Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Rasa Kasihan


__ADS_3

Hati Rania berdebar keras. Ia meraba lehernya yang diikat sebuah kalung berwarna hitam. Seperti perkataan Raga, kalung itu sebagai tanda resmi kalau Rania merupakan seorang budak.



Rania sangat ingin melepaskan kalung itu, karena benar-benar merasa terhina. Bunuh saja Rania kalau begini ceritanya. Semua orang akan menertawakannya. Percuma Rania didandani cantik-cantik seperti putri anak orang kaya jika ada kalung ini. Kalung anjing yang membuatnya...



Oh, Tuhan.



Raga mengatakan kalau Rania adalah budak yang istimewa karena masih bisa menikmati kemewahan. Seperti di villa saat itu, Rania bisa merasakan keindahan villa di tepi pantai. Terlepas Rania diperkosa habis-habisan oleh Raga. Akan tetapi... "Hiks."



"Tuann..." mohon Rania. "Kumohon, jangan lakukan ini padaku... Lebih baik nikmati saja tubuhku sepuas hatimu. Aku takkan sanggup menahan malu ketika menghadapi para bawahanmu..."



"Ssst." Raga menempelkan jari telunjuknya di bibir Rania. Selanjutnya Raga membatin kasihan. "Sepertinya dia benar-benar tidak sanggup... Aku dapat melihat hatinya yang tersiksa lahir dan batin."



Sejujurnya Raga tetap akan memperlakukan Rania sepuas hatinya. Sesukanya tanpa ada rasa kasihan. Tapi hari ini hatinya tidak mau bekerja sama.



"Baiklah, kau boleh melepaskan kalung itu, budak cantikku," bisik Raga kemudian mengecup bibir Rania dengan lembut.



Mereka saling bertatapan lagi dengan cara yang tidak biasa. Air mata Rania jatuh. Entah Rania terharu atau tidak, yang pasti Rania senang Raga mengabulkan permohonannya.



"Dia masih memiliki hati yang baik," batin Rania, semakin menitikkan air matanya.



"Kenapa kau menangis lagi!" bentak Raga mendadak kesal. "Bukankah sudah kukabulkan permohonanmu? Ini! Bagaimana? Puas?!"



Rania menunduk sambil mengernyit takut. "M-maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud..."



"Sudah, sekarang kau layani aku!"


__ADS_1


Rania melongo. "T-tapi kan, Tuan..."



Raga tidak mempedulikannya dan langsung mencium bibir Rania. Beberapa saat Raga melepaskannya dan berkata pada supir yang sudah tua seperti Sekretaris Ardi. "Kau keluar sebentar!"



"B-baik, Tuan."



Setelah supirnya keluar, Raga kembali mencium bibir Rania. Kemudian... Rania hanya bisa pasrah.



***



"Sayang sekali, waktu kita terbatas," kata Raga senang sekaligus kesal.



Cuma tiga puluh menit karena Raga ingat ada jadwal meeting hari ini. Sekretaris Ardi sudah memberitahunya jauh-jauh hari. Apalagi Raga ingin memperkenalkan Rania sebagai budak di depan para bawahannya. Kalau dilanjutkan lagi bercintanya, Raga hanya sempat melaksanakan meeting saja. Percuma didandani cantik-cantik begini budaknya.




"Sialan," batin Rania. "Budak tetap saja budak, jangan ditambah-tambah dengan kata istimewa dan yang lainnya! Raga Anggara! Kenapa kau ini lebih banyak menyebalkannya?!"



Rania kembali mengenakan pakaiannya. Matanya tidak lepas dari Raga yang juga sibuk dengan berpakaian. Celana dalamnya... "Pfft!" Rania menahan tawa.



"Kenapa?" tanya Raga, merasa kalau Rania sedang memperhatikannya.



"Eh, tidak, tidak, Tuan. Aku hanya mau bersin dan menahannya agar tidak mengenai wajah tampanmu," Rania cepat-cepat beralasan.



"Huh, kupikir," dengus Raga. "Sekarang kau kenakan dasiku!" bentaknya kemudian. "Jangan sampai salah atau kau bakal kusuruh merangkak sampai ke kantor."



Mendengarnya Rania cepat-cepat mengenakan dasi tuannya. Dasi hitam yang selaras dengan pakaiannya. "Aku akan melakukannya dengan baik, Tuan!" seru Rania.

__ADS_1



Sewaktu sekolah Rania terbiasa mengenakan dasi sendirian. Mudah. Tapi Rania heran ada juga orang yang tidak bisa melakukannya. "Ini mudah, Tuan. Waktu sekolah..."



"Ssst," potong Raga geram. "Dilarang berbicara saat melakukan perintahku kecuali perintah itu mengharuskan bicara! Mengerti?!"



Rania sontak ketakutan. "M-maaf, Tuan. Aku..."



"Karena kau telah bicara dan membuatku kesal, kau harus..."



Rania menggeleng-geleng kepalanya takut. Raga tidak melanjutkan omongannya, seperti menunggu saat yang pas untuk mengagetkan Rania.



"BAAA!"



"HAH!"



Raga langsung tertawa terbahak-bahak. Itulah hukumannya. "Hahaha! Kau lucu sekali kalau kaget begitu! Hahaha!"



Rania meredakan jantungnya yang dilanda syok barusan. "CEO kurang kerjaan!"



"Sudah, sudah. Sekarang cepat turun," ujar Raga sambil memegang perutnya. Raga puas mengisengi budak cantiknya itu.



Sangat puas.



***



__ADS_1


__ADS_2