Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Layani


__ADS_3

Raga memasuki ruangan sebesar lapangan basket itu sambil merangkul Rania. Layaknya kekasih. Namun Rania tahu kalau mereka bukanlah sepasang kekasih. Di sini Rania hanya budak tanpa bisa membangkang kepada tuannya. Tuan Raga Anggara.



"P-perkenalkan, err, nama saya Rania K-Kusuma. Saya adalah..."



Rania benar-benar tidak bisa dan merasa sangat malu. "Raga! Aku membencimu!" batinnya seraya menutup matanya.



Rania benar-benar membenci Raga atas perlakuannya. Terlepas Raga sudah berbaik hati soal kalung anjing itu. "Tetap saja aku budak! Raga Anggara!"



Terbersit keinginan di dalam hati Rania untuk membalas perbuatan Raga ini. Tapi Rania tahu takkan bisa. Kalau Rania nekat mengambil pena di meja salah satu karyawan Raga... Misalnya pena si gadis mini yang kelihatan cerewet itu. Lalu berhasil mengenai mata Raga... Rania jelas akan senang dan merasa sangat puas bisa membalas perbuatan Raga.



Hanya saja ibunya akan menghilang dari dunia ini. Alias mati.



"Aku..."



Raga berdeham sambil melirik jamnya, mengisyaratkan kalau kesibukannya padat. Rania harus cepat-cepat mengatakan statusnya atau...



"Tuan..." Tiba-tiba saja Rania menoleh pada Raga dengan permohonan yang tadi. Berharap Raga mau berbaik hati kembali.



"Kau mau memohon lagi padaku?!" Raga tidak akan berbaik hati.



"Cepat katakan, budak cantikku, atau ibumu..."



Rania menahan napasnya. Tahu apa yang akan dikatakan oleh Raga. "Oh tidak, baiklah..."



"Saya adalah budak Tuan Raga Anggara," kata Rania cepat-cepat akhirnya. Lalu menoleh ke arah Raga. "Puas?"


__ADS_1


"Sangat puas," bisik Raga.



Raga tersenyum senang. Ini mudah. Sekarang Raga tahu di mana letak kelemahan seorang Rania Kusuma. "Ibu, ya? Semua orang tentu menyayanginya," gumamnya.



Setelah acara perkenalan yang hina dan sedikit penjelasan soal pekerjaan Rania di kantor, semuanya kembali bekerja. Sementara Raga membawa Rania ke ruangannya.



"Kau tunggu di sini, aku mau rapat sebentar di bawah," kata Raga sebelum mengecup bibir Rania dengan gemas.  "Siapkan dirimu setelah aku rapat."



"Atau kau boleh mulai melayani para bawahanku?" ledek Raga.



"A-apapun?" Rania menangis lagi, terisak. Raga tidak marah justru tertawa karena tahu apa yang dipikirkan Rania soal apapun itu.



"Kau ini lucu sekali, budak cantikku," ujar Raga tertawa. "Tentu saja apapun kecuali melayani nafsu bejat para prianya. Akan kuhabisi kalau sampai itu terjadi."



Omongan Raga tersebut membuat Rania lega. "B-baiklah, Tuan. Aku akan m-melayani mereka..."




"Jika itu maumu, silakan," kata Raga, sekali lagi ia mengecup bibir Rania.



"Iblis ini kenapa suka sekali menciumku?!" batin Rania kesal.



"Bibirmu sangatlah nikmat," batin Raga juga, seolah tahu isi hati Rania.



Setelah tatapan sebentar mereka, Raga beranjak keluar dari ruangannya. Rania masih terdiam di tempatnya. "Oh, Tuhan. Aku memang berpengalaman, tapi di sini aku adalah budak. Aku tidak bisa membayangkan mereka akan melecehkanku."



Rania memandang ke sekeliling. Ruangan kerja Raga sangatlah mewah, seperti berada di kamar apartemen yang lengkap fasilitasnya. Ada TV.

__ADS_1



"Ah, aku mau menonton TV dulu sebelum melayani mereka."



Rania pun menghidupkan TV besar yang menempel di dinding. Lumayan. Ada hiburan yang menarik untuk ditonton. Rania sampai tertawa sambil menutup mulutnya. Tawanya yang khas.



Rania terus saja tertawa...



***



Akhirnya Raga sudah selesai dengan rapatnya dan tidak sabar untuk melihat bagaimana kerja Rania. "Budak cantikku pasti sedang menyajikan kopi atau makanan pada mereka. Atau disuruh mengelap meja yang kotor. Atau... Hahaha, aku tidak sabar untuk melihatnya!"



Kemudian Raga bangkit dan naik ke atas dengan lift khusus. Kakinya menghentak-hentak tidak sabar. Saat pintu liftnya terbuka, Raga nyaris terjatuh karena saking bersemangatnya.



"Hampir saja," gumam Raga, sedikit memerah mukanya.



Cepat-cepat Raga memperbaiki posisinya sebagai bos besar. Lalu melangkah penuh wibawa. Saat muncul di hadapan para bawahannya, Raga berdeham. Mereka tersentak kaget lalu menjadi fokus bekerjanya.



Kemudian mata Raga menyapu seluruh ruangan tapi tidak menemukan batang hidung Rania. "Di mana di--"



"Prang!"



Tiba-tiba dari dalam ruangannya terdengar sesuatu yang pecah. Semuanya lantas menoleh termasuk Raga.



"A-apa yang terjadi?" Raga lalu buru-buru melangkah ke ruangannya.



***

__ADS_1




__ADS_2