Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Keperkasaan Raga


__ADS_3

"Tak terasa sudah satu tahun lebih telah berlalu sejak aku akhirnya hamil," kenang Rania. Raja sudah di gendongannya sekarang. Tak henti-hentinya pipi gemuk anaknya jadi sosoran Rania. Raja seperti bayi yang sedang kegelian.



"Mau bagaimana lagi, padahal aku mau fokus menikmati tubuhmu, Rania, tanpa ada yang mengganggu," kata Raga.



Rania sedikit cemberut. "Jadi kau hanya mencintai tubuhku?"



"Yap."



Rania makin cemberut. Raga langsung mencubit pipi Rania karena gemas. "Kalau kau sudah tahu jawabannya kenapa masih ditanya, hah? Aku hanya belum siap menjadi ayah. Tapi..."



Tepatnya bulan Mei, sekitar lima bulan kurang lebih sejak Rania dihukum penjara oleh Raga...



Bukannya berkurang, Raga semakin bertambah semangat saja bercinta dengan Rania. Gadis itu benar-benar kewalahan di saat Raga semakin berpengalaman dan tahan lama. Sangat tahan lama. Saat waktu kali pertama Raga dibuat tidak mampu bergerak setelah bercinta setengah hari non stop, maka kini satu hari lebih sejam Raga masih mampu bergerak.



"Kau sangat gila, Raga. Kurasa di dunia nyata tidak ada yang sepertimu," kata Rania.



"Kau harusnya senang suamimu sangat gagah perkasa," kata Raga, terengah-engah. "Aku mau istirahat satu jam. Nanti kita bercinta lagi."



Rania membelalakkan matanya. "Bagaimana kalau aku nanti hamil, karena kau kebanyakan menyemprot cai*an cint*mu?"



Raga tersenyum nakal. "Kan ada pil KB."



Rania mengepalkan kedua tangannya. Diangkatnya sambil memasang muka cemberut habis. "Raga! Aku menyesal mencintaimu!"



Raga malah mengedipkan matanya. "Aku tidak." Lalu ia keluar kamar. Hari Minggu itu ia bebas, tidak ada kerjaan. Biasanya dilimpahkan kepada Sekretaris Ardi kalau ada meeting. Raga paling tidak suka bekerja setiap hari. Harus ada liburnya. Jika kliennya tidak suka, pergi saja.



Rasa menghampiri Raga saat kakaknya itu sedang mengambil minuman iotonic di kulkas. "Kakak Raisa sedih sekali mendengar pernikahan Kakak."



Raga hanya menggumam lalu minum. Rasa menunduk. "Seharusnya Kakak menikah dengan Kakak Raisa, bukannya gadis itu."

__ADS_1



Raga menghela napas. "Rasa, kau tidak minum?" tanyanya mengalihkan.



Raga tidak mau membahas soal Raisa. Ya, tentu Raga kenal dengan Raisa. Gadis cerewet yang akhirnya dibuat jatuh cinta padanya. Namun Raga tidak senang dengan situasi tersebut dan selalu menghindar. Karena Raisa itu adalah saudara kandungnya. Tidak mungkin Raga incest dengan kakaknya sendiri.



Raga pun membuat keputusan tegas saat ia berkuasa sepenuhnya di Anggara Group. Raisa diusir dari rumah.



"Kenapa kau begitu tega, Raga? Kau mencintaiku, kan?"



Sejak itu Raga tidak pernah melihat Raisa. Katanya sibuk dengan menyanyi, tapi Raga masa bodoh dan tak tertarik untuk menonton ataupun mendengarkan lagu Raisa. Pikirannya fokus pada Rania.



"Kakak sengaja kan memindahkan lokasi pernikahan Kakak karena takut digagalkan oleh Kakak Raisa?"



Raga menggeram. "Rasa, kuingatkan sekali lagi jangan pernah menanyakan sesuatu yang tidak kusukai!"



"Raga!" panggil Rania, membuat keduanya menoleh.




Rania mendengarnya dan mau bertanya pada Raga. Tapi belum bersuara, Raga sudah menciumnya. "Kau ini ternyata sudah mulai perkisi juga, ya?" ujar Raga setelah melepaskan ciumannya.



"Perkisi? Apa-apaan itu?" Rania tertawa. "Minggir. Aku juga mau minum. Kurasa aku akan mati menggenaskan jika kau terus-terusan menggempurku sementara aku tidak minum setetes cairan pun."



Rania mengambil minuman di dapur pribadi mereka. Dapur itu berbeda dengan dapur khusus pelayan menyediakan makanan saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Kalau dapur pribadi itu mirip bar di kafe.



"Hei, sebenarnya di mana anggota keluargamu yang lain?" tanya Rania akhirnya, kembali dengan rasa penasarannya.



"Banyak yang kuusir," jawab Raga apa adanya. "Tinggal Rasa saja yang bertahan hidup di sini."



Rania membuka mulutnya. "Segitu teganya kau mengusir mereka?"

__ADS_1



Raga mengangguk tanpa beban. "Awalnya rumah ini seperti pasar, kau tahu? Tapi mereka semua menjijikkan kecuali ayahku. Akhirnya aku usir saja semenjak ayahku menyerahkan kekuasaannya di saat terakhir hidupnya."



"Sadis," ujar Rania menjijikkan mukanya, lalu minum es jeruk kesukaannya. Raga lantas menoyor kepalanya, hampir menumpahkan minuman Rania. "Hentikan ekspresi mukamu itu. Kau mau kuusir juga?"



"Silakan. Itu justru menjadi keinginanku."



"Kau menantangku?" Raga memegang leher Rania, tersenyum miring. "Kalau begitu aku kalah. Kau senang? Yaa, Meski kau ada sedikit menjijikkannya, aku ini sang pengagum beratmu, Rania."



"Aw, romantisnya," ledek Rania.



Raga sedikit memerah. Rania tertawa melihatnya hingga tak sengaja memuncratkan air ludahnya ke muka Raga. "Raniaaaa...."



"Iyaaa..."



"Mari kita bercinta lagi!"



Raga tiba-tiba mengangkat tubuh Rania di atas bahunya. "Hei aku masih haus!" seru Rania. "Salah sendiri menantangku!" balas Raga. "Jika aku tidak bisa mengusirmu, maka aku akan memberi perhitungan lewat keperkasaanku!"



"Ampun, Tuan Raga! Keperkasaanmu sungguh tak mampu kuladeni! Terlalu berat untukku!"



Raga menggeram. "Jangan lebay!"



Nyaris Raga membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ada yang menggigit betisnya dari belakang. Sontak Raga mengadu kesakitan sampai menjatuhkan Rania. Raga marah lalu melihat siapa pelakunya. Matanya terbelalak.



"Wuaaa! Kucinggg!!!" histeris Raga.



Rania melongo lalu tertawa terbahak-bahak, sampai mengabaikan tawanya yang khas. "Dia takut dengan kucing? Are you kidding me, My Lord?Hahahahaahaaha!"


__ADS_1


***



__ADS_2