Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
I Love You


__ADS_3

Sehabis bercinta Rania merasa gerah dan mau minum air dingin. Di luar masih gelap, sekitar pukul empat pagi. Rania menoleh ke samping dan dapat melihat Raga tertidur pulas. Dengan hati-hati Rania turun dari ranjang.



"Ups," kata Rania sambil menutup mulutnya. Nyaris menimbulkan suara. "Maaf, Iblis. Aku mau minum sebentar. Kau pikir aku budakmu sepenuhnya? Cih," batinnya penuh kebencian.



Pintu kamarnya dibuka sangat pelan oleh Rania. Deritan nyaris tidak terdengar. "Sepertinya aku ahli menjadi maling... Haaa, budak kok maling."



"Haha," Rania tertawa dibuat-buat selagi berjalan menuju ke dapur. Kalung budaknya dilepas lalu diputar-putar enteng dengan ketiga jarinya. "Eh?"



Rania mendadak melihat sesuatu. Sebuah bayangan. "Hantu?" Bulu kuduk Rania dibuat berdiri.



Ia kemudian menggeleng-geleng. "Tidak mungkin ada hantu di rumah semodern ini. Tempat hantu itu ya di kuburan dan tempat-tempat sampah."



Rania pun mengabaikannya lalu melangkah ke dapur. Gluk. Gluk. Gluk. Air mineral dingin dalam botol besar dihabiskan dalam waktu singkat olehnya.



"Meong..."



Rania tersentak begitu mendengar suara kucing. Binatang itu melompat ke atas meja dapur lalu kembali mengeong. "Lucunya..." Rania menghidupkan lampu dapur dan dapat melihat seekor kucing kampung yang cantik. Warnanya jingga, warna kesukaan Rania.



"Kau lapar?"



Kucing itu mengeong lagi sebagai jawabannya. Rania mengelus-elus bagian atas kepala kucing itu. "Oke, aku akan membuatkanmu sesuatu. Sosis ayam? Mmm, itu enak sekali..." Rania menaik-turunkan alisnya, menggoda.



Dulu ia juga punya seekor kucing, bedanya kucing Persia yang harus dibilang lebih cantik dari kucing kampung ini. Tapi kucing Persia-nya dibuang Jaya karena dianggap pembawa sial. Waktu itu adalah saat-saat terakhir Jaya mulai melakukan aksi bejatnya.



"Aku bangkrut sekarang, dan sudah tidak tahan lagi melihatmu tumbuh semakin sempurna! Perset*n dengan ayah dan anak!"



Omongan pertama Jaya sebelum memperkosanya masih teringat jelas di benak Rania. Bahkan bagaimana tangisan ibunya saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.



Itu adalah kali pertama perawannya direnggut. Bukan mantan kekasihnya, bukan siapa-siapa...


__ADS_1


Tapi Jaya Kusuma!



***



"Mm," gumaman Raga terdengar. Kepalanya menggeliat.



"Oh, tidak," batin Rania. Ia nyaris ketahuan saat kembali ke atas ranjang. Untung saat Raga bergumam itu Rania sudah berbaring di sampingnya.



"Kau sudah bangun, budak cantikku?" gumam Raga, sementara tangannya mencari-cari Rania dan dapat. Bagian terlarangnya.



"Tangan tuan tampanku nakal sekali," goda Rania.



"Habisnya kau cantik."



"Bilang saja mesum!" teriak Rania sebal.




Rania belum pernah mengatakannya bahwa warna mata Raga itu sebenarnya dominan abu-abu. Meski secara kasat mata terlihat seperti birunya lautan karena memang ada birunya.



"Aku percaya pada pandangan pertama, Tuan," bisik Rania tidak jelas, membuat Raga mengangkat satu alisnya.



"Baru bangun, omonganmu melantur," balas Raga. "Sini biar kucium bibir menggodamu itu."



Rania pun mendekatkan wajahnya, mendekatkan bibirnya. Napas mereka sama-sama berat sebelum akhirnya pertemuan yang lembut itu tidak terelakkan.



"Kau seperti baru memakan sesuatu?" tanya Raga, melepaskan ciumannya.



Jantung Rania terasa berhenti berdetak. Otaknya berpikir cepat dan langsung menemukan kalimat yang tepat. Kalimat pengalihan. "Tuan tampanku juga melantur ketika bangun dengan perut lapar."



Bibir Raga tertarik hingga membuka menampakkan giginya. Ia tertawa tanpa suara. "Kau tahu betul aku sedang lapar," katanya. "Tapi cukup dengan melahap bibir nikmatmu, aku sudah kenyang."

__ADS_1



Rania tersenyum nakal, lalu berciumanlah mereka. Cukup lama hingga berakhir saat matahari mencoba menembus jendela yang tertutup rapat itu.



"Aku mau mandi," kata Raga. Rania pun mengangguk mengerti.



"Kita akan melakukan pemotretan hari ini, budak cantikku," beritahu Raga selagi Rania memandikannya.



"Pemotretan di mana, Tuan?"



"Di pantai."



Rania mengangguk. Di sanalah mereka akan berbulan madu kembali. Tapi kali ini tidak palsu. Sementara mereka menikahnya di...



"Kita tidak jadi menikah di gedung A, melainkan di pantai itu. Semua yang kuundang sudah kuberitahu lewat pesan rahasia. Aku tidak peduli mereka super mengeluh, yang kuinginkan mereka datang semua. Lagi pula mereka harusnya bersyukur malam tahun baru mereka ditemani artis-artis papan atas dunia.



Rania melongo. "Kenapa mendadak sekali, Tuan? Memangnya di mana kita akan menikah? Kenapa dipindahkan?"



Raga menggeram. "Kau super mengeluh juga, ya?"



"Eh, tidak-tidak, Tuan," kata Rania cepat-cepat lalu kembali menggosok badan tuannya.



"Mm, baiklah kujawab pertanyaanmu yang ini. Kenapa dipindahkan..."



Rania pun menunggu jawaban tuannya. Sementara Raga tampak serius dengan jawaban yang akan diberikannya.



"Because... I love you, Rania Kusuma."



***



__ADS_1


__ADS_2