
Beberapa menit kemudian, Fire String telah menyelesaikan Instrumen pertama. Instrumen kedua, mereka mengaransemen berjudul Canon Rock. Dengan permainan finger style yang di gabung tehnik melodi. Yion dan Roger, personil Fire String tersebut, membawakan instrumen Canon Rock dengan ciri khas mereka.
Setelah Fire String, selanjutnya penampilan dari Black Symphoni, Dio,Roy dan Bram. Mereka betiga berjalan di depan Brilian. Brilian yang sedang duduk bersebelahan dengan Sekar, Dio terus menatap Brilian dengan tatapan sinis sambil berjalan ke belalang panggung.
"Apa lihat-lihat !!" lontar Dio kepada Brilian.
"Apa !!" ketus Brilian.
"Udah... Udah... Brilian," lerai Sekar.
Dio terus berjalan dan tetap memandang Brilian dengan tatapan sinisnya.
"Makan tu, telur busuk !! hahaha," olok Dio.
"Wah. Sialan,jangan-jangan kamu pelakunya, sini loe kampret !!" tantang Brilian.
"F*ck..." ketus Dio sambil mengajungkan jari t*ngahnya.
"A*jing !!" bentak Brilian sambil mengacungkan jari t*ngah ke arah Dio.
"Brilian... Sudah. Cukup!!" lerai Sekar menahan pundak Brilian yang hendak berdiri.
Brilian akhirnya kembali duduk. Dio dan teman-temannya bersiap-siap hendak perform di belakang panggung. Suasana pun semakin memanas.
"Wah coy, kayaknya mereka pelakunya," cetus Taka kepada Brilian.
"Eh, jangan asal nuduh dong. Kamu punya bukti apa?" pangkas Sekar menoleh ke arah Taka menenangkan situasi.
"Hehe... Nggak-nggak.... " Taka mundur beberapa langkah ke tempat Berto.
Sementara itu, Sekar mencoba menenangkan Brilian. Sekar juga mengajak Brilian pulang tapi ia tidak mau. Perasaan Sekar pun semakin tidak menentu. Seolah-olah,hal buruk itu akan terjadi.
"Brilian,bagaimana kalau kita pindah tempat. Yuk nyari suasana baru," ajak Sekar.
"Oke. Ayo di depan panggung aja," sambung Brilian.
"Jangan... Maksudku, di taman kota atau di kedai kopi... Kamu suka ngopi kan?" rayu Sekar.
"Iya sih. Tapi hari ini lagi nggak mood ngopi. Kamu aja sana, aku mau nonton perform di sini dulu," papar Brilian.
"Owh. Gitu. Oke. Ya udah aku pamit dulu ya," pamit Sekar sambil berdiri hendak berjalan ke arah Renata dan Ajeng.
"Maksudku, kamu duluan, nanti aku nyusul... Nanti aku telfon ya," ujar Brilian.
"Okey," Jawab Sekar singkat.
"Yuk sis," ajak Sekar kepada Renata dan Ajeng.
"Kemana sis..." tanya Renata dan Ajeng.
"Udah... Ayok.... " ajak Sekar.
"Oke deh," sahut Ajeng.
"Nah. Sekarang tugasmu, sebagai teman kamu bisa nggak nenangin amarah temanmu sendiri. Kasihan tu Sekar. Daa.... " pesan Renata kepada Taka.
"Oke daa.... " sahut Taka dan Berto.
Renata dan Ajeng lalu berjalan menghampiri Sekar, begitu juga dengan Taka dan Berto, mereka bejalan mendekati Brilian yang sedang duduk di barat panggung.
"Kenapa sih sis Brilian tadi?" tanya Sekar.
"Nggak apa-apa kok sis," jawab Sekar sambil menghusap air mata yang menetes di pipinya.
"Sis... Jangan gitu... Cerita dong... Jangan di pendam sendiri... Kita kan best friend," rayu Renata.
"Nanti aja sis. Aku ceritain," jawab Sekar sambil jalan ke arah parkiran mobil.
