Brilian

Brilian
Persahabatan


__ADS_3

Sesampainya di tempat kerja. Kini Brilian datang lebih awal, 30 menit sebelum berganti shif.


"Hai Erlina," sapa Brilian mambuka pintu kaca JT Guitar Costum.


"Hai juga kak Brilian. Wah... Tumben datang lebih awal," ucap Erlin.


"Masak sih," sambung Brilian sambil melihat jam tangannya.


"Oh iya... Nggak tau tadi, aku kira sudah jam empat, hehe," tambah Brilian pura-pura tidak tau.


Brilian lalu masuk ke dalam loker kariawan, hendak menaruh tas srempang yang ia kenakan. Setelah itu, ia berjalan ke arah Erlin, yang sedang duduk di kursi kasir sambil mengerjakan sesuatu dilaptop.


"Lagi sibuk ngapain ni... " tanya Brilian.


"Oh, ini kak lagi belajar rekpan, hehe," sahut Erlin.


"Udah bisa kan?" tanya Brilian sambil melihat ke arah laptop.


"Sud-sudah kak," jawab Erlin agak canggung melihat wajah Brilian dekat dengan wajahnya.


"Bagus," puji Brilian.


Erlin pun curiga dengan raut wajah Brilian. Matanya nampak sayup, cara bicaranya juga tidak seperti biasa. Erlin juga kaget, tiba-tiba duduk sangat dekat dengan dirinya. Mereka kemudian berbincang-bincang. Erlin yang semakin curiga, ia lalu menanyakan sesuatu kepada Brilian.


"Kak, boleh tanya nggak?" tanya Erlin.


"Boleh saja,ada apa?" tanya Beilian balik sambil menatap mata Erlin.


"Emb... Kak Brilian habis minum alkohol ya?" tanya Erlin.


"Erlin ternyata cantik juga," batin Brilian.


"Kak? kok malah bengong," panggil Erlin.


"Owh. Apa tadi?" Brilian kaget.


"Yee... Dasar. Apa kak Brilian habis minum alkohol?" tanya Erlin mengulangi pertanyaannya.


"Owh... Itu, kenapa emang? apa aku kelihatan kayak orang mabok ya?" tanya Brilian.


"Ya... Dikit sih, hehe. Tu muka kak Brilian sampai kemerah-merahan gitu," ungkap Erlin.


"Ah masak sih," sahut Brilian.


"Iya. Eh lukanya udah sembuh ya kak... " ucap Erlin.


"Iya ni,hehe," sambung Brilian.


Erlin dan Brilian bercakap-cakap semakin akrab. Karena Brilian sedang dalam pengaruh d*ug. Erlin terus memancing pertanyaan-pertanyaan. Akhirnya, Brilian mengaku kalau dia tengah mengonsumsi d*ug. Erlin pun hanya sedikit terkejut, karena, ia sendiri juga pemakai. Sontak, Brilian kaget mendengar itu.


"Apa? apa katamu?" cetus Brilian kaget sedikit berteriak.


"Sssstttt... " Erlin menutup mulut Brilian dengan jari lentiknya.


Brilian lalu diam sejenak,terpaku melihat jari telunjuk Erlin menempel pada bibirnya. Dengan cepet Erlin lalu melepasnya.


"Maaf kak, reflek," ucap Erlin menunduk.


"Deg,"


"Tidak apa-apa. Aku cuma kaget aja tadi," sambung Brilian.


"Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya kak... " tutur Erlin.


"Santai aja, kamu juga jaga rahasia ya," ujar Brilian.


"Pasti kak," sahut Erlin.


Mereka saling menatap satu sama lain. Erlin nampak tersipu menatap wajah Brilian.


"Emb... "


"Emb... "


"Apa kak?" tanya Erlin.


"Kamu aja dulu," sahut Brilian.


"Kamu aja kak," papar Erlin.


"Iya deh. Eh ngomong-ngomong, kamu mau pakai juga?" tanya Brilian.


