
Tiba-tiba datang beberapa anak muda sebaya Brilian. Mereka berjumlah enam orang, berboncengan dengan tiga sepeda motor Rx k*ng, lalu menghampiri Brilian dan Erlin. Dua orang mendatangi Brilian dan Erlin, dan yang empat lainnya menunggu di dekat sepada motor mereka dan sepeda motor Brilian.
"Woy, ngapai kalian di sini, masuk wilayahku !! bentak pemuda dengan tiba-tiba.
"Maaf kak, maksudnya wilayah? saya tadi masuk di TPR sudah bayar. Ini tempat umum. Lagi pula di sini bukan hanya kita berdua. Itu di sana juga ada," tunjuk Brilian menunjuk ke arah lain.
"Banyak bacot !! siapa namamu ?" tanya pemuda itu.
"Sudah-sudah kak... Ayo kita pindah saja," lerai Erlin.
"Sebentar. Memangnya kenapa, nama anda sendiri siapa?" tanya Brilian balik.
Rupanya pemuda itu sedang dalam pengaruh alkohol. Mereka pun mulai geram dengan Brilian, begitu juga sebaliknya.
"B*ngsat !! ditanya malah balik nanya, mau jadi jagoan kamu, hah !!" bentak pemuda mabok itu.
"Hajar aja bos," imbuh sakah satu temannya.
"Loh, memangnya kenapa?" ketus Brilian.
"Kak... Sudah. Plis, jangan berkelahi di sini, nanti kalau sampai berurusan sama polisi, bisa gawat. Kak Brilian ingatkan waktu itu," bisik Erlin di telinga Brilian.
Brilian mendengar nasehat Erlin, namun tidak menjawabnya. Tatapanya kembali kepada dua pemuda mabok di hadapanya.
"Mau kalian apa?" tanya Brilian.
"Hahahaha. Serahkan uang kalian, sekarang !!" ancam pemuda mabok itu.
"A*jing !! minta aja sama emak loe n*ing !!" geram Brilian.
Brilian hendak melancarkan pukulan ke arah wajah pemuda mabok itu, namun Erlin menahan dengan kedua tangannya. Pemuda mabok itu pun hendak mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaket kulitnya. Berupa p*sau lipat.
"B*ngsat !! benar-benar nyari masalah lo," ketus pemuda mabok itu sambil menodongkan p*sau lipat ke arah Brilian.
Dengan cepat, Brilian menendang tangan pemuda mabok yang memegang p*sau lipat itu. P*sau itu pun terlepas dari genggamannya dan terlempar cukup jauh. Cekcok pun terus berlanjut. Erlin terus melerai pertikaian itu.
"Stop !!" Erlin menghadang di tengah-tengah membelakangi Brilian diantara pemuda mabok itu.
"Kak. Dengar. Sekarang saya kasih uang, tapi aku mohon, setelah itu kalian jangan ganggu kami ya?" ucap Erlin.
Pemuda mabok itu tersenyum sinis dengan tatapan mengancam dan membuka telapak tanggannya ke arah Erlin. Erlin langsung memberi uang kepada pemuda mabok tersebut. Brilian mencoba menahan Erlin, namun Erlin membungkam mulut Brilian dengan lembut.
"Sudah ya kak. Saya cuma punya uang segitu. Aku mohon dengan sangat, jangan ganggu kami ya," pinta Erlin.
"Oke, ayo kita pergi," seru pemuda mabok itu mengajak temannya.
Erlin memegang tangan Brilin sambil melihat para pemuda mabok itu pergi.
"Kenapa kamu memberi mereka uang, orang-orang seperti mereka pantas untuk di hajar," cetus Brilian.
"Kak, jumlah meraka banyak... Lagi pula kalau sampai berurusan dengan polisi, urusannya bisa lebih gawat," tutur Erlin.
"Aku tidak peduli jumlah mereka," sahut Brilian.
"Kak, aku cewek," ucap Erlin menggenggam tangan Brilian sambil menatap mata Brilian.
"Iya-iya... Jangan panggil kak ya. Panggil nama saja," papar Brilian.
