
Sejak keluar dari rumah sakit satu hari setelahnya, Rania mendapati Raga benar-benar berubah. Rania tidak mengerti, tapi meyakini penderitaannya akan bertambah berkali-kali lipat banyaknya.
Kapan datangnya malaikat itu, Rania rasanya sudah lelah untuk menunggunya. "Tuhan, kenapa harus selama ini aku menunggu? Kumohon... bebaskan aku sekarang juga dari penderitaan ini..." batinnya pilu.
Rania rasanya mau menangis, tapi Raga ada di hadapannya sekarang. Ia ingat kalau Raga bisa saja marah kalau Rania menangis terus. Rania tentu tidak mau itu terjadi. Ia harus menahannya sebisanya agar Raga tidak marah dan melenyapkan ibunya.
Apalagi dengan perubahan sikap Raga sekarang, kemarahan itu seperti mudah sekali untuk tersulut. Sedikit dipantik saja, Raga sudah menunjukkan kekejamannya sebagai tuan. Membayangkannya, membuat Rania merinding ketakutan.
"Pakai kalung itu saat di rumah, tidak ada bantahan," kata Raga dingin.
Benar, Raga memutuskan Rania tetap akan memakainya. "Kau itu budak, sudah sepantasnya memakai kalung ini."
Rania hanya bisa tertunduk. "B-baik, Tuan." Ia tidak punya kekuatan untuk melawan. Aura yang dipancarkan Raga kali ini sangat berbeda. Seperti pembunuh berdarah dingin dan terlihat tidak main-main jika Rania tidak memakai kalung itu.
Separah itukah kesalahan Rania saat nyaris mati keracunan obat? Sehingga Raga menjadi seperti ini?
"Pakai sekarang," kata Raga.
Tangan Rania gemetar saat mengenakannya ke leher. "Haaa..." Sia-sia saja permohonannya tempo hari. Ia tetap memakai kalung ini juga akhirnya. Menghinakannya.
"Biar pun di rumah saja, jumlah penghuni di rumah semegah ini mencapai puluhan orang! Aku akan ditertawakan mereka termasuk..." Calon adik iparnya, Rasa Anggara...
"Kakak! Buka pintunya!" Baru dipikirkan, Rasa sudah menggedor-gedor pintu kamar Raga. Mau apa dia? "Mmm, pasti sangat tidak setuju dengan pernikahan kami nanti," tebak Rania yakin. "Dia mau protes, jelas saja."
__ADS_1
"Ada apa, adik cerewet?" ketus Raga, membukakan pintu. "Minta uang jajan?"
Adik Raga itu masih sekolah, kelas satu SMA. Ia merupakan primadona yang selalu dikejar-kejar oleh banyak lelaki. Tapi Rasa tidak pernah mau dengan mereka. Rania mendengar ceritanya langsung dari Rasa sendiri. Rania percaya meski Rasa memang tengah menyombongkan diri. Soalnya anaknya memang sangat cantik dengan postur tubuh yang sempurna bak model.
"Aku tidak butuh uangmu!" seru Rasa geram. "Aku ke sini untuk mengatakan ketidak setujuanku!"
"Soal?"
Rasa berdecak, lalu menunjuk benci ke arah Rania. "Aku tidak setuju punya kakak ipar seperti dia!"
"Aku juga tidak mau," jawab Raga enteng, membuat Rasa terkejut. "Lalu kenapa kau akan menikah dengannya?! Jelaskan!"
Beberapa detik tidak ada lagi terdengar gedoran atau omelan Rasa. Tentu saja Rasa takut dengan ancaman Raga. Secerewet apapun anaknya, kalau sudah berhadapan dengan sifat pemarah Raga, tidak akan menang. Raga-lah yang berkuasa di rumah ini.
Rania bertanya-tanya ke mana orang tua Raga. Sejak tempo hari, Rania tidak pernah melihat batang hidung mereka. Rania mencoba mengingat-ingat apakah Raga pernah membicarakan... Ya, Raga pernah curhat soal dulu ia punya seorang ibu. Apa jangan-jangan....
"Balikkan badannmu," perintah Raga tiba-tiba, mengalihkan pikiran Rania. "Lalu buka celanamu, semuanya."
Rania sontak merasakan napasnya sesak. Sepenuhnya dilanda ketakutan sekarang. "B-baik, Tuan," ujar Rania menurut, tubuhnya gemetar sebelum bersiap melayani nafsu bejat CEO tampan itu.
Rasanya nikmat? Rania mengakui dengan jujur, yang namanya **** itu tidak pernah membosankan. Itulah yang dulu dilakukannya dengan mantan kekasihnya. Tapi kenikmatan Rania bersatu dengan rasa sakit yang lebih besar. Hingga tak ada alasan untuk tidak menangis.
__ADS_1
Raga melecehkannya hingga keledai itu tidak punya harga diri lagi. Rania seperti tidak diberi kesempatan untuk bernapas saat Raga menggarapnya. Hingga yang ada rasa perih. Raga memang tidak menampar wajah Rania yang berarti itu tidaklah main fisik. Tapi ternyata maknanya tidak luas. Karena bagi Raga, mencengkram dagunya, mencekik pundaknya, hingga mempenetras* Rania kelewat batas tidaklah termasuk main fisik.
Apanya yang menghormati wanita kalau begitu? "Makan itu sumpahmu, Raga Anggara! Kau CEO berusia sembilan belas tahun yang ternyata masih bocah!"
Dan sungguh Rania heran kenapa ada manusia yang sebegitu nafsunya seperti Raga. "Apa sebenarnya yang ada di otak Raga Anggara?" batin Rania bertanya-tanya.
"Argh! Kau begitu nikmat!" geram Raga dingin, membuat Rania tersentak. "Rasanya aku mau melakukan ini sepanjang hidupku, Rania Kusuma!"
"Oh, nikmat!" batin Rania tiba-tiba. Selanjutnya ia langsung kaget sendiri. "A-apa yang terjadi?"
Rania membuka betul-betul matanya hingga dapat melihat ada yang aneh hari ini... Rania baru menyadarinya setelah sepuluh menit berlalu Raga mempenetras*-nya.
Dibalik dinginnya, Raga memperlakukannya layaknya seorang istri...
"WHAT?!" Tentu saja Rania sangat sulit mempercayainya.
"Bagaimana, kau suka dengan gaya baruku?" tanya Raga mengejek dingin. "Tapi jangan senang dulu... Aku begini karena kau akan menjadi istriku. Sudah sewajarnya aku memperlakukanmu lebih manusiawi dari sekarang."
Rania tidak bisa menahan rasa kagetnya. Selanjutnya ia tidak tahu harus senang atau sedih mendengarnya. Keduanya tengah mengambang di hatinya. Senang karena ia akan menikmati namanya bercinta tanpa khawatir dengan rasa sakit. Tapi entah kenapa ada rasa sedih yang mencoba menenggelamkan hatinya.
"Kalung ini... Tentu saja..." Rania meraba kalung anjingnya. "Ingat, Rania. Raga hanyalah berakting, karena kau masihlah budaknya..."
__ADS_1
***