Brilian

Brilian
Pantai Biru


__ADS_3

Brilian duduk di kursi kedai, hendak menikmati sajian makanan dan minuman yang sudah Renata dan Ajeng pesan. Disela-sela menikmati hidangan, Brilian sesekali melirik Sekar. Melihat canda tawanya untuk terakhir kalianya sebelum Sekar pindah ke luar kota.


"Brilian, ayo dimakan... Kenapa bengong?" tanya Ajeng.


Brilian hanya diam sambil melamun melihat ke arah Sekar.


"Hey, hello... " Renata membuyarkan lamunannya.


"Ya. Apa apa teman-teman," Brilian kaget.


"Yee... Kenapa? mikirin Sekar... Kan masih ada aku... " goda Renata genit.


"Apaan sih sis," sahut Sekar.


"Nggak... Emb... Anu, itu...." ucap Brilian terbata-bata.


"Sudah-sudah... Ayo habiskan dulu makannya," pangkas Sekar.


"I-iya Sekar," pungkas Brilian.


"Oh ya sis, ngomong-ngomong besuk berangkat jam berapa?" tanya Renata dan Ajeng, bertanya kepada Sekar.


Disela-sela menikmati makanan, mereka sambil berbincang-bincang, Brilian sambil mendengar obrolan mereka. Rupanya, Sekar benar-benar akan pindahan, besuk pagi berangkat. Dengan perasaan sedikit tak rela, Brilian mencoba menepis perasaan itu.


"Drrrr... Drrrr... Drrr... " ponsel Brilian berdering tanda ada telfon masuk.


Dengan cepat Brilian membuka ponselnya. ternyata telfon dari Erlin.


"Ada apa Erlin malem-malem begini telfon. Duh... Ada mereka lagi," batin Brilian.


"Tut... Tut... Tut... " Brilian tidak mengangkat panggilan dari Erlin, ia lalu berpamitan kepada hendak ke belakang.


"Teman-teman, aku ke belakang sebentar ya," pamit Brilian.


"Ya... Jangan lama-lama ya," jawab Sekar.


Brilian lalu berjalan ke toilet di sebelah selatan kedai. Di dekat toilet, ia lalu menelfon Erlin balik.


"Hallo Erlin," sapa Brilian melalui telepon.


"Ya. Kak Brilian, kamu lagi dimana? lagi sibuk nggak?" tanya Erlin tergesah-gesah.


"Aku lagi di luar, ada apa, kok tumben?" tanya Brilian balik.


"Owh... Sama siapa? lagi sibuk ya? mau minta tolong kak kalau tidak sibuk," terang Erlin.


"Sama temen. Tolong apa?" tanya Brilian.


"Gini kak, tadi aku karaokean sama temen, e


... Malah pada di tinggal kencan, sampai sekarang belum balik. Ni sekarang aku masih di room karaoke sendirian, kalau kak Brilian nggak sibuk, boleh minta tolong jemput?" pinta Erlin.


"Loh, tadi naik apa kamu ke situnya?" tanya Brilian.


"Di jemput temen pakai mobil kak... " jawab Erlin.


"Owh... Coba nanti saya kabarin lagi ya. Temenmu nggak bisa dihubungi apa?"


"Nggak bisa kak... Hiks,"


"Ya udah, coba nanti ya, nanti aku telfon lagi," jelas Brilian.


"Baik. Terimakasih sebelumnya kak," ucap Erlin.


"Iya," pungkas Brilian, mengakhiri panggilannya.


"Tut... Tut... Tut... "


Brilian lalu kembali ke tempat Sekar dan teman-temannya berada.


"Tu Brilian sis," ucap Renata memberitahu Sekar.


"Iya sis," jawab Sekar melihat Brilian berjalan ke arahnya.


"Maaf teman-teman, lama ya," ujar Brilian.

__ADS_1


"Nggak kok. Oh ya, kita mau balik dulu ya Brilian, dah malem ni... " ungkap Renata.


"Iya, aku juga mau pulang," jawab Brilian.


Renata, Ajeng dan Sekar, lalu berjalan ke kasir kedai hendak membayar pesanan. Karena mereka bertiga datang ke kedai mengendarai mobil milik Renata, Brilian berpamitan sebelum sampai ke parkiran. Karena letak parkiran sepeda motor dan mobil terpisah tidak terlalu jauh.


"Sampai jumpa teman-teman... Sampai jumpa Sekar... " pamit Brilian sambil melambaikan tangan.


"Daa... Brilain... Sampai jumpa.... " sahut Sekar,Renata dan Ajeng.


Di parkiran sepeda motor, Brilian melihat jam tangan yang ia kenakan. Waktu menunjukan pukul 22:30 pm. Ia sudah berjanji kepada Erlin hendak menelfonnya. Tangannya meraih ponsel dari dalam tas selempangnya.


