
Di dalam mobil Rania duduk dengan gelisah sedangkan Raga memperhatikannya dengan tampang terhibur. "Apa kucium saja dia? Biar tidak terlalu tegang begitu."
Beberapa saat Raga melupakan sesuatu. "Oh ya, budak cantikku," kata Raga, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kantornya.
Rania tersentak begitu melihat sebuah kalung berwarna hitam. Mirip kalung yang biasa dipakai anjing.
"A-apa itu, Tuan?" tanya Rania. Ia merasakan sesuatu yang buruk dari tatapan Raga. Jangan bilang...
"Kenakanlah kalung ini. Sebagai tanda resmi kau ini budakku," ujar Raga santai. Rania langsung kaget, sesuai dugaannya.
"Akan tampak lebih sempurna dengan memakai kalung ini. Masa seorang budak tidak memakai kalung, iya, kan?" Tanpa menunggu persetujuan Rania, ia pun mengenakannya di leher jenjang Rania.
Raga mengendus leher putih Rania setelah memasangkannya. "Harum sekali lehernya. Bau yang sempurna..."
"Nah, sudah!" seru Raga kemudian memundurkan wajahnya dan terlihat bangga.
"T-Tuan..." kata Rania. Ia memegang kalung yang melingkar pas di lehernya itu. Sangat menjatuhkan harga dirinya.
Raga dapat melihat kesedihan di wajah Rania. Ia merasa kasihan juga. Menurutnya terlalu...
__ADS_1
"Ah, tidak, tidak." Raga membela diri. "Sudah sepantasnya budak diperlakukan seperti ini. Aku masih tergolong baik, sedangkan di luar sana tidak ada yang mendapatkan perlakuan seistimewa dia. Mereka hanya berpakaian lusuh dan koyak-koyak sementara setiap hari dijadikan pelampiasan nafsu."
Rania sekali lagi berujar sedih... "T-Tuan..." Tapi tidak ada air mata yang keluar dari pelupuk yang indah itu. Ia menahannya sekuat tenaga, tidak mau membuat marah Raga. Hingga ibunya yang kena imbas.
"Apakah dirimu tidak memiliki hati sedikitpun, Raga Anggara?" batin Rania bertanya. "Kau memiliki wajah yang sangat tampan, aku mengakuinya. Tapi hatimu sungguh seperti iblis. Apa yang membuatmu begitu mudahnya merendahkan seorang wanita? Jaya juga merendahkanku, merendahkan ibuku. Walaupun kau lebih kejam, tetap saja kalian telah merendahkan kami kaum perempuan."
Tubuh Rania bergetar saking kuatnya ia menahan air matanya untuk jatuh membasahi pipinya.
"Kau sangat cantik sekali, Rania Kusuma," bisik Raga.
Hanya gombalan menjijikkan yang Raga keluarkan, membuat Rania semakin membencinya. Tidak akan ada cinta. Sekalipun Rania merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan-tatapan Raga sebelumnya.
Rania tidak melawan saat kepalanya disandarkan ke bahu Raga. "Jangan tegang begitu. Hari yang kita lalui itu harusnya dinikmati bukan untuk ditangisi, budak cantikku."
"A-aku tidak menangis, Tuan," tukas Rania lemah. Ia tahu kalau mengaku tengah menangis, Raga mungkin saja akan marah.
Entah hukuman apa yang akan diterimanya. Bisa jadi ia akan disuruh terlentang di atap mobil dalam keadaan terikat. Sementara mobilnya melaju sangat kencang.
Sejauh ini hal paling kejam yang dilakukan oleh Raga adalah waktu di pantai. Ia terikat dan dua anjing hitam yang buas tidak henti-hentinya menggeram. Ada beberapa kali gonggongan yang membuat Rania kaget setengah mati. Sumpah demi apapun, Rania paling takut dengan anjing. Ia bahkan sampai terkencing-kencing, dan Raga tidak henti-hentinya menertawainya selama perjalanan menuju villa.
__ADS_1
"Kau benar-benar beruntung, Rania," bisik Raga tiba-tiba, sehingga mengalihkan pikiran Rania.
"I-iya, aku beruntung, Tuan," kata Rania. Berbohong saja demi kebaikan ibunya. Ia tidak mau berkata jujur seperti, "Aku merasa orang yang paling sial karena berada di sampingmu!"
"Benar, sebagai pria aku tidak pernah main fisik," kata Raga. "Aku menghormati kalian, karena dulu aku juga punya ibu..."
Entah kenapa Rania menjadi penasaran begitu mendengarnya.
"Sial, kenapa aku malah menceritakan hal ini. Apa yang kaupikirkan, Raga?!" batin Raga kesal.
Tapi anehnya Raga tetap melanjutkan curhatannya.
"Kau tahu, dulu aku punya sekretaris pribadi khusus di kantor. Ia adalah barang mainanku di saat aku jenuh ataupun bosan. Tapi aku bersumpah tidak pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya. Aku hanya mengisenginya seperti makan nasi basi dan lain sebagainya... Aku tahu kalau itu..."
"Berhenti bicara!" bentak Raga pada dirinya sendiri.
Rania menahan napasnya karena dibuat kaget. "Apa dia sudah gila?" batinnya.
***
__ADS_1