
"Nggak jadi, kamu juga nggak kok," sahut Erlin.
"Ya udah, kita balik aja, nanti kalau kemaleman, gerbang kos kamu tutup lagi, sudah hampir pukul sembilan ni," ujar Brilian sambil melihat jam tangannya.
"Iya-iya... "
"Besuk kamu masuk shif pagi kan?"
"Iya, mana besuk udah mulai masuk kuliah lagi,"
"Owh... Jam berapa masuknya?"
"Pukul 18:00 pm sampai 21.30 pm," Jawab Erlin.
"Wah... Bagus dong," puji Brilian.
"Ya... Tapi capek, huft," desis Erlin.
"Nggak apa-apa... Kan menuntut ilmu," tutur Brilian.
Tidak terasa, di perjalanan, mereka sudah hampir sampai ke kos eksklusif Erlin. Setelah sampai di depan pintu gerbang, Erlin lalu turun dari sepeda motor Brilian.
"Terimakasih ya, Brilian," ucap Erlin.
"Sama-sama, aku duluan ya," sambung Brilian.
"Nggak mampir dulu," ucap Elrin basa-basi.
"Nggak besuk aja kapan-kapan, da... Erlin," pamit Brilian.
"Da... Brilian.... " pungkas Erlin.
"Brum... Brum.... "
Brilian lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya, setelah dua hari belum pulang. Meski tidak pulang berhari-hari pun, tidak ada yang mencarinya, karena ia tinggal di rumah seorang diri, kecuali, teman-temannya, yang kadang mampir.
Beberapa menit kemudian, Brilian telah sampai di rumahnya. Ia kemudian membuka pintu, lalu masuk, manyakakan lampu, dan langsung menyandarkan tubuh lelahnya di sofa ruang tamu. Meletakkan tas dan melepas jaket jeansnya, kemudian bersiap-siap hendak mandi dengan air hangat.
Pukul 21:48 pm, Brilian baru selesai mandi, tubuhnya terasa sangat lelah. Tak ada makannan apa pun yang bisa di makan, di dalam kukas, stok makanan-makanan ringan juga sudah habis. Brilian lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur kamarnya. Sesekali memejamkan matanya, hingga akhirnya ia pun tertidur. Ponselnya beberapa kali berdering, namun saking lelahnya, ia tidak sempat membuka ponselnya.
Malam semakin larut, Brilian tertidur pulas, sampai lupa mematikan lampu utama di ruang tengah. Beberapa jam kemudian, ia bangun hendak buang air kecil ke kamar mandi, sambil mematikan lampu ruang utama. Saat jarinya hendak menekan off pada sakelar lampu, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor matic berhenti teras rumahnya.
"Seperti ada yang datang, siapa lagi malam-malam begini," batin Brilian.
Brilian lalu berjalan kearah jendela, kemudian menyingkapkan gorden berwarna merah pada jendela kaca rumahnya. Setelah melihat dari balik kaca dengan mata sayup-sayup, rupanya yang datang adalah Taka.
"Tok... Tok... Tok... "
"Coy... " panggil Taka.
"Dah tidur ya," imbuhnya.
Brilian lalu berjalan ke arah pintu hendak membukanya.
"Sebentar..." lirih Brilian.
"Oh, masih hidup, aku kira sudah tidur coy," pangkas Taka.
Pintu kemudian dibuka.
__ADS_1
"Silahkan masuk. Dari mana coy malem-melem gini ?" tanya Brilian dengan mata sayup.
"Hah... Akhirnya sampai, dari pulang kerja coy," jawab Taka sambil duduk menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Pulang kerja, jam segini pulang kerja, lembur apa memangnya?" tanya Brilian sambil bertanya.
"Hehe, pulang kerja, mampir ke tempat temen, biasa... " jawab Taka nafasnya bau alkohol.
"Ah... Kau ini, pasti minum," tebak Brilian.
"Ya begitulah... Biasa anak muda... Haha," pangkas Taka.
"Ni rokok coy, dah jam berapa sih ini memangnya," cetus Taka sambil menoleh ke arah jam dinding.
"Tu lihat," tunjuk Brilian.
Jam menujukan pukul 01:02 am.
"Oh... Baru jam satu, kita begadang saja coy. Eh barangnya masih nggak?" tanya Taka.
