Brilian

Brilian
Clovuz


__ADS_3

Satu minggu kemudian, acara Battle String Rock Fest semakin dekat. Brilian,Taka dan Berto sudah tiga kali latihan di studio musik. Tiga hari tersebut memanfaatkan waktu luang disela-sela kerja. Taka satu kali terpaksa izin, karena demi latihan. Lalu Berto satu kali izin satu kali alpa. Sedangkan Brilian sendiri tetap masuk kerja, kerena waktu latihan di studio musik selalu malam hari. Kebetulan hari ini pukul 21:30 pm, mereka bertiga sedang menunggu antrian hendak latihan,sambil berbincang-bincang.


"Oiya, ada yang punya ide buat nama band nggak? kalau nggak ada, aku punya ide ni," ungkap Brilian.


"Apa itu nama bandnya?" tanya Taka dan Berto.


"Clovuz," papar Brilian.


"Bagus," sahut Taka.


"Apa makna Clovuz?" tanya Berto.


"Clovuz diambil dari kata Clover,Clover yang berarti daun semanggi. Daun semanggi sendiri bermakna keberuntungan. Jadi semoga keberuntungan selalu menyertai kita,haha," canda Brilian menjelaskan.


"Oke. Bagus. The Clovuz atau Colvuz aja?" tanya Taka.


"Kayaknya Clovuz aja coy. Bagaimana menurutmu?" tanya Brilian kepada Berto.


"Kalau memurutku Clovuz aja, soalnya kalau The Clovuz,sudah banyak yang pakai kata the," tambah Berto menjelaskan.


"Oke kalau gitu, Clovuz aja. Gimana Taka,fix?" tanya Brilian.


"Oke fix," jawab Taka.


"Berto, fix?" tanya Brilian.


"Fix," tegas Berto.


"Oke, fix, kita memakai nama Clovuz untuk ikut acara Battle String besok ya. Semoga lolos," gumam Brilian menegaskan.


Karena dua studio di 86 Musik Studio semua penuh. Disela-sela obrolan mereka,tiba-tiba di beri tau oleh Sidik penjaga studio.


"Bro, siap-siap ya, studio musik A satu lagu lagi habis," seru Sidik penjaga studio musik.


"Habis apanya bro?" sahut Taka.


"Huss. Oke oke bro kami sudah siap," teriak Brilian dari luar kasir studio.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Saking asiknya ngobrol. Ternyata yang mereka tunggu adalah Sekar dan teman-temannya. Brilian tidak menyadari itu. Ia sedang ngobrol dengan Taka dan Berto sambil merokok,kayak dapur kebakaran. Karena mereka bertiga merokok secara bersamaan. Tiba-tiba Sekar berdiri di pintu keluar dekat kasir studio musik. Sedangkan Sidik sedang mengecek di dalam studio.


"Ehem... Ehem," Sekar berdiri di depan pintu sambil memincingkan matanya ke arah Brilian.


Brilian yang melihat Sekar berdiri di depannya,membuatnya bengong sejenak. Seolah-olah tidak percaya kalau yang lihat adalah Sekar. Sambil mengucek matanya,ia memperhatikan lagi, ternyata.


"Sekar... Se, sedang apa di sini?" tanya Brilian agak gugup.


"Kayak lihat hantu aja. Kenapa kaget. Dari ngebandlah. Kamu sendiri ngapain? ow... Jadi ngrokok ya," tegur Sekar dengan nada seolah-olah sedang marah.


"Owh ini, nggak kok," Brilian sambil menghisapnya lagi.


"Loh, gimana sih, nggak kok malah dihisap lagi rokoknya," tegur Sekar lagi.


"Iya ini tak matikan," Brilian sambil mematikan api rokoknya.


Di tengah obrolan mereka, Taka dan Berto hanya bengong. Sesekali melihat ke arah Sekar, pindah lagi ke arah Brilian. Kayak ngelihat orang sedang badminton.


"Dimatikan karena udah habis kan," desak Sekar.