"Tidak bisa kak," ucap Erlin.
"Bisa," sahut Brilian.
Mereka berdiri saling bertatapan. Tinggi badan Brilian sedikit lebih tinggi dari Erlin. Beberapa detik kemudian. Brilian lalu memberanikan diri mendekap tubuh mungil Erlin. Erlin pun tidak memberi perlawanan.
"Terimakasih kak," ucap Erlin.
Brilian sedikit kaget mendengar ucapan Erlin. Mungkin karena pelukanya bisa sedikit menghangatkan badannya dari dinginnya angin laut. Namun Brilian tidak menjawab, dan semakin mempererat pelukannya.
"Kamu ngantuk ya?" tanya Brilian.
Erlin mengangguk.
"Terus, maunya gimana?" tanya Brilian.
"Di sini aja nggak apa-apa kak," jawab Erlin di dalam dekapan Brilian.
"Kita pindah saja, di sini terlalu dingin," ajak Brilian.
Erlin menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua berjalan ke arah sepeda motor Brilian. Jam tangan Brilian menunjukan pukul 02:16 pm. Brilian mengajak Erlin pindah tempat, namun masih di sekitaran pantai.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Erlin.
"Jangan panggil kak dong... " pangkas Brilian.
"Baik. Brilian, kita mau kemana?" tanya Erlin.
"Nah... Gitu dong. Dah... Nanti juga tau sendiri," jawab Brilian.
"Iya deh... " jawab Erlin.
__ADS_1
"Brum... Brum... Brum.... "
Rupanya Brilian mengajak Erlin hendak melihat pemandangan dari atas bukit, di timur pantai, terdapat bukit yang tidak terlalu tinggi, juga terdapat gardu pandang di sana. Beberapa menit kemudian, mereka sampai ke gardu pandang tersebut. Dari gardu pandang 24 jam itu, sunset dan sunrise bisa nampak, hal yang sangat menajubkan. Kebetulan, di sana juga menyewakan tenda camping. Terlihat juga beberapa tenda berdiri di sekitar gardu pandang yang memiliki luas kurang lebih 100 meter persegi itu.
Setelah memarkirkan sepeda motornya. Mereka berdua berniat hendak memesan tenda camping tersebut. Akhirnya mereka menyewa dua tenda, karena peraturan tidak boleh menyewa satu untuk berdua. Lalu dua tenda camping kecil itu mereka dirikan jejer berdempetan, tidak berjarak satu sentimeter pun. Kemudian Erlin dan Brilian masuk ke tenda mereka masing-masing sambil menunggu sunrise.
"Brilian," panggil Erlin.
Namun tidak ada jawaban darinya. Erlin kemudian melihatnya dari lubang kecil tenda. Ternyata Brilian sedang tertidur pulas.
"Ya ampun kak Brilian... Pasti sangat kelelahan," batin Erlin.
Erlin lalu kembali masuk ke dalam tendanya, memasang earphone di telinganya, lalu memutar lagu-lagu favoritnya sambil melihat pemandangan. Kerlap kerlip lampu-lampu penduduk di sekitaran pantai, menambah pemandangan samakin indah. Waktu terus berlalu, pagi hari hampir tiba. Sunset sebentar lagi bersinar dari ufuk timur. Erlin lalu membangunkan Brilian dari dalam tendanya.
"Kak. Kak Brilian, bangun, sudah pagi ni," panggil Erlin dari luar tenda.
Brilian lalu bangun, dan membuka sedikit tendanya. Senyum manis Erlin menyambut Brilian.
"Erlin... Erlin... Kamu cantik sekali sih. Jangan sampai aku jatuh cinta padamu ya. Aku sendiri belum bisa melupakannya Sekar," gumam Brilian dalam hati.
"Hehe, maaf ya aku ketiduran," ucap Brilian.
"Iya kak, tidak apa-apa, aku tau kok kamu capek," sambung Erlin.
"Tu kan panggil kak lagi," sahut Brilian.
"Hmmm... Maaf lupa," ucap Erlin.
Brilian dan Erlin lalu keluar dari tendanya masing-masing. Mereka berjalan di sebelah tenda menghadap timur hendak melihat sunrise. Sedangkan jika menghadap barat, terlihat pemandangan laut lepas. Sedikit demi sedikit, sunrise mulai nampak, membelah halimun yang menyelimuti bukit-bukit. Pemandangan yang jarang sekali mereka lihat dari atas bukit,sunrise.
Mereka berdua duduk di tempat duduk yang terbuat dari kayu. Brilian menoleh ke berbagai arah, seperti memastikan keadaan. Kemudian mengambil sesuatu yang mempak rahasia dari dalam saku jaketnya. Lagi-lagi ob*t t*rlarang itu. Dengan cepat mereka berdua memakainya.
"Oh ya. Hari ini kamu kerja masuk shif pagi kan?" tanya Brilian.
"Iya... Tapi aku males masuk kak... Eh, Brilian... Gimana dong.... " gerutu Erlin manja.
"Eh nggak boleh gitu. Udah ayo sekarang kita balik, nanti terlambat masuk kerjanya," terang Brilian.
"Huwa... Aku mau izin kerja, Brilian. Hari ini... aja, Plis," gumam Erlin, matanya berkaca-kaca menatap Brilian.
"Huft... " Brilian menghela nafas.
"Ya udah deh. Kamu jago merayu ya," imbuh Brilin.
"Hehe, jadi, sekarang aku izin Pak Jonatan ni... " ungkap Erlin berbinar-binar.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, kemudian menelfon Pak Jonatan hendak izin tidak masuk kerja.
"Hallo... Selamat pagi Pak Jonatan," sapa Erlin melalui telepon.
"Ya... Ada apa Erlin?" tanya Pak Jonatan dengan suara seperti habis bangun tidur.
"Gini Pak, hari ini, saya mau izin kerja. Lagi tidak enak badan soalnya. Nanti mau periksa ke pukesmas..." ungkap Erlin.
"Aduh... Brilian hari ini libur, kamu izin, yang jaga siapa tokonya. Sakit apa memangnya?" tanya Pak Jonatan.
"Pak Muklis," bisik Brilian di telinga Erlin.
"Pak Muklis Pak yang jaga tokonya... Biasa demam, hari ini aja pak izinnya.... Plis," pinta Erlin.
"Hemb..." Pak Jonatan menghela nafas.
"Iya-iya... Tapi jangan keseringan izin ya," pesan Pak Jonatan.
"Iya Pak, terimakasih..." ucap Erlin.
"Sama-sama," pungkas Pak Jonatan.
"Tut... Tut... Tut... "
"Yes. Berhasil. Hore...!" sorak Erlin.
"Hu... Dasar," cibir Brilian.
"Eh kak, tadi berbisik di telinga, geli tau," cetus Erlin.
"Kak lagi... " gerutu Brilian.
"Owh, maaf-maaf lupa, hehe," sahut Erlin.
Erlin memang pelupa. Di tengah obrolan mereka, reaksi k*mia mulai muncul. Brilian lalu menyalaka rokok.
"Brilian, " panggil Elrin.
"Ya," jawab Brilian menoleh ke arah Erlin.
"Aku boleh minta rokoknya nggak... " pinta Erlin.
"Owh... Kamu ngerokok juga, ni ambil aja," sambung Brilian.
__ADS_1
"Iya, tapi jarang-jarang," pungkas Erlin.
Mereka berdua merokok sambil memandang ke arah sunrise yang mulai menampakan sinarnya. Erlin sesekali melirik ke arah Brilian, memdapati ia sedang melamun.
"Lagi mikirin apa sih, kok dari tadi melamun... terus, " ujar Erlin.
"Owh. Aku, nggak... Nggak lagi mikiran apa-apa. Mikirin kamu mungkin," goda Brilain genit.
"Yee... Aku kan di sampingmu, kenapa di pikirin. Hayo... Pasti lagi mikirin siapa... Aku cemburu ni.... " goda Erlin balik.
"Apa? cembukur?" tanya Brilian selengean.
"Cemburu," jelas Erlin dengan nada serius.
"Ah... Bisa aja kamu tu," sahut Brilian.
"Ayolah... Cerita dong.... " bujuk Erlin.
"Apa sih. Kamu kalau merayu jago ya. Dah ayok kita cari makan, laper ni," ajak Brilian sambil betjalan ke arah parkiran.
"Tunggu," seru Erlin.
"Ayo... " panggil Brilian.
Erlin berlari kecil lalu meraih tangan kanan Brilian, layaknya sepasang kekasih yang sedang berjalan.
"Eh, kamu tu jangan gitu banget ya sama aku, nanti kalau aku jatuh cinta bagaimana," cetus Brilian.
"Gitu gimana, ya nggak apa-apa kan?" tanya Erlin.
"Jangan gitulah... Kita kan belum saling mengenal, lagi pula kita juga temen satu kerjaan kan," jelas Brilian.
"Iya-iya... Bercanda kok," sahut Erlin.
Setelah sampai ke parkiran, merka menuju sebuah kedai soto sederhana, yang ada di puncak dekat gardu pandang tersebut. Mereka berdua duduk bersebelahan, kemudian memesan makanan dan minuman untuk sarapan. Beberapa kemudian dua porsi soto sapi diantarkan di meja tempat Brilian dan Erlin duduk, lengkap dengan pempek dan minumannya.
"Permisi... " ucap waiter kedai membawakan dua porsi soto sapi.
"Terimakasih..." ucap Brilian dan Erlin.
"Sama-sama, selamat menikmati... " pungkas waiter kedai.
Dari kedai, pemandangan alam juga sangat memanjakan mata dari segala arah. Bersamaan dengan menyantap soto, reaksi k*mia semakin terasa. Yang membuat keduanya tenggelam dalam suasana perasaan yang sama. l
Cukup lama mereka di kedai. Setelah selesai sarapan, Brilian mengajak Erlin pulang. Tetapi Erlin menolak. Ia mengajak menghabiskan hari minggu bersama. Dari situ Brilian yakin, bahwa Erlin memberi lampu hijau kepadanya. Berkat Erlin juga, ia bisa sedikit melupakan Sekar.
"Terus, kita mau kemana kalau tidak mau pulang?" tanya Brilian.
"Emb... Ya jalan-jalan kemana gitu. Aku sebentarnya sudah lama pengen ke situs-situs candi, tapi nggak ada temen, hiks," gerutu Erlin.
"Ke candi?"
"Iya,"
"Kalau ke kebun binatang pengan nggak?"
"Pengan juga sih,"
"Mau ngapain, nyari kembaranmu?" canda Brilian.
"His... Apaan sih. Aku serius ni.... " gumam Erlin.
"Hahahaha, kamu kalau marah kayak anak kecil," goda Brilian.
"Aku memang masih kecil kan. Usia kita selisih satu tahun,"
"Dih. Cuma satu aja. Jadi, mau kemana ni kita?" tanya Brilian.
"Tanya aja sama peta," papar Erlin.
"Maksudnya?" tanya Brilian sedikit bingung.
"Ya biar kayak dora, tanya peta, hahaha," goda Erlin balik.
"Wah... Balas dendam ni ceritanya, oke, satu sama," ucap Brilian.
"Habis, di ajak serius malah di tanya di kebun binatang, nyari kembaran lagi, monyet kan maksudnya, huwa... Jahat !" gerutu Erlin sambil memukul-mukul kecil punggung Brilian.
"Udah... Buruan naik," ajak Brilian.
"Mau kemana?" tanya Erlin.
"Katanya mau ke candi...." jawab Brilian.
"Hore... Oke deh," sorak Erlin dengam senyum berseri-seri.
"Brum... Brum... Brum.... "
Di kota Vussan, terdapat beberapa situs-situs candi. Candi yang paling dekat berjarak 30 kilometer dari Pantai Biru, dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Di perjalanan, nampak padat merayap lebih ramai dari biasanya, mungkin karena hari minggu. Banyak para wisatawan dari luar kota, bahkan luar negeri datang untuk liburan.
__ADS_1
Bersambung....