
Lima hari kemudian, kini acara yang di nanti-nanti telah tiba,Battle String Rock Fest. Acara bergengsi yang diadakan lima tahun sekali ini, yang diadakan oleh Eo yang bersatu menjadi Venoiz Organizer,akan menampilkan beberapa musisi dari berbagai daerah.
Minggu pukul 13:00 pm. Berto dan Taka berkumpul di rumah Brilian. Kebetulan Brilian dan Berto sedang libur,sedangkan Taka izin kerja. Mereka bersiap-siap untuk mengikuti acara yang dimulai nanti pukul 16:00 pm nanti sampai selesai.
Namun,Taka diam-diam membawa minuman keras,mengajak Berto dan Brilian minum bersamanya. Di tengah obrolan mereka, spontan, Taka sambil menuangkan cairan berwarna kuning keemasan itu ke dalam gelas kaca kecil, lalu memberikan kepada Berto dan Brilian secara bergantian.
"Eeehhhh... Segarnya. Beeerrrrr," desis Taka merasakan manis-manis asam V*dka.
Begitu juga Berto.
"Sudah lama tidak minum, rasanya masih sama seperti dulu ya," cetus Berto.
"Ah... Diam aja, tinggal minum aja kebanyakan komentar, iri bilang bos... " sahut Taka.
"Hahaha... Wah... Dah mulai ni bro," ujar Berto kepada Brilian.
"Biarin aja, awas nanti kalau kebanyakan minun terus nggak kontrol. Ceburin comberan, haha," canda Brilian.
"Haha, siap... " sahut Berto.
"Ah, pada ngomong apa sih. Nih angkat," ujar Taka memberikan minum kepada Brilian.
"Drrrrr..." handphone Brilian berdering tanda ada panggilan masuk.
"Sssttt... Semuanya diam semua," bisik Brilian hendak mengangkat telfon dari Sekar.
"Ya,hallo sayang," sapa Brilian.
"Hallo Brilian, lagi ngapa kamu?" tanya Sekar.
"Emb... Ni lagi di rumah, lagi mau siap-siap kumpul sama Taka dan Berto, ada apa sayang,kamu sendiri lagi ngapa?" Brilian berbohong dan bertanya balik.
"Owh... Nggak apa-apa, perasaanku nggak enak aja kenapa ya. Ni lagi nunggu Ajeng sama Renata kemari," ungkap Sekar.
"Duh, lagi-lagi perasaanku nggak enak, perasaanku nggak enak. Apa cewek emang suka gitu," batin Brilian.
"Nih angkat dulu," bisik Taka memberi minum kepada Brilian.
"Nggak... Nggak.... " bisik Brilian menolak.
"Hello...Brilian...." panggil Sekar.
"Iya iya Sekar maaf, sampai mana tadi, nunggu Ajeng dan Renata ya. Ngomong-ngomong udah makan belum?" tanya Brilian basa-basi.
"Belum, lagi nggak napsu makan," jawab Sekar.
"Loh kok gitu sih?" papar Brilian.
"Nggak tau juga. Eh ngomong-ngomong nanti mau berangkat ke alun-alun kota jam berapa?" tanya Sekar.
"Kayaknya sebentar lagi sayang,kalau kamu?" tabya Brilian balik.
"Emb... Aku juga,kalau Ajeng dan Renata dah datang,langsung ke sana, " jawab Sekar.
"Owh... Ya udah makan dulu, nanti sakit perut lho...," suruh Brilian.
"Iya... Nanti aja," sahut Sekar.
"Eh ni Renata dan Ajeng dah datang. Sampai jumpa nanti ya Brilian," pungkas Sekar.
"Iya Sekar... Sampai jumpa.... " sahut Brilian.
"Tut.. Tut... Tut.... "
"Wah... Wah... Wah.... Yang habis di telfon sama... " cetus Taka.
"Biasa.... " sahut Brilian.
"Dah ni, terakhir giliranmu," ujar Taka memberi minuman kepada Brilian.
"Udah, Berto aja," jawab Brilian.
Akhirnya mereka menghabis kan dua botol V*dka. Lalu bermain gitar manghafal beberapa lagu yang akan mereka bawakan nanti. Brilian yang masih memikirkan Sekar, ia pun tiba-tiba gelisah. Sudah dua kali, dia minum lalu tiba-tiba telfon mengatakan perasaannya nggak enak. Apa mungkin secara kebetulan sampai dua kali.
