
Dari balik kaca mobilnya, Sekar melihat perjalanannya hendak melewati jalan didepan JT Guitar Costum tempat Brilian bekerja. Sekar lalu membuka kaca mobilnya, ia melihat Brilian sedang ada didalam toko. Dari balik kaca toko terlihat ia sedang duduk dan memainkan gitar pandangannya kearah keluar. Sekar lalu menyapanya,melambaikan tangannya kearah Brilian. Brilian pun meliahatnya dan membalas lambaikan tangan Sekar,yang terlihat membuka jendela kaca mobilnya.
"Siapa itu Sekar?" tanya ayahnya melirik dari spion sambil menyetir mobil.
"Owh... Itu, teman yah," jawab Sekar agak gugup.
"Owh... Teman apa?? Teman ngeband?? " tanya ayah Sekar.
"Bukan yah," jawab Sekar.
"Owh... Itu yang nganter kamu waktu itu dek?" tanya Geofani kakak Sekar.
"Iya kak," jawab Sekar.
"Hati-hati lo Sekar,kalau sama temen cowok,kamu harus pintar-pintar jaga diri dan tau batasan-batasan lo ya," ucah ibu Sekar memberi Nasehat.
"Iya mam," jawab Sekar sambil memutup jendela kaca mobilnya.
"Kamu juga Geofani, anak mama cuma kalian berdua, kalian harus banggain oranr tuamu yang sudah tua ini ya," pesan ibu Sekar kepada Geofani.
"Iya-iya mam... Terimakasih nasehatnya... " ucap Geofani.
"Oiya ya, Sekar boleh tanya gak?" ucap Sekar hendak bertanya.
"Boleh aja sayang... Mau tanya apa," jawab ibu Sekar.
"Dulu bagaimana awal mula pertemuan ibu sama ayah,lalu saling jatuh cinta??" tanya Sekar.
"Hmmm... " Senyum Ayah,Ibu,dan Kakak Sekar.
"Ada-ada aja pertanyaanmu Sekar," ujar ibunya.
"Bagaimana ya yah, coba deh ayah saja yang menceritakan... " ungkap ibu sekar.
"Iya yah, mam, aku juga ingin tau, " imbuh Geofani.
"Hehehe" tawa kecil ayah Sekar dan Geofani.
"Begini,dulu waktu ayah masih sma, ibumu satu kelas sama ayah. Kami suka bermain musik waktu muda, sama seperti kalian. Sampai disuatu siang, ayah melihat ibumu sepedanya rusak waktu mau pulang sekolah. Dulu jaman ayah semuanyan naik sepeda kalau berangkat sekolah, belum ada yang naik sepeda motor, ada paling cuma 1,2 saja. Lalu ayah mewarkan untuk mengantar ibumu pulang dan membawa sepedanya dibengkel. Dari situlah kami kenal, iya kan mam,?" jelas Ayahnya sambil bertanya kepada ibu Sekar dan Geofani.
"Hmmmm,iya yah,rindu rasanya kalau inget saat itu, "tambah Ibu.
"Cie... Cie... Lalu bagaimana kelanjutanya yah,mam,?" tanya Geogfani.
"Jadi,dulu ayah sama mama anak band ya waktu sma?" tanya Sekar.
"Besuk ajalah ayah lanjutin ceritanya... Hehe," ucap ayah menjawab pertanyaan Geofani.
"Ya begitulah, kebetulan kami sering berlajar seni musik bersama disekolahan," tambah ayah menjawab pertanyaan Sekar.
"Coba ma dilanjutkan... "ucap ayah Sekar dan Geofani.
"Hehehe besuk ajalah... Kapan-kapan ya saya, anak mama kalau bertanya kok suka yang aneh-aneh," ungkap ibunda Sekar dan Geofani.
"Yach... Gak seru ni kak... " gumam Sekar,
"Iya nih... " tambah Geofani.
"Kita hampir sampai rumah nenek ni,ayo siap-siap," ujar Ayahanda.
"Baiklah yah... " jawab Sekar dan Geofani.
Sekar dan keluarganya ada sedang acara keluarga dirumah neneknya. Setelah sampai, Sekar lalu memberi salam kepada neneknya, begitu juga Geofani kakak Sekar.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-🎸\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
Waktu menunjukan pukul 20:00 pm, ditoko JT Guitar Costum tempat Brilian bekerja, nampak beberapa anak-anak muda sedang melihat-lihat hendak membeli gitar.
Setelah cukup lama melihat-lihat,anak-anak muda yang berjumlah 3 orang itu akhirnya tidak membeli gitar, namun salah satu dari mereka memesan gitar costum.
"Kak, " panggil salah seorang calon pembeli.
__ADS_1
"Ya, ada yang bisa saya bantu,?" tanya Brilian.