"Nggak... Baru aja satu batang ini. Eh ngomong-ngomong,kok tumben banget ngeband di sini Sekar. Bukannya biasanya studio musik Puspadirta?" tanya Brilian mengalihkan pembicaraan.


"Owh... Jadi kalian pa.... Emb" Berto hendak mengatakan sesuatu.


Brilian langsung membungkam mulut Berto dengan tangan kanannya.


"Sssttt..... Jangan nimbrung," tegas Brilian.


"Iya... Iya.... " gumam Berto.


"Kenapa emang, di Puspadirta penuh semua, kebetulan tadi di sini kosong," jelas sekar.


"Owh... Gitu ya sa.... " Brilian hendak mengatakan sesuatu.


"Sis, siapa mereka,yuk," tanya Renata keluar dari studio bersama Ajeng.


"Eh hallo, hai," sapa Taka.


"Owh... Mereka, siapa sis namanya,lupa aku," tanya Renata.


"Aku Taka, masak lupa sama cowok seperti saya, haha.... " sahut Taka.


"Idih... Pede. Owh Taka... Siapa ya," gumam Renata pelupa.


"Haduh... Lupa ya.... Hiks hiks," sambung Taka.


"Itu lho sis yang dulu kita kenalan di Puncak Cangkir Kopi.... " bisik Sekar pada Renata.


"Owh... Mereka, jadi yang namanya Brilian itu sis yang kamu ceritakan kemarin," bisik Renata.


"Iya," jawab Sekar.


"Pada bisik-bisik apa sih," ujar Brilian.


"Hehe, nggak apa-apa kak," sahut Renata.


"Ya udah,aku duluan ya Brilian, daa... Semuanya. Yuk sis," ajak Sekar sambil berjalan ke arah parkiran studio.


"Iya Sekar, hati-hati di jalan," sambung Brilian.


"Daa... " sahut Berto dan Taka.


"Bro, stuido sudah siap. Jadi mau ngeband nggak ni," seru Sidik dari dalam ruang kasir studio.


"Jadilah... Pala lo peyang nggak jadi," bentak Taka.


"Huss, coy," tegur Brilian.


"Hahahaha," tawa Berto.


"Dim... Dim...." klakson sepeda motor matic Renata, Ajeng dan Sekar.


Brilian melambaikan tangan ke arah mereka. Lalu berjalan masuk ke studio musik. Sesampainya di dalam studio musik, mereka langsung mengarap lagu yang sudah mereka catat dalam daftar list. Tidak lupa,Brilian izin dengan penjaga studio hendak mengambil gambar di dalam studio. Setelah di izinkan. Brilian dan kawan-kawan merekam vidio dengan kamera handycam, yang mereka pasang di depan mereka.


 


\\\\🎸*\\\\\


 


Di sisi lain, karena hari ini malam minggu. Renata,Sekar dan Ajeng, berhenti di kedai makanan jus favorit mereka. Yang terletak di dekat taman kota Vusan di dareah Sabiz. Sambil menunggu pesanan dan makanan yang mereka pesan mereka sambil ngobrol-ngobrol.

__ADS_1


"Jadi gimana sih ceritanya soal Brilian tadi, kok bisa kalian...? " tanya Renata.


Sekar lalu memotong pertanyaan dan menjawabnya.


"Jadi, waktu itu saya sedang ikut live perform di studio Radio Suara Indie. Nah waktu itu saya diantar kak Geofani ke sananya, karena sepada motor cuma satu. Sampai selesai acara kak Geofani tidak menjemput juga, saya hubungi tidak bisa. Ya udah singkat cerita, saya di antar oleh Brilian yang kebetulan dia juga ikut acara itu," jelas Sekar.


"Owh... kamu di antar sama Brilian,?" tanya Ajeng.


"Iya," jawab Sekar.


"Saat itu juga dia ngungkapin perasaannya?" tanya Renata.


