Brilian

Brilian
Reaksi Kimia


__ADS_3

Sudah dua hari pasca keributan diacara Battle String Rock Fest. Kini luka sayatan pada wajah Brilian sudah sembuh. Tinggal luka memar yang masih sedikit nampak. Ia melepas perban yang melingakar di kepalanya. Karena hari ini, ia bertekad untuk datang ke rumah Sekar. Namun sebelum itu, Brilian harus menyelesaikan rutinitas di rumahnya terlebih dahulu.


Tiga jam kemudian. Jam tangan Brilian menunjukan pukul 10:06 am. Ia bersiap-siap hendak ke rumah Sekar. Kali ini Brilian berpenampilan sedikit rapi, karena ia khawatir kalau ayah Sekar yang menemuinya.


"Brum... Brum... Brum.... "


Ia melaju dengan kecepatan sedang, di jalanan yang tidak begitu ramai. Dengan perasaan yang tidak menentu. Dalam hatinya, ia mempersiapkan jawaban-jawaban yang mungkin Sekar akan tanyakan. Di tengan perjalanan, ia sesekali mencoba menelfon Sekar, namun tidak ada respon.


Beberapa menit kemudian,Brilian telah sampai di depan rumah Sekar. Brilian lalu memsetandarkan sepeda motor Cb klasiknya, di dekat pagar depan rumah Sekar. Ia lalu berjalan di depan pintu pagar rumahnya Sekar.


"Permisi... "


"Sekar... " panggil Brilian sedikit berteriak dari pintu pagar rumah Sekar.


"Ya... Sebentar.... " terdengar suara mirip suara Sekar dari dalam rumahnya.


Beberapa detik kemudian, nampak seorang perempuan keluar dari dalam rumah Sekar, wajahnya juga mirip dengan Sekar. Lalu berjalan ke arah Brilian, kemudian bertanya.


"Mencari siapa kak? maaf dengan kakak siapa ya?" tanya seorang perempuan yang mirip sekali dengan Sekar.


"Owh, saya Brilian kak. Saya mencari Sekar, apa Sekarnya ada kak?" tanya Brilian balik.


"Owh... Brilian. Ya sebentar, saya panggilkan. Mari, saya kakaknya Sekar," ajak Kakak perempuan Sekar sambil membukakan pintu pagar rumahnya.


"Baik kak,terimakasih. Kak Geofani ya?" tebak Brilian.


"Iya. Kok tau?" tanya Geofani sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ya... Kemarin-kemarin Sekar sering cerita," jawab Brilian.


"Owh... Gitu. Tunggu sebentar ya, saya panggilkan dulu," ucap Geofani.


"Baik kak," pungkas Brilian.


Geofani lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya, lalu menuju kamar Sekar dengan pintu tertutup.


"Dek... Sekar, ada yang nyari tu," seru Geofani.


"Siapa kak... " sahut Sekar.


"Katanya namanya Brilian, menunggu di teras depan," jelas Geofani.


"Aduh kak... Bilang aja aku sedang tidak di rumah, kok tadi nggak bilang sama aku dulu sih kak.... " seru Sekar dari dalam kamarnya.


"Eh, jangan gitu... Ditemuin aja dulu... Aku dah terlanjur bilang kalau kamu di rumah.... " desak Geofani.


"Bilang aja aku lagi tidur kak, atau apalah... Aku males ketemu dia.... " ujar Sekar.


"Loh, jangan gitu dong... Kasian dia... Ditemui sebentar dek," paksa Geofani.


"Ah... Kakak, iya iya... Sebentar aku keluar," sahut Sekar.


"Nah... Gitu dong, jangan lupa dibuatkan minum," tutur Geofani sambil berjalan ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian,Sekar keluar dari dalam kamarnya menuju teras depan rumahnya. Disana Brilian sedang duduk menunggu.


"Sekar," ucap Brilian lalu berdiri dan memandang Sekar.


"Apa," jawab Sekar singkat.


"Kamu marah ya,? tanya Brilian.


