Brilian

Brilian
Bulan Dan Serigala


__ADS_3

Tapi...Kamu kok ngeselin sih," canda Sekar.


"Hah? Kok bisa?" tanya Brilian dengan expresi melas.


"Ya...Bisa aja,hehe" goda Sekar.


"Hemb.. " Brilian menunduk.


"Tu kan... Hih....Gemes... " ucap Sekar sambil mencubit kecil pipi Brilian.


"Aduh... Aduh...Sakit tau," Brilian sambil mengusap-usap pipinya.


"Hahahahaha," tawa Sekar.


Brilian sesekali sambil melirik ke arah Sekar, ia bahagia melihat tawa Sekar dan senyum tulusnya. Disela-sela mereka bercanda, mereka sambil menghabiskan makanan dan menikmati jus buah segar di siang yang cukup terik itu. Waktu menunjukan pukul 13:00 pm/ jam satu siang. Setelan mereka selesai makan, lalu membayarnya. Brilian mengajak Sekar untuk berjalan-jalan di sekitaran pantai.


"Yuk kita jalan-jalan di sana Sekar," ajak Brilian sambil menunjuk ke arah pantai.


"Yuk," jawab Sekar.


Mereka lalu meninggalkan kedai, dan menitipkan lukisannya di kedai tersebut. Setelah itu mereka berjalan ke arah pantai. Nampak beberapa pepohonan di pinggir pantai, dan ada tempat duduk di bawah pohon cemara yang tidak terlalu tinggi namun cukup rindang itu. Brilian mengajak Sekar untuk duduk di kursi dari kayu yang memiliki panjang sekitar dua meter tersebut.


"Wah... Sejuk sekali di sini," ungkap Sekar sambil duduk.


"Iya, apa lagi ada kamu,tambah sejuk," goda Brilian.


"Hiss.....Apaan sih,hmm..." ucap Sekar tersenyum simpul.


Mereka berdua duduk cukup dekat,mengobrol sambil bercanda. Brilian berniat mengajak Sekar untuk melihat sunset di pantai pasir putih ini nanti.


"Oiya Sekar, bagaimana kalau kita nanti sekalian melihat sunset di sini?" ajak Brilian bertanya.


"Emb... Terus kita pulangnya malam?" tanya Sekar balik.


"Iya,kenapa,gak boleh ya sama Ortu?" papar Brilian.


"Ya.. Gimana ya, kalau dimarahin gimana?" sambung Sekar.


"Emb...Gimana ya..." ujar Brilian bingung.


"Hahahaha...Gak.. Gak... Okey nanti melihat sunset disini," canda Sekar mengoda Brilian.


"Fiuh... Kirain," Brilian menghela nafas lalu menunduk. Ia merasa sedari tadi dikerjain oleh Sekar.


"Dah udah... Ngomong-ngomong,gimana kalau besuk ikut acara Battle String Rock Fest. Kalau misal gak bisa band, ikutan solo aja gimana?" Ajak Sekar.


"Oke, atau kita berdua gimana, duo akustik gitu...hmmm... " papar Brilian sambil menaikan kedua alisnya dan tersenyum ke arah Sekar.


"Hah,? Serius??" tanya Sekar terkejut.


"Ya kalau kamu mau, kenapa gak... Tapi kita bicarain dulu sama teman-temanku dan teman-temanmu. Kalau mereka tidak bisa ikut,kita duo saja... Hmm... " ungkap Brilian dengan senyum lebar.


"Ya... Lihat besuklah... Kita bicarakan dulu sama teman-teman,lagian acaranya masih dua minggu lagi," jawab Sekar.


Di acara Battle String Rock Fest, terbagi beberapa kategori. Kategori pertama, live perform, kedua, duel gitar/melody, dan ketiga kolaborasi. Di akhir acara,akan dinilai oleh juri khusus,dan akan dibagikan beberapa hadiah untuk para peserta yang mengikuti acara tersebut. Di samping itu, Brilian sampai ketiduran sambil duduk di sebelah Sekar.