"Emb... Emb... Anu kak,"


"Udah... Ni sikat aja," ujar Brilian sambil memberikan sesuatu yang nampak rahasia.


"Itu apa sih kak... Aku, aku nggak berani," ucap Erlin.


"Ini r**lona ( jenis p*ikotropika, sedangkan yang dikonsumsi Brilian jenis n*rkotika )" jelas Brilian.


"Aduh... Gimna ya kak," Erlin ragu.


"Cepetan... Keburu ada yang lihat," desak Brilian memberikan barang itu yang ada di dalam genggamannya.


Eriln lalu menerimanya. Dengan geraka cepat ia lalu menelannya. Brilian tersenyum melihat expresi polos Erlin. Beberapa menit kemudian, raut wajah Erlin berubah. Sorot matanya juga sedikit sayup karena efek bahan k*mia yang terkandung di dalamnya. Sambil mengerjakan rekapan pada laptop, Erlin dan Brilian tidak saling bicara, sampai pada akhirnya Brilian membuka pembicaraan.


"Gimana enakkan... " cetus Brilian.


"Iya kak, aku dulu pernah juga dikasih sama temen," ungkap Erlin.


"Owh... Kalau aku udah lama sekali berhenti. Baru kali ini aja mulai lagi," jelas Brilian.


"Pantesan, kak Brilian nggak seperti biasanya," batin Erlin.


"Kenapa benggong?" kaget Brilian.


"Owh, nggak kak, hehe. Maaf-maaf," ucap Erlin.


"Oiya, nomor kamu berapa sih, kok belum ada dikontakku," ujar Brilian basa-basi sambil mengeluarkan ponselnya.


"Hehe, catat aja kak," ucap Erlin.


Brilian lalu mencatat nomer Erlin. Hari itu mereka bertukar nomer telefon. Tidak terasa, setengah jam berlalu. Waktu menunjukkan pukul 16:00 pm, atau pukul empat sore. Sudah waktunya berganti shif. Erlin lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" tanya Brilian.


"Mau ke loker kak, udah waktunya ni," jawab Erlin.

__ADS_1


"Oh iya," Brilian sambil melihat pada jam tangannya.


"Baru aja mau aku ajak nonton film... " ujar Brilian.


"Hah, film apa kak?" tanya Erlin.


"Ya... Banyak, ni nonton film streaming di laptop," jelas Brilian.


"Owh... Kirain nonton di bioskop, hehe," sambung Erlin.


"Ya besuk kapan-kapan ya, ke bioskopnya, hehe," goda Brilian genit.


"Nggak mau kak," sahut Erlin.


"Loh, kenapa?" tanya Brilian.


"Takut nanti cewek kak Brilian marah, haha," jawab Erlin sambil berjalan masuk ke dalam loker.


"Soal itu... " Brilian hendak mengatakan sesuatu.


"Aku, nggak punya cewek," batin Brilian.


Tiba-tiba Sekar kembali muncul pada ingatannya.


"Ah, Sekar, aku... Aku tidak tau harus bagaimana. Kecuali melupakanmu,tapi...." gumam Brilian dalam hati.


"Hey, kak kenpa benggong," kaget Erlin.


"Eh, nggak kok. Udah mau pulang ya... Duh aku sendiri," gerutu Brilian basa-basi.


"Hehe, ya udah aku temenin deh... " ucap Erlin.


"Eh, nggak usah, kalau mau pulang, pulang saja... Aku cuma bercanda kok," jelas Brilian.


"Iya-iya kak. Oh ya, katanya mau ngajakin nonton film, mana filmnya?" tanya Erlin.


"Film apa ya," sahut Brilian sambil melihat ke arah monitor laptop.


Erlin lalu duduk di samping Brilian. Di sekitar meja kasir, ada empat kursi, dua kursi ada di depan meja, dan yang dua lagi ada di pakai duduk oleh Brilian dan Erlin. Karena mereka berdua dalam pengaruh d*ug, hastrat Brilian untuk m*rokok pun muncul. Padahal aturan di tempat kerja dilarang merokok.