"Aku mau tidur, dua hari baru pulang ni. Barang apa, nggak ada," jawab Brilian.
"Plis... Hah, dua hari, dari mana? Sekar kan sudah pindahan?" ujar Taka bertanya.
"Memangnya siapa yang bilang kalau pergi sama Sekar, nggak ada beneran, dah habis. Dah aku mau tidur dulu, kamu kalau mau tidur sini, nanti pintunya dikunci ya," ucap Brilian sambil berjalan ke arah kamarnya.
"Ah... Nggak asik ni. Wah jangan-jangan kamu menduakan Sekar.... " lontar Taka.
"Terserah," sahut Brilian lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Oke... Oke... Aku tidur sini, nanti aku kunci pintunya," pungkas Taka sambil merokok.
Taka duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Brilian tidur di kamarnya. Hendak melanjutkan tidurnya yang sedikit terganggu oleh kehadiran Taka. Tidak lama kemudian, Taka juga membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu, masih menghisap rokoknya dengan kondisi mabok.
Keesokan paginya. Brilian bangun kesiangan, begitu juga dengan Taka, ia masih mendengkur di sofa ruang tamu. Brilian kemudian bangun, lalu berjalan ke kamar mandi hendak memcuci muka. Badannya rasa-rasanya terasa seperti habis lari maraton, pegal-pegal disekujur tubuhnya. Efek samping dari bahan kimia yang ia konsumsi, dan kurangnya waktu tidur.
Tepat pukul 09:00 am, Brilian berjalan dari kamar mandi dengan langkah berat, menuju ruang tamu. Ia kemudian duduk di sebelah Taka yang masih tidur, kemudian membangunkannya.
"Coy, bangun, sudah siang ni, masuk kerja shif pagi atau siang," seru Brlian sambil mengoyak-oyak tubuh Taka.
"Em em em, aku libur coy hari ini," jawab Taka dengan mata terpejam.
"Oh, ya sudah, aku kira masuk kerja," Papar Brilian.
Taka kembali tidur, Brilian lalu berjalan mengambil handuk hendak mandi. Seperti biasa, sebelum mandi, ia terlebih dahulu menanak nasi dengan magicom. Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi, ia memasak sayur seadanya untuk sarapan. Di kulkas masih ada beberapa sayur seperti, wort, kubis, brokoli, rempah-rempah dan potongan daging ayam mentah di freezer.
Brillian lalu mamasak sayur sop ayam sederhana, sambil menunggu nasi matang. Di saat sedang memotong-motong sayuran, ponsel Brilian beberapa kali berdering, namun ia belum sempat membukannya. Kini sayur sop yang sudah terpotong-potong, dimasukan pada air yang hampir mendidih. Api kompor ia kecilkan, sambil menunggu sayur matang, Brilian berjalan ke arah ia meletakkan tas selempangnya, dimana ponselnya ada di dalam.
Saat ia membukanya, rupanya pesan singkat balasan dari Sekar, dan beberapa pesan lainnya. Sekar menjawab pertanyaan Brilian, waktu ia menanyakan apakah sudah sampai di kota tujuan. Sekar menjawab, bahwa dirinya baru sampai tadi malam sekitar pukul 22:00 pm. Pesan berikutnya adalah pesan dari Erlin, ia menyapa mengucapkan "selamat pagi Brilian," namun Brilain belum membalasnya. Terdengar suara masakannya mendidih, dari dapur.
Segera ia berjalan ke dapur. Rupanya sayur sop ayam masakannya sudah matang, terakhir tinggal memasukan kobis. Secara bersamaan, nasi yang ia masak pun juga sudah matang. Aroma sop ayam masakan Brilian cukup menggugah selera, cocok untuk sarapan di pagi yang cukup dingin. Taka pun sampai terbangun mencium aroma sop ayam tersebut, hidungnya mengendus dan matanya sayup-sayup.
Taka lalu berjalan ke arah dapur mamastikan bahwa itu masakan Brilian.
"Wah... Mantap ni," ujar Taka.
"Sudah bangun coy, kebetulan, ayo kita sarapan bareng," ajak Brilian.
"Siap-siap... Aku numpang ke toilet sebentar ya coy," sambung Taka.
__ADS_1
"Oke, silahkan," sahut Brilian.
