Brilian

Brilian
Puncak Bukit Hijau


__ADS_3

Satu jam kemudian, jarak 30 kilometer telah mereka tempuh. Mereka berdua telah sampai di wisata candi pukul 09:05 am. Mereka berjalan ke arah loket hendak membeli tiket masuk. Nampak antrian yang cukup panjang. Setelah berhasil masuk ke area wisata candi, Brilian mengajak Erlin menuju sebuah taman, ke tempat duduk di bawah pohon yang cukup rindang.


Nampak bangunan-bangunan candi, menjulang tinggi dengan megahnya. Relief pada batu-batu yang tersusun sedemikian rupa, menambah keindahan candi.


"Rasanya seperti kembali ke masa lalu ya, Brilian," cetus Erlin sambil melihat bangunan candi.


"Iya," sahut Brilian.


"Oh ya, udah berapa kali kamu ke sini ?" tanya Erlin.


"Berapa ya, lupa," jawab Brilian.


"Yee... " ucap Erlin.


Di tengah obrolan mereka, nampak pedagang keliling menjajakan dagangannya, minuman dingin dan makanan-makanan ringan. Ada juga pedagang keliling yang menjajakan cinderamata, berupa karya seni, lukisan candi pada belahan-belahan bambu yang di ikat dengan tali, atau miniatur candi dan beberapa kerajinan seni lainnya.


Cukup lama Brilian dan Erlin duduk di taman dekat kawasan candi. Mereka lalu berjalan-jalan diseputaran candi, sambil melihat kemegahan artsistektur kuno pada masa kerajaan. Semakin siang semakin ramai, turis-turis lokal, dan manca negara terlihat mereka sedang berfoto-foto di sekitaran candi.


Cuaca nampak cerah berawan, terik matahari di siang hari, membuat mereka berdua cukup haus, setelah berjalan-jalan lamayan jauh. Di dekat pemberhentian kereta mini, ada seorang pedagan keliling yang sedang menjajakan berbagai minuman. Brilian dan Erlin lalu menghampiri pedang tersebut, kemudian membeli minuman untuk melepas dahaga.


Kebetulan di tempat itu, ada tempat duduk kosong di bawah pohon. Tempat duduk taman yang berjejer, di bawah pohon rindang yang berjejer pula. Dengan hamparan padang rumput hijau, dan disuguhkan pemandangan megah bangunan-bangunan candi. Kemudian mereka berdua kembali duduk dan beristirahat sejenak.


Angin sepoi-sepoi berhembus, membuat mata Brilian sayup-sayup mengantuk karena kurang tidur dan efek bahan k*mia yang mereka pakai. Mereka duduk sangat dekat. Saking ngantuknya, Brilian kemudian tertidur dengan posisi duduk, mengenakan kacamata hitam.


"Kak, setelah ini, kita mau kemana?" tanya Erlin.


Namun Brilian tidak menjawab.


"Brilian, " panggil Erlin lagi.


"Ya... Tidur lagi.... " gumam Erlin.


Mengetahui Brilian yang ternyata ketiduran, Erlin membiarkan saja dan tidak berniat untuk membangunkannya. Erlin kembali di posisi duduknya sambil menghadap ke arah candi. Tiba-tiba tubuh Brilian bersandar ke arah Erlin. Erlin pun sedikit kaget, karena tiba-tiba kepala Brilian menempel pada pundaknya.


"Ya ampun... Kak Brilian, " batin Erlin.


"Yamyamyam... " bibir Brilian komat-kamit seperti sedang bermimpi mamakan sesuatu.


Erlin pun tertawa kecil melihatnya. Melihat itu, kemudian Erlin berniat sedikit iseng. Ia berniat mengagetkan Brilian dengan cara mengeser posisi duduknya. Brilian yang duduk di sebelah kiri Erlin, Erlin lalu bergeser sedikit ke kanan. Saat bergeser beberapa sentimeter. Ternyata eh ternyata, Brilian malah ambruk di pangkuan Erlin, yang mengenakan celana jeans yang cukup sexy.


Entah Brilain pura-pura tidur atau tidak. Namun Erlin gagal hendak membuatnya kaget, agar ia terbangan. Kini posisi Brilian tepat berada di pangkuannya.


"Aduh... Bagaimana ini... " batin Erlin sambil memandang wajah Brilian yang sangat dekat dengannya.


Erlin nampak sedikit malu-malu, wajahnya berubah agak kemerah-merahan. Untung saja di tempat itu kebetulan sedang sepi, hanya beberapa orang saja yang duduk di deretan kursi taman. Sampai akhirnya ponsel Brilian berdering dari dalam tas selempangnya.


"Drrrr...Drrrr.... "


Brilian lalu terbangun mendengar ponselnya berdering, ia lalu membuka matanya.


"Hah, Er-Erlin, kenapa, aku, bisa, di sini," ucap Brilian terbata-bata sambil memandang wajah Erlin yang nampak kemerah-merahan.


"Hemb," Erlin memalingkan muka.


"Aduh... Maaf-maaf... Aku tadi tidak sengaja, " ucap Brilian nervous sambil mengusap celana jeans sexy Erlin.