Tidak terasa waktu acara hampir tiba, Brilian, Berto dan Taka segera bergegas menuju lokasi acara setengah jam sebelum acara dimulai. Taka yang kondisinya agak berat, ia memputuskan untuk berboncengan dengan Berto dengan vespanya. Sedangkan sepeda motor Taka ditinggal di rumah Brilian. Brilian sendiri dengan sepeda motor Cb kesayangannya.
"Brum... Brum... Brum.... "
"Trent treng treng treng treng treng...." suara knalpot Vespa Berto.
Mereka lalu berangkat menuju lapangan alun-alun kota dengan jarak kira-kira 5,1 km. Di sore hari dengan di jalanan yang nampak lengang,mereka berkendara dengan santai,sambil melihat pemandangan perkotaan.
Setelah sampai di lokasi, nampak panggung yang cukup megah berdiri di lapangan alun-alun kota Vusan,menghadap ke utara. Dengan kapisatas maksimal 40.000 penonton. Tulisaan nama band dan musisi solo terpampang di bacground panggung,
termasuk Clovuz.
Mereka bertiga lalu berjalan menuju di tempat yang sudah disediakan untuk para partisipan acara. Rupanya di sana Sekar dan teman-temannya sudah berada di sana lebih duluter. Dio juga nampak disana,duduk di kursi depan. Dio adalah personil Black Syimphoni yang baku hantam dengan Brilian beberapa waktu yang lalu.
Selanjutnya acara dipimpin oleh Ronald sebagai crew Eo sekaligus juri. Pertama-tama perkenalan. Lalu membagikan nomer urut perform secara acak. Lalu berbagai tatanan acara,dari pembukaan, puncak acara hingga akhir acara. Setelah penjelajah dirasa cukup, para parsitipan membubarkan diri,sambil menunggu urutan-urutan masing-masing. Cukup banyak musisi yang ikut berpartisipasi. Antara lain :
"Edelwiess,Black Rose, The ne, Magentha,Clovuz,Fire String (duo gitaris),Black Symphoni, Amoeba, Blue Sky, Aprilia (solo),Onic (solo), Mr. Jack(duo gitaris) ,Marshmello, dan masih banyak lagi.
Penampilan pertama, di buka oleh Edelwiess. Band asal kota Neido yang digawangi empat personil tersebut, membawakan sebuah lagu dari Metalica berjudul Nothing Else Matters. Lagu yang familiar di telinga pecinta musik rock dan slow rock.
Disela-sela penampilan,sambil menunggu perform, Brilian membuka ponselnya lalu menelfon Sekar.
"Tut... Tut... Tut... "
"Hallo,ada apa Brilian?" tanya Sekar melalui telephone.
"Tidak apa-apa Sekar. Kamu lagi dimana?" tanya Brilian balik.
"Ni lagi di kedai sebelah timur panggung sama temen-teman," jawab Sekar.
"Owh... Ya udah," sahut Brilian.
"Udah,gitu aja?" tanya Sekar.
"Iya," jawab Brilian.
"Nggak mau kesini?" tanya Sekar lagi.
"Emb... Ya nanti aku ke situ deh... " sambung Brilian.
"Okey... "
"Saya tutup telfonnya ya sayang," pungkas Brilian.
"Iya..." jawab Sekar.
Sekar berada di timur panggung,sedangkan Brilian,Taka dan Berto berada di barat panggung. Ia tidak berani menemui Sekar karena nafasnya masih bau minuman keras.
"Duh gimana ni, kalau sampai ketahuan...." batin Brilian.
"Coy, bawa permen nggak?" tanya Brilian pada Taka dan Berto.
"Kayak anak kecil aja bawa permen. Ni rokok... Bakar," sahut Taka.
"Haha, iya kayak anak Tk aja kemana-kemana bawa permen," canda Berto.
"Ah... A*jir... Dah mau nyari permen dulu, kalian tunggu sini ya jangan kemana-mana," pesan Brilian sambil berjalan agak sepoyongan.
"Halah... Bilang aja mau ketemu Sekar.... " sindir Taka.
