
Setelah penampilannya The ne,band Sekar dan teman-teman telah usai. Selanjutnya penampilan dari Magentha. Mereka membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, dengan genre Jazz dan sedikit sentuhan Rock.
"Wah... Keren sekali performannya," puji Brilian menghampiri Sekar yang berada di belakang panggung.
"Hmmm... Setelah ini kamu kan, mana teman-temanmu?" tanya Sekar.
"Iya, itu baru berjalan kemari," tunjuk Brilian.
Sekar,Renata dan Ajeng duduk di belakang panggung sambil istirahat. Sedangkan Brilian,Taka dan Berto bersiap-siap hendak perform setelah Magentha band. Rupanya di sana juga ada Dio dan teman-temannya. Lagi-lagi mereka mendekati Sekar,Renata dan Ajeng.
Kali ini,Brilian hanya diam, pura-pura tidak melihat sambil mendengarkan percakapan mereka. Sampai akhirnya Brilian mendengar ucapan Dio, mengajak Sekar jalan-jalan. Brilian lalu berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Sekar berada.
"Hey, sialan, coba ulangi, bicara apa tadi pada Sekar?" geram Brilian.
"Owh. Jadi loe cowoknya. Baru tau aku, haha," cibir Dio.
"Iya,kenapa?" tanya Brilian.
"Brilian, udah... Kak mohon jangan ribut-ribut di sini," lerai Sekar.
Dio dan teman-temannya lalu pergi,suasana yang tadinya memanas, kini sedikit reda.
"Brilian, dengar ya. Biarkan mereka mau bicara apa aja, itu hak mereka,ngerti," jelas Brilian.
"Iya... Kenapa tadi pakai ngajak jalan-jalan segala," gumam Brilian.
"Duh... Cemburu sih.... " sambung Renata.
"Ssstttt... Diem aja sis,itu urusan mereka," bisik Ajeng pada Renata mengambil jarak.
Taka dan Berto pun ikut mengambil jarak, agar mereka menyelesaikan masalahnya berdua.
"Tapi kalau adu jotos dengan mereka pasti aku juga ikut," ketus Taka.
"Eh,emangnya kamu tau masalahnya?" tanya Renata.
"Nggak," jawab Taka.
Di samping itu, Brilian dan Sekar nampaknya masih mengobrol.
"Owh. Jadi kamu ndengar, emang kamu tau siapa yang diajak jalan-jalan?" tanya Sekar.
"Iya. Aku cemburu," ungkap Brilian.
Sekar lalu diam sejenak.
"Dah, sekarang duduk dulu," pinta Sekar menyuruh duduk Brilian.
"Baik," jawab Brilian.
"Dengar ya. Cemburu,itu sih hakmu. Tapi tolong jangan berlebihan ya," jelas Sekar.
"Ya... Aku sih sebenarnya muak dengan mereka," geram Brilian.
"Loh, terus, kamu mau bikin onar di sini?" tanya Sekar.
"Nggak... Bukan gitu... Kalau mereka nggak mulai duluan sih,aku juga nggak bakal ngapa-ngapa juga," jawab Brilian.
"Awas kalau sampai ngulangain kejadian kemarin," ancam Sekar.
Brilian hanya diam sambil menoleh mencari Taka dan Berto.
"Oh, kalian di sana ternyata," ucap Brilian.
"Nggak di jawab. Oke," pangkas Sekar.
"Iya... Iya... Tapi kalau mereka yang mulai ya saya lawan," sahut Brilian.
"Terserah," pungkas Sekar berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Renata dan Ajeng meninggalkan Brilian.
"Yuk sis, kita pindah ke depan panggung sambil melihat perform," ajak Sekar.
"Yuk. Udah sis, gimana,Brilian cemburu ya," bisik Renata.
"Ah... Nggak, biasa, bandel sekali dia," ujar Sekar.
"Biasa sis, cowok," pungkas Ajeng.
Taka dan Berto lalu menghampiri Brilian yang duduk terdiam. Di telinganya masih terngiang kata "terserah" dari ucapan Sekar.
"Coy, diem-diem bae... Mabok ya, haha," canda Taka menghampiri Brilian.