"Kak, kamu mau merokok?" tanya Erlin.


"Sssttt... Diem," bisik Brilian.


"Nanti kalau ketahuan pak Jonatan bisa kena sp lho," nasehat Erlin.


"Nggaklah, pak Jonatan nyantai orangnya... Asal ac mati, fan kipas hidup, nggak apa-apa ngerokok tu," jelas Brilian.


"Masak sih kak," sahut Erlin.


"Iya. Emangnya kamu ngerokok juga?" tanya Brilian.


"Emb... " Erlin hendak mengatakan sesuatu.


"Udah ni ambil aja kalau mau merokok,tapi sembunyi-sembunyi ya," ujar Brilian.


"Nggak kak, aku nggak berani," ucap Erlin.


"Oke. Kamu benaran nggak terus balik, nanti ada yang nyariin lho," papar Brilian.


"Wah, bener-bener ni cewek, gilak," batin Brilian.


"Sssttt... Jangan keras-keras," bisik Brilian.


"Ups, maaf kak," bisik Erlin.


Di monitor laptop, terlihat adegan dewasa sedang berlangsung. Brilian sesekali melirik Erlin, ingin tau expresinya. Rupanya wajah Erlin lucu kalau sedang tegang. Brilian lalu menundukan monitor.


"Eit... Skip dulu... " cetus Brilian.


"Ah... Lagi seru tu kak... Lagian cuma adegan gitu aja, nggak terlalu vulgar juga," papar Erlin.


"Hehe, iya-iya... Serius amat nontonnya," sambung Brilian.


"Aku suka nonton film kak soalnya... Apa lagi film-film genre musikal...." terang Erlin.


"Sama dong," pungkas Brilian.


Sambil merokok,Brilian melanjutkan menonton film, sedangkan Erlin duduk bertumpang dagu di samping Brilian. Tidak terasa, hari mulai gelap.


"Kak, aku pamit dulu ya, sudah hampir petang ni," pamit Erlin.


"Iya, hati-hati di jalan ya," ucap Brilian.


"Iya kak," pungkas Erlin sambil bersalaman lalu menempelkan tangan Brilian ke keningnya.


Brilain agak kaget dengan sikap Erlin. Kemudian Erlin keluar toko lalu membuka pintu kaca, menuju ke tempat ia menaruh sepeda motornya. Kini tinggal Brilian sendiri berada di dalam toko. Seperti biasa, saat keadaan toko masih sepi, selain nonton film, biasanya ia memutar musik dan bermain gitar.


Sedikit demi sedikit, Brilian bisa melupakan Sekar. Tetapi, di dalam sadarnya, ia masih menyayangi Sekar. Begitu juga sebaliknya, Sekar sebenarnya masih menyayangi Brilian. Sikapnya yang dingin, itu bentuk kasih sayangnya untuk Brilian, agar Brilian bisa berubah menjadi lebih baik. Namun kini, Brilian sendiri mulai terjerumus kembali ke dunia hitamnya.


Dulu, Brilian pernah ikut genk motor. Hari-harinya tidak terlepas dari d*ug. Uang yang seharusnya ia tabung untuk kuliah. Ia habiskan untuk hura-hura. Suatu ketika, ia pernah sakit cukup keras. Hingga uang tabungannya habis untuk berobat, dan kebutuhan sehari-harinya. Lalu setelah sembuh, iya mencari pekarjaan. Bertahun-tahun ia manjalani hidup sehat dan meninggalkan dunia hitam, namun kini, ia kembali lagi.


"Drrr... Drrr... Drrr.... "


Ponsel Brilian berdering, tanda ada pesan masuk. Ia lalu membuka ponselnya. Rupanya pesan singkat itu dari Sekar. Seketika jantungnya Brilian berdebar-debar.


"Deg,"


"Deg,"


"Deg,"


"Perasaan aneh apa ini, kenapa jantungku selalu berdebar-debar saat membuka pesan Sekar," seperti bisikan setan dalam batin Brilian.