"Nggak. Oiya, mau minum apa?" papar Sekar.


"Tidak usah repot-repot Sekar, tadi di rumah sudah minum," sambung Brilian.


"Beneran... "

__ADS_1


"Iya... "


Mereka berdua lalu berbincang-bincang duduk berhadapan. Brilian langsung to the poin, menanyakan hubungan mereka.


"Jadi, bagaimana hubungan kita?" tanya Brilian agak canggung.


"Owh... Kita bisa kan temenan biasa," jawab Sekar.


"Deg,"


Brilian diam sejenak. Jantungnya berdebar-debar setiap mendengar ucapan Sekar.


"Jadi. Begitu ya," ucap Brilian sambil menunduk.


"Iya. Kenapa emang?" tanya Sekar dengan nada dingin.


"Tidak apa-apa. Ya udah, aku pamit dulu ya Sekar. Maaf sudah mengganggu," pamit Brilian lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah, jadi cuma tanya itu saja?" tanggap Sekar.


"Iya. Habis ditelfon tidak pernah diangkat. Daa Sekar...." cetus Brilian lalu berjalan ke arah sepeda motornya.


Sekar hanya diam sambil menghela nafas dalam, lalu melepar senyum simpul dan melambaikan tangannya ke arah Brilian. Setelah melihat Brilian pergi mengendarai sepeda motornya. Sekar lalu masuk kembali ke rumah kemudian hendak masuk ke kamarnya. Namun saat hendak membuka pintu kamarnya, Geofani kakaknya tiba-tiba muncul.


"Loh, temanmu sudah pulang?" tanya Geofani.


"Sudah kak," jawab Brilian.


"Owh... Lagi marahan ya... Cie cie pakai marahan segala.... " goda Geofani.


"Nggak, apaan sih kak," sahut Sekar lalu masuk ke kamar sambil menutup pintu.


"Dih, segitunya... Hati-hati lho dek, nanti marah bisa jadi cinta lho.... Hihi," goda Goefani.


"Tau lah kak," pungkas Sekar.


***


Di tempat itu, Brilian sedang menunggu sahabat lamanya bernama Alex. Mereka sudah janjian untuk bertemu di tempat tersebut. Alex sendiri adalah seorang b*ndar d*ug. Rupanya Brilian hendak membeli o*at-ob*tan t*rlarang itu. Entah apa yang tebesit di fikiran Brilian. Tidak lama kemudian, Alex datang menghampiri Brilian dengan berjalan kaki, karena rumah Alex tidak jauh dari bangunnan kosong bekas asrama tersebut.


"Halo bro, maaf lama," sapa Alex.


"Owh, halo coy, barusan aja kok," papar Brilian.


"Apa kabar ni, lama nggak jumpa," ujar Alex basa-basi sambil duduk di sebuah benteng rendah yang penuh coret-coretan pilok dekat Brilian dan sepeda motornya berada.


"Ya... Beginilah,kamu sendiri apa kabar? makin cakep aja coy,haha," Brilian tanya balik.


"Ah... Bisa aja. Baik-baik... " jawab Alex sambil mengambil sesuatu yang nampak rahasia dari dalam tas srempangnya.


Rupanya Alex sedang mengabil barang t*rlarang tersebut untuk mereka konsumsi bersama. Alex menyodorkan sesuatu yang rahasia ke arah Brilian.


"Wah,jangan di sini coy, banyak orang di sana," ujar Brilian panik sambil melihat ke arah jalan yang nampak beberapa kendaraan melintas.


"Sudah tidak apa-apa, cepat ambil," bisik Alex memberikan b*tiran d*ug tersebut.


"Gila kamu coy," gumam Brilian lalu menelan barang tersebut dengan cepat.


"Dah... Jangan banyak komentar bro, ni r*kok," sambung Alex menawarkan rokok kepada Brilian.


Karena reaksi bahan k*mia yang terkandung dalam b*tiran d*ug tersebut. Mood untuk m*rokok Brilian kembali muncul.