"Apaan sih," papar Brilian.
"Dah ayo,siap-siap, setelah ini, kita," imbuh Brilian.
"Siap," jawab Berto dan Taka.
Mereka bertiga menghafal lagu yang hendak mereka bawakan nanti. Di belakang panggung sudah disediakan tempat khusus untuk para partisipan atau para musisi yang hendak tampil. Juga tempat khusus untuk para Mc acara dan Crew Eo.
Tidak lama kemudian,kini tiba untuk Brilian dan teman-temannya perform. Terdengar Mc acara mengucapkan terimakasih kepada Magentha band yang telah ikut serta meramaikan acara.
"Selanjutnya,kita tampilkan... Clovuz.... " seru Mc acara.
"Ayo coy," ajak Brilian kepada Taka dan Berto.
Mereka lalu naik ke atas panggung. Nampak penonton memadati lapangan alun-alun kota Vusan.
"Baik, silahkan kakak-kakak memperkenalkan diri," Mc acara mempersilakan.
"Sebelumnya,kami ucapkan terimakasih. Perkenalkan,kami dari, Clovuz... Saya Brilian pada gitar dan vokal," seru Brilian.
__ADS_1
"Saya Taka,pada bass dan backing vokal," seru Taka.
"Dan di sana,ada Berto pada drum," sambung Brilian.
"Wah... Namanya keren-keren... Beri tepuk tangan yang meriah... untuk Clovuz...." seru Mc acara beranjak turun dari panggung
"Yeee... Yeee.... " sorak-soria penonton.
"Baik, langsung saja, lagu pertama dari kami,berjudul, The Night Wolf...!! " seru Brilian.
Intro, gitar, bass, lalu disusul drum.
The night wolf...
Goes into hiding...
The wolf is silent never singing...
In a place that has never been touched...
On a dark road...
You are a true legend....
Penggalan lirik lagu Clovuz berjudul The Night Wolf.
Lagu dengan sentuhan rock n roll tersebut,dibawakan oleh Brilian,Taka dan Berto dengan kompak. Untuk pertama kalinya lagu itu dibawakan full band, sebelumnya lagu tersebut dibawakan oleh Brilian versi akustik.
Brilian bernyanyi sambil memainkan gitar elektrik. Dari sekian banyak penonton, pandangan Brilian hanya tertuju pada Sekar, yang tengah memperhatikan dirinya di antara kerumunan penonton. Sesekali Brilian mengalihakan pandangannya. Namun,saat hendak kembali memperhatikan Sekar, rupanya Sekar sudah pindah tempat. Kali ini tepat di depan panggung. Jadi mood boster untuk Brilian.
Tidak terasa lagu pertama telah usai. Lanjut lagu kedua. Masih lagu sendiri,dengan judul Fantasy Book. Lagu berdurasi 04:20 menit tersebut,dibawakan dengan penuh semangat. Sekar masih memperhatikan penampilan Brilian dan memberi semangat. Sesekali Sekar melempar senyum kepada Brilian. Brilian pun membalas senyuman Sekar.
Beberapa menit kemudian,penampilan mereka telah usai. Sorak-soria dan tepuk tanggan penonton sangat meriah. Ketika Brilian hendak beranjak dari panggung,tiba-tiba ada sesuatu yang mengarah kepada. Benda bulat berukuran sedikit lebih kecil dari bola kasti. Tenyata benda itu adalah,telur yang dilempar dari kerumunan penonton,entah siapa yang melemparnya.
Saat benda itu melayang-layang di udara. Brilian reflek dengan cepat menendang benda itu dengan tendangan balik,seperti waktu belajar silat dulu. Namun meski tendangan tersebut tepat sasaran, telur busuk itu pecah dan mengenai pakaiannya.
"Pyaarrr... Crrraattt.... !!" telur busuk tersebut tercecer mengenai pakaian dan gitar Brilian.
"Ooooooowwww...." reaksi penonton.
"Hah," Sekar kaget.
"B*ngsat,siapa coy yang melempar itu?" geram Taka dan Berto mendekat ke arah Brilian.
"Entahlah. Sudah ayo kita turun," ajak Brilian beranjak turun dari panggung.
