Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Budak Hina


__ADS_3

Rania tersentak luar biasa saat defibrilator itu menyentuh dadanya untuk yang entah keberapa kali. Napasnya terengah-engah sementara keringatnya bercucuran.



"Dia selamat," ujar si dokter berperut besar itu lega. "Kalau tidak, habislah kita."



Si suster bernama Andin Prameswara itu lega melihatnya, mengabaikan omongan si dokter yang terakhir. "Syukurlah, Rania. Kau membuatku khawatir. Kau temanku... Mana mungkin aku melupakanmu... Sekarang kau hebat, ya, sudah menjadi istri seorang CEO kaya raya..."



Andin menangis terharu, tidak sepertinya yang hanya menjadi suster biasa. Padahal dulu impiannya adalah menjadi bintang film.



"Andin?" Ternyata Rania juga masih mengingat Andin. Gadis cantik yang memiliki kaki jenjang impian itu. Mata cokelatnya indah seperti bintang di langit.



Mendadak Rania menangis. Ia merasa malu dengan keadaannya yang sekarang. Lihat temannya saat di sekolahnya dulu ini, seorang suster yang hebat. Sedangkan Rania hanyalah budak hina yang...



Rania masih mengingat jelas tentang kejadian kantor tadi. Rania...



"Dia keracunan obat keras," kata si dokter. "Bilang pada CEO tampan tengik itu. Cepat!"



Saking takutnya, dokter berperut besar itu tidak mau menemui Raga. "Tapi kan, Dok, itu tugas Anda. Saya mana paham menjelaskannya."



"Kau itu suster tentu tahu soal menjelaskan semacam ini! Sudah cepat!"



Andin tidak mau menyerah. "Tentu tidak sopan ketika yang belum berpengalaman untuk menjelaskannya. Kau bisa menebak kalau aku salah dalam berkata, lalu tuan yang terhormat di luar sana tidak suka..."



"Hah! Baiklah!" Si dokter berperut besar melepaskan pakaian hijaunya dan membantingnya ke lantai. Lalu dia pergi ke luar sambil bersungut-sungut kesal.

__ADS_1



"Rania..." ujar Andin kemudian dengan mata berkaca-kaca. Andin menghampiri Rania, lalu memeluknya dengan erat.



"Andin..." Rania sama terharunya. "Kau sudah menjadi orang sukses sekarang," bisiknya kagum.



"Ah, kau ini memuji tidak sesuai fakta. Aku sekarang bukanlah apa-apa dibandingkan dirimu. Kau istri Raga Anggara. Sedangkan aku hanyalah suster biasa."



Rania rasanya mau tertawa getir setelah mendengar omongan Andin. "Istri CEO berhati iblis itu? Hah! Aku ini budaknya, Andin!"



Andin yang bisa menangkap perubahan raut wajah Rania pun bertanya. "Apa yang kaupikirkan, Rania? Ceritalah padaku. Aku akan mendengarkannya dengan baik."



Rania menggeleng seraya tersenyum. "Ya, dia memang suamiku, tapi orangnya cerewet," ungkapnya berbohong sambil tertawa. Ia sungguh tidak berani mengungkap faktanya pada Andin.




Tapi selanjutnya Rania tertawa getir, tidak mampu menahannya. "Aku malu, Tuhan... Siapa yang tidak malu menjadi budak di era modern seperti sekarang. Mungkin aku satu-satunya yang menjadi budak dan tanpa takut diperkenalkan oleh Raga kepada para bawahannya. Raga tidak takut soal image ataupun berurusan dengan polisi. Karena dia punya kekuasaan yang besar!"



Lagi pula...



"Wanita secantik dia budak?" bisik seorang karyawan di Anggara Group tidak percaya. Rania dapat membacanya saat itu lewat gerakan bibir. Dari dulu Rania punya keahlian membaca omongan orang lewat gerakan bibir saja. "Omong kosong, sekalipun ada kalung anjing di lehernya. Pasti Tuan CEO kita yang terhormat cuma ge--"



"Hei, kau mengatakan sesuatu?!" bentak Raga memandang tajam.



"T-tidak, Tuan," jawabnya sambil menundukkan kepalanya ketakutan.

__ADS_1



Ya... Karena Rania sangat cantik, mereka takkan mengira sama sekali. Sudah banyak orang-orang yang mengatakan ini. Semua orang yang ditemuinya. "Kau sangatlah cantik, bahkan terlihat seperti seorang ratu. Apakah kau sedang menyamar menjadi rakyat jelata, Rania Kusuma?"



Jaya pun sama. "Kau hanya milikku, anakku. Kau istimewa, tidak sepertiĀ  ibumu pelac*r sejati. Tapi kau... hanya aku yang boleh mencicipi tubuhmu, Rania cantik."



"Tapi sayang jika uang sebanyak itu kubiarkan. Terlebih CEO yang membelimu ini tidak main-main seandainya aku menolak. Jadi aku lebih memilih uang," lanjut Jaya dengan licik.



Begitu juga dengan mantannya dulu... "Sejujurnya, Sayang, aku sulit untuk melepaskanmu," katanya seraya menangis. "Tapi takdir memang tidak berpihak pada kita..."



Rania sampai menangis ditinggalkan mantannya hanya karena...



Rania mendadak marah. "Perset*n dengan istimewa! Tetap saja aku seorang budak! Kalian pada akhirnya menaruh rasa kasihan di tengah rasa tidak percaya kalian! Seperti para tetanggaku dulu! Mereka akhirnya tahu aku betul-betul tidak sedang berakting! Aku sangat menderita sekarang! Pada akhirnya uang mengalahkan keistimewaanku! AKU BUDAK HINA!"



Andin sangat kaget melihat Rania yang tiba-tiba marah sambil menangis. "Apa katanya? B-budak?"



"Ibuuu! Aku tidak sanggup lagiiii!" tangis Rania terdengar begitu memilukan.



"Hei, Rania, t-tenang! A-apa yang terjadi?!"



Sementara Raga tidak jadi masuk begitu mendengarnya. Pintunya yang seinci dibuka itu kembali ditutup pelan.



***


__ADS_1



__ADS_2