"Eh. Maaf ya Erlin," imbuh Brilian melepas usapanya.


"Iya... Iya... Nggak apa kok, tu ada telefon," jawab Erlin sambil pandangannya ke arah lain.


"Iya..." Brilian lalu mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya.


Rupanya telefon dari Sekar. Brilian ragu hendak mengangkatnya. Akhirnya ia tidak mengangkat panggilan telefon itu, lalu mamatikan ponselnya.


"Loh, kenapa tidak di angkat ?" tanya Erlin.


"Nggak apa-apa," jawab Brilian memasukan ponselnya ke dalam tas.


"Hayo... Siapa hayo... " goda Erlin.


"Udah..." sahut Brilian hendak kembali tidur di pangkuan Erlin.


"Eit... " tahan Erlin.


"Nggak-nggak... Bercanda.... " goda Brilian.

__ADS_1


Dari waktu ke waktu, mereka berdua semakin akrab dan semakin dekat. Beberapa saat kemudian, mereka berdua berjalan di halaman depan taman kawasan candi. Di sana rupanya Erlin hendak berfoto-foto ria. Erlin belum tau jika Brilian tidak suka berfoto-foto, namun karena Erlin jago merayu, akhirnya Brilian tenggelam dalam rayuan itu.


Tidak terasa, waktu cepat berlalu. Sore hari hampir tiba. Belum selesai di situ. Erlin masih mengajak Brilian menikmati sunset dari atas puncak bukit. Setelah dari tagi malam di pantai, lalu di gardu pandang melihat sunrise, kemudian berjam-jam di tempat wisata candi. Kini Erlin mengajak menikmati sunset dari atas bukit. Seperti yang pernah Erlin katakan sebelumnya, dirinya ingin menghabiskan hari minggu bersama Brilian.


Karena keduanya di dalam pengaruh d*ug, dan Brilian juga tenggelam dalam rayuan maut Erlin. Akhirnya mereka sepakat hendak melihat sunset dari atas puncak bukit. Mereka berdua berangkat pukul 15:30 pm, menuju Puncak Bukit Hijau.


"Brum... Brum... Brum.... "


"Ayo naik," ajak Brilian.


Erlin lalu naik dan berpegangan kepada Brilian.


"Mau ke puncak mana kita?" tanya Erlin.


"Ke Puncak Bukit Hijau saja, setiap malam minggu dan minggu ada live porform di sana," jelas Brilian.


"Oke deh... " jawab Erlin dengan senyum simpul.


Di Puncak Bukit Hijau yang berjarak 10 kilometer, dengan jarak tempuh kira-kira 19 menit, ke arah selatan dari tempat mereka berada. Kilauan keemasan cahaya senja, menyelip diantara dedaunan pepohonan besar, yang berdiri di pinggir jalan sepanjang rute perjalanan. Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, Brilian lalu membelokan sepeda motornya ke arah timur. Dengan jalanan menaiki bukit kira-kira empat kilometer.


Setelah sampai, ternyata di atas puncak, banyak sekali anak-anak muda di sana. Tak sedikit juga yang mengandeng pasangannya, untuk menikmati sunset, melepas penat, atau berfoto-foto selfie. Di jalan naik, terdapat gapura dari bebatuan berwarna hitam, seperti bahan pembuatan candi. Karena di Puncak Bukit Hijau, memang terdapat beberapa petilasan situs candi purba.


"Lihat, Brilian, sunsetnya cantik sekali... " ungkap Erlin dengan wajah berbinar-binar.


"Iya, cantik kayak kamu," goda Brilain.


"Iiih. .. Apaan sih," sahut Erlin sambil mencubit kecil Brilian.


"Aduh... Jangan keras-keras dong..." getutu Brilian kesakitan.


"Hehe, gemes," pungkas Erlin.


Mereka berdua lalu berjalan di ujung papan kayu, yang dirangkai seperti panggung tanpa atap, yang menjorok ke jurang. Di panggun papan kayu tersebut, sunset terlihat sempurna. Erlin dan Brilian berpose mengambil foto selfie seperti yang lainya.


"Jadi, kita di sini hanya untuk berfoto saja," cetus Brilian.


"Ya... Sambil pacaran kan, haha," goda Erlin.


"Eh," desis Brilian kaget.


"Dah,yuk" ajak Brilian sambil mengandeng tangan Erlin.


"Nggak kemana-kemana, cuma duduk di sini saja," jawab Brilian sambil duduk di tempat duduk yang terbuat dari batang pohon.


"Aku mau merokok," imbuh Brilian.


"Yee... Ya udah aku mau foto-foto di sana dulu ya," ucap Erlin.


"Jangan,"


"Kenapa,?"


"Banyak cowok,"


"Memangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa, ya udah sana," jawab Brilian.


"Owh... Kirain cemburu," ucap Erlin mengoda Brilian.


"Huuff..." meniup asap rokok.


Brilian duduk sambil merokok dan memandangi Erlin yang sedang berfoto selfie diantara beberapa orang-orang. Sesekali Erlin di goda oleh beberpa pria yang sedang berada di atas panggung papan kayu tempat Erlin berada.


