Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Kalah Telak


__ADS_3

Raga Anggara benar-benar mengucapkannya, Rania masih mengingatnya. Tapi Rania melihatnya bersama tatapan dingin dan membunuh itu, seakan tidak bisa dibilang sebagai ungkapan cinta. Rania justru dibuat bergidik ketakutan.



Rania pun terus dihantui sejak mendengarnya...



Hingga sekarang Rania merem*s tangannya sebelum pernikahannya yang sebentar lagi akan berlangsung. Di dalam mobil Marcedes-Benz hitam mewah yang melaju sedang, semakin mendekati tempat pernikahannya.



Ya, benar! Tidak terasa malam pernikahannya sudah di depan mata!



Ia akan menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Bagaimana ceritanya bisa bahagia? Bermodal ungkapan cinta palsu itu Rania bisa tenang sekarang dan melupakan balas dendamnya?



Omong kosong. Rania masih seorang budak. "Lihat saja tatapannya itu... Tatapannya seperti... Vampir."



Rania mengintip Raga dengan ekor matanya. Benar-benar pria kejam. "Aku rasanya mau merem*snya jadi bola lalu melemparnya ke dua anjing brengs*knya itu!"



Kemudian Rania teringat dengan kucing barunya, Shania. Sesuai dengan jenis kelaminnya yang betina. "Hei, Shania. Kau gadis pemberani, kan? Kalau benar, bantu aku bertempur melawan seorang pangeran jahat yang dilindungi dua ekor anjing hitam berwajah buruk rupa."



Rania terkekeh pelan. Tidak yakin Shania mengerti dengan omongannya. Kalaupun mengerti, bagaimana bisa seekor betina mengalahkan dua ekor anjing jantan yang gagah perkasa. Mustahil.



"Kenapa senyum-senyum sendiri, Rania?" tanya Raga, mengalihkan pikiran Rania.



"Bukan apa-apa, Tu--"



"Jangan panggil aku tuan lagi, tapi panggil dengan namaku."


__ADS_1


Rania membuka mulutnya sedikit. "Baiklah, Tu--Raga." Karena terbiasa dengan panggilan tuan, Rania terdengar canggung begitu menyebutkan nama Raga tanpa embel-embel. "Ada apa dengannya?" Rania dibuat bertanya-tanya.



"Bagus, Rania."



"Bahkan Raga benar-benar tidak lagi memanggilku dengan sebutan budak! Apa yang terjadi, Tuhan?!" batin Rania merasa sangat heran dan takut.



"Btw, kau tampil sangat anggun hari ini, Rania..."



Rania Kusuma beralih melihat dirinya, yang memakai gaun putih yang sangat indah. Dari bahan sutra terbaik dan beberapa detail renda. Raga mengatakan harganya tidak mencapai harga waktu Raga membeli Rania.



Rania jelas tidak mempercayainya. Paling tidak harga satu gaun yang sangat indah ini bisa untuk membeli sebuah rumah puluhan miliar.



Tidak hanya gaun yang melekat di tubuh Rania, tetapi juga beberapa perhiasan. Mahkota yang melekat di atas kepalanya inilah yang paling membuatnya takjub. Mahkota yang dilapisi taburan ribuan berlian dengan total 200 karat. Berbeda dengan ribuan berlian yang ada di lampu gantung aula tengah rumah Raga yang hanya kisaran 20 karat.




"Aku sudah lama menantikan pernikahan ini, Rania. Sangat lama."



"Tapi kenapa tatapanmu masih seperti mau membunuhku?!" batin Rania. Sama sekali tidak mengerti apa yang di otak Raga sekarang.



Setelah itu Raga mengalihkan pandangannya ke depan. Kalem dan dingin seperti biasanya.



"Rania Kusuma! Jangan tertipu! Dia sama sekali tidak mencintaimu!" batin Rania, memperingatkan diri sendiri. "Kalau kau tertipu, habislah harga dirimu, Rania! Habis! Begitulah pria pada umumnya, Rania! Manis di awal lalu pahit di akhir! Sementara dia manis pahit di awal, lalu PAHIT-PAHIT DI AKHIR! Bayangkan betapa hancur hatimu dibuatnya!"



Rania mengangguk sedikit dengan mantap. Bersikaplah seperti Rania yang biasanya saat memutuskan untuk berubah. Ikuti saja alur permainan Raga Anggara, hingga Rania akan memenangkannya di akhir kisah.

__ADS_1



***



Akhirnya mereka tiba di tempat pernikahannya. Betapa terkejutnya Rania ketika melihat ribuan--tidak, yang benar ratusan ribu manusia!



Mereka seperti sedang menghadiri sebuah konser. "Memang benar, kan? Mereka pasti lebih tertarik menonton artis idola mereka daripada menonton pernikahan kami yang tidak didasari oleh cinta..."



"KYAAA! TUAN RAGA! NONA RANIA! SELAMAT!"



Rania membuka mulutnya sempurna saat turun dari mobil dan karpet merah terbentang sampai ke ujung sebuah panggung besar dan megah. Ia sangat kaget mendengar teriakan-teriakan dari ratusan ribu manusia yang memenuhi sekeliling mereka, dibatasi oleh ribuan personil polisi. Sementara di kejauhan terlihat sang bulan bersinar terang di atas lautan yang tampak menentramkan jiwa.



Mereka berteriak-teriak seakan melihat my super idol. Fanatik terlihat jelas dan mereka benar-benar memerankannya secara natural. "Aku merasa ini kelewat berlebihan... Seberapa besar kekuatan intimidasi seorang Raga Anggara sehingga mampu membuat mereka..."



Rania tidak menyelesaikan omongan batinnya dan menoleh ke arah Raga. Tatapan Raga tertuju ke arah mereka, memberikan tatapan robotnya sambil melambai. Seperti pangeran sombong yang menganggap dirinya berwibawa.



Padahal tidak sama sekali.



"Raga Anggara... Who are you? Why me? Really? F*ck you!"



Rania merasa sangat frustasi sekarang, membuatnya seketika melupakan misinya. Misi pertempurannya melawan Raga Anggara. Malam itu....



Rania kalah telak.



***

__ADS_1




__ADS_2