"Nggak... Ceritanya panjang. Kita sempat ikut live perform lagi di Puncak Cangkir Kopi beberapa waktu lalu. Terus beberapa hari kemudian,kita ke pantai,karena Brilian berjanji mau ngajak aku jalan-jalan...Nah disitulah, " terang Brilian.


"So sweet..." sambung Ajeng.


"Wow,di pantai, waktu itu ya, pas saya lagi di luar kota?" tanya Renata.


"Iya," jawab Sekar.


"Aku nggak tau juga. Waktu itu aku juga kaget. Dia asik banget orangnya,dan yang bikin ketawa tu waktu ngajak ke pantai, tapi mukanya bonyok-bonyok, hahahaha,ketawa sampai perut sakit kalau inget itu," terang Sekar.


"Loh, kenapa bonyok-bonyok sis?" tanya Renata.


"Iya," sahut Ajeng.


"Jadi waktu itu, dia hampir ribut sama salah satu peserta perform gitu. Kayaknya sih dia cemburu karena aku di ajak ngobrol dan kenalan sama mereka. Nah di situ bisa saya lerai. Tapi setelah acara selesai,dan aku di antar pulang. E di jalan berantem, katanya dia di keroyok tiga orang, kasian juga sih,tapi bandel, gemes jadinya," jelas Sekar.


"Cie... Cie... " goda Renata.


"Kasian ya sis, dikeroyok," tambah Ajeng.


"Iya. Setelah itu... Kita ke pantai Pasir Putih. Sebenarnya dia sudah pernah ngungkapin perasaannya, tapi tak jelaskan pelan-pelan kalau kita hanya sebatas teman. Tapi waktu itu, nggak tau juga, aku merasa tatapan matanya seolah-olah kita memiliki banyak kesamaan. Dan aku hanyut oleh perasaan itu di dalam suasana yang... Aku sendiri memeluknya dengan erat, seolah-olah aku tidak mau kehilangannya.... " ungkap Sekar.


"Hiks hiks, udah sis, aku nangis ni.... " sahut Renata.


"So sweet ya, sayang sekali waktu itu aku juga lagi di luar kota, tidak bisa ikut deh.... " terang Ajeng.


"Iya sis. Loh kenapa nangis sis, emang ada part yang sedih?" tanya Sekar.


"Terharu sayangku.... Hiks hiks," jelas Renata.


"Owh... Berarti aku berbakat jadi pendongeng dong, hehe," canda Sekar.


"Iya sis... Hiks hiks, " sahut Renata.


"Udah udah... Yuk kita makan dulu, tu waiternya menuju kemari," pungkas Sekar.


Waiter kedai pun kemudian datang membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan. Tiga salad buah dan jus favorit mereka.


 


\\\\🎸*\\\\\


 


Di samping itu Brilian tengah mengarap lagu-lagu mereka. Disela-sela mereka latihan dan merekam vidio. Brilian mengajak mengarap lagu barunya, yang rencananya akan dia berikan kepada Sekar. Karena lagu tersebut menurutnya cocok di bawakan oleh vokal suara wanita. Lagu tersebut berjudul Udara Pagi.


Lirik dan chord,


Intro :


Embun pagi menyambut...


Gerimis tipis di pagi itu...


Berlari-lari kecil di pagi...


Melihatmu bersepeda...


Begitu mempesona...


Reff :


Sambut pagi dengan senyuman....


Penggalan lirik dan chord lagu Baru Brilian dengan judul Udara Pagi.


Lagu itu rencananya akan ia berikan kepada Sekar. Karena Brilian tau dengan kebiasaan Sekar, ia sering bersepeda di pagi hari. Waktu itu Brilian pernah berjumpa dengannya. Dimana saat pagi itu gerimis tipis menyaksikan pertemuan mereka. Dari situlah lagu dengan judul Udara Pagi itu ia buat khusus untuk Sekar. Semoga Sekar mau menerimanya.