Sambil menunggu Taka dari kamar mandi, Brilian kemudian menyiapkan dua piring nasi dan sayur di meja makan. Sambil memutar radio streaming kesayangan. Kebiasaannya, setiap pagi selalu memutar radio, untuk mendengarkan lagu atau berita. Tidak lama kemudian, Taka keluar dari kamar mandi.
"Ayo coy, sayurnya ambil sendiri, tu sudah saya siapkan di meja makan," seru Brilian.
"Siap coy... Waduh malah repot-repot... " ujar Taka basa-basi.
"Udah... Sikat aja," pungkas Brilian.
Mereka berdua memang sering sarapan bersama di rumah Brilian, apa lagi dulu waktu Taka dan Brilian belum bekerja, alias masih sekolah. Setelah beberapa menit, Brilian dan Taka selesai sarapan. Taka terus menanyakan ob*t-o*atan t*rlarang kepada Brilian. Taka sendiri sudah lama menjadi p*candu.
"Plis coy... Carikan aku barang... Besuk gajian uangnya aku ganti deh.... " bujuk Taka.
"Nggak ada coy beneran," ucap Brilian.
"Masak sih... Di tempat Alex?" tanya Taka.
"Sebentar coba saya tanyakan ya," sahut Brilian.
"Oke deh... Ni coy rokok," jawab Taka sambil menawarkan rokok pada Brilian.
"Iya, nanti coy, taruh meja saja," sambung Brilian sambil mencoba menghubungi Alex.
Berkali-kali ia mencoba menelfonnya, namun tak ada respon dari Alex. Brilian lalu menanyakan soal Alex kepada salah satu teman dekatnya, bernama Brendi. Singkat cerita, Brendi pun menjawab, bahwa Alex tengah tertangkap polisi beberapa hari yang lalu, dengan kasus n*rkoba jenis s*bu dan g*nja. Sontak Brilian kaget mendengarnya. Saat ini, teman-teman dekat Alex, mereka sedang menyembunyikan diri termasuk Brendi, Berndi sendiri kini menjadi buronan dalam kasus yang sama. Brendi juga berpesan kepada Brilian untuk berhati-hati.
Setelah percakapan itu, perasaan Brilian menjadi gelisah. Taka yang ada di sebelah Brilian dan mendengar sendiri percakapannya mereka, ia pun ikut gelisah.
"Gawat," gumam Brilian menutup teleponnya.
"Wah, kalau sampai Alex menyeret kita gimana coy," gerutu Taka.
"Nggak tau juga. Yang penting, kita hati-hati saja," ujar Brilian.
Setelah menelefon Alex, dan tidak ada respon tadi. Tiba-tiba ada nomor baru, masuk menelfon Brilian. Tanpa pikir panjang, Brilian tidak mengangkat telepon itu, ia lalu mematikan ponselnya, mengambil kartunya lalu membuangnya ke dalam bak sampah.
"Gila, kartumu kamu buang coy?" tanya Taka keheranan.
"Bodo amat, sebelum jadi buronan mending buang aja kartunya. Mungkin untuk beberapa hari ini, jangan datang ke rumahku dulu coy, aku sendiri untuk beberapa hari ini jarang pulang," ungkap Brilian.
"Loh, emang mau kemana coy?" tanya Taka lagi.
"Ada pokoknya, ingat kata kata Brendi tadi," jelas Brilian.
"Iya, tapi bisa jadi Brendi hanya menakut-nakuti coy," ujar Taka.
"Maka dari itu, antisipasi," tegas Brilian.
"Dah, sekarang kita cari tau saja, bagimana Alex bisa sampai tertangkap, berani?" tantang Brilian.
"Maksudmu, kita menjenguk Alex?" tanya Taka.
"Tidak... Bunuh diri kalau sekarang. Maksudku, mencari informasi tentang Alex, bertanya kepada teman-teman dekatnya," jelas Brilian.
"Ah, nggak ajalah, nanti dikira gimana-gimana," gumam Taka.
"Lah, itu tau. Ya udah, sekarang kita hati-hati saja, nggak usah memakai barang itu lagi, bisa jadi area sini sudah menjadi target operasi," tegas Brilian.
"Jangan gitulah... " gumam Taka.
__ADS_1
"Ya... Terserah sih," pungkas Brilian.
Bersambung...