
15 menit berlalu, penampila Yion dan Roger duo gitaris Fire String sudah berakhir.
Acara berjalan dengan lancar,terlihat mc acara,io dan cerw Radio menutup acara.
Penonton satu persatu pergi meninggalkan tempat pertunjukan yang berlokasi didepan setudio Radio suara indie.
Sedangkan Brilian dan Sekar masih berada ditempat dimana mereka duduk dikedai sambil minum jus yang tidak jauh dari panggung, kira-kira 30 meter dari panggung.
"Oiya,ngomong-ngomong kok temen-temenmu tidak ikut, siapa lupa namanya,?" tanya Brilian,
"Ow... Renata sama Ajeng, bukan Gea kan?" ungkap Sekar.
"Iya Renata sama Ajeng," sahut Brilian.
"Mereka lagi pada sibuk, Renata baru di luar kota pulang ketempat orang tuanya, kalau Ajeng lagi ada acara di tempat kerjanya," terang Sekar.
"Ow... gitu ya, pantesan cuma sendirian, naik apa tadi kesini dimana motormu?" tanya Brilian.
"...Tadi dianter sama kakakku sekalian mau ke kampus,ini malah belum jemput-jemput...Nomernya juga tidak aktif...Hiss.. " jawab Sekar dengan nada agak kesal.
"Jangan khawatir nanti saya antar,mau??,kalau kakakmu belum jemput," ucap Brilian menawarkan tumpangan.
"Gimana ya, nggak enak nanti malah ngerepotin kamu," ucap Sekar,
"Gak... nggak repot kok santai aja," sahut Brilian.
"Ya... Nanti deh coba saya hubungin kakakku dulu," ujar Sekar,
"Okey," sahut Brilian.
Matahari hampir tenggelam, waktu menunjukan pukul 17:15 pm,hampir tiba waktu maghrib.
"Maaf Sekar,berhubung sudah hampir maghrib, bagai mana kalau ibadah dulu,disana ada mushola," ujar Brilian.
"Maaf saya non," jawab Sekar.
"Owh.. Maaf, maaf baget ya Sekar kirain muslim, maaf ya,tidak tau... " ucap Brilian meminta maaf,
"Tidak apa-apa kok, ya udah kamu ibadah dulu,saya mau coba hubungin kakakku ni," ungkap Sekar.
"Baik," jawab Brilian.
Brilian lalu berjalan kearah muhsola didekat studio Radio.
Tidak lama kemudian terdengar suara adzan,Brilian segara wundu lalu masuk kedalam mushola untuk sholat maghrib.
Hari semakin gelap, lampu-lampu mulai menyala, terlihat dari tempat yang agak tinggi,nampak pemandangan lampu kota berkerlap-kerlip.
Beberapa saat kemudian Brilian selesai beribadah, lalu berjalan kearah Sekar yang masih duduk dikursi kedai sambil memegang telephone genggam sambil meminum jus.
"Sudah selesai ibadahnya,?" tanya Sekar.
"Iya sudah selesai ni. Gimana kakakmu diangkat gak telephonenya," tanya Brilian balik,
"Belum ni... " ucap Sekar,
"Udah nanti tak anter aja gkpapa, oke," pinta Brilian.
"Iya deh... " jawab Sekar.
"Btw pemandangannya bagus ya," ucap Brilian sambil menunjuk kearah pemandangan lampu kota.
"Iya, baru pertama kali aku ditempat ini melihat pamandang malam dari sini," ungkap Sekar.
"Sama aku juga baru pertama kali, kebetulan cuacanya cerah," tambah Brilian.
"Yang bener.... Masak baru pertama kali....Hayo sama ceweknya masak belum pernah kesini,hehe" canda Sekar.
"Belum ya... Beneran baru pertama kali ini sama kamu, ehem" jawab Brilian dengan nada polos.
"Dih.. Apaan sih pakai ehem ehem segala,haha" canda Sekar,
"Engak ni agak batuk, ehem ehem... Uhuk," sahut Brilian pura-pura Batuk.
"Sukurin batuk beneran...Haha," ucap Sekar,
"Hehe.. Eh btw cari makan yuk, laper dari tadi belum makan nih, kamu jugakan Sekar?" ajak Brilian.
"Dimana mangnya, aku gak hafal daerah sini..." jawab Sekar.
"Ya udah yuk, aku tau tempat deket daerah sini," ajak Brilian sambil berjalan kearah parkiran sepeda motornya,
"Okey," ucah Sekar.
