
Cahaya sunset menembus dinding kaca bertuliskan JT Guitar Costum. Brilian duduk di meja kasir sambil bertumpang dagu, dengan luka memar di wajahnya dan perban melingkar di kepala. Ia masih memikirkan Sekar, karena pesan singkatnya tak jua dibalasnya.
"Apa kali ini Sekar benar-benar marah padaku,huft..." gumam Brilian dalam hati.
Saat Brilian sedang bertumpang dagu,sambil melamun. Tidak lama kemudian,ada seseorang membuka pintu kaca JT Guitar Costum.
"Selamat sore Brilian," sapa Pak Jobatan membuyarkan lamunan Brilian.
"Owh. Selamat sore Pak, dari mana ini Pak?" tanya Brilian kaget.
"Habis dari tempat Pak Wahid, mengambil pesanan kayu," jawab Brilian.
"Owh... Iya Pak," sahut Brilian.
"Loh, mukamu kenapa kok diperban-perban begitu,Brilian ?" tanya Pak Jonatan.
"Ini... Anu Pak,kemarin... Jatuh dari sepeda motor, hehe," jawab Brilian berbohong.
"Jatuh lagi, perasaan belum lama ini kamu juga habis jatuh kan?" tanya Pak Jonatan lagi.
"Iya Pak,hehe," ucap Brilian sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Makanya hati-hati... Jangan ngebut-ngebut... Oiya, gimana Erlin, sudah bisa membuat rakapan bulanan?" tanya Pak Jonatan sambil memberi nasehat.
"Iya Pak. Erlin sedikit demi sedikit sudah mulai bisa kok, cepat tanggap orangnya," jelas Brilian.
"Oke deh... Kamu ajarin sambil jalan ya, Brilian. Kalau ada apa-apa langsung tanya saya," pesan Pak Jonatan.
"Baik Pak," sahut Brilian.
"Ya udah, saya tinggal dulu ya, mau ke tempat Pak Sidik dulu," pamit Pak Jonatan sambil berjalan ke ruang belakang tempat pembuatan gitar.
"Baik Pak," jawab Brilian berdiri sambil menganggukan kepala.
Brilian lalu kembali duduk. Kembali melanjutkan lamunannya. Ia berandai-andai, seandainya waktu itu dia tidak minum-minuman keras. Mungkin keributan itu tidak pernah terjadi. Ia hanyut dan teringat kejadian itu. Dari Sekar memberi nasehat kepadanya berulang kali, Ia teringat perjuangan Sekar meredam emosinya. Namun Brilian mengabaikannya.
Seolah-olah,waktu itu,Sekar sudah mengetahui apa yang akan terjadi,dari firasat-firasatnya,Brilian menyambung kembali sebab akibat. Lamunannya semakin dalam dan semakin dalam. Ingatanya seakan-akan kembali, dari awal pertemuannya dengan Sekar, hingga detik ini. Ari mata Brilian perlahan menetes.
"Ah, apa aku secengeng ini," batin Brilian sambil menusap air matanya yang tak sanggup ia bendung.
__ADS_1
Tiba-tiba ia seperti mendengar suara Sekar dalam lamunan. Canda tawa,nasehat-nasehatnya,bahkan Sekar pernah mengusap air matanya ketika itu. Membuat lamunan Brilian semakin dalam. Tiba-tiba terdengar suara keras di jalanan, tepat di depan tempat ia berkerja.
"Braakkk...!!!"
"Aaaa...!!!"
Terdengar suara benturan dan teriakan,yang membuyarkan lamunannya lagi. Brilian lalu membuka pintu kaca yang penuh sticker itu,lalu melihat apa yang sedang terjadi diluar. Rupanya ada kecelakaan. Nampak seorang laki-laki kira-kira seusia Brilian, tergeletak disebrang jalan. Sepeda motornya salah satu rodanya terlepas. Akibat menabrak mobil lalu terpental di trotoar hingga roda depannya terlepas,mengelinding seperti bola bowlling.
Brilian menahan tawa, karena melihat roda yang terlepas tersebut. Roda itu mengasak gerobak pedagang sayur, hingga sayur-sayuranya tercecer berhamburan. Pedangang sayur itu pun terjingat karena kaget sambil mengelus dada.
Brilian hendak menolong namun toko tidak ada yang menjaganya. Beberapa detik kemudian,kerumunan nampak memadati persimpangan jalan. Brilian hanya menyaksikan dari depan pintu kaca toko. Terlihat seorang laki-laki yang tergeletak tadi, dibopong oleh tiga orang yang ads diantara kerumunan itu. Lalu dibawa masuk ke dalam mobil hendak di bawa ke RS kerena tidak sadarkan diri.
Kebetulan, di depan Brilian ada seorang pria paruh baya yang sedang berdiri menyaksikan kecelakaan itu. Brilian lalu bertanya kepada pria paruh baya tersebut. Pria tersebut lalu menceritakan kronologi kejadiannya.
Ada seorang anak laki-laki mengendarai sepeda motor dari arah timur dengan kecepatan tinggi. Saat ia sampai di pertigaan jalan, lalu hendak berbelok ke kiri, tiba-tiba ada mobil berlawanan arah hendak belok ke kanan. Namun laju sepeda motor anak laki-laki tersebut terlalu cepat,sehingga ia tidak bisa mengendalikan laju sepeda motornya, dan, brak. Akhirnya menabrak mobli tersebut lalu terpental. Diduga anak laki-laki tersebut dalam kondisi mabuk.
"Deg." Brilian sedikit kaget.
"Owh... Begitu ya Pak," tanggap Brilian.
"Iya nak," jawab pria paruh baya itu.
"Waduh... Mirip sekali sama Sekar. Memang mirip atau hanya pandanganku saja... " batin Brilian sambil menucek-ucek matanya.
Ia lalu duduk di kursi kasir sambil menunggu calon pembeli yang mirip Sekar itu memilih-milih gitar. Brilian lalu memebuka ponselnya. Alangkah terkejutnya melihat Sekar membalas pesan singkatnya,yang isinya.
"Apa?" pesan yang sangat singkat dari Sekar yang dikirim pukul 17:15 pm
Sedangkan sudah dari tadi pagi, bahkan kemarin malam, pesan singkat Brilian tidak dibalas. Karena pesan itu baru saja masuk,ia lalu dengan cepat membalasnya. karena hendak menelfonnya,tidak enak sedang ada calon pembeli.
"Lagi Sibuk ya, Sekar?" tanya Brilian melelui pesan singkat.
"Nggak. Kenapa?" balas Sekar singkat.
"Tidak apa-apa... Aku minta maaf ya soal kemarin... " pinta Brilian.
Namun Sekar tidak membalas pesan singkat itu. Brilian lalu meletakkan ponselnya, lalu kembali melayani calon pembeli yang sudah menentukan pilihanya dan sudah ditest suaranya. Brilian lalu membuatkan nota atau tanda bukti pembayaran. Dari situ Brilian tau namanya, ternyata perempuan yang mirip Sekar tersebut bernama Sukma. Sama-sama menggunakan huruf depan huruf s. Beberapa menit kemudian proses pembayara telah selesai, Brilian lalu mengucapkan terimakasih,sesuai sop yang sudah diterapkan di JT Guitar Costum.
****
__ADS_1
Tiga jam berlalu. Waktu menunjukkan pukul 20:50 pm. JT Guitar Costum sudah hampir tutup. Seperti biasa, sebelum tutup, Brilian terlebih dahulu membersihkan dan merapikan tempat ia bekerja. Setelah semuanya selesai. Ia lalu menutup rolling door toko. Kemudian berjalan ke samping toko ke tempat dimana sepeda motornya ia parkirkan.
"Brum... Brum... Brum..."
Ia lalu pulang, masih dengan perban yang melingakr di kepalanya. Tidak mengenakan helm, namun mengenakan topi pet, kaca mata, jaket jeans, jelan jeans hitam, dan sepatu casual hitam. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang, karena suhu malam itu cukup dingin.
Disepanjang rute perjalanan pulang, seolah-olah ia melihat Sekar ada dimana-mana. Setiap melihat perempuan yang kebetulan ada di pinggiran jalan, Brilian lalu menoleh, ia menyangka orang itu adalah Sekar. Ia merasa ingatanya dipenuhi akan wajah dan namanya. Dijalan, sambil berkendara,ia membuka ponselnya, namun belum juga ada balasan pesan dari Sekar.
Sesampainya di rumah, ia lalu melepas semua pakaiannya,kemudian berganti pakaian santai yang biasa ia kenakan saat di rumah. Sambil bersiap-siap mandi dengan air hangat. Ia menyandarkan tubuhnya sejanak di sofa ruang tamu. Sambil mencoba menelfon Sekar. Lagi-lagi tidak ada respon.
Brilian lalu berendam air hangat dan menenangkan sejenak pikirannya. Setalah selesai,ia lalu makan malam. Tepat pukul 22:00 pm, Brilian memetik senar gitarnya dan melantunkan beberapa lagu yang mewakili perasaannya saat ini. Dalam segi kesehatan, bernyanyi juga dapat melepas stres dan mampu menyehatkan badan.
Malam semakin larut. Setelah cukup lama bermain gitar. Brilian akhirnya memutuskan untuk tidur. Tidak lupa,ia memasang alaram terlebih dahulu. Berharap bisa bangun pagi dan menikmati sejuk udara pagi. Baru saja membaringkan badannya, ponselnya berdering pertanda ada pesan masuk. Rupanya balasan dari Sekar. Brilian lalu mencoba menelfonnya, namun nampaknya Sekar tidak mau untuk mengangkatnya. Kemudian ia membuka isi pesan singkat Sekar,yang isinya.
"Brilian, mulai Sekarang,aku lagi ingin sendiri. Aku udah maafin semua kesalahanmu. Aku juga minta maaf, selama ini aku banyak salah, dan sudah banyak merepotkanmu. Selamat malam Brilian, selamat tidur, semoga mimpi indah," isi pesan singkat Sekar.
"Sekar, tolong angkat telfonku... Aku ingin berbicara padamu.... " pinta Brilian.
Namun Sekar tidak jua mengangkat telfon dari Brilian. Akhirnya Brilian meletakkan ponselnya, lalu kembali membarikan badannya di kasur busa tempat tidurnya. Dengan perasaan gelisan, ia memaksa memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba kedua matanya tidak bisa diajak kompromi, padahal tadi sudah lumayan ngantuk. Ia hanya memandangi langit-langit kamarnya. Kembali ia tengalam dalam lamunan.
Malam pun semakin larut. Lamunannya membuatnya terjaga hingga pukul 02:14 am. Namun ia terus memaksa untuk memejamkan matanya, karena ia berharap bisa bangun pagi.
***
Keesokan harinya. Alaram Brilian berbunyi.
"Trigg... Tringgg... Triinnggg...."
Tepat saat subuh. Meski luka memarnya masih terasa agak sakit. Ia tetap bangun, melawan rasa malasnya, meski hanya tidur beberapa jam karena insomnia. Ia lalu beribadah terlebih dahulu. Setelah itu, bersiap-siap untuk lari-lari pagi. Kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan,namun kini mencoba ia mulai kembali.
Brilain jogging,sambil melupakan hal-hal yang mengganggu jalan fikirannya. Meski Ingatan-ingatan itu selalu muncul. Tiba-tiba, gerimis turun. Namun tidak menghentikan langkah Brilian. Ia tetap berlari-lari kecil di tengah gerimis. Ingatan lalu kembali saat ia masih smp,deja vu. Pagi itu, di tempat yang sama, gerimis yang sama pula. Brilian pernah patah hati kepada salah satu teman wanitanya yang masih satu sekolah dengannya kala itu. Cinta-cinta monyet masa smp. Namun, karena menyangkut masalah perasaan. Tetap saja, putus dengan pacar,tidak enak rasanya.
Beberapa detik setelan menikmati deja vu, Brilian lalu sampai rumah dengan pakaian cukup basah karena gerimis. Pagi itu... mengingatkannya kembali kepada salah seorang teman wanitanya semasa smp, bernama Septi. Semasa smp, Brilian bisa dibilang playboy, namun sedikit pemalu untuk urusan hal-hal semacam itu. Ia juga pernah taruhan dengan teman sekelasnya. Dalam jangka waktu seminggu,siapa yang bisa dapat cewek lebih dulu, yang kalah wajib traktir makan.
Singkat cerita, Brilian memangkan taruhan itu. Namun, seiring waktu berjalan, akhirnya timbul masalah dengan pacar semasa smpnya. Yang harus mengakhiri hubungan dengan sang pacar, yang membuat Brilian menangis waktu itu. Meski awalnya cuma buat main-main, tapi kalau sudah menyangkut perasaan, akhirnya nangis juga. Tetapi detik ini, ia masih belum percaya jika hubungannya dengan Sekar sudah berakhir.
Bersambung....
Note :
__ADS_1
"Bernyanyi dapat menghilangkan stres dan dapat menyehatkan tubuh,"