"Apa jangan-jangan... " Taka hendak mengatakan sesuatu.
"Sudah. Jangan menuduh siapa pun. Sekarang saya mau membersihkan ini dulu," pungkas Brilian.
Mc acara pun menyerukan kepada semua hadirin,siapa pun yang mengetahui pelaku pelemparan tersebut,langsung disuruh melaporkannya ke pihak keamanan. Penonton pun tidak ada yang tau siapa yang melakukannya. Karena saat itu,bersamaan dengan tepuk tangan dan sorakan. Kejadian itu terjadi secara tiba-tiba.
Mc acara sementara memberhentikan sejenak acara. Menunggu informasi siapa pelakunya sambil membersihkan sisa-sisa pecahan telur busuk yang mengeluarkan bau tak sedap.
"Dimana Brilian?" tanya Sekar kepada Taka dan Berto.
"Owh. Dia baru di toilet pria sebelah sana," tunjuk Taka, menunjuk ke arah toilet selatan panggung.
"Oya. Terimakasih ya," sahut Sekar lalu berjalan ke arah toilet.
Setelah sampai. Sekar menunggu di luar toilet dengan expresi gelisah. Tidak lama kemudian, Brilian keluar dari toilet sambil memegang gitar. Jaket,Celana,dan sepatunya nampak basah dibeberapa bagian.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Sekar.
"Eh sayang. Tidak, tidak apa-apa, ini mah biasa.... " jawab Brilian menenagkan situasi.
"Siapa sih yang tega ngelakuin itu... Tu lihat, pakaianmu basah semua," gerutu Sekar.
"Iya tidak apa-apa, nanti juga kering kok, yuk kesana," ajak Brilian menunjuk ke arah tempat duduk barat panggung.
Mereka berdua lalu berjalan ke arah tempat duduk tersebut. Rupanya di sana Taka dan Berto sudah menunggu.
"Wah wah wah... Romantis sekali mereka berdua,coba lihat coy," gumam Taka kepada Berto.
"Iri bilang bos, iri bilang bos, iri bil... " canda Berto.
"Sekali lagi tak gampar mulutmu," ketus Taka.
"Hahaha... Santai... Iri bilang bos.... " canda Berto.
"Teman-teman, kalian sudah di sini," sapa Brilian.
"Gimana coy, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Taka dan Berto.
"Nggak apa-apa kok," jawab Brilian duduk sambil meletakkan gitarnya.
"Sekar, kamu bawa parfum nggak?" tanya Brilian.
"Bawa kok," jawab Sekar.
"Minta dikit boleh, hehe" pinta Brilian.
"Sebentar," ucap Sekar sambil mengambilkan parfum di dalam tas kecilnya.
Sekar lalu memberikan parfum kepada Brilain. Brilian lalu memyemprotkan sedikit parfum pada pakaiannya,untuk menghilangkan aroma tak sedap dari sisa ceceran telur busuk tadi.
"Ni, makasih ya sayang," ucap Brilian.
"Iya,sama-sama," sahut Sekar.
Di samping itu, pengumuman dari Mc acara tidak membuahkan hasil. Pelaku pelemparan telur busuk belum ditemukan. Tidak lama kemudian, Mc acara melanjutkan acara. Berikutnya adalah penampilan dari Fire String, duo gitaris Yion dan Roger.
__ADS_1
Seperti biasa, mereka selalu membawakan instrument-instrument yang menajubkan. Permainan tehnik gitar, rytem dan melodi secara bersahut-sahutan yang membuat penonton terpesona melihatnya. Mereka membawakan aransemen lagu dari Bon Jovi berjudul Always,dibawakan versi instrument khas Fire String. Yang membuat suasana tiba-tiba menjadi romantis.
"Coy, kami tinggal dulu ya, mau beli cilok, ni Berto dari tadi ke pengen makan cilok katanya," pamit Taka mencari alasan.
"Loh, kok aku. Bukannya tadi kamu," sangkal Berto.
"Sudah... Ayo ikut,banyak b*cot aja," paksa Taka sambil menarik tangan Berto.
Brilian dan Sekar melihat mereka berdua bergurau. Kini tinggal Brilian dan Sekar duduk bersebelahan.