"Terimakasih bro. Sebenarnya saya sudah cukup lama berhenti m*rokok," tutur Brilian.


"Halah... Oh ya, mau ambil berapa bro?" tanya Alex.


Brilian lalu menjawab barang yang hendak ia beli dengan menyebutkan jumlah. Harga barang itu cukup fantastis, ratusan ribu hingga mencapai jutaan rupiah, tergantung jenis barang. Dulu Brilian pernah menjadi pecandu, namun belum tergolong pecandu berat. Bertahun-tahun dia pernah terjerumus dalam dunia hitam, lalu suatu ketika sembuh. Namun kini, nampaknya mulai terjerumus lagi. Bukan terjerumus, tetapi lebih tepatnya memjerumuskan diri.

__ADS_1


Setelah transaksi selesai. Brilian menghisap r*kok dengan sangat menikmati, disetiap halai nafasnya dan bulatan-bulatan yang terbentuk dari asap r*kok. Perasaan dan fikirannya seolah-olah sedang berada dipuncak kenikmatan, atau sedang fly. Semua beban fikiran seolah-olah seketika hilang karena reaksi k*mia.


Brilian dan Alex menikmati efek dari reaksi k*mia tersebut. Mereka berbincang-bincang dan bersenda-gurau, ditambah lagi mereka sudah cukup lama tidak berjumpa,hampir enam tahun. Setelah cukup lama mereka bersenda-gurau, rupanya Alex membawa bebetapa cat pilok di dalam tasnya. Ia mengajak Brilian untuk membuat mural graffiti pada tembok diantara ratusan graffiti yang ada di tembok-tembok tersebut.


"Ayo bro kita ngeboomber, haha, sudah lama kan kita tidak coret-coret bersama," ajak Alex.


"Aduh... Males ni coy.... " gerutu Brilian.


"Ayolah... Ni pilih aja warna yang kamu suka, dah di sini saja jangan jauh-jauh," desak Alex sambil menyemprotkan cat piloknya ke dinding yang masih kosong dari gambar.


Karena terus dipaksa, akhirnya Brilian menyetujui ajakan Alex. Brilian memang hobi dalam hal seni semacam itu. Sudah lama sekali ia tidak membuat mural graffiti. Mereka berdua membuat gambar-gambar yang muncul dalam benak mereka. Entah, sudah berapa banyak gambar dan coretan-coretan tulisan yang ada di bangunan kosong itu, mungkin sudah mencapai ribuan.


Tempat tersebut menjadi tempat favorit nongkrong anak-anak muda yang bisa dibilang liar atau urakan. Mereka biasa meminum minuman keras di tempat itu. Terlihat dari sisa-sisa, botol-botol m*ras, putung-putung r*kok, dan gelas-gelas pecah yang terlihat di sudut-sudut bangunan.


Alex dan Brilian pun sudah selesai membuat mural graffiti. Lebih tepatnya gambar graffiti karakter. Karena Brilian membuat gambar wajah seorang wanita yang cukup besar. Wajah tersebut mirip dengan wajah Sekar. Mungkin saat ini yang ada dalam benak Brilian salah satunya wajah Sekar.


"Uedan... Gambarmu masih keren seperti dulu bro," puji Alex bertepuk tangan.


"Ah, biasa aja coy. Gambarmu juga keren," puji Brilian balik.


Oh ya coy, aku pamit dulu ya, mau berangkat kerja ni.... Hehe, " pamit Brilian.


"Keburu-buru banget sih bro. Tapi, Iya deh kalau mau kerja," ujar Alex.


"Ayo coy saya antar ke rumah," ajak Brilian.


"Terimakasih bro. Tapi saya jalan kaki saja, cuma belakang situ kok rumahku," jelas Alex.


"Oke coy, duluan ya," pungks Brilian.