"Selamat sore Brilian. Maaf mengganggu. Lagi sibuk ya?" tanya Sekar.


"Sore juga Sekar. Tidak sibuk sih, cuma lagi kerja saja. Ada apa Sekar?" tanya Brilian balik.


"Oh... Nanti malam, bisa nggak kita ketemu?" tanya Sekar.


"Bisa aja. Tapi setelah kerja. Ketemu dimana Sekar?"


"Di taman kota, dekat kedai cahaya senja,gimana?" tanya Sekar.


"Oke Sekar," sahut Brilian.


"Oke, see u," pungkas Sekar melalui pesan singkat.

__ADS_1


Meski Brilian masih dalam pengaruh d*ug, namun hati kecilnya tidak bisa berbohong. Bahwa ia masih menyayangi Sekar. Namun ego dan sikap keras kepala Brilian muncul. Dia tidak ingin terlalu tengalam dalam perasan yang berlawanan dengan kenyataan. Kenyataannya, sikap Sekar sangat dingin kepadanya.


Brilian lalu mengkonsumsi ob*t-ob*tan terlarang itu lagi. Pikirannya pun seolah-olah, kembali fly. Beberapa jam kemudian. Brilian sambil melayani beberapa pembeli. Ada juga beberapa yang memesan gitar costum. Karena efek dari d*ug tersebut, ia tidak merasakan lelah atau pun mengantuk.


Beberapa jam kemudian, ia melihat jam pada jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 20:50 pm. Sepuluh menit lagi toko tutup. Ia bersiap-siap hendak menutup toko. Lalu selanjutnya hendak bertemu dengan Sekar. Ia sambil berandai-andai dan menyiapkan beberapa jawaban, yang mungkin Sekar tanyakan nanti.


"Brum... Brum... Brum...."


Setelah toko tutup. Ia lalu menuju taman kota, yang tidak jauh dari tempat Brilian bekerja. Kira-kira berjarak dua kilometer. Rupanya Sekar sudah menunggu, bersama dua temanmya, Renata dan Ajeng. Brilian lalu memarkirkan sepeda motornya, kemudian berjalan ke arah Sekar, yang sedang duduk di tempat duduk taman kota.


"Hai Sekar,hai Renata, Ajeng. Sudah lama?" sapa Brilian bertanya.


"Hai Brilian, belum kok, barusan aja," jawab Renata dan Ajeng.


"Oh ya, bentar ya sis," pamit Renata dan Ajeng kepada Sekar.


"Loh, mau kemana?" tanya Brilian.


"Sebentar... " pungkas Renata.


Renata dan Ajeng hendak ke kedai di dekat taman kota, sengaja meninggalkan Brilian dan Sekar berdua. Agar pembicaraan mereka tidak terganggu.


"Iya sis, jangan lama-lama ya," pesan Sekar.


"Oke sis," jawab Renata dan Ajeng.


Brilian lalu duduk di samping Sekar. Mereka hanya diam dan memandangi tanaman hias dengan tatapan lighting warna-warni di depan mereka. Sesekali Brilian melirik Sekar, namun Sekar juga hanya diam. Kemudian, tangan kanan Brilian meraih tangan Sekar, lalu menggenggam jari-jari lentiknya. Sekar sedikit kaget, namun tidak melepas genggaman Brilian.


"Sekar," panggil Brilian sambil menggenggam tangan Sekar yang terasa hangat.


"Ya," jawab Sekar.


"Apa kau, sangat membenciku?" tanya Brilian.


"Deg,"


Sekar menoleh ke arah Brilian.


"Iya. Tapi aku juga sangat menyayangimu," ungkap Sekar.


"Benarkah," sahut Brilian.


"Asal, kamu mau berubah," terang Sekar.


Mereka saling bertatapan sejenak. Sekar lalu mengalihkan pandangnya.


"Kenapa, kamu tidak mau sedikit saja mengerti perasaanku?" tanya Sekar.


"Deg,"


Jantung Brilian berdebar-debar.