Brilian tidak menghiraukan omongan Taka dan tetap melanjutkan membeli permen. Setelah membeli permen , ia lalu pergi ke tempat Sekar berada. Alangkah terkejutnya Brilian,ternyata di sana ada Dio dan teman-temannya sedang ngobrol dengan Sekar,Renata dan Ajeng.Brilian yang melihat itu, emosinya langsung tersulut. Tapi,Brilian hanya diam dan berjalan ke arah Sekar, lalu meraih tangan Sekar dan mengajaknya ke tempat lain.
"Sekar, ikut aku sebentar, " ajak Brilian memegang tangan Sekar sambil menatap ke arah Dio.
"Apa loe," ketus Dio sambil mengacungkan jari t*ngahnya.
Brilian juga mengacungkan jari t*engahnya ke arah Dio.
"Eh eh eh... Brilian pelan-pelan dong, kenapa sih," desis Sekar.
"Sekar. Dengar, aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan mereka," jelas Brilian sambil memegang pundak Sekar dan memandang matanya.
"Loh emang kenapa? lagian aku nggak ngapa-ngapain kok. Tu yang ngobrol Renata sama Ajeng," ujar Sekar.
"Iya,aku percaya, maksudku,kamu tau kan kalau aku pernah ribut dengan mereka," jelas Brilian.
__ADS_1
"Owh, terus kamu mau bikin masalah lagi di sini?" tanya Sekar.
"Nggak... Aduh... Kamu kok gitu sih," sahut Brilian melepas pegangannya dari pundak Sekar.
Kini ia beralih memgang kedua tangan dan jari-jari lentik Sekar. Namun, karena mata Brilian agak kemerah-merahan, Sekar menaruh curiga.
"Kamu habis minum ya?" tanya Sekar sambil menatap mata Brilian.
"Deg,"
Brilian sejanak terdiam.
"Iya tadi minum air putih," jawab Brilian gugup.
"Nggak. Kamu pasti minum alkohol kan?" desak Sekar.
"Nggak Sekar.... " sahut Brilian.
"Eh. Kamu tu nggak bisa bohong ya sama aku. Sejak kapan kamu minum? jawab !" desak Sekar.
Brilian mengalihkan pandangannya ke arah lain dan perlahan melepas gengaman dari tangan Sekar. Dengan cepat ia lalu memeluk Sekar dengan erat.
"Maaf Sekar... Jangan marahn ya. Iya aku tadi minum sama Taka dan Berto. Tapi cuma sedikit," terang Brilian.
"Lepas. Lepas nggak," bentak Sekar.
Brilian perlahan lalu melepas pelukan Sekar,ia hanya menunduk dan mendengarkan Sekar marah-marah.
"Dengar ya. Aku tidak suka dengan cowok, yang tidak bisa memegang kata-katanya sendiri," ujar Sekar.
"Maaf, aku salah. Aku bisa menjelaskan, tolong dengar dulu.... " pinta Brilian.
"Nggak. Aku nggak butuh penjelasan," pungkas Sekar lalu bejalan kembali ke tempat duduk kedai bersama Renata dan Ajeng.
Nampaknya Dio dan teman-temannya sudah pergi entah kemana. Brilian hanya berdiri memandang Sekar yang baru saja memarahinya.
"Owh, jadi gini kalau dia marah. Aku tidak yakin apa dia benar-benar marah," gumam Brilian dalam hati.
Ia lalu berjalan ke arah Sekar lagi,yang sedang duduk bersama dua temannya sambil meminum jus buah.
"Eh Brilian, nyari aku atau Sekar... " goda Renata genit.
"Hai Renata hai Ajeng,boleh gabung sebentar," tutur Brilian sambil memberi kode pada Renata agar mereka ditinggalkan berdua.
Renata dan Ajeng pun tanggap. Brilian lalu duduk perhadapan dengan Sekar yang nampak marah. Sekar nampaknya tidak mau melihat wajah Brilian.
"Sayang... " rayu Brilian.
Sekar hanya diam dan melihat ke arah panggung pertunjukan.
"Tolong dengar..." pinta Brilian.
"Dengar apa," papar Sekar.
"Jadi. Aku tadi tadi minum tapi cuma sedikit,itu pun reflek, kirain yang diminum Taka bukan minuman beralkolhol... Ya udah terlanjut aku teguk, eh taunya minuman beralkohol... Ya udah aku nggak merusin lagi minumnya... Kamu percayakan? " Brilian berusaha menjelaskan.
"Owh. Gitu, itu sih hakmu, mau minum kek, nggak kek, terserah,yang ngerasain segala efek sampingnya juga kamu kan," ujar Sekar.