"Brum... Brum... Brum.... "


Brilian membelokan sepeda motornya ke arah selatan. Ia hendak pulang ke rumah terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja. Jarak dari tempat Brilian berada menuju rumahnya, berjarak sekitar 5 kilometer. Di perjalanan,dengan kondisi fly, Brilian mengendarai sepeda motornya dengan pelan-pelan, ia masih ingat tragedi kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu di depan tepat ia bekerja.


***


Di sisi lain, Sekar sedang berbaring di ranjang tempat tidurnya, sambil memandangi lukisan di pantai Pasir Putih yang dulu diberikan oleh Brilian. Tiba-tiba,lukisan itu jatuh ke lantai.


"Brak...!"


Sekar pun kaget, ia lalu bangun,dan mengambil lukisan tersebut. Rupanya tali pada lukisan itu terputus. Sekar lalu membawa lukisan tersebut ke gudang belakang dan menaruhnya di sana. Bukan tanpa alasan ia meletakan lukisan tersebut di gudang. Rupanya Sekar ingin melupakan Brilian. Namun ia sebenarnya masih mengharapkannya, jika Brilian mau berubah.


Di balik lukisan yang tiba-tiba jatuh, perasaan Sekar semakin aneh. Sekar sendiri memiliki firasat atau intuisi yang tajam. Tiba-tiba, ingatannya mengarah kepada Brilian. Ia hendak menghubunginya,namun bimbang. Akhirnya Sekar kembali masuk ke dalam kamarnya, mengambil gitar akustik, lalu memetiknya. Lagi-lagi ia ingat Brilian. Seolah-olah gerak reflek jari-jarinya memetik alunan lagu yang pernah Brilian berikan padanya beberapa waktu lalu. Ingatanya kepada Brilian pun semakin kuat.


"Brilian. Sebenarnya, kamu adalah satu-satunya cowok, yang mampu meluluhkan hatiku. Tetapi, kenapa... Ah sudahlah," gumam Sekar dalam hati.


Sekar tenggelam dalam lamunan, memegang gitar akustik sambil berbaring. Tidak banyak aktivitas Sekar di rumah, karena jadwal kuliah sedang libur. Ayah dan Ibunya juga sedang berada di luar kota beberapa minggu. Sekar hanya di rumah bersama kakaknya Geofani. Selama ini, Sekar memang belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Ada beberapa, namun hanya teman biasa. Berbeda dengan Brilian. Meski belum terlalu lama kenal, tetapi Sekar merasa seperti memiliki ikatan batin dengannya.


Sekar tersenyum-senyum sendiri saat ingat kebersamaannya dengan Brilian. Ia cowok yang sederhana di mata Sekar. Dan mempu menghiburnya dengan segala tingkah laku atau ucapannya. Saat lamunan Sekar semakin dalam, tiba-tiba ponselnya berdering, tanda ada pesan masuk. Sekar lalu membukanya.


Ternyata pesan singkat itu dari sahabat dekatnya, yaitu Renata. Rencananya Renata hendak main ke rumah Sekar nanti malam besama Ajeng. Sekar pun mengiyakan dan sangat mengarapkan kedatangan mereka.


"Dek... Kakak keluar dulu ya," seru Geofani pamit dari luar kamar Sekar.


"Mau kemana kak?" tanya Sekar.


"Mau tempat teman kakak, ada janjian tadi," jelas Geofani.


"Baik kak. Tolong gerbang dan pintu depan dikunci ya kak... " ujar Sekar.


"Baik," pungkas Geofani sambil berjalan keluar rumah.


***


Waktu menunjukkan pukul 15:20 pm. Saatnya Brilian berangkat bekerja. Kini ia merasa sangat bersemangat, namun sorot matanya sayup karena efek bahan k*mia yang ia konsumsi. (Benar-benar hal yang tidak patut untuk dicontoh.)


Akankah Brilian terjerumus kembali ke dunia hitam. Lalu Sekar akan menyelamatkannya, atau ada seseorang selain Sekar yang mampu menyadarkan Brilian. Sebelum ia benar-benar kembali terjerumus ke dunia hitam.

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya, dalam Battle String....


Bersambung...


__ADS_2