"Saya mau pesan gitar bisa?? Saya sudah membawa modelnya dalam bentuk gambar, " jelas anak muda itu.
"Bisa banget kak, bisa lihat gambarnya seperti apa?" tanya Brilian.
"Ini kak," kata anak muda itu sambil memberikan kertas gambar gitar.
Brilian lalu melihat dan mencermati gambar tersebut. Anak itu hendak memesan gitar elektrik dengan model Gibson SG,dengan warna coklat natural.
"Kira-kira berapa lama ya kak jadinya?" tanya anak muda itu.
"Ya...Biasanya sekitar 2 mingguanlah,bagaimana? nanti coba saya tanyakan sama pembuatnya," ungkap Brilian.
"Semingguan gak jadi ya kak?" tawar anak muda itu.
"Atau gini aja, saya minta nomer kontakmu, nanti saya kabarin via pesan,namamu siapa? " tanya Brilian.
"Nama saya Reno kak," jawab Reno.
"Reno siapa lengkapnya,?" tanya Brilian.
"Reno Subastian kak," jawab Reno lagi.
"Baik Reno Subastian,nomor telephone yang bisa dihubungi? " tanya Brilian.
"081xxxxxx811 kak" jawab Reno.
"Baik, nanti saya kabarin ya Reno," ungkap Brilian.
"Sekarang saya buatkan nota pemesanan dulu ya," tambah Brilian.
"Oke kak, terimakasih sebelumnya, nama kakak siapa?" tanya Reno balik.
"Sama-sama, nama saya Brilian Veron,biasa dipanggil Brilian," jelas Brilian.
"Ok kak Brilian," ucap Reno.
"Ini notanya, nanti biar pihak JT Guitar Costum ngabarin lagi ya," jelas Brilian sambil memberikan nota.
"Baik kak. Yaudah kalau begitu saya dan teman saya pamit dulu ya kak," ucap Reno,
"Iya... Terimakasih atas kunjungannya ditunggu kunjungannya kembali,terimakasih..." ucap Brilian.
Brilian lalu menuliskan dibuku laporan jika ada yang hendak memesan gitar. Brilian juga menyakan kepada pembuatnya langsung yang berada disebelah toko agak di ruang belakang. Pak Muklis namanya, Pak Muklis usianya sekitar 50 tahun. Sudah 30 tahun lamanya mengeluti di bidang pembuatan gitar, akuatik maupun elektrik. Kepiawaiannya sudah tidak diragukan lagi, banyak musisi-musisi lokal yang mempercayakan gitar custom kepadanya.
Sebelum menemui Pak Muklis,Brilian terlebih dahulu menutup toko karena sudah jam 21:05 pm. Kemudian ia ke ruang belakang tempat Pak Muklis membuat gitar.
"Permisi,Pak Muklis," sapa Brilian.
"Eh kamu Brilian, ada apa?" tanya Pak Muklis.
"Lagi sibuk ya pak," jawab Brilian basa-basi.
"Owh... Ini cuma lagi finising gitar pesanan, sudah tutup ya tokonya,?" tanya Pak Muklis.
"Sudah pak baru aja. Oiya, gini pak, tadi kan ada yang mau pesan gitar, mau tanya kira-kira lagi antri banyak gak ni pak, terus selesainya kira-kira berapa hari..." ungkap Brilian bertanya.
"Pesan gitar elektrik atau akutik?" tanya Pak Muklis.
"Elektrik pak," jawab Brilian.
"Kalau gitar elektrik sih munkin gak nyampai 2 minggu, kalau akustik mungkin bisa 2 mingguan," jawab Pak Muklis.
"Baik pak kalau begitu nanti saya tak ngabarin yang mau pesan. Oiya ini pak gambar gitar pesanannya," jelas Brilian sambil memberikan gambar kepada pak Muklis.
"Owh.. Coba lihat," jawab Pak Muklis.
Pak Muklis lalu melihat gambarnya. Beberapa menit kemudian Katanya sanggup dan segara akan dikerjakan. Brilian mendengar itu langsung mengabari Reno yang memesan gitar tadi. Bahwa gitar selesai tidak sampai 2 minggu. Reno pun mensetuju. Untuk proses berikutnya Reno pun diminta untuk memberikan dp terlebih dahulu minimal 30% dari harga gitar. Harga gitar costem dipatok dengan harga 2 juta sampai 5 juta, tergantung bahan. Reno juga mensetujui itu lalu segera menstransfer uangnya ke rekening JT Guitar Costum.
"Pak Muklis, kalau begitu saya pamit dulu ya pak, mau ada janjian nih sama temen," ujar Brilian.
"Owh... Baiklah,hati-hati dijalan ya," sahut Pak Muklis,
"Baik pak," ucap Brilian sambil berjabat tangan.