Mereka berdua lalu berjalan menuju parkiran tempat Brilian memarkirkan sepeda motornya.
Sekar dan Brilian membawa gitar yang mereka bawa dengan menyentengnya dipundak,untuk pertama kalinya mereka berboncengan.
" Brum... brum... brum........" suara knalpot sepeda motor kesayangan Brilian.
"Eh motormu mirip punya Dilan ya,?" tanya Sekar,
"Dilan siapa,?" tanya Brilian,
"Film Dilan itu lho... " tambah Sekar,
__ADS_1
"Owh... gaklah... cuma sama jenisnya aja, hehe," jawab Brilian sambil mengendari sepeda motor.
Diperjalanan mereka berboncengan sambil berbincang-bincang.
Setelah beberapa menit kemudian,mereka sampai ditempat yang mereka tuju. Kedai dan rumah makan bukit lintang namanya,disana tempat untuk makan atau sekedar ngopi dan melihat pamandangan kota yang terlihat sangat jelas.
"Oke kita sudah sampai, mari," ajak Brilian turun dari sepeda motornya bersama Sekar.
"Ayuk.. " jawab Sekar.
"Silahkan.... Bisa di lihat dulu menu-menunya," sapa salah seorang waiter kedai.
Brilian lalu memilih menu makan dan minuman,begitu juga dengan Sekar.
Berbagai macam Jus dan kopi tersedia disana, beraneka pilihan menu-menu makanan.
"Mas," panggil Brilan kepada waiter kedai.
"Ya mas,ada yang bisa saya bantu," jawab waiter itu,
"Ini pesanan saya mas, sama teman saya," kata Brilian sambil memberikan kertas menu kepada waiter kedai.
"Baik mas,jus lemon dua,sama capcay ayam satu,salad buah satu?" tanya waiter kedai.
"Iya mas, " jawab Brilian yang duduk bersebelahan dengan Sekar.
"Baik, ditunggu sebentar ya mas," ucap waiter itu,
"Oke," sahut Brilian.
Sambil menunggu pesanan mereka diantar, mereka melanjutkan perbincangan mereka tadi dijalan.
"Oiya sampai mana tadi ?" tanya Brilian menanyakan perbincangannya.
"Emm... lagu,?" ucap Sekar,
"Iya lagu, coba boleh nggak ni denger lagunya... Hehe" tanya Brilian.
"Hehe, tapi jelek lagunya,dibantuin aransmenlah kapan-kapan... " ungkap Sekar.
"Oke, coba tak denger dulu lagunya... " ucap Brilian.
Sekar lalu mengambil gitar dari dalam box kotak gitarnya,kemudian memetiknya menyanyikan lagunya.
"Jreng.... " suara gitar Sekar.
"Jangan ketawa ya... haha" kata Sekar,
"Gak... santai aja," jawab Brilian.
Lewati dimensi dunia dalam waktu...
Tuk sejenak lari dari pilu...
Disini,..
ditempat ini,...
diruang yang sudah berganti,
kisah itu dimulai dan kini terbayang jelas....
Penggalan lirik lagu yang Sekar nyanyikan, dengan judul Dimensi Waktu.
"Yeey... Bagus tu," sorak Brilian sambil bertepuk tangan.
"Hmmm.., " senyum Sekar.
"Permisi kak," ucap waiter kedai.
"Ya," Brilian sambil menoleh kearah waiter.
"Ini pesananya sudah siap," ucah waiter itu,
"Owh... baik," jawab Brilian.
"Yuk Sekar kita makan dulu," ajak Brilian,
"Okey," jawab Sekar sambil meletakkan gitarnya.
Mereka berdua lalu makan, Brilian capcay ayam dan jus lemon,sedangkan Sekar salad buah dan jus lemon juga.
Tidak terasa waktu menunjukan pukul 20:00 pm, semilir angin sepoi-sepoi angin malam dari atas puncak bukit kedai Bukit Lintang.
Ditambah pemandangan lampu kota yang indah,menambah daya tarik pengunjung kedai. Selain harga terjangkau,bumbu masakan juga enak.
Ditengah mereka sedang menikmati makanan tiba-tiba telephone Sekar berbunyi.
"Drrrrr.........." suara handphone berdering.
"Hallo... " ucap Sekar melalui telephone,
"Siapa?" tanya Brilian berbisik,
"Kakak saya," jawab Sekar.
"Hallo kak," ucap Sekar,
__ADS_1
"Hallo dek, kamu sudah pulang belum,? aku baru selesai acara ni dikampus," ungkap Kakak wanita Sekar.