"Oke deh. Lalu, kemana kita sekarang? hehe kayak dora aja," canda Renata menghibur Sekar.
Sayangnya Sekar tidak tertawa dengan lelucon Renata. Raut wajahnya nampak sedih.
"Nggak lucu ya sis?" tanya Renata basa-basi.
"Sssttt... Diem," bisik Ajeng.
Mereka bertiga lalu berjalan ke arah mobil hendak ke suatu tempat. Saat sedang membuka pintu mobil. Tiba-tiba terdengar keributan dari arah panggung. Sekar, Renata dan Ajeng pun tidak jadi masuk ke dalam mobil. Renata kembali mengunci alaram mobilnya. Dari kejauhan nampak di atas panggung banyak kerumunan orang-orang. Tiba-tiba musik berhenti, dan Mc acara mengumumkan bahwa acara diberhentikan sejenak.
"Ada apa sis di sana ribut-ribut," cetus Renata.
"Iya. Jangan-jangan... " imbuh Ajeng.
"Entahlah. Bagaimana kalau kita mendekat aja," ajak Sekar.
"Wah... Bahaya sis. Mending nunggu di belakang panggung aja gimana... Demi keamanan.... Kita jalan memutar ke sana," ungkap Sekar.
"Jauh sis... Kalau jalan memutar.... " gerutu Ajeng.
"Ya udah kalau gitu tunggu di dalam mobil aja gimana. Nanti akan coba aku hubungi Brilian, dia bukan yang bikin onar," tegas Sekar.
"Siap sis. Ya udah cuss.... " pungkas Renata.
Mereka bertiga lalu memutuskan kembali ke dalam mobil. Sekar mencoba mengubungi Brilian,namun nomornya tidak aktif. Perasaan Sekar semakin tidak karuaan.
"Ayo angkat.... " gumam Sekar dalam hati sambil menelfon Brilian.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, tut... Tut... Tu... " operator.
"Gimana sis,?" tanya Renata sambil memegang kemudi mobil.
"Tetap tidak bisa dihubungi sis, hiih... " gerutu Sekar.
"Sudah sudah... Sabar sis, semoga aja bukan Brilian," sahut Ajeng.
"Iya sis," pungkas Sekar.
Sekar berada di sebelah kiri Renata. Sedangkan Ajeng berada di jog belakang. Mobil H*nda B*io berwarna silver milik Renata. Mobil dengan kapasitas maksimal empat orang tersebut, adalah mobil pribadi Renata yang dibelikan oleh orang tuanya.
Tanpa merka tau, ternyata yang ribut adalah Brilian dengan Dio. Brilian berkelahi dengan Dio di atas panggung. Brilian kesal karena Dio selalu membuat maslalah dengannya. Brilian juga berprasangka,yang melempar telur busuk tadi adalah Dio. Karena dia berangapan Dio menyimpan dendam kepada Brilian.
Kronologi kejadian. Saat Dio perform,Brilian sengaja berada persis di depan panggung. Dio yang melihat Brilian,ia sesekali mengajungka jari t*ngahnya ke arah Brilian. Singkat cerita,Brilian kesal, lalu naik ke atas panggung kemudian mereka berkelahi di atas panggung.
Selain itu, Brilian sedang dalam pengaruh minuman keras. Emosinya tersulut saat Dio mengacungkan jari tengah ke arah Brilian. Akibat perkelahian itu, Brilian mengalami luka pada wajahnya dan mengeluarkan darah cukup banyak. Begitu juga dengan Dio, karena tinju dari Brilian, hidungnya mengeluarkan darah cukup banyak juga.
__ADS_1
Sedangkan Taka dan Berto tidak ikut dalam perkelahian tersebut, mereka berdua berusaha menahan Brilian,namun gagal. Perkelahian tersebut murni one by one. Tetapi di atas panggung pertunjukan musik,bukan di atas ring tinju.
