Budak CEO Tampan

Budak CEO Tampan
Cover


__ADS_3

Kedua tangannya bersedekap, hingga ia mengatakannya juga.


"Baiklah, aku akan menikah dengannya."



"Sepertinya aku harus memikirkan imageku. Aku harus bersikap dewasa, tidak boleh kekanak-kanakan," lanjut Raga, memasang wajah cuek.



Tidak ada lagi yang dibicarakan Raga setelahnya. Sekretaris Ardi pun mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa. Selanjutnya ia mohon diri untuk menyiapkan segalanya.



"Baiklah. Kau boleh pergi."



Setelah Sekretaris Ardi sudah memasuki lift, Raga membalikkan badannya. Raga lantas memperhatikan Rania di balik jendela yang tembus pandang hanya dari luar. Rania tampak tersenyum bahagia, bercerita soal apalah itu bersama suster yang merupakan temannya.



"Rania Kusuma. Dia benar-benar budak cantikku yang istimewa... Saking istimewanya, aku tidak akan membiarkannya pergi dariku. Akulah pemilik abadinya. Menikah adalah hal sempurna untuk mengikatnya dalam penderitaan."



"Jadi jangan besar kepala, Rania Kusuma. Aku melakukan hal gila tadi semata-mata tidak mau kehilangan budak istimewaku. Kau pikir seratus juta dolar itu jumlah yang sedikit? Cih."



***



Dua gadis itu bercengkrama seakan tiada henti. Mereka tertawa mengingat kembali momen yang pernah mereka lalui bersama. Benar-benar indah dan sepanjang masa takkan bisa dilupakan.



"Kita sering makan es krim sampai belepotan, masih ingat, kan?!" seru Andin tertawa.



Rania mengangguk-angguk, juga sambil tertawa. Tentu ia masih mengingatnya. "Padahal kita sudah SMA, tapi masih saja makan es krim sampai belepotan begitu. Keanggunan kita berdua langsung luntur seketika."



"Hahaha! Aku yakin mereka yang memuja kita langsung mengisi ulang otaknya, apakah akan tetap memuja kita!"



"Haha--"

__ADS_1



"Ehem."



Dehaman membuat tawa mereka berdua berhenti. Sang CEO berhati iblis telah muncul. Tatapannya dingin sedingin es.



"Hai, istriku," sapa Raga seraya tersenyum ramah dengan tiba-tiba.



Baik Rania ataupun Andin, mereka sama-sama kaget. "Apakah aku sedang bermimpi?" batin Rania.



Andin cuma melongo sebentar, lalu berpikir untuk pergi dari sana. "Uh, mereka pasangan yang sangat serasi," batin Andin iri.



"Apa maksud, Tuan?" tanya Rania tanpa basa-basi. Kemudian ia berpikir apakah Raga sedang berakting?



"M-maaf, Tuan, jika aku menyusahkanmu," kata Rania cepat-cepat. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Waktu di ruanganmu, aku merasakan nyeri di b-bokongku semakin parah. Sampai aku menemukan obat pereda nyeri di kotak P3K. Tidak kusangka, aku malah dibuat muntah-muntah lalu... Aku tidak mengingat apa-apa."




Rania takut-takut saat tangan Raga terangkat, seperti mau menempeleng mukanya. Tapi ternyata tuannya yang terhormat hendak mengelus pipinya. "T-Tuan, kumohon maafkan aku..."



"Ssst," Raga menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri. Sesaat ia tersenyum sekilas, karena telah berhasil menanamkan rasa takut di dalam hati Rania terhadapnya. Budak cantiknya akan selalu menuruti perintahnya. Meski terpaksa. Meski ia menangis dalam pilu.



"T-Tuan..." Mata Rania berkaca-kaca ketakutan.



"Oh Tuhan! Aku benar-benar membencinya! Lihat! Dia berhasil menakutiku dan membuatku seperti kerupuk basah!" batin Rania marah.



"Rania Kusuma, aku tidak bercanda. Kau akan menjadi istriku dalam waktu dekat ini."


__ADS_1


Seperti ada petir yang menyambar. Rania membuka mulutnya. Sekali lagi ia berpikir bahwa ia tidak sedang bermimpi. Raga Anggara memang mengatakannya.



"Sebagai konsekuensi atas ulahmu hari ini. Istri adalah covernya sementara isinya kau tetap budakku."



Setelahnya Raga mengunci pintu ruang pasien VVIP itu. "Kau sudah tidak sekarat, hanya proses pemulihan. Sudah saatnya aku menggarap tubuhmu. Kau membuang waktuku percuma tadi. Lain kali kalau sampai kau minum obat tanpa sepengetahuanku, kau akan kuhukum."



Rania menangis terisak. Ia lemah dan pasrah. "M-maaf, Tuan. S-saya berjanji tidak akan mengulanginya l-lagi."



Tapi kali ini tidak ada rasa kasihan dari Raga. Pria itu memberi tatapan dinginnya. Rania dapat merasakan Raga menjadi tuan yang seharusnya terhadap seorang budak.



Dingin, kejam dan sadis.



"Jangan menangis, budak cantikku. Nikmati saja, toh, aku bercinta tidak sampai merusak wajah cantikmu ini..." bisik Raga tanpa berperasaan. "Hapus tangismu dan mendesahlah. Atau ibumu akan hilang."



Rania menghapus air matanya dalam sekejap. "B-baiklah, T-Tuan..."



"Bagus."



Mereka pun bercinta hebat di atas ranjang itu. Rania pura-pura menikmatinya. Meski Raga betul-betul tidak sampai main tangan seperti menampar wajahnya, tetap cara Raga menyetubuhinya itu dikategorikan kasar.



Ia benar-benar diperlakukan seperti keledai.



"Sama saja bohong, Raga iblis!"



***


__ADS_1



__ADS_2