"Hallo Erlin," sapa Brilian menelfonnya lagi.


"Ya. Gimana kak, jadi ke sini?" tanya Erlin.


"Baru mau kesitu. Kamu di tempat karaoke mana? di room berapa?" tanya Brilian balik.


"Di Happy Room kak, aku di room nomor 16," jawab Erlin menjelaskan.


"Oke. Aku kesitu ya," ujar Brilian.


"Iya kak," pungkas Erlin.


"Brum... Brum... Brum.... " suara knalpot sepeda motor Brilian.


Jarak tempuh dari kedai Cahaya Senja menuju hiburan malam Happy Room, tidak terlalu jauh, kurang lebih 1,5 kilometer. Lima menit kemudian, Brilian telah sampai di parkiran Happy Room. Ia lalu masuk dan menuju room karaoke nomor 16.


Sesampainya di depan pintu room nomor 16, ia lalu membuka pintu, kemudian masuk. Alangkah terkejutnya Brilian melihat Erlin, yang sedang duduk di sofa, dengan pakaian sangat sexy, sambil memegang mix dan memutar lagu karaoke.


"Kak Brilian... " ucap Erlin wajahnya berbinar-binar melihat kedatangan Brilian.


Erlin lalu berlari kecil dan memeluk Brilian. Namun Brilian hanya diam terpaku, melihat pakaian mini Erlin. Mengenakan celana jeans hot pants, dan tank top warna putih motif mickey mouse. Jaket sweter pink dan tas mini tergeletak di sofa. Beberapa botol bir juga ada di atas meja kaca di dalam room.


"Kamu habis minum bir?" tanya Brilian.


"Iya kak, tadi sama temen," jawab Erlin sambil melepas pelukannya.


"Sini kak duduk, ayo nyanyi," ajak Erlin manja, sambil mengandeng tangan Brilian.


"Apa aja kak, tinggal pilih di playlist, waktunya masih tersisa 40 menit kok," ungkap Erlin.


"Kamu aja deh... Aku duduk sini aja... " ucap Brilian grogi.


"Kamu kok culun sih kak, penampilan aja sangar, haha," ejek Erlin.


"Eh... Jangan meledek ya... Aku cuma grogi aja, aku belum pernah karaokean sebelumnya," terang Brilian.


"Pantesan... Culun, haha. Makanya ayo sekarang kita karaokean... Aku pengen denger suaramu kak... Ayolah... " pinta Erlin manja.


"Iya-iya... Ayo, nyanyi apa? eh, ngomong-ngomong, bir nya habis ya, hehe" cetus Brilian.


"Yee... Pengen minum bir kak? bentar aku pesenin," ucap Erlin.


"Kalau masih sih," ucap Brilian lugu.


"Masih banyak kak. sebentar ya," pungkas Erlin.


Erlin lalu berjalan di dekat pintu room, lalu menelfon kasir hendak memesan bir. Selanjutnya kasir menyampaikan kepada waiter, setelah itu bir di antar ke room 16 oleh waiter, ke tempat Erlin dan Brilian berada. Beberapa menit kemudian, bir pesanan Erlin dan Brilian telah sampai.


Mereka berdua karaoke sambil minum bir. Mereka berdua bersenang-senang, bernyan,dan bercanda di dalam room, sampai lupa waktu. 40 menit berlalu, waktu mereka karaoke telah habis. Jam menujukan pukul 23:46 pm. Erlin dan Brilian keluar dari room, lalu menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Rupanya room dan beberapa bir, sudah di bayar dua teman Erlin yang pergi begitu saja. Mungkin hendak kencan.


Erlin tinggal membayar satu botol bir yang ia pesan dengan Brilian tadi. Setelah pembayaran selesai, mereka berdua menuju parkiran depan Happy Room. Terlihat wanita-wanita pemandu lagu dengan pakaian super sexy, berjalan keluar masuk dari tempat hiburan malam tersebut.


Ternyata, wanita-wanita pemadu atau LC itu, beberapa kenal dengan Erlin. Mereka saling menyapa seperti biasa, ngrumpi-ngrumpi tidak jelas. Brilian duduk di atas sepada motornya sambil menghisap rokok, melihat dan mendengar obrolan mereka. Teman Erlin cukup cantik. Kebetulan Erlin mengenalkan temannya dengan Brilian,dia bernama,Aulia.


Cukup lama mereka berdua ngerumpi, sampai akhirnya Aulia handel, atau mendapat orderan memandu lagu. Sebagai pria biasa, yang memiliki insting seberti pria pada umumnya, Brilian menyayangkan wanita secantik Aulia, berprofesi sebagai pemandu, atau LC. Tapi, namamya kehidupan, mau bagaimana lagi. Lika-liku hidup setiap orang berbeda-beda. Brilian cukup sadar diri.


