
Rania memang mengucapkannya. Tapi itu cuma sebatas sandiwara. Jika Raga bisa, maka Rania tidak mau kalah. "Jangan salah paham dulu, Raga. Sekarang lihat, berkat aku mengungkapkan perasaan palsuku, kau tidak jadi memukuliku, kan? Kena kau!"
"Hahaha!" Raga tiba-tiba tertawa, membuat Rania tersentak. Apa Raga tahu yang Rania pikirkan? Tidak mungkin.
"Kau benar-benar cerdik, Rania! Tapi sayangnya kau tetap wanita bodoh!"
"Apa maksudmu, Raga?" Rania mencoba bersikap tenang, sementara ujung tongkat kasti itu bermain-main di pipinya. Siap menghancurkan pipi Rania dalam sekejap.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau berpura-pura!" teriak Raga tepat di depan muka Rania, membuat mental Rania bergetar hebat.
Rania menelan ludahnya. Ternyata Raga mengetahuinya, entah benar bisa membaca pikiran Rania atau tidak. "Pastilah dari raut wajahku. Argh! Seharusnya lebih natural lagi!" batin Rania mengumpat.
Sekarang bagaimana lagi caranya agar bisa bebas dari amarah Raga? Suaminya sekarang ini terlihat sangat ingin membunuhnya terlepas dari...
Manusia bisa berubah-rubah, kan? Mantan kekasih Rania saja pernah mengatakan sangat mencintai Rania. Tapi apa? Ia dicampakkan begitu saja. Apalagi Raga yang hanya mencintai tubuhnya. Sangat mencintai tubuhnya!
"Wanita bodoh," hina Raga.
Kemudian Raga menjauhkan wajahnya dan tertawa. Beberapa saat berhenti dan terlihat raut wajahnya sedih. Rania tidak mengerti apa yang sedang ada di pikiran dan hati Raga. Kenapa tiba-tiba berubah secepat itu ekspresinya?
"Tongkat kasti ini... Dulu digunakan ibuku, kau tahu," ungkap Raga, seraya mengelus-elus tongkat tersebut. Seperti merindukan masa lalu. "Aku tahu tapi aku pura-pura tidak mengetahuinya..."
Apa yang dibicarakan oleh Raga?
"Jika kau mengatakan kekejamanku terhadapmu selama ini mengerikan, kau salah besar, Rania," kata Raga menatap Rania sangat tajam.
Tunggu. Mata Raga berair? Dia menangis?
"Ibuku yang membuatku membenci seorang wanita. Pengkhianatan terhadap cinta."
__ADS_1
Rania masih tidak mengerti...
"Ia memukuliku habis-habisan setiap hari dengan tongkat ini, kau tahu?!"
Rania perlahan mulai mengerti. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa selain merinding.
***
Rania masih berada di sana. Itulah hukuman beratnya, Rania dipenjara selama seminggu. Hanya makan sekali sehari. "Tidak apa-apa, daripada makan nasi basi." Rania bergidik ketika kembali mengingat cerita Raga.
Tapi entah kenapa Rania merasa familiar dengan sosok Raga setelah mendengar ceritanya tersebut. "Tidak, tidak. Aku yakin bukan Raga..."
Daripada memikirkan itu, lebih baik fokus dengan penjara terkutuk ini. Tujuh hari harus terus berada di sana. Sementara makan dicampakkan begitu saja dari lubang bagian atas pintu. Rania sampai harus memungut nasi-nasi yang masih hangat di lantai--Rania sudah tidak dalam keadaan terikat lagi, karena Raga tahu betapa lemahnya Rania. Takkan bisa berbuat macam-macam apalagi di depan iblis.
Sementara buang urine dan hajat, ada klosetnya lengkap dengan airnya. "Syukurlah aku tidak harus mencium bau tahiku sendiri."
Ia pun dibuat sadar. Di luar sana masih banyak yang lebih buruk keadaannya daripada Rania. Tapi Rania selalu saja mengeluh dan berkata soal ketidakadilan.
Brak!
Tiba-tiba pintu didobrak. Raga Anggara muncul dengan tongkat kasti di bahunya. Sontak saja Rania merasa takut.
"Kumohon... jangan menakutiku lagi, Raga. Aku mempercayai kisah tragismu dan mengucapkan permintaan maafku yang sedalam-dalamnya."
Raga terkekeh. "Permintaan maaf? Memangnya kau salah apa?"
"Aku salah menganggapmu sebagai CEO yang kejam. Ternyata kau memiliki alasan untuk itu," ungkap Rania jujur. "Tapi percayalah, tidak semua wanita seperti ibumu. Ada juga yang baik dan setulus hati mencintaimu, Raga..."
__ADS_1
Raga malah meresponnya dengan tawa. "Kau masih belum tahu apa kesalahan besarmu, ya, Rania... Bukan itu yang mau kudengar darimu saat ini."
Kini dagu Rania sudah dicengkramnya begitu kuat sampai Rania meringis. "Berpikirlah apa kesalahanmu sekarang. Berpikirlah kenapa aku memenjarakanmu selama tujuh hari. Berpikirlah atau aku tidak akan segan-segan menambah hukumanmu."
"Tambah saja, Raga," kata Rania menantang. Ia mendadak merasa geram dengan tingkah Raga yang menurutnya kekanak-kanakan.
Apa kesalahan yang dimaksud Raga itu? Soal pukulannya dua hari yang lalu? Rania Kusuma sudah meminta maaf tapi Raga masih bilang Rania tidak mengetahui apa kesalahannya.
"Memang soal pukulan itu, Rania, tapi pikirkanlah lebih dalam lagi. Kesalahan besarmu malam itu, yang membuatku kecewa dan marah! Ternyata kau sama saja dengan ibuku! Semua wanita itu sama!"
"Raga! Aku tidak tahu harus bicara apa lagi! Jika kau mau menghukumku dengan kesalahan yang tidak kumengerti, terserah!" balas Rania.
Mereka berdebat dalam kata-kata amarah saat itu, hingga kelelahan sendiri. Raga membanting tongkat kasti yang dipegangnya ke lantai, sampai membuat Rania takut. Seharusnya ia tidak membalas debat Raga hingga membuatnya semakin marah.
"Ada apa dengan keberanianku? Jangan kelewat bego!" umpat Rania pada dirinya sendiri saat Raga kembali mengambil tongkat kasti itu. Mengayun-ayunkannya, hingga beberapa detik, ayunan itu berubah lurus ke arah Rania.
Rania menutup mata lagi dengan perasaan yang amat sangat takut. Jantungnya berdebar-debar selama beberapa menit. Apa aku sudah mati? Begitu pikir Rania. Hingga ia membuka matanya. Raga ternyata menghilang dari pandangan. Sementara ada secarik kertas di kening Rania yang ditulis dengan darah.
"Tujuh hari kurungan penjara untukmu, Rania, jauh dari kurunganku saat kecil dulu."
Setelah Raga pergi hingga malam tiba, Rania dibuat berpikir keras. Siapa Raga sebenarnya? Ia merasa familiar... Terutama tatapan mata itu... Sudah lama Rania merasa berbeda sejak pandangan pertama.
"Arghhh!" Rania berteriak frustasi, karena tidak mampu mengingatnya. "Siapa kau, Raga Anggara bangs*t?!"
Ternyata Raga mendengarnya, tepat di balik pintu. "Aku dulu berbeda, Rania, tapi tidak dengan sesuatu yang mampu kaurasakan..." batinnya.
***
__ADS_1