menghilangkan jejak dari incaran leleki yang mengincar Brilian. Sesampainya diparkiran sepeda motor. Erlin segera mengajak Brilian pulang dengan tergesah-gesah.
"Brum... Brum... Brum... "
Mereka lalu berboncengan hendak pulang. Jam tangan Brilian menunjukan pukul 21:08 pm. Di perjalanan, Erlin menceritakan bahwa ada seseorang yang sedang mengincar Brilian, maka dari itu Erlin terburu-buru mengajak pulang.
"Aku tidak apa-apa, nggak takut ribut sama mereka, mereka yang mulai," cetus Brilian sambil mengendari sepeda motor.
"Iya... Aku cuma tidak ingin kamu punya banyak musuh, lagian mereka berkelompok," terang Erlin.
"Nggak peduli berapa pun jumlah mereka," Ujar Brilian.
"Ih... Kamu itu ya, kalau dinasehatin, belagu," sahut Erlin.
Brilian tidak menjawab, terus fokus pada jalanan di depannya, dengan tatapan kesal.
"Sudah... Aku tau kamu tidak bersalah. Mending sekarang kita makan yuk, kamu lapar nggak?" ajak Erlin.
"Nggak. Kalau kamu lapar, makan aja, aku antar," jawab Brilian.
__ADS_1
Bersambung...