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22:45 pm. Satu jam selepas mereka latihan di dalam studio. Lampu peringatan waktu habis pun menyala. Masih tersisa beberapa menit untuk satu lagu. Satu lagu terakhir,Brilian,Taka dan Berto mengarap lagu cover dari The SIGIT dengan judul New Hook.


Lirik lagu,


I gave evil my heart...


And escaped to the dark...


I'm weak in so many ways...


I've worked so hard...


To get the band to the chart...


But I'll die anyway....


Penggalan lirik lagu The SIGIT New Hook.


Menjadi lagu penutup latihan mereka malan ini. Berto saking bersemangatnya memukul drum, sampai-sampai stick drum patah menjadi dua bagian. Mereka harus membayar tambahan untuk stick yang patah. Setelah pembayaran selesai. Mereka berniat hendak ngopi-ngopi di suatu tempat. Brilian punya ide untuk mengajak di kedai dekat taman kota. Ia tidak tau jika Sekar dan teman-temannya sedang di sana. Karena ia sendiri tidak sempat melihat ponselnya.


"Brum... Brum... Brum.... "


Brilian, Taka dan Berto menuju kedai Cahaya Senja,nama kedai di dekat taman kota tersebut.


Sesampainya di sana, sekitar perjalanan lima menit dari 86 Musik Studio, mereka bertiga memesan tiga kopi favorit mereka,dan satu porsi Fried Fries jumbo. Dengan isi di dalamnya, kentang goreng, sosis goreng, dan tahu isi daging cincang,yang di sajikan di dalam satu piring jumbo.


Setelah memesan pesanan, dan hendak duduk di kursi kedai,tak disangka, Sekar duduk di tempat sebelah mereka hendak duduk juga, smpai akhirnya salah satu dari mereka mengatahui Brilian dan yang lainnya.


"Sis, itu kan Brilian, Taka dan Berto," tunjuk Ajeng.


"Iya, panjang umur dia, baru aja di bicarain," ujar Renata.


"Mana sih?" tanya Sekar sambil pandangannya mencari.


"Itu sis, yang pakai jaket jeans hitam... Sama temennya yang pakai baju putih dan sweter merah, " jelas Renata.


"Owh... Itu, biarin aja deh. Kita pura-pura nggak lihat aja. Aku mau ngelihat dia ngerokok nggak," ungkap Sekar.


"Gitu ya sis. Oke deh," sahut Renata.

__ADS_1


"Tapi kayaknya dia tau kita di sini deh sis. Tu lihat Brilian berjalan ke arah sini," tunjuk Ajeng.


Brilian berjalan dengan mengenakan jaket jeans warna hitam, tidak dikancingkan dengan kaos dalam berwarna putih. Dan mengenakan celana kargo warna hitam juga, memakai sepatu casual pria.


"Owh... Kalian di sini.... Hai Sekar," sapa Brilian.


"Hai Brilian," jawab Renata dan Ajeng.


"Lagi sibuk nggak,aku mau bicara sama Sekar sebentar bisa?" pinta Brilian.


"Bentar ya sis," ucap Sekar kepada Renata dan Ajeng.


"Mau bicara apa, tu rokoknya di matikan dulu," tegur Sekar.


"Oiya,maaf lupa, hehe," gumam Brilian.


"Yuk di sebelah sana bentar," ajak Brilian.


Mereka berdua lalu berjalan di kursi meja kedai yang kosong kemudian duduk berhadapan.


"Gini, soal tadi, aku minta maaf ya Sekar," ucap Brilian menatap sambil memegang kedua telapak tangan dan jari-jari lentik Sekar.


"Soal apa sih?" papar Sekar.


"Tadi waktu di studio...." jelas Brilian.


"Owh itu," Sekar menatap mata Brilian sambil menahan hendak tertawa.


"Kenpa sih,ada yang lucu?" tanya Brilian.


"Nggak... Kamu kenapa sih,aku tu nggak apa-apa, nggak ada masalah apa-apa," jawab Sekar.


"Yang benar? Hore... " sorak Brilian.


"Cuma..." ucap Sekar.


