Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Kisah Mereka


__ADS_3

"Ternyata benar-benar dia..." batin Rania pilu. Setelah dikuatkan dengan menghubungkan masa lalu dan masa sekarang. Kata "budak" adalah salah satu yang diingatnya...



Tapi Rania sama sekali tidak menyangka mampu membuat Raga sekejam ini.



"Aku suka bermain kasti, Rania, tapi aku payah."



"Kau tahu Doni Stark, nah, aku suka komiknya. Suatu saat nanti aku akan mengundangnya ke hari pernikahanku."



"Haha. Dengan siapa kau memangnya mau menikah?"



"Denganmu."



Rania menangis pilu hingga


tujuh hari pun sudah dijalaninya akhirnya Raga kembali lagi ke sana dan menuntut jawaban dari Rania. Apa kesalahan Rania hingga membuatnya dihukum penjara selama tujuh hari tersebut.



Rania masih menangiskarena sudah tahu apa kesalahannya. Berusaha keras Rania mengingat sosok familiar Raga, hingga ia mendapatkan sebuah nama. Benar, tidak salah lagi. Dugaan kuat selanjutnya adalah...



Sorot mata mereka yang sama persis.



Tapi entah kenapa Rania tak mau bicara, karena ia terlalu malu. Hal tersebut membuat Raga kembali marah. "Kau mau bebas atau tidak?!" bentak Raga pada Rania sambil membanting tongkat kasti yang dipegangnya ke lantai.



Tapi Rania bergeming. "Tambah saja hukumanku, Raga, jika itu membuatmu puas. Aku tak tahu harus bicara apa lagi."



"Baiklah jika--"



"Tapi jangan salahkan aku jika cinta yang ada di dalam tubuhmu itu bertepuk sebelah tangan, Raga," potong Rania, masih menangis.



"Apa maksudmu?" tanya Raga mendekatkan wajahnya. "Kau mengancam tuanmu?"



Rania tersenyum miring di tengah isakan tangisnya. "Kau boleh sekuat tenaga mengatakan kepada angin yang berhembus, Raga. Kau boleh sekuat pikiran menghembuskan perasaan bencimu. Kau bahkan boleh sekuat hatimu berkata tidak padaku, Raga. Tapi ada satu yang tidak bisa kaumenangkan, Raga. Sampai kapanpun..."



Raga diam dengan mata membelalak tak percaya. "Rania... Kau..."



"Cinta, Raga," kata Rania tersenyum pilu. "Kau takkan bisa mengalahkannya. Cintamu yang berasal dari hati terdalam. Kau hanya bisa lari, lari, dan lari. Padahal tidak ada jalan untuk kembali selain di sini."


__ADS_1


Rania kini mengeluarkan air matanya sambil memegang dadanya. "Di sini, Raga. Hal yang selama ini kaubutuhkan ada di sini, tapi kau tak pernah mendapatkannya karena masa lalu yang salah kauartikan..."



Rania benar-benar merutukinya. Cinta. Ia pun salah dan tak menyangka akan sedahsyat ini akibatnya. Sampai Raga tega melakukan ini padanya.



"Raga Anggara..." Rania tidak sanggup melanjutkannya. Ini terlalu memalukannya bahkan lebih memalukan dari saat ia mencium kaki Raga bahkan memakai kalung budak itu sekalipun.



Ini seperti hukum sebab-akibat bagi Rania. Ia telah mendapatkan balasan yang setimpal. Sekarang ia pasrah. Benar-benar pasrah...



"Aku masih mengingatmu, Raja Sanjaya!!" Tangisan Rania semakin tidak tertahankan.



Benar, nama yang ia kenal adalah Raja Sanjaya. Pemuda yang dulunya merupakan teman Roby, kekasihnya Andin sekarang.



Raga bergemetar hebat dan berjalan perlahan ke arah Rania. "Oh, Tuhan, ia masih mengingatku. Ia masih mengingatku!"



"Maaf, Rania... Maaf, Rania... Maafkan aku... Aku kekanak-kanak--"



Cup.




Empat tahun yang lalu...



Tampak murid-murid baru memasuki SMA Anggara. Di antara mereka ada seseorang dengan penampilan paling norak, nerd dan cupu. Tak ada satupun yang mau mengajaknya berkenalan.



Rania baru saja sampai diantar kekasihnya sejak SMP, Adrian Adipati.  Sambil merangkul Rania, Adrian tertawa mengejek lelaki nerd itu.



"Awas, Sayang. Nanti kau kena rabies," ejek Adrian saat mereka berpapasan padahal jaraknya lumayan jauh. Jadi tidak akan Rania bersentuhan dengannya.



"Hai..."



Tapi betapa kagetnya Adrian saat mendapati Rania meloloskan diri dari rangkulannya lalu menghampiri lelaki nerd itu. "Aku Rania Kusuma. Kau?"



Uluran tangan Rania menunggu untuk disambut. Tangan lelaki nerd itu gemetar. Sampai akhirnya tangan Rania yang mengambil sendiri tangan itu untuk menyambut ulurannya.



"Kau hanya perlu menyebutkan nama."


__ADS_1


"R-Raja Sanjaya."



Rania dan Raja berteman baik setelahnya meski Adrian terang-terangan tidak suka. Tapi Rania tetap berteman dengan Raja. Orangnya asyik-asyik saja kadang bisa membuat Rania tertawa.



"Tapi dia itu misterius sekali. Susahnya minta ampun kalau aku mau main ke rumahnya," ungkap Rania seraya melempar batu-batu kecil ke danau di kala senja menyapa.



Lantas Rania memegang dadanya. Hingga ia menggeleng tidak mungkin. "Tidak mungkin aku salah dengan perasaanku."



Meski Raja misterius, mereka berdua tetap terus berteman baik dan suka bermain di rooftop SMA Anggara. Kadang main kartu atau bahkan permainan zaman dulu seperti lompat tali. Benar-benar seru. Andin juga ikut bahkan lelaki yang dibenci Andin, si Roby.



Sampai ketika malam yang buruk itu terjadi kepada keduanya...



Tak ada yang tahu. Hanya mereka yang menyimpannya rapat-rapat di dalam hati. Betapa pedihnya ujian yang mereka hadapi hingga membuat mereka...



Menyerah.



"Lupakan, Raja Sanjaya..." tangis Rania masih pecah setelah melepaskan ciumannya. "Lupa--"



Raga menempelkan jari telunjuknya di bibir Rania seraya menggeleng. Ia juga tengah menangis. "Panggil aku Raga, Rania. Itulah namaku sekarang..."



Selanjutnya mereka berdua menangis diam, saling meraba wajah. "Ha-hari ini kau bebas, Sayang."



Ciuman itu akhirnya kembali bertemu, menunjukkan betapa mereka saling mencintai. Manusia memang memiliki sifat yang berbeda-beda dan tidak lepas dari melakukan kesalahan. Tapi ketahuilah bahwa cinta akan membawa mereka pada yang seharusnya...



Bahagia.



***



Hai...



Makasih udah tetap setia dengan cerita saya. Maaf jadi gak jelas gini ceritanya. Sebenarnya Author lagi drop lho, soalnya kontrak cerita ini ditolak. huhu, sedihnya. Rasanya udah hilang aja semangat nulis Author. Rasanya cerita ini tuh jelek parah. Pengen dihapus. Sesuai dengan kata terakhir di bab ini. hehe.



Ya, akhirnya Author berkata apa boleh buat. Author harus tetap semangat. Karena setidaknya masih ada kalian yang setia menemani Author. wkwkwk.



__ADS_1


__ADS_2