Brilian lalu bergegas, hendak menuju kerumah Yonzi yang tadi siang sudah janjian.
"Brum... Brum... Brum........ " suara knalpot sepeda motor Brilian.
__ADS_1
Malam hari pukul 21:30 pm,jalanan masih nampak ramai. Pedang kaki lima nampak berjejer menjajakan dagangannya. Ada sate, wedang ronde, roti bakar, martabak, burjo, dan masih banyak lagi. Brilian berhenti sejenak untuk membeli roti bakar.
"Permisi mas, mas roti bakar coklat kacang satu ya," kata Brilian kepada pedagang roti bakar.
"Siap mas, silahkan duduk, tunggu sebentar ya," ucap Pedagang roti bakar itu.
Sambil menunggu roti bakar matang,Brilian menghubungi Yonzi,memberi kabar bahwa ia mau kerumahnya selepas kerja. Yonzi pun menjawab,ia di rumah kebetulan sekali Erdo juga sedang dirumah Yonzi.
"Permisi mas, roti bakar coklat kacangnya," kata pedagang roti bakar sambil memberikan roti bakar yang dibungkus kertas minyak berwarna cokelat.
"Owh....Ya mas," jawab Brilian sambil membayar roti bakar itu seharga 13 K.
Brilian lalu melanjutkan perjalanannya kerumah Yonzi yang tinggal 1,5 km jarak tempuhnya. Terlihat beberapa warung,kios,atau kedai, sudah mulai tutup karena hampir jam 10 malam.
Setelah beberapa menit kemudian Brilian sampai didepan rumah Yonzi,ia lalu memarkirkan sepeda motornya.
"Tok tok tok.... Permisi... " Brilian mengetuk pintu.
"Silahkan masuk bro," jawab Yonzi dari dalam ruangan yang biasa digunakan untuk recording.
"Hey... Hallo bro, pulang kerja ya,?" sapa Erdo sambil berjabat tangan.
"Iya ni bro," jawab Brilian.
"Wah... Bawa apa ni,malah repot-repot..."ujar Yonzi.
"Owh ini, roti bakar coklat kacang,biasa...hehe, ayo dimakan dulu mumpung masih hangat ni, ayo bro, " ajak Brilian sambil meletakkan tas srempangnya.
"Siap... " jawab Yonzi dan Erdo,
"Oiya, saya buat kopi ya bro," kata Yonzi.
"Ya... Kalau gak repot gak apa-apa bro, hehe" jawab Brilian.
"Okey..." sahut Yonzi.
Kemudian Erdo dan Brilian ngobrol soal lagu yang Brilian dan lagu Sekar rekam tadi pagi.
"Oiya, yang tadi pagi kamu antar rekaman disini cewekmu ya bro?" tanya Erdo.
"Uhuk.. Uhuk.. Emm bukan... Bukan bro, cuma temen," jawab Brilian tersedak.
"Yang bener.... Hehe"sambung Yonzi sambil membawa cangkir kopi panas.
"Beneran Bro," jawab Brilian sambil menyalakan rokok.
"Ngomong-ngomong lagunya mau buat demo ya? " tanya Erdo.
"Iya, laguku sama punya Sekar juga sama mau buat demo, ayo bro sambil dimakan rotinya keburu dingin," ujar Brilian.
"Terimakasih ya bro kopinya," tambah Brilian.
"Siap.. "sahut Yonzi sambil menyalakan rokok.
"Rokokmu masih bro," tanya Erdo.
"Masih bro,bakar aja.. " jawab Brilian sambil memberikan rokok.
Mereka bertiga lalu berbincang-bincang sambil menyalakan rokok, menikmati roti, dan secangkir kopi.
"Jadi apa lagunya perlu ada yang direvisi?" tanya Brilian.
"Kalau menurutku sih cukup bro, coba didengar dulu ja... " jawab Yonzi sambil memutarkan lagu.
Brilian lalu memasang earphone dan menyimak lagunya.
"Bagaimana bro,ada yang mau direvisi?" tanya Yonzi.
"Cukup Bro, cuma sepertinya melodinya kurang dikit ya,"ungkap Brilian.
"Oke,masih bisa diedit," jawab Yonzi.
Yonzi lalu mengedit lagu Brilian untuk ditambah take gitar bagian melodi menggunakan slide gitar.
Benerapa menit kemudian Brilian menyelesaikan take gitarnya. Tidak terasa waktu menjukan pukul 23:30 pm,Brilian belum pulang. Tapi itu sudah biasa baginya kadang-kadang bergadang sampai jam 3 bahkan 4 pagi.
Tapi hari ini ia tidak bergadang. Brilian pamit pulang karena besuk pagi ada acara, sepertinya menemani Sekar melanjutkan rekamanya sampai selesai sebelum hari minggu.
Bersambung...
__ADS_1