"Ah, aku nggak boleh cemburu, Erlin kan, bukan siapa-siapa ku," batin Brilian mengela nafas.


Tatapan Brilian hanya tertuju kepada Erlin. Hingga akhirnya ia tidak terlalu memperhatikannya, lalu membuka ponselnya. Terlihat beberapa pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab. Diantarannya, panggilan tetefon dari Sekar. Begitu juga pesan masuknya, rupanya pesan dari Sekar. Sekar menanyakan keadaan Brilian.


Saat membaca pesannya, Brilian jadi teringat saat-saat bersamanya. Meski tidak terlalu lama, namun banyak kenangan dengannya. Berapa detik kemudian, Brilian lalu mengerakan jarinya, mengetik pesan hendak membalas pesan singkat Sekar yang di kirim tadi siang.


"Maaf Sekar, baru bisa balas. Tadi hpnya ketinggalan di tempat temen," balasan pesan singkat Brilian.


Namun karena tidak ada balasan dari Sekar, Brilain lalu mencoba menelfonnya.


"Tut... Tut... Tut.... "

__ADS_1


"Menefon siapa?" tanya Erlin tiba-tiba muncul.


"Owh, ini temen," jawab Brilian.


"Temen apa temen... Coba mana lihat," pinta Erlin sambil duduk di samping Brilian.


"Sudah... " pangkas Brilian sambil memasukan ponsel ke dalam tas selempangnya.


"Yee... Baru mau dilihatin," sahut Erlin.


"Eh, dah selesai foto selfienya?" tanya Brilian mengalihkan pembicaraan.


"Udah. Gilak, tadi ada cowok ngajakin kenalan," jawab Erlin.


"Mau aja,"


"Iya, tadi sudah tukeran nomor telfon,"


"Apa?" Brilian kaget.


"Kenapa?" tanya Erlin.


"Nggak apa-apa... Baguslah," ujar Brilian.


"Iya... " papar Erlin mengoda Brilian.


Mendengar Erlin berkenalan cowok lain, sampai tukeran nomor telfon, membuat Brilian cemburu buta. Ia bingung sendiri dengan perasaannya. Brilian melamun sambil memandangi matahari tenggelam. Mereka berdua tidak saling bicara, Erlin juga nampak sibuk dengan ponselnya, sesekali Brilian melirik ke arah Erlin. Memastikan apakah dia sedang chat dengan orang yang mengajak kenalan tadi. Ternyata, Erlin sibuk memilih-milih foto selfie yang baru saja ia ambil.


"Ehem," desis Brilain.


Erlin menoleh ke arah Brilian, memandangnya dengan menaikan satu alisnya. Lalu sibuk dengan ponselnga lagi.


"Ehem, " desis Brilian lagi.


"Kenapa ehem ehem, batuk ya?" tanya Erlin.


"Iya ni, uhuk uhuk, eh ngomong-ngomong, balik sekarang yo?" ajak Brilian.


"Nggak mau," tolak Erlin.


"Kenapa?"


"Katanya mau melihat pertunjukan musik?"


"Iya sih... Tapi.... " Brilian hendak mengatakan sesuatu.


"Udah... Yuk kita makan dulu, kamu pasti lapar kan," ajak Erlin sambil mengandeng tangan Brilian.


"Iya-iya, eh pelan-pelan... Awas ya, aku.... " ronta Brilian.


"Awas apa?" tanya Erlin berhadapan dengan Brilian.


"Awas aku cium ntar," goda Brilian.


Erlin memejamkan mata, seolah-olah siap untuk dicium. Namun Brilian tidak melakukan itu. Ia lalu mengangkat tubuh mungil Erlin dengan membopongnya. Berjalan menuju ke arah kedai yang ada di sebelah panggung pertunjukan.


Erlin meronta-ronta manja saat dibopong oleh Brilian.


"Kenapa tadi tidak jadi?" tanya Erlin.


"Apaan sih," pangkas Brilian.


Pengaruh d*ug, membuat keduanya hanyut dalam gejolak-gejolak hasrat liar. Brilian sebisa mungkin menahan diri, untuk tidak tenggelam di dalam hastrat liar tersebut. Namun, tidak tau juga, jika nanti pengaruh bahan k*mia tersebut, merubah pola pikirnya.


"Dah ya, jalan sendiri," ucap Brilian sambil menurunkan tubuh mungil Erlin.


"Terimakasih ya kak," ucap Erlin.


"Iya dek," sahut Brilian.


"Kok dek sih," gerutu Erlin.


"Habis kamu panggil kak," jelas Brilian.


"Hehe, spontan," pungkas Erlin sambil duduk di kursi kedai.

__ADS_1


Begitu juga dengan Brilian. Mereka lalu melihat-lihat menu makanan dan minuman. Setelah itu, memesan kepada waiter kedai. Di Puncak Bukit Hijau, beberapa kedai berdiri berjejer-jejer di sana. Dibangun dengan sederhana, memiliki arsitektur unik, perpaduan dengan anyaman bambu, yang menambah suasana puncak semakin menarik.


Bersambung....


__ADS_2