"Sekar, aku tidak tau harus bagaimana. Aku sudah berusaha membuatmu nyaman, tetapi sepertinya aku... Aku tidak ingin berpura-pura kepadamu," terang Brilian.


"Ya... Mungkin aku juga salah mengertikan dirimu. Aku harap, kita tetep bisa menjalin hubungan baik, persahabatan," terang Sekar.


"Karena ini terakhir kali kita bertemu. Aku minta maaf ya, selama ini, selalu merepotkan mu," tambah Sekar.


"Loh, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Brilian sambil memandang wajah Sekar.


Sekar pun menandang wajah Brilian. Mata mereka saling bertatapan. Sambil berggenggam tangan, Brilian tidak kuasa membendung air matanya. Seolah-oleh, ia tidak akan berjumpa dengan Sekar lagi, meski Sekar belum menjawab.


"Tu kan, kenapa menangis... " ucap Sekar sambil mengusap air mata Brilian dengan tangan kanannya.


"Kamu kan cowok... " imbuh Sekar, ia juga meneteskan air mata.


"Aku. Aku tidak bisa jauh darimu Sekar," ucap Brilian, melepas genggamanmya lalu mengusap air mata Sekar.


"Kenapa? suatu saat kita pasti berjumpa lagi kok. Aku hanya pindah tempat tinggal saja, bersama keluarga...." jelas Sekar.


Sekar hendak berpindah rumah ke luar kota bersama keluarganya. Karena urusan bisnis kedua orang tuanya. Sekar dan kakaknya Geofani, juga akan melanjutkan kuliah di sana.


Mendengar itu, Brilian langsung memeluk erat tubuh Sekar.


"Kenapa kamu pergi... " ucap Brilian sendu.


"Aku tidak pergi, Brilian. Hanya pindah rumah saja, karena urusan kerja Ayah dan Bunda..." jelas Sekar.


Brilian semakin mempererat pelukannya.


"Oh ya. Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Sekar.


Brilian lalu melepas pelukannya lalu memandang wajah Sekar untuk terakhir kalinya. Sekar lalu tersenyum kepada Brilian, sepertinya itu senyum termanis darinya.


"Aku hanya berpesan, jaga diri baik-baik ya. Mungkin suatu saat, jika kita berjumpa lagi, aku harap, kita masih menjalin hubungan yang baik. Dan harus kau tau, kau orang pertama yang pernah membuatku jatuh cinta," ungkap Sekar.


Mendengar itu, Brilian semakin tak kuasa mebendung air matanya.


"Dan satu lagi. Kamu jangan cengeng ya," ucap Sekar sambil tersenyum.


"Sekar... Aku, aku tidak bisa...." desis Brilian.


"Eh... Jangan gitu, sudah-sudah," ucap Sekar sambil menghapus air mata Brilian.


Sekar lalu mencium kening Brilian untuk pertama kalinya, dan terakhir kalinya, sebagai tanda perpisahan.


Dari kejauhan, nampak Renata dan Ajeng sedang berjalan ke arah Sekar dan Brilian.


"Tu, Renata dan Ajeng kemari. Jangan sampai mereka melihatmu menangis," papar Sekar.


Brilian lalu membersihkan sisa-sisa air matanya. Lalu memasang expresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Hey teman-teman, " sapa Renata berjalan bersama Ajeng.


"Lama sekali sis," sahut Sekar.


"Ah... Nggaklah, yuk kita makan dulu sis, Brilian juga, yuk," ajak Renata dan Ajeng.


"Hah, nggak, aku tunggu di sini saja," tolak Brilian.


"Udah... Ayok," ajak Sekar sambil menarik tangan Brilian.


"Eh eh eh... Iya-iya, Sekar pelan-pelan," ronta Brilian.


Mereka berempat lalu berjalan ke arah kedai Cahaya Senja, di sana,Renata dan Ajeng sudah memesan makanan dan minuman. Sekar berjalan sambil mengandeng tangan Brilian.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2