"Astaga...Brilian, Malah tidur..." ucap Sekar.


"Bangun... " Sekar mengoyak-oyak tubuh Brilian.


Tapi Brilian tidak segera bangun, malah bersandar ke pundak Sekar. Entah pura-pura tidur atau tidak.


"Eh..Eh...Eh... Malah sandaran, aduh... " gumam Sekar.


Sekar membiarkan beberapa menit Brilian tidur sandaran di pundank Sekar. Tidak terasa sore hari hampit tiba. Matahari memantulkan kilauan emas di hampatan lautan. Sekar lalu menyanyikan sebuah lagu.

__ADS_1


"*Hamparan biru, terbentang luas, dan kilauan emasnya...A a a a


Senja itu, di tepian pantai, ku lukis wajahmu...


Langit senja,semesta,dan maha karya-Nya*.."


Penggalan lirik lagu ciptaan Brilian dengan judul Kuda Besi Tua.


Tidak lama kemudian Brilian yang tidur bersandar di pundak Sekar, lalu bangun karena mendengar suara merdu Sekar. Brilian tidak menyangka Sekar hafal lagu ciptaannya.


"Hah, kamu hafal lagu ku?" ucap Brilian bangun dari tidurnya sambil mengucek kedua matanya yang masih ngantuk.


"Iya, emang kenapa?" Jawab Sekar bertanya balik.


"Hehe, gak apa-apa sih, baru kali ini mendengar kamu bernyanyi sedekat ini," terang Brilian sambil tersenyum.


"Yee... Emang siapa yang nyuruh kamu tidur di pundak ku, ha?" canda Sekar dengan nada sedikit membentak.


"Emb...Tadi. Gak boleh ya? Maaf deh.... " gumam Brilian menunduk dengan lugu.


"Hahahaha...Gak... Gak... Bercanda aja... " goda Sekar.


"Kamu lucu kalau cemberut. Ditambah perban dan memar di wajah karena berkelahi,hih dasar bandel," tambah Sekar.


"Apa? Haduh... " gumam Brilian menunduk.


"Dah yuk lihat sunset di sebelah sana," ajak Sekar sambil menunjuk ke arah bibir pantai.


"Ayok," sahut Brilian penuh semangat sambil berdiri.


Perlahan, sunset nampak di ufuk barat. Kemerlip keemasan yang terpantul oleh air lautan. Merka berdiri sambil menikmati indahnya sunset di tepi pantai, mereka bergandengan tangan sambil berjalan pelan mendekati ombak-ombak kecil yang saling berkejar-keraran. Saat senja perlahan mulai tenggelam. Sekar kini menyandarkan kepalanya di pundak Brilian.


"Deg,"


"Ya Tuhan, saya ingin mencintainya dengan tulus... Maafkan segala kehilafanku. Jika Engaku mengizinkan, aku ingin selelu berada di dekatnya dan menjaganya," doa Brilian dalam hati.


"Eh, kenpa kok bengong?" kaget Sekar.


"Apa. Owh.. Tidak apa-apa kok, gimana tadi? " tanya Brilian kaget.


"Yee...Gimana tadi gimana tadi, apanya?" tanya Sekar sambil mengalihkan sandarannya.


"Hmb...Btw sunsetnya bagus banget ya, sampai terharu ngelihatnya," ungkap Brilian mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Gimana kalau kita sambil jalan-jalan di sana," ajak Sekar menunjuk ke arah bukit karang sebelah timur.


"Ayok, apa sih yang gak buatmu," sambung Brilian.


"Yee... Gombal terus... " sahut Sekar.


"Hehe, beneran ya," tegas Brilian.


Setelah sampai di samping bukit karang sebelah timur yang menjorok ke laut tersebut. Di sana sunset semakin nampak jelas. Mereka berfoto-foto sejenak di sana. Beberapa menit kemudian, sunset sudah tenggelam,suasana berubah sedikit gelap, nampak bintang-bintang terlihat di sisi gelap langit. Mereka lalu berjalan ke arah kedai hendak mengambil titipan lukisan yang tadi Brilian beli.