"Hey," Erlin membuyarkan lamunan Brilian.


"Owh, ada apa Erlin, sudah selesai?" tanya Brilian gugup.


"Selseai apanya...?" tanya Erlin.


"Tadi katanya mau menelfon temenmu," sambung Brilian.

__ADS_1


"Nggak tu. Hehe, bercanda-bercanda kak. Kenapa kak, kamu suka sama temenku tadi?" tanya Erlin.


"Uwe... Jangan sembarangan ya, kamu kok tanyanya gitu," papar Brilian.


"Habis... Kak Brilian ngelihatnya sampai melongo gitu sih... Haha," goda Erlin.


"Ah... Nggaklah, cuma heran aja," sahut Brilian.


"Heran kenpa?"


"Nggak apa-apa."


"Oh ya kak, ternyata gerbang masuk kosanku sudah tutup... Duh... Gimana ni.... " gerutu Erlin.


"Kok bisa?" tanya Brilian pura-pura kaget.


"Kalau hari biasa tutup jam sepuluh malem kak... Kalau malam minggu jam sebelas malem... Lah, sekarang malam minggu, tapi udah hampir jam dua belas malam... Huwa...." gumam Erlin.


"Duh bagaimana ya," cetus Brilian mencari ide.


"Gimana dong kak... " gerutu Erlin.


Brilian dan Erlin lalu ngobrol mencari cara solusi. Beberapa menit kemudian, akhirnya Brilian punya ide.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja, ini kan malam minggu," usul Brilian memberanikan diri.


"Jalan-jalan kemana kak?" tanya Erlin.


"Ke pantai," cetus Brilian.


"Yang benar kak... Nanti kalau ketahuan cewekmu bagaimana kak... Hayo," gumam Erlin.


"Ah... Aku nggak punya cewek,"


"Jangan bohong kak... "


"Benaran. Udah ayok, dipakai dulu jaketmu," ujar Brilian.


"Siap kak..." pungkas Erlin lalu memakai sweter warna pink miliknya.


"Brum... Brum... Brum...."


Mereka lalu berboncengan, hendak menuju pantai. Yang berjarak 29 kilometer, dengan waktu tempuh kira-kira 43 menit. Erlin berpegangan erat pada Brilian, kebetulan udara malam cukup dingin. Di perjalanan, Erlin memejamkan mata sambil memeluk Brilian dari belakang. Melewati jalanan yang sepi, kadang berpapasan dengan beberapa kendaraan.


50 menit kemudian, mereka di Pantai Biru. Dinamakan Pantai Biru karena, nuansa di sekitar pantai berwarna biru. Di pinggiran pantai, juga terdapat landasan para layang, yang membuat pemandangan pantai lebih terlihat jelas, jika di lihat dari landasan para layang tersebut.


Brilian lalu memberhentikan sepeda motornya di landasan para layang itu. Rupanya Erlin tengah tertidur pulas sambil kedua tanganya memeluk erat tubuh Brilian.


"Erlin, bangun, kita sudah sampai," panggil Brilian.


Erlin lalu membuka matanya, di depannya nampak hamparan lautan luas. Bulan purnama dan bintang-bintang menghiasai langit malam.


"Kak, astaga, maaf aku sampai ketiduran... Wah pemandangannya indah sekali.... " ungkap Erlin.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Brilian.


Mereka berdua menikmati pemandangan laut dan langit malam di pantai. Erlin turun dari sepeda motor Brilian, ia berdiri memandang ke arah laut.


"Ayo kak kita jalan ke sana," ajak Erlin menunjuk ke arah karang.


"Ngapain... Udah di sini saja," ujar Brilian.


"Ayolah kak... " ajak Erlin manja, sambil menarik tangan Brilian.


"Iya-iya sebentar, kamu kok sukanya maksa sih," Brlian lalu mensetandarkan sepeda motornya.


"Hehe, iya kak," pungkas Erlin.


Mereka berdua berjalan melewati pasir pantai yang hanya berjarak beberapa meter saja, menuju karang di pinggiran laut. Setelah sampai di atas karang, deburan ombak pantai menerjang karang yang besar nan kokoh. Terlihat juga, lampu-lampu perahu nelayang berlayar di tengah lautan.


"Ahhh... " desis Erlin melihat deburan ombak. Kedua tangannya memeluk tanganya kanan Brilian, layaknya sepasang kekasih yang sedang kencan.


Mereka lalu duduk berdua di atas karang. Hanyut di dalam suasana. Mata mereka saling menatap satu sama lain. Angin malam membelai rambut panjang Erlin yang sedikit di ikat ke belakang. Perasnya cantik nan imut. Sesekali Erlim membasahi dan melipat ke dalam bibir tipisnya, yang membuat Brilian agak terpesona melihatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2