"Iya sih. Ya udah aku minta maaf deh... Nggak tak ulangin lagi...." pinta Brilian.
"Ngapain minta maaf. Aku tu nggak kenapa-kenapa," papar Sejak.
"Itu,cara bicaranya kayak gitu. Nggak kayak biasanya," sambung Brilian.
"Yang nggak kayak biasanya itu kamu. Aku tau kamu bohong. Sekarang aku tanya sekali lagi. Sejak kapan kamu mulai minum lagi?" tanya Sekar memincingkan matanya dengan tatapan serius.
"Emb... Itu... "
"Itu apa... Ha?" desak Sekar.
"Sejak waktu kamu telfun malam-malam itu," jawab Brilian.
"Nah... Gitu dong, laki-laki kok jujur aja nggak berani. Sama siapa aja kamu minumnya?" tanya Sekar.
"Cuma sama Taka aja. Itu pun aku nggak tau sejak kapan Taka membawa.... " tambah Brilian belum selesai bicara.
Mereka hanya diam dan saling bertatapan. Feeling Sekar memang tidak pernah melesat mambaca fikiran dan hati Brilian.
"Tadi juga kan, aku telfon kamu,perasanku nggak enak. Aku nggak mau lo ada kejadian yang nggak-nggak, karena feeling ku saat itu, aku kira kamu kenapa-kenapa makanya aku telfon, apa perlu aku jelasin lebih panjang lagi," terang Sekar.
"Tidak. Aku ngerti kok. Aku minta maaf ya Sekar...." pinta Brilina sambil meraih jari-jari lentik Sekar.
"Minta maaf aja pada dirimu sendiri, kamu udah bohongin dirimu sendiri," sahut Sekar.
"Iya... Iya... Aku paham. Eh ngomong-ngomong bandnya bagus ya?" ujar Brilian mengalihkan pembicaraan.
"Hemb," jawab Sekar.
Brilian pura-pura membahas hal lain, padahal ia curi-curi pandang sesekali melihat wajah Sekar. Kemudian dari belakang Renata dan Ajeng kembali.
"Ehem ehem... Pegang-penganan tangan ni.... " goda Renata.
Sekar kaget lalu melepaskan genggaman tangan Brilian.
"Apa sih sis, tu lho lihat performnya bagus banget," ucap Sekar sambil melirik ke arah Brilian.
Brilian menagkap lirikan tajam itu yang seolah-olah menembus hatinya. Baru pertama kali Sekar melirik Brilian yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa?" tanya Sekar pada Brilian.
"Nggak... Nggak apa-apa kok.... " jawab Brilian nervous.
"Cie... Cie.... " goda Renata dan Ajeng.
"Sssstttt..." desis Sekar.
"Emang temen-temanmu nggak nyari kamu kalau kamu di sini?" tanya Sekar.
"Ya... Nggak sih kayaknya. Ya udah saya balik kanan dulu ya Sekar. Daa... Teman-teman.... " pamit Brilian.
"Daa... " sahut Sekar dan Ajeng.
"Daa... Brilian,jagan lupa kalau kepantai ajakin kita-kita ya... Haha," goda Renata.
"Hah," Brilian menoleh ke arah Renata sambil berjalan.
"Apaan sih sis," desisi Sekar.
Tiba-tiba Brilian menabrak tiang listrik karena jalannya tidak melihat depan.
"Brak,tung.... "
"Aduh... Aduh... " Brilian kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Hahahah.... " tawa Renata dan Ajeng.
"Hati-hati woy,haha" tanbah Renata.
"Aduh... Brilian, lihat-lihat dong... Hiiss.... " gumam Sekar.
"Cie... Perhatiannya.... " goda Renata.
"Dah sis. Ni lagu favoritku ni... " pungkas Sekar sambil melihat ke arah penggung pertunjukan.
Edelweiss membawakan lagu terakhir,dari Dream Theather dengan judul When your time has come.
When your time has come...
And you're looking toward the light...
All that really matter...
Is what you leave behind....
Penggalan lirik Dream Theater berjudul When your time has come.
