Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
PoV Spesial (Ratna Kusuma) Pemuda Polos


__ADS_3

Aku tidak menyangka hidupku bakal begini. Sungguh. Namaku Ratna Kusuma yang bersuamikan Jaya Kusuma. Dulu aku berasal dari keluarga yang berada. Tapi sekarang perlahan aku hancur bersama pilihanku. Aku terusir meski keadaan bergelimang harta mulanya. Namun hobi Jaya yang sangat buruk membuatnya bangkrut. Kami pun hidup dalam kemiskinan sekarang.



"Jaya! Kumohon kembalikan anakku!" rengekku untuk yang sekian kalinya seperti orang tidak waras. Benar, aku menjadi tidak waras sejak kepergian Rania, anak semata wayangku.



Aku merasa jiwaku menghilang entah ke mana. Aku menderita ditambah perlakuan kejam Jaya, suamiku sendiri, terhadapku. Ia memperkosaku!



Jangan mentang-mentang kami sudah menikah, lalu tidak ada istilah pemerkosaan. Hatiku sampai tersayat-sayat dibuatnya. Ia menyetubuhiku layaknya aku ini seekor binatang. Apalagi kalau bukan pemerkosaan namanya?!



Sudah berhari-hari ini ia terus memperkosaku bersama teman-temannya. Menjual tubuhku dengan harga yang sangat murah. Padahal dia sudah mendapatkan sangat banyak uang dari hasil penjualan Rania. Sangat... "Dia lebih biadab dari iblis!"



Mendengar rengekanku tentu Jaya menjadi marah dan langsung menendangku hingga terdorong sampai menubruk pintu dan terbuka. "Jangan bicara-bicara lagi soal anakmu itu! Kau jal*ng! Fokus saja dengan pekerjaanmu sekarang! Hahaha! Enak juga menjadi mucikari istri sendiri! Hahaha!"



Jaya melakukannya semata-mata karena enaknya. Biadab. Aku semakin menangis pilu di dalam rumah yang sedang dalam tahap renovasi itu. Dengan kekayaan haramnya sekarang, Jaya jelas tidak akan mau tinggal lagi di gubuk reot. Sebenarnya Jaya mau pindah, tapi karena masih ada lahan kosong yang luas di sebelah rumah dan belakang. Raga berniat menjadikan rumah megah satu-satunya di perkampungan kumuh ini.



Sifat pamernya dari dulu tidak pernah hilang. Bodohnya aku terjerat oleh rayuannya, membuatku menjadi anak durhaka. Aku melawan ayahku sendiri hingga mendapatkan hukuman setimpal sekarang. Aku pantas mendapatkan kehinaan ini.



Tapi Rania, kumohon anakku jangan diikutsertakan dalam hukuman ini, wahai Tuhan. Cukup aku saja yang Engkau hukum. Kalau perlu, aku rela menumbalkan nyawaku demi Rania.



"Selamat malam, Pak," kata seorang pemuda tiba-tiba menghampiri Jaya yang berdiri di teras rumah. "Ya, ada apa?!" hardik Jaya pada pemuda itu. Parasnya masih polos dan imut. Kenapa dia datang malam-malam begini menghampiri Jaya?


__ADS_1


"Aku melihat sebuah situs dan langsung berkirim e-mail," kata pemuda itu malu-malu. Aku yang masih menangis tidak mengerti maksudnya.



Muka Jaya mendadak ramah. "Wah, kau pasti salah satu calon pelanggan mudaku itu, ya? Kau yang katanya anak seorang pejabat, kan?"



Pemuda itu mengangguk, masih malu-malu. Tapi dapat kulihat ia tersenyum miring tipis saat melihat ke arahku. Aku yang sadar dalam keadaan aurat terbuka langsung menutupi tubuhku.



Jaya langsung menempeleng kepalaku. "Jangan sok ditutup segala! Dia ini rupanya salah satu penyewa jasamu! Katanya dia jatuh cinta pada tubuh sintalmu sejak pertama kali! Layani dia! Buat dia menjadi pelanggan kita!"



"Aku tidak mau, Jaya! Aku bukan jal*ng! Aku bukan pela--"



Tamparan mendarat di pipiku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat penolakan. Ia mendengus marah yang berarti tidak boleh dibantah. Aku menangis tersedu-sedu sambil memegang pipiku yang memerah. "Silakan, Tuan Muda. Pelac*r-mu sudah siap sedia..."




Rasa sakit langsung menjalar di kepalaku saat pemuda polos itu menjambak rambutku sangat kuat. Aku sama sekali tidak menyangka dengan perlakuannya. "Argh! Sakit, Nak! Lepaskan Tan--"



Pemuda polos itu tiba-tiba menamparku seperti Jaya menamparku. "Layani aku, jal*ng! Kau tahu, aku punya saudara yang merupakan seorang CEO! Aku dibuat jatuh cinta dengan calon istrinya itu! Menyebalkan! Sayangnya aku tidak akan bisa menggarapnya! Aku tahu bagaimana kejamnya Raga Anggara bahkan pada anggota keluarganya sendiri jika aku berani macam-macam!"



Aku mencoba untuk mencerna curhatannya di tengah rasa sakit oleh jambakannya. Hingga rasa sakit itu hilang sepenuhnya saat ia menyebut sebuah nama.



"Rania Kusuma, begitulah nama yang tersebar di undangan pernikahan terbesar tahun ini." Pemuda polos itu menggeram marah.

__ADS_1



Tidak sempat aku bertanya, pemuda polos itu menyeretku masuk ke dalam kamar Rania dulunya. Aku memberontak. "Jangan di sana! Kamar yang sebelahnya saja, Nak!"



Pemuda polos itu mendengarkannya. "Baiklah, terserah kamar yang mana, yang penting aku bisa menggarapmu sampai puas!"



"Walaupun aku tidak bisa bercinta dengan Rania itu, setidaknya kau mirip dengannya, Jal*ng..." bisik pemuda polos itu saat akhirnya memelukku sambil mengendus leherku.



Aku tidak menghiraukannya karena pikiranku sepenuhnya tertuju pada Rania, anakku.



Anakku akan menikah?



***




>>


>>


>>



Hai, Author mau mengucapkan terima kasih bagi yang sudah membaca cerita Author sampai bab dua puluh lebih ini. Masih setia dan sabar menunggu update-nya. Hehe. Author jadi semangat untuk melanjutkan cerita yang ala kadarnya ini. Tetap dukung cerita ini, ya, bisa dengan like, vote, atau tip.


__ADS_1



__ADS_2