"Oiya, teman-tamanmu mana, sayang?" tanya Brilian.
"Owh. Mereka tadi baru beli minuman di kedai sebelah timur panggung," jawab Sekar.
"Emb... "
"Apa... "
"Kamu duluan,"
"Kamu,"
"Kamu,"
"Ya udah kalau begitu, kamu duluan aja," ucap Brilian.
"Kamu aja. Cowok tu duluan... " papar Sekar.
"Iya deh," sahut Brilian.
"Emb... Apa ya tadi. Lupa....hehe" gerutu Brilian.
"Hiisss... Ya udah aku aja," sahut Sekar.
"Kamu tidak apa-apa kan, sayang? tidak dendam sama siapa-siapa kan?" tanya Sekar sambil menatap mata Brilian.
"Ya... Mau gimana lagi, lagian juga nggak tau siapa pelakunya," jawab Brilian.
"Kalau seandainya tau pelakunya gimana?" desak Sekar.
"Ya pasti saya hajarlah, gimana sih," jawab Brilian kesal.
"Loh. Kok gitu jawabnya,?" tanya Sekar lagi.
"Ya gimana ya. Aku masih bisa nahan emosi sih. Dikit," sambung Brilian.
"Kok pakai dikit segala. Kamu tu yang sabar... Biar Tuhan yang membalas..." nasehat Sekar.
"Iya Sekar. Aku tidak tau harus ngomong apa sama kamu. Terimakasih atas nasehatnya," ucap Brilian menunduk.
"Nah, gitu dong... Emosinya dikontrol... Ya sayang ya," imbuh Sekar.
Kata-kata itu selalu membuat Brilian lemah di hadapan Sekar. Ia terdiam sejenak. Saling bertatapan. Dari tatapan itu Sekar tau, apakah Brilian berkata jujur atau hanya pura-pura.
"Aku harap, kamu jujur ya. Aku yakin, kamu bisa meredamkan segala amarahmu sendiri... " imbuh Sekar memberi nasehat.
"Iya sayang," jawab Brilian,lalu memeluk lebut Sekar, diiringi alunan instrument berjudul Always,lagu milik Bon Jovi.
"Hmmm... Baik, aku percaya padamu, Brilian," ucap Sekar.
Tiba-tiba Renata dan Ajeng berjalan ke arah mereka.
"Ehem ehem," desis Renata.
Brilian lalu melepas pelukannya kepada Sekar.
"Hai... Sudah lama ya kalian di sini," sapa Renata.
"Ya... Sekitar tiga puluh menit yang lalu," jawab Sekar.
"Owh... Ni sis,jus favoritmu," ujar Renata memberikan cup jus favoritnya.
"Wah... Makasih ya sis," ucap Sekar.
"Iya, duh, cuma satu... Brilian gimana?" tanya Renata.
"Udah kak, terimakasih,aku tadi habis minum," sahut Brilian.
"Nggak apa-apa, nanti biar minum ini sama aku," imbuh Sekar.
"Cie... Cie...." goda Renata dan Ajeng.
Di saat bersamaan Taka dan Berto juga kembali ke tempat mereka berkumpul.
"Wah wah... Dari mana ni kok jalannya sempoyongan,haha" cibir Renata kepada Taka dan Berto.
"Owh. Ini kak,tadi habis nemenin Taka beli cilok," jawab Berto.
"Owh... Mana ciloknya?" tanya Renata.
"Iya, mana ciloknya?" imbuh Sekar.
"Anu, tadi... " Berto hendak mengatakan sesuatu.
"Tadi Berto ngajak beli bir, bukan cilok, haha," Sahut Taka memutar balikan fakta.
"Bukannya kamu yang tadi punya ide ngajak minum bir, a*****..." sangkal Berto.
"Hahahahaha... "
Renata dan yang lainya pun tertawa melihat mereka saling menyalahakan. Begitu juga dengan Sekar. Ia berharap, semoga Brilian melupakan kejadian tadi dan tidak punya dendam pada siapa pun. Namun, Sekar masih ragu. Tatapan mata Brilian seolah masih menyimpan dendam.
__ADS_1
Bersambung....