"Tidak apa-apa kak, ini saya baru makan dikedai sama teman kak," kata sekar melalui telephone.
"Ow... ya udah kalau gitu dek,terus nanti pulangnya bagaimana dek?" tanya Kakak Sekar.
"Nanti saya dianter teman saya kak kalau sudah selesai makan," jawab Sekar,
"Ya udah kalau gitu, jangan malem-malem ya pulangnya?, temen cewek apa cowok,?" tanya Kakak Sekar.
"Cowok kak, iya setelah ini pulang kok," jawab Sekar,
"Nah... Apa lagi temen cowok, hati-hari dijalan ya," pesan Kakak Sekar,
"Baik kak... " jawab Sekar,
"***Tut... tut... tut*...., " suara telephone Sekar.
"Dimarahin ya kamu karena kemaleman,?" tanaya Brilian.
"Engak... Kak Geofani gak pernah marah-marah," jelas Sekar.
"Ow... nama kakakmu Geofani,?" tanya Brilian.
"Iya," jawab Sekar.
"Kamu berapa bersaudara sih?" tanya Brilian.
"Cuma satu, dua sama aku,sama kak Geofani," jawab Sekar.
Dari situ Brilian tau kalau Sekar mempunyai seorang kakak wanita bernama Geofani, juga mengetahuni keyakinan mereka berbeda.
Tapi itu tidak menjadi masalah bagi Brilian, meskipun sedikit urakan,style rock n roll, Brilian tidak membeda-bedakan sebuah pertemanan, suku,ras,budaya,agama bahkan warna kulit, tidak menjadi masalah bagi Brilian, ia memiliki sikap setia kawan.
"Btw sudah selesai belum nih makannya?" tanya Sekar,
"Sudah kok, mau pulang sekarang,?" tanya Brilian.
"Iya, yuk," ajak Sekar,
"Okey," sahut Brilian.
Mereka lalu bergegas hendak pulang mengantarkan kerumah Sekar.
Setelah Brilian membayar makanan yang mereka pesan, meraka lalu berjalan menuju sepeda motor Brilian.
"Brum...Brum... Brum.... " suara khas knalpot Brilian.
Kini mereka menuju rumah Sekar, yang berjarak sekitar 5km dari kedai tempat mereka makan.
Melewati jalan yang menurun, posisi duduk Sekar pum semakin dekat sama Brilian yang mengemudi motor cb costum kesayangan Brilian.
Saat posisi wajah Sekar semakin dekat pada wajah Brilian,sambil memberi arah jalan menuju rumahnya.
"Nanti setelah petigaan itu belok kanan ya,?" ucap Sekar memberi arahan.
"Siap,.. " jawab Brilian.
"Duh gimana ni, tambah deg-degan," ucap Brilian dalam hati karena melihat posisi wajah Sekar semakin dekat dengan wajah Beilian.
Lalu tangan Sekar tiba-tiba perpegangan menyentuh baju pada perut Brilian, sedangkan tangan yang satunya membawa kotak gitar.
"Jangan cepat-cepat dong... takut jatuh," pinta Sekar.
"Hehe, baiklah," sahut Brilian sambil mengurangi laju sepeda motornya.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka didepan rumah Sekar.
Lalu Sekar turun dari sepeda motor Brilian.
"Terimakasih ya Brilian, sudah diantar, malah ngerepotin ni," ungkap Sekar.
"Sama-sama,tidak repot kok," jawab Brilian.
"Yaudah kalau gitu saya pamit ya," tambah Brilian sambil membelokka sepeda motornya.
"Hati-hati dijalan ya Brilian," seru Sekar,
"Okey.., daa... sampai jumpa," ucap Brilian,
"Daa... sampai jumpa," jawab Brilian.
Kemudian Brilian membelokkan sepeda motornya menuju rumah.
Sambil menenteng gitar didalam wadahnya, ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Tidak terasa waktu menunjukan pukul 21:30 pm.
Setelah Brilian sampai dirumah, ia lalu mandi.
Setelah mandi tidak lupa sholat,karena tadi baru diperjalanan.
Seperti biasa kebiasaan ia setiap malam, bermain gitar, menulis lagu, menulis cerita, dan juga menggambar animasi atau pun sketsa mengunakan pensil/drawing pen.
Tetapi jika ada teman yang datang dirumah,biasanya gitaran atau sekedar ngobrol-ngobrol, dan kebiasaan buruknya kadang-kadang meminum minuman keras, hal yang tidak perlu dicontoh.
Bersambung....
__ADS_1