Akhirnya,masalah ini di atasi oleh pihak penyelenggara. Brilian dan Dio dinyatakan bersalah atas kegaduhan yang terjadi . Mereka didamaikan dan diberi sangsi. Sangsinya adalah, Black symphoni dan Clovuz tidak boleh mengikuti acara live perform selama satu tahun kedepan. Padahal nama Colvuz baru beberapa hari, sudah terkena sangsi satu tahun dilarang live perform.
Pertunjukan musik kembali dilanjutkan setelah kondisi kembali normal. Setelah Brilian dan Dio berdamai, mereka lalu membubarkan diri secara damai.
"Wah gilak kau coy, untung saja pihak penyelenggara cepat mengatasi masalah, kalau tidak, bisa gawat," cetus Taka kepada Brilian.
"Ah... Sudah, ayo bantu mengobati luku ini," ujar Brilian.
Ketika hendak berjalan ke arah parkiran sepeda motor. Sekar rupanya sedang berdiri dan memandang Brilian. Ia hanya diam melihat Brilian terluka. Brilian pun hanya menunduk melihat Sekar yang sedang memperhatikan dirinya.
"Owh. Jadi begitu ya. Oke," cetus Sekar.
"Sekar. Tolong dengar penjelasanku," pinta Brilian.
"Sudah. Besuk lain kali saja. Yuk sis," papar Sekar mengajak Renata dan Ajeng kembali ke parkiran mobil.
"Agghhh... Sial !!" batin Brilian kesal.
"Cepat kejar coy..." seru Taka.
"Biarin ajalah. Aku mau ke apotik dulu," pungkas Brilian berjalan ke arah sepeda motornya.
"Brum... Brum... Brum...." suara knalpot sepeda motor Brilian.
"Tent.... Teng teng teng teng teng... " suara knalpot vespa Berto.
Mereka betiga lalu menuju A24,apotik dua puluh empat jam, yang tidak jauh dari lokasi,berjarak sekitar 200 meter. Setalah sampai,lalu membeli kasa dan obat luar. Brilian lalu membersihkan lukanya, lalu membalut luka goersnya,dari atas alis mata kanan, sampai ke hidung. Mirip luka sayatan, namun setelah diperban, jadi mirip mummy.
Setelah beres, mereka tidak kembali ke tempat acara. Lalu pindah ke suatu tempat. Yaitu ke kedai Cahaya Senja, kedai favorit mereka, yang bersebelahan dengan taman kota. Perjalanan dari A24 sampai ke kedai,dengan jarak tempuh kurang lebih 5 menit.
Tidak lama kemudian,mereka sampai di kedai. Seperti biasa, mereka memesan makanan dan minuman favorit mereka. Lalu Brilian menceritakan kepada Taka dan Berto, jika Clovuz terkena sangsi.
"Jadi satu tahun tidak boleh mengikuti live perform ya," getutu Taka.
"Berarti kita tidak punya harapan masuk 10 atau 5 besar acara ini?" tanya Berto.
"Ya... Semoga aja, kalau harapan mungkin masih ada. Soalnya tadi tidak di bahas soal acara ini," jelas Berilian.
"Owh... Terus gimana coy Sekar tadi. Kelihatan marah," ungkap Taka.
"Nggak tau juga. Baru coba saya kirim pesan singkat,tetapi belum dibalas," terang Brilian.
Di tengah obrolan mereka, tidak terasa malam semakin larut. Waktu menunjukkan pukul 23:28 pm. Di samping itu mereka tidak bisa menonton acara sampai akhir. Setelah waktu menunjukkan jam setengah dua belas malam, mereka memutuskan untuk pulang.
Taka dan Berto berniat untuk tidur di rumah Brilian. Brilian pun mengizinkan. Setelah sampai di rumah Brilian, mereka tidak langsung tidur. Tetapi bermain gitar sambil merokok, dan memakan camilan makanan-makanan ringan. Brilian sendiri, langsung cuci muka di bagian yang tidak terluka, lalu tidur. Sebelum tidur, ia membuka ponselnya, belum ada balasan juga dari Sekar. Nampaknya Sekar sedang marah padanya.
