
Matahari telah terbit. Ayam berkokok dari kejauhan. Tampak seorang CEO tampan sedang tidur pulas sementara di sampingnya tergolek lemas seorang budak cantik yang merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.
Walaupun sangat lemas, Rania memutuskan untuk bangkit. Rania memakai kembali pakaiannya yang lusuh. Tadinya itu pakaian kantor putih hitam yang akan digunakannya untuk melamar pekerjaan. Tapi Rania tidak sempat menggantinya karena harus melayani nafsu bejat Jaya.
Setelah berpakaian kembali Rania beranjak untuk membuka tirai jendela kamar sedikit dengan hati-hati. Karena Rania takut membuat silau dan membangunkan Raga.
"Indah sekali..."
Mata Rania terpaku dengan pemandangan lautan di depannya. Rania melangkah ke luar dan bersandar di atas pegangan balkon yang serba kayu.
Kayunya sangat halus. "Pasti sangat mahal," gumam Rania seraya mengelus lembut kayu itu.
Dibandingkan dengan kayu di rumahnya, kayu di vila ini jauh lebih berkualitas. Berkali-kali lipat. Di sini Rania dapat merasakan kayu yang sejuk. Apa karena udara dingin di lautan sehingga bisa sesejuk ini? Entahlah, yang pasti ini benar-benar kayu berkualitas tinggi.
Perkampungan kumuh yang berdiri di pinggiran Ibukota-lah tempat tinggal Rania. Sehari-hari Rania dibuat kepanasan meski sudah ada kipas angin. Kalau sudah begitu, Ratna selalu berinisiatif mengipasi Rania dengan kain. Seperti menina-bobokan Rania, ibunya mengipasi sambil bernyanyi dengan suara yang begitu merdu.
Air mata itu akhirnya jatuh lagi. Rania terisak pilu. "Ibuuu. Sungguh aku tidak mau berpisah denganmu. Tapi kenyataan membuat kita harus berpisah. Sabarlah, Bu. Pasti ada malaikat penolong untukmu dari kekejaman Ayah."
__ADS_1
"Nyaris setiap hari dia memperkosa kita, memperlakukan kita hina seperti keledai dungu. Sabarlah, Bu, sabarlah. Tuhan tidak mungkin memberikan kita penderitaan tiada akhir. Dia akan mengirim malaikatnya. Dia akan menolong... kita... Buu. Hiks, hiks."
Rania memukul-mukul dadanya yang naik turun karena tidak kuat menahan denyutan sedih di hatinya.
Sungguh Rania tidak kuat.
***
Raga buru-buru kembali ke atas ranjangnya. "Sial, nyaris saja ketahuan." Raga memejamkan matanya. Sesaat Raga mengintip dengan membuka sedikit kelopak matanya. Tapi tidak sampai setengah detik Raga menutupnya dengan cepat.
"Oh, Tuhan! Kenapa dia sedang memandangi wajahku sekarang?!"
"Apa yang kaulakukan?" Tiba-tiba Raga membuka matanya.
Rania sontak kaget luar biasa. Matanya terbelalak. Rania mau meloncat mundur, tapi Raga menahan pinggangnya. "Budak cantikku sudah bangun, ya?"
Tatapan maut Raga tidak lepas, membuat Rania tak punya kekuatan untuk menoleh. "Matamu hitam, tapi sangat indah dan sempurna," bisik Raga, sementara bibirnya nyaris menyentuh bibir Rania.
__ADS_1
"T-terima kasih p-pujiannya, T-Tuan," kata Rania terbata-bata. Rania mau melepaskan diri dan tidak mau terjerat oleh tatapan palsu sang iblis.
Beberapa saat lamanya Raga tidak juga mengalihkan tatapannya. "Sekarang kau pasti jatuh cinta padaku, kan? Haha!" Raga membatin senang.
Raga memang berniat menggoda Rania, membuatnya menjilat ludahnya sendiri. Pura-pura menderita karena dijadikan budak, tapi nyatanya malah senang karena bisa bercinta dengan CEO tampan.
Sesaat Raga mau menghentikan tatapannya. "Hei, berhenti menatapnya! Sudah cukup! Aku sudah puas menggodanya!"
Raga tetap saja menatap mesra Rania dengan cara yang berbeda. Hingga tanpa diperintah, bibir Raga maju ke depan.
Gadis cantik yang sekarang budak itu tidak melawan. "Harus kuakui kalau ciumannya memang nikmat..."
Pagi itu kembali mereka bercinta. Raga mendadak buas sesuai nama keluarganya. Raga menyetubuhi Rania dengan kasar. Perasaan nikmat yang dirasakan oleh Rania sontak saja langsung berubah.
"Oh Tuhan! Tetap saja dia kejam!"
***
__ADS_1