"Cuma apa? " expresi Brilian berubah seratus delapan puluh derajat.


"Cuma, kamu katanya udah nggak ngrokok kok masih aja ngrokok sih?" tanya Sekar.


"Owh, kalau itu... Aku.... "


"Dah dah... Bahas yang lain aja, aku tau maksudmu,dah malem juga ni," ungkap Sekar melapas pegangan tangan Brilian.


"Fiuh..." Brilian menghela nafas.


"Udah mau pulang ya?" tanya Brilian.


"Ya bentar lagi mungkin... " jawab Brilian.


"Oiya, ngomong-ngomong aku aku punya lagu untukmu, kamu mau nggak?" tanya Brilian.


"Wah... Benarkah, lagu apa?" tanya Sekar penasaran.


"Coba mana ponselmu, aku kirim via bluetooth. Tadi di studio sempat saya rekam. Ya gak begitu jernih sih," pinta Brilian menjelaskan.


"Boleh," Sekar menghidupkan koneksi bluetooth.


Pesan terkirim. Udara pagi.Wav.


"Itu, nama filenya udara pagi ya, judul lagunya juga Udara Pagi," terang Brilian.


"Asik, oke. Nanti coba aku dengerin di rumah ya, yuk kita kembali ke sana, kasian pada nunggu," ajak Sekar sambil berdiri hendak menggandeng Brilian.


"Ayok," sahut Brilian sambil menggandeng tangan Sekar.


Mereka berdua lalu berjalan ke tempat masing-masing.


"Ehem ehem, gandeng-gandengan tangan ni... " goda Renata.


"Hiss... Apaan sih sis," Sekar melepaskan gandengannya.


"Daa... Brilian," lambai Sekar sambil kembali duduk.


"Daa... Sekar, daa...teman-teman.... " lambai Brilian ke arah Sekar, Renata dan Ajeng.


Ia lalu berjalan ke arah Taka dan Berto. Di sana rupanya pesanan mereka sudah datang. Taka dan Berto sedang menikmati Fried Fries dan kopi sambil merokok.


"Wah... Mantap ni," ucap Brilian kembali duduk.


"Habis ngapai coy, wah nggak ajak-ajak.... " gumam Taka.


"Nggak ngapain-ngapain, cuma ngasih lagu yang tadi aja.... " jelas Brilian.


"Owh.... Eh ngomong-ngomong, itu yang sebelah kanan Sekar siapa namanya,lupa," tanya Taka.


"Renata maksudnya," jawab Brilian.


"Iya. Cantik juga ya dia, yuk kita samperin," ajak Taka.


"Sana samperin aja, tapi mereka sebentar lagi pulang," jelas Brilian.


"Ah... Nggak jadi deh kalau mau pulang.... " gerutu Taka.


"Nggak apa-apa coy,sana samperin,tak tunggu sini aja sambil makan, haha" goda Berto.


"Ah... Besuk ajalah. Tu lihat dia senyum ke arah ku... Hai.... Renata," lambai Taka.


Ternyata Renata tidak tersenyum ke arah Taka, melainkan ke arah Sekar yang berhadapan dengannya. Tidak lama kemudian Sekar dan kedua temannya beranjak dari kedai hendak pulang.


"Duluan ya teman-teman," pamit Sekar.


"Daa... "


"Iya Sekar, hati-hati di jalan, salam ya buat Renata, " seru Taka.


"Tu sis, dengar sendirikan," bisik Sekar kepada Renata.


"Apaan sih sis, aku sudah punya cowok," bisik Renata.


"Hmmm... Daa teman-teman...." lambai Ajeng.


"Daa... Ajeng.... " sahut Berto.


"Kapan-kapan battle main drum ya...." tantang Berto bercanda.


"Siap kak.... " jawab Ajeng.


Mereka lalu meninggalkan kedai kemudian pulang. Sedangkan Brilian,Taka dan Berto masih di kedai Cahaya Senja menikmati malam minggu.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2