Mereka lalu berjalan ke arah parkiran sepeda motor hendak pulang. Setelah sampai,mereka lalu berboncengan,Sekar sambil membawa lukisan yang ia bawa dengan tangan kanannya.


"Gimana Sekar, sudah siap?" tanya Brilian.


"Sudah Briian," jawab Sekar.


"Bisa gak bawa lukisanya, kalau gak taruh depan aja," pinta Brilian.


"Bisa kok, dah yuk jalan," ajak Sekar.


"Baik," sahut Brilian.

__ADS_1


"Brum... Brum... Brum........ " suara knalpot sepeda motor Brilian.


Di perjalanan,udara sejuk pegunungan masih sangat terasa. Semakin lama semakin terasa dingin. Sekar memeluk Brilian dari belakang sambil berpegangan. Lukisan yang ia bawa bisa sedikit membantu meminimalkan tekanan udara yang cukup dingin, yang berhembus membelai mereka berdua di atas laju sepeda motor.


Kini laju sepeda motor Brilian melewati baberapa jalan menurun dan sedikit berkelok. Brilian yang hanya diam, konsentrasi dengan laju sepeda motornya. Sesekali ia melirik ke arah belakang, melihat Sekar bersandaran di punggungnya. Sekar nampak sesekali memejamkan matanya karena mengantuk. Biasa, Sekar tidur saat mereka berboncengan. Hal yang sebenarnya berbahaya. Namun saat Brilian menyadari itu, ia memperlambat laju sepeda motornya sambil memegang tangan Sekar yang berpegangan memeluk dirinya.


Karena sudah sampai di dataran rendah, udara tidak terlalu dingin, tidak sedingin waktu masih perjalanan di daerah pegunungan tadi. Lalu Brilian sedikit menoleh ke belakang. Ia mencium aroma wangi rambut Sekar dan aroma parfum favoritnya,aromanya mirip aroma parfum jenis dunhill blue favorite Brillian,namun nampaknya parfum Sekar parfum mahal. Tidak lama kemudian,mereka telah sampai di depan rumah Sekar pukul 19:02 pm, sekitar 50 menit perjalanan,sedikit lebih cepat dibanding berangkatnya. Brilian lalu membangunkan Sekar.


"Sekar, bangun, kita sudah sampai," ujar Brilian.


"Eh, maaf aku ketiduran ya,duh..." sahut Sekar sedikit kaget.


"Gak apa-apa kok, biasanya juga gitu, hehe," sambung Brilian.


"Hoam... Maaf ya Brilian. Terimakasih sudah mengantarku dan menjagaku di perjalanan," ucap Sekar.


"Iya sama-sama Sekar. Ya udah,aku pamit dulu ya, salam buat Ayah Bunda... " pamit Brilian.


"Okey, hati-hati di jalan ya," ucap Sekar.


"Iya sayang. Eh, hmmm... " canda Brilian.


"Heemmbb.... " Sekar mengerutkan alisnya sambil tersenyum.


"Daa.... " lambai Brilian.


"Daa.... " lambai Sekar.


Brum... Brum.. Brum...... "


Brilian lalu pulang. Sesampainya di rumah, ia langsung mandi, lalu beribadah. Seperti biasa, rutinitas di rumah,bermusik,menulis lagu, menulis cerita novel,komik, mengambar animasi, poster, cover dan sebagainya. Meskipun sendiri di rumah, tapi ia tak merasakan kesepian. Hal yang biasa,karena sejak kecil ia sering di tinggal kedua orang tuanya ke luar kota untuk bekerja,sebelum mereka pada akhirnya bercerai, sudah cukup lama. Ia di titipkan di tempat neneknya sejak usia 8 tahun. Rumah nenek Brilian tidak terlalu jauh dari tempat Brilian tinggal,skitar 2 km.


Brilian lalu naik di lantai dua, tempat bisa ia melihat bulan dan bintang-bintang malam. Juga tempat biasa gitaran sama teman-teman, Taka misalnya. Oiya,Brilian tiba-tiba ingat Taka. Ia lalu mengambil handphonenya dari dalam saku lalu mengirim pesan singkat kepadanya. Brilian berniat untuk mengajak Taka mengikuti acara Battle String Rock Fest. Karena kesibukan Taka,ia pun melolak dengan baik-baik karena alasan waktu yang tabrakan dengan jam kerjanya.


Begitu juga dengan Berto, ia punya aladan sama dengan Taka. Akhirnya Brilian menghubungi Sekar. Ia bertanya,apakah Sekar sudah membicarkan soal acara tadi. Sekar pun menjawab,sudah,tapi belum ada balasan dari Renata dan Ajeng sahabat Sekar. Karena jika Renata dan Ajeng tidak bisa, dirinya akan mengikuti acara dengan format doa dengan Sekar. Akan tetapi Brilian masih menunggu kabar dari Sekar.


Tidak terasa sudah pukul 22:00 pm. Brilian lalu mengambil karpet kipat untuk alas di atas lantai dua atas


18* ruko. Ia Berniat hendak tidur di lantai dua tersebut. Sambil bermain gitar, berbaring melihat bintang-bintang. Ia lalu mengambil satu batang rokok,menyalakan lalu menghisapnya.


"Ceess bulll...... "


Aroma asap rokok yang sudah jarang sekali ia menghisapnya. Sambil memetik gitarnya, Brillian sambil membuka handphone, ia ingat,beberapa waktu lalu pernah dikirim lirik lagu oleh temannya. Segera ia mengabungkan chord demi chord,membuat cengkok nada, lalu ia sesuaikan dengan petikan dan irama gitar,sambil menyanyikan lirik lagunya.


"*Jiwa ini, terlalu haus, akan misteri kehidupan....


Yang seakan hanya ilusi, menantikan sang bulan purnama..."


Intro...


"Di kesunyian malam, ku berharap....


Bulan bawa terbang sukma yang hitam ini..


Di dalam secerca,cahaya,dan sejuta mawar di angkasa*....


Penggalan lirik lagu yang ia beri judul Bulan Dan Serigala. Lirik lagu yang dikirimkan dari seorang temannya bernama Vaugan. Namun Brilian mengubah beberapa kalimatnya hingga akhirnya menjadi sebuah lagu dengan judul Bulan dan Serigala. Karena Brilian mengubah beberapa kalimat pada liriknya, lagu tersebut terinspirasi dari sebuah cerita dongeng tentang Bulan Dan Serigala. Berikut kisahnya.


"*Dahulu kala, serigala adalah makhluk mitologi yang hidupnya di luar angasa dan rembulan sebagai kekasihnya. Setiap hari ia berkeliling mengelilingi bumi hingga galaxy. Pada suatu ketika, bulan kekasihnya, menginginkan bunga mawar dari bumi. Serigala pun akan melaksanakan apa pun yang diinginkan bulan kekasihnya. Namun ia lupa, bahwa ada perjanjian. Bahwa makhluk mitologi, yang sudah turun ke bumi, tidak akan pernah bisa kembali, dan selamanya akan terus di bumi."


"Karena srigala sangat mencintai bulan, ia lupa akan perjanjian itu. Kemudian ia turun ke bumi untuk mengambilkan bunga mawar untuknya. Dengan kekuatanya, serigala menembus atmosfer untuk sampai ke bumi. Setelah sampai, ia mencari bunga mawar di hutan belantara. Ia memetiknya bunga mawar yang sangat harum itu,hendak memberikannya kepada rembulan kekasihnya."


"Saat sampai di atas tebing dengan membawa bunga mawar. Ia tidak bisa terbang lagi, ia baru ingat dengan perjanjian,dan sekarang ia melangarnya. Karena demikian, serigala tidak pernah bisa kembali lagi bersama kekasihnya rembulan, ia selamanya akan di bumi. Dan setiap bulan purnama, seriga selalu mengaung memanggil-manggil karena rindu oleh rembulan kekasihnya*."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2