Hari mulai gelap, waktu menunjukan pukul 17:15 pm, sebentar lagi acara akan di hentikan sejenak. Dan akan mulai lagi setelah pukul 19:00 pm. Brilian,Berto dan Taka masih berada di sebelah barat panggung. Sedangkan Sekar,Renata dan Ajeng beranjak dari kedai timur panggung,bejalan ke arah barat. Lalu berjumpa lagi dengan Brilian dan yang lainnya. Sekar mengerutkan alis dengan tatapan tajam melihat Brilian yang sedang duduk sambil merokok.
"Hiiss... Dasar,emang bandel ya dia," batin Sekar.
__ADS_1
"Hai teman-teman," sapa Taka sok kenal menyapa Sekar dan teman-temannya.
"Hai..." lambai Renata sambil tersenyum.
"Sini kumpul-kumpul... Mau kemana sih,hehe," panggil Taka basa-basi.
"Yuk sis," ajak Renata.
Mereka lalu berjalan ke arah Taka dan yang lainnya. Sekar duduk di samping Brilian sambil pandangannya ke arah panggung. Sedangkan Renata dan Ajeng berada di sebelah Taka dan Berto. Berto yang sedang belanjar chord-chord gitar, karena Berto memang tidak terlalu bisa bermain gitar, tetapi jago main drum.
"Eh, lagi pada marahan ya, Sekar sama Brilian," bisik Taka bertanya kepada Renata dan Ajeng.
"Ssstttt.... Gara-gara kamu kan," bisik Renata.
"Loh kok aku," desis Taka.
"Iya, kamu kan yang ngajak minum Brilian,hayo ngaku," desak Ajeng.
"Wah... Ngarang ni... " Taka mengelak.
"Haha, iya ngarang coy," canda Berto.
"Halah... Gak usah pura-pura... Habis berapa botol lu," tanya Renata berbisik.
"Kalian ngomongin apa sih. Mendingan ngerokok aja ni,ngrokok nggak..." ujar Taka mengalihkan pembicaraan.
"Udah sis jangan di bahas," sahut Sekar.
"Lho,dia kok dengar," bisik Taka kepada Renata.
"Iya, pendengarannya dia tajam," bisik Renata.
"Apa, ha?" sahut Sekar memincingkan mata ke arah Taka.
"Waduh,kok aku sih," gumam Taka.
"Kenapa sis, nggak kok, si Taka tadi nawarin rokok. Mau sih sebenarnya ,tapi nggak enak banyak orang,haha" jelas Renata.
"Loh, kamu ngerokok kak?" tanya Berto.
"Nggak, kalau ngerokok ya kelihatan kan asapnya, gimana sih, haha," canda Renata.
"Wah... Bro, ngajak bercanda ni,haha," ujar Berto kepada Taka.
"Haha, iya, sayangnya nggak bolah minta nomer ponselnya bro," sambung Taka sambil merokok.
"Nomor apa? nomor ukuran sepatu?" canda Renata.
"Tu kan... Nomor ponsel sampai nomer ukuran sepatu,kan jauh banget bro,haha," canda Berto.
"Iya. Sombong... " sahut Taka.
Mereka ngobrol sambil bercanda, sedangkan Brilian dan Sekar hanya terdiam mendengar candaan mereka. Sekar sesekali menahan tawa melihat tingkah lucu Renata dan Taka. Sama-sama cerewetnya,namun berbeda dengan Ajeng, karekternya pendiam.
"Kenapa,kalau mau ketawa, ketawa aja nggak usah ditahan... " ujar Brilian kepada Sekar.
"Apa sih,nggak... " jawab Sekar bertumpang dagu tatapannya ke arah lain.
"Ya hadap sini dong... " pinta Brilian.
"Apa... " ucap Sekar menoleh ke arah Brilian.
"Tu kan... Hayo senyum... Hehe," goda Brilian.
"Hiss... " Sekar mencubit kecil pipi Brilian.
"Aduh... " gerutu Brilian sambil mengusap pipinya.
"Wah... Kayaknya udah pada baikan ni... Hallo.... " sindir Taka.
"Hallo... "
"Temenmu kenapa sih?" tanya Sekar.
"Nggak tau, biarain aja. Biasanya suka gitu," jawab Brilian.
Taka lalu diam sambil menghisap rokoknya.
"Obat nyamuk... Obat nyamuk...." gumam Taka bercanda.
"Hahaha dasar," tawa Sekar.
"Nah... Gitu dong... Dari tadi cemberut mulu," pungkas Brilian.