*****
Ke esokan harinya. Brilian bangun kesiangan. Taka dan Berto nampak masih tertidur di sofa ruang tamu. Posisi tidur Taka, duduk sambil memegang gitar. Sedangkan Berto, terlentang kakinya malang melintang tepat di wajah Taka. Brilian sendiri menahan tawa melihatnya.
Setelah melihat di cermin, rupanya luka memar Brilian semakin parah. Untuk ke dua kalinya ia mengalalaminya,dua kali pula baku hantam degan Dio. Tidak peduli dengan lukanya, Brilian lalu mandi di pagi hari yang cukup cukup dingin. Setelah selesai, Ia lalu mengirim pesan singkat lagi kepada Sekar.
"Selamat pagi Sekar," pesan singkat Brilian.
Namun tidak juga ada balasan dari Sekar. Sambil menunggu balasan,Brilian menyelesaikan rutinitas paginya. Seperti biasa, karena hanya seorang diri tinggal di rumah. Seperti mamasak nasi, mencuci baju, bersih-bersih rumah, dan lain-lain, ia kerjakan sendiri. Sudah lama ia belajar hidup mandiri. Sementara itu Taka dan Berto masih tertidur mendengkur dengan pulasnya di sofa ruang tamu. Posis tidur mereka berubah, kini kedua kaki Taka yang menumpang di wajah Berto. Sedangkan kaki Berto melintang menumpang di atas meja yang tingginya setara dengan sofa.
Setelah selesai bersih-bersih,mereka berdua menuju kamar mandi hendak mencuci muka dan mencuci tangan. Brilian menyiapkan sarapan di meja makan.
"Kalau sudah selesai, ambil sendiri ya sarapannya, di meja makan," seru Brilian.
"Siap coy," sahut Taka dan Berto berebut kran air dicdapur hendak mencuci tangan.
Mereka bertiga lalu sarapan bersama, sambil mendengarkan radio favorit Brilian, Radio Suara Indie. Di sana terdengar Vj sedang mengumumkan juara terpilih Battle String Rock Fest semalam.
"Hola sahabat indie dimana pun kalian berada,dari kutup utara sampai kutup selatan.... Haha. Oke, dikesempatan kali ini, saya akan mengumumkan,siapa aja yang mendapat penilaian terbaik dari juri di acara Battle String Rock Fest semalam ya.... Buat yang tidak bisa hadir semalam, kami akan putar siaran ulang performa para band dan musisi yang meramaikan acara semalam... Oke," seru Vj Radio.
"Wah... Berarti perform kita semalam, di putar di radio dong..." cetus Taka bangga.
"Ya... Kalau tidak di skip coy, gara-gara ada keributan kecil semalam," ujar Brilian.
"Haha, bisa jadi," imbuh Berto.
Setelah selesai sarapan,Taka lalu membawa piring-piring dan gelas ke tempat cucian dapur. Karena ia khawatir piring-piring Brilian pecah lagi kalau tidak segera diberesin. Mereka lalu kembali duduk di sofa ruang tamu sambil melanjutkan mendengarkan pengumuman di Radio.
"Oke, langsung saja. Berdasarkan penilaian juri, dinilai dari performa,penguasaan panggung, dan aransemen lagu. Juara pertama, Edelweiss band... Ke dua Magentha, Ke tiga The Ne... Ke empat Blue Sky... Kelima Clovuz.... " seru Vj Radio.
"Hore...!!" sorak Taka.
"Sebentar coy,jangan senang dulu. Kita dengar sampai selesai," tutur Brilian.
"Iya coy, siapa tau kita dicancel, haha," imbuh Berto.
"Ah, masak dicancel coy," gerutu Taka.
"Tapi... Ada tapinya ni... Khusus untuk Clovuz, karena ada sedikit masalah, untuk juara ke lima diganti oleh Marshmello band... Untuk nama-nama band yang saya sebutkan tadi, silahkan datang ke radio kesayangan kalian ini ya... Kami tunggu sampai pukul lima sore nanti... Termasuk Colvuz, ditunggu kedatangannya...." seru Vj Radio.
Vj Radio lalu melanjutkan kan pengumumannya untuk kategori duo gitarais dan musis solo.
"Tu, benarkan ku bilang," cetus Brilian.
"Terus ngapain kita disuruh datang di Radio kalau tidak jadi dapat juara," gumam Taka.
"Ya... Mungkin dikasih sedikit pencerahan coy, supaya kami tidak mabok... Mulu, haha," canda Berto.
"Bukan, paling saya yang akan di beri nasehat, kalian mah aman," sahut Brilian.
"Terus, kapan kita ke sana? siapa tau di kasih hadiah," tanya Taka.
"Saya kapan aja siap, lagi off kerja soalnya," jelas Berto.
"Oke. Sekang kita kesana," ajak Brilian.
"Oke, tapi aku mau mandi dulu," cetus Taka.
"Aku dulu," sahut Berto.
Tetapi Taka lebih dulu lari ke kamar mandi lalu mandi. Setelah selesai,giliran Berto. Setelah semuanya selesai, mereka bergegas menuju ke studio Radio Suara Indie. Kira-kira jarak tempuh memakan waktu 15 menit. Dijalan dengan cuaca cerah, mereka melaju dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di Studio Radio, rupanya di sana sudah cukup banyak yang sudah datang. Dugaan Brilian benar,ia dipanggil di ruangan khusus, untuk diberi nasehat oleh pihak penyelenggara acara,Venoiz Organizer. Agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Sedangkan Taka dan Berto menerima hadiah berupa bingkisan dan uang dalam bikisan tersebut.
Taka,Berto dan Brilian lalu membuka bingkisan tersebut di parkiran sepeda motor. Rupanya dalam bingkisan tersebut adalah,stick drum, dan uang dalam amplop, senilai 1 juta rupiah.
__ADS_1
"Lumayanlah..." cetus Taka.
"Wah... Dapat stick juga ni, yuhu," sorak Berto.
Tiba-tiba di tengah mereka membuka hadiah. Brilian melihat Sekar berjalan dari dalam studio radio juga. Bersama dua temannya Renata dan Ajeng. Mereka bertiga tidak melihat Brilian. Kerena Brilian berada di parkiran sepeda motor, sedangkan Sekar,Renata dan Ajeng, menuju ke parkiran mobil. Brilian pun tidak berani memanggil Sekar, karena wajahnya masih ia perban mirip mumy.
"Lho, itu Sekar kan, nggak kamu samperin coy?" tanya Taka.
"Nggak usahlah. Udah saya kirim pesan singkat, tapi tidak dibalas kok," jelas Brilian.
"Kayaknya ngambek coy," papar Berto.
"Mungkin," sahut Brilian.
"Wow. Ternyata mereka naik mobil," gumam Taka.
"Iya. Mobil milik Renata," sahut Brilian.
"Owh... Gitu... " pungkas Taka.
"Mau kemana kita sekarang coy?" tanya Berto.
"Mending beli minum aja yok. Terus ke pantai atau kemana kek," usul Taka.
"Waduh, masak mimum lagi coy," gerutu Berto.
"Besuk ajalah coy minumnya," imbuh Brilian.
"Kenapa, lagi nggak enak badan?" sindir Taka.
"Bukan,maksudku tidak baik untuk kesehatan kalau tiap hari minum...." jelas Brilian.
"Iya coy. Tobat coy tobat...." imbuh Berto.
"Oke deh... Nanti tak beli sendiri aja kalau kalian nggak mau... " ujar Taka.
"Dah,ayok gas," ajak Brilian.
"Kemana kita?" tanya Taka dan Berto.
"Di hutan pinus aja gimana? sejuk," ajak Brilian.
"Oke siap," sahut Taka dan Berto.
"Brum... Brum... Brum... "
"Tent teng... Teng.. Teng... Teng... Teng..."
Taka dan Berto berboncengan sedangkan Brilian sendiri dengan sepeda motor kesayangan Cb klasik.
Hutan pinus tidak terlalu jauh dari studio radio, karena studio radio sendiri letaknya sudah masuk dataran tinggi, sedikit menaiki bukit. Tidak lama kemudian mereka telah sampai di hutan pinus. Pemandangan yang memanjakan mata,di tambah lagi udara sejuk,ac alami yang melegakan paru-paru.
Meski siang hari cukup terik, namun di hutan pinus,tetap terasa sejuk. Mereka bertiga lalu duduk di kursi kedai yang ada di hutan pinus tersebut. Kemudian memesan minuman kepala muda yang nampak segar bila diminum siang hari. Di samping itu, Brilian mencoba menelfon Sekar namun tidak di angkat juga.
"Fix, ngambek," batin Brilian.
****
Setelah berjam-jam mereka di hutan pinus tersebut. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 15:10 pm. Brilian berpamitan kepada Taka dan Berto hendak berangkat kerja.
"Aku duluan ya coy," pamit Brilian.
"Wah nggak asik ni coy," gerutu Taka.
"Mau kerja coy... Kasian nanti yang shif pertama...." ujar Brilian.
"Bolos aja..." sahut Taka.
"Udah coy, biar Brilian kerja, kita di sini aja dulu, siapa tau ada cewek yang mau di ajak kenalan,haha," canda Berto.
"Tu... Berto," sahut Brilian.
"Oke oke... Tapi nanti setelah ini,kita minum lho, haha," pungkas Taka.
Brilian lalu bergegas berangkat kerja. Karena jarak ke tempat kerja lumayan jauh, dari hutan pinus,bisa mamakan waktu sekitar 20 menit. Diperjalanan, ia mempercepat laju sepeda motornya supaya tidak terlambat. Hampir saja tadi ia lupa jika hari ini bekerja.
"Brum... Brum.. Brum... "
Brilian berkendara dengan perban dan luka memar di wajahnya. Luka gores yang diperban dari atas alis kanan, sampai ke hidung Brilian. Nampak seperti mummy ghost rider.
Sesampainya di tempat kerja, Erlin teman keja Brilian, kaget melihat luka pada wajahnya. Padahal malam waktu acara Battle String Rock Fest,Erlin juga nonton di sana, tapi tidak tau kalau yang ribut-ribut itu adalah Brilian.
"Jadi,yang ribut-ribut semalam,kamu kak?" tanya Erlin kaget.
"Iya. Emang kamu nonton acara jam berapa, kemarin kamu libur apa?" tanya Brilian balik.
"Saya masuk kak. Ke sana setelah toko tutup kak. Kirain siapa kak, soalnya saya pas datang, keributannya sudah selesai... " jelas Erlin.
"Owh... Gitu ya," sahut Brilian.
"Eh kak, aku punya band juga lho," ungkap Erlin.
"Masak sih," sambung Brilian sambil berjalan ke arah kursi kasir.
"Iya, tapi jarang aktif. Jadi kadang nyanyi solo kak kalau pas ada job manggung," terang Erlin.
"Owh... Kenapa kemarin tidak ikut acara?" tanya Brilian.
"Belum sempat kak, ketinggalan info, hehe," sahut Erlin.
"Kak,aku balik dulu ya," pamit Erlin.
"Iya, hati-hati di jalan. Motornya nggak rusak lagi kan?" tanya Brilian.
"Semoga aja nggak kak. Kalau seandainya rusak lagi, pinjam sepeda motor kak Brilian bolehkan... Hehe," canda Erlin.
"Hehe,boleh aja... " sahut Brilian.
"Ya udah. Cepet sembuh ya kak. Daa... " pamit Erlin sambil keluar dari pintu kaca JT Guitar Costum.
"Daa... Erlin," pungkas Brilian.
Bersambung....
__ADS_1