Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Memandikan Raga


__ADS_3

Rania menoleh ke atas seraya menghapus air matanya. Baru ingat ada CCTV rahasia seperti yang dibilang oleh Raga. Kalau sampai Raga tahu Rania menangis bisa menjadi gawat. "Di mana CCTV-nya? Ah, namanya juga rahasia pasti tempatnya juga rahasia."



"Aku harus bisa," gumam Rania setelah membuang napas pelan-pelan. "Tidak boleh menangis. Tidak boleh menangis. Tidak boleh... Hiks..."



"Ayolah, Rania, kau pasti bisa!" Rania menggeleng seraya kembali menghapus air matanya.



Pintu tiba-tiba terbuka, membuat Rania tersentak kaget. Raga Anggara!



"Wah, wah, budak cantikku melanggar peraturan, ya?" Pria muda itu benar-benar Raga.



Bagaimana Raga bisa kembali secepat ini sementara perasaan baru setengah jam ia pergi. Lalu Rania sama sekali tidak mendengar suara klakson mobil. "Apa dia mempermainkanku?!"



"T-tidak, t-tidak, Tuan. A-ampun!"



Raga mencengkram dagu Rania. "Berdiri."



Rania pun menurut. "A-ampun, T-Tu--"



Bibir Rania tiba-tiba dilumat sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Terus melumat hingga Rania terdorong ke dinding. Kedua tangan Rania diangkat tinggi-tinggi.



"Karena kau melanggar peraturan, kau akan kuhukum," bisik Raga saat  melepaskan ciumannya.



Rania langsung takut membayangkan hukuman apa yang akan diberikan oleh Raga. Ia berfirasat hukumannya pastilah berat.



"Kau harus memandikanku sampai bersih."



Mulut Rania melongo. "Bukankah dia sudah mandi tadi? Kenapa mau mandi lagi?!"



"Apa? Kau tidak mau?" Tatapan Raga menajam. "Mari kita lihat apa kau mampu tidak menangis selama tujuh hari tujuh malam karena ibumu--"



"Ayo, Tuan!" seru Rania pura-pura semangat seraya merangkul lengan Raga. "Mm, Tuan Raga habis bertemu klien, ya? Pasti capek dan gerah. Mari, Tuan, kumandikan sampai segar."



"Hei, pelan-pel--"



Rania nyaris terjatuh terpeleset lantai kamar mandi yang masih basah. "Eh?" Tatapan Raga dan Rania bertemu dengan cara yang tidak biasa. Istimewa.



Ada jeda sepuluh detik sebelum mereka mengalihkan tatapan. "Kau mau mencederaiku, ya?" tanya Raga berang.



Tangannya terangkat dan lagi-lagi mengelus pipi Rania. Bodohnya, Rania masih saja tertipu dengan trik Raga. "M-maafkan aku, T-Tuan. Aku tidak sengaja!"



"Sengaja atau tidak, kau tetap akan kuhukum!" balas Raga. "Hukuman ditambah. Setelah memandikanku, kau harus mencabut bulu hidungku tanpa merasakan sakit."



"W-what?" Rania cuma bisa melongo.

__ADS_1



"Kebetulan bulu hidungku sudah mulai panjang," kata Raga. "Jadi kau harus mencabutnya tanpa membuatku sakit. Pikirkanlah bagaimana caranya atau aku akan mempertimbangkan ibu--"



"Oke, oke, Tuan!" kata Rania dengan nada sedikit tinggi. Ia tidak tahan karena selalu diancam dengan memanfaatkan ibunya.



"Kau membentakku?" tanya Raga



Rania langsung gelagapan dan buru-buru dengan jargon minta maafnya. "KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN, RAGA ANGGARA!"



"Sekali lagi kau membentakku seperti---"



"Tuan, uh, bau badan Tuan begitu harum! Nanti garap aku lagi, ya, Tuan?" Rania mengalihkan pikiran Raga dengan cara yang membuatnya mau muntah-muntah.



"Kau harus memohon," kata Raga.



"Oh, tentu aku akan memohon dengan tubuh dan jiwaku, T-Tuan," kata Rania. Benar-benar mau muntah rasanya.



"Bagus. Budak cantikku memang istimewa."



Rania pun mulai memandikan Raga. "Tanganmu itu ke mana? Jangan di situ terus."



Muka Rania langsung memerah. "Aku tidak melakukannya! Jangan memfitnahku, Tuan!"




"Kau berkata sesuatu?" tanya Raga.



"Tidak, Tuan," elak Rania.



"Heh." Raga tertawa. "Sudah lanjutkan pekerjaanmu. Oh ya, aku mau kau menggosok di bagian itu, seperti yang kaulakukan. Ayolah, tidak usah malu kalau kau menyukainya."



"Baik, Tuan," kata Rania, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh alat vital Raga.



Setelah gosokan itu, Raga menyudahi aksi Rania. Ia mengangkat tubuhnya lalu...



"Tuan, ini nikmat," kata Rania mengakuinya.



"Huh, jadilah budak yang penurut, Rania Kusuma... maka aku akan memberikanmu yang terbaik, termasuk mengizinkanmu pulang untuk sementara waktu."



Rania tercengang mendengarnya. Ia tidak salah dengar... Meski Raga mengatakannya dengan sorot mata kebencian...



Raga betul-betul mengatakannya.



"Baiklah jika kau tidak ma--"

__ADS_1



"Tentu aku mau, Tuan!" seru Rania dengan semangat. "Ayo, ayo, lagi, Tuan! Uh, nikmat, Tuan!"



"Cih."



Rania mengabaikan decihan Raga. Karena sibuk dengan rasa nikmat yang memang menjalar di tubuhnya. Entah kenapa, hari itu...



Oh, entahlah.



***



"Aku tidak boleh merasakan sakit, ingat," kata Raga sebelum Rania memulai untuk mencabut bulu hidungnya. Ada satu buah pinset di tangan Rania sebagai alat tempur.



"Tuan... Enaknya begini biar tidak sakit, Tuan," ujar Rania malu-malu.



"Begitu caramu? Tidak buruk juga," respon Raga sementara matanya mengarah entah ke mana. Seperti sedang merasakan nikmat yang luar biasa.



Setelah lima menit, akhirnya pekerjaan Rania selesai. Selama itu Raga lebih merasakan nikmat ketimbang sakit di hidungnya. Sehingga rasa sakit tersebut ditenggelamkan sampai ke dasar pikirannya. Pikirannya sepenuhnya dikuasai oleh aksi Rania seperti sedang main kuda lumping. Pelan dan menghayati. Seakan Rania melakukannya dengan...



Cinta.



"Cih," Raga meludah lagi di dalam hatinya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, Rania masih dan takkan pernah mengetahuinya.



Rania terengah-engah di samping tuannya. Raga membaringkan kepala gadis itu ke pahanya. "Kau melakukan pekerjaanmu dengan bagus."



"Iya, Tuan, terima kasih."



"Bahkan kau tidak gugup lagi berbicara denganku."



Rania belum merespon, masih mencari kata yang pas untuk menjawab. Tapi ia tidak bisa mendapatkannya dan berkata yang lain. "Tuan, boleh aku tahu awalnya kau tahu tentangku dari mana?"



Namun Raga tidak menjawabnya. "Sudah saatnya tidur. Jam tujuh pagi, kau harus membangunkanku atau ibumu akan--"



"Baik, Tuan."



"Jangan bawa-bawa ibuku terus, Raga Anggara!" Rania memangap-mangapkan mulutnya di saat Raga sudah berbaring dan menutup matanya.



"Sangat tampan..." gumam Rania selanjutnya. Ada senyum kecil yang tersirat di bibirnya.



Rania mematikan lampu dan ikut tertidur. "Semoga mimpi indah, Ibu..." air matanya kembali jatuh karena perasaan rindu yang tak tertahankan.



***


__ADS_1



__ADS_2