Tidak terasa, di tengah obrolan mereka petang berganti malam. Brilian lalu mengajak mereka untuk makan di kedai sebelah barat panggung dekat mereka berada. Renata dan Taka pun menyutujuhi ajakan Brilian. Begitu juga dengan Berto dan Ajeng. Sambil menunggu waktu. Mereka lalu berjalan berenam,berjejer-jejer dengan style ala anak band. Setelah sampai di kedai, mereka lalu duduk dan memesan makanan dan minuman favorit masing-masing.
"Oiya, nanti band kalian urutan nomer tiga setelah Black Rose kan?" tanya Brilian.
"Iya," jawab Renata dan Ajeng duduk bertiga dengan Sekar.
"Bawain lagu siapa?" tanya Brilian.
"Emb... Lagu sendiri sama yang satu cover," jawab Renata.
"Owh..."
"Kalau kamu?" tanya Renata.
"Lagu sendiri... " sahut Sekar menjawab pertanyaan Renata sambil bertumpang dagu.
"Ak.. "
"Iya,lagu sendiri," tambah Brilian.
"Wah... Kayaknya udah saling chat sebelumnya ni... Ehem ehem," sindir Renata bercanda.
Di tengah obrolan mereka, waiter kedai membawakan pesanan mereka. Mereka lalu menyantap makanan dan munuman yang mereka pesan. Sementara itu, acara pun kembali di lanjutkan. Selanjutnya penampilan dari Black Rose,Mc acara menyambut mereka. Sebelum menyanyikan lagu, mereka terlebih dulu memperkenalkan diri. Black Rose, band asal kota Rent,di gawangi tiga personil ini. Mengusung aliran musik dengan nuansa Klasik Rock. Lagu pertama yang mereka bawakan, sebuah lagu dari Gun n Roses berjudul Wolcome To The Jungle.
Acara semakin meriah,lighting panggung juga tertata sangat elegan dan sistematis. Sorak-soria penonton sangat meriah.
"Wow, gilak penampilannya. Setelah ini kita lo sis, ayo siap-siap," tutur Renata.
"Okey," jawab Sekar dan Ajeng.
"Teman-teman, kami duluan ya," pamit Renata.
"Iya, semoga sukses ya," sahut Taka.
"Semangat kak," tambah Berto.
"Sekar, semangat ya," Brilian berdiri lalu memeluk Sekar.
"Iya,Bri..Brilian," jawab Sekar.
"Apa perasaanmu masih tidak enak sayang," bisik Brilian di telinga Sekar.
"Owh. Sedikit," jawab Sekar.
"Aku ingin kau memangilku dengan panggilan itu," pinta Brilian berbisik.
"Iya. Sayangku," bisik Sekar.
Brilian langsung bersemangat mendengarnya,wajahnya nampak berseri-seri. Sambil melepas pelukannya,Brilian mengatakan sesuatu. Sedangkan teman-temannya menatap ke arah panggung pura-pura tidak melihat mereka berdua.
"Aku, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Aku menyangimu Sekar," ucap Brilian sambil mencium kening Sekar.
Sekar hanya terdiam, ia seolah merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi. Namun Sekar engan mengatakannya,karena takut hal buruk benar-benar terjadi.
"Daa... Sampai jumpa ya,sayang," bisik Sekar meneteskan air mata, lalu beranjak berjalan ke arah Renata dan Ajeng.
Brilian belum sempat membalas ucapanya, ia tidak tau kenapa Sekar meneteskan air mata.
"Ya Tuhan, hal buruk apa yang akan terjadi. Kenapa aku bingung di buatnya," batin Brilian lalu duduk termenung.
Setelah beberapa menit berlalu, Black Rose mengakhiri penampilannya dengan membawakan lagu dari Cinderella berjudul The More Things Changs. Lagu klasik rock dengan sentuhan irama county atau musik coboy tersebut, dibawakan dengan sangat memukau olah Black Rose.
Selanjutnya panampilan dari The ne, band Sekar,Renata dan Ajeng. Mereka membawakan dua buah lagu. Lagu sendiri dan cover, ternyata mereka membawakan lagu cover dari Slank, berjudul Anyer 10 Maret. Renata sebagai vokal+bass,Sekar gitar+backing vokal, sedangkan Ajeng pada drum. Lagu Anyer 10 Maret dibawakan dengan vokal suara